Now Loading

Epilog

Ari pan ngalamun bae, aja kerja. Sana nonton sintren lagi!” bentak Sarno sehingga Arya buru-buru menarik jala seperti rekan-rekannya. Tubuhnya oleng ketika ombak menghantam buritan. 

Kabar tentang kegagalan upayanya menikahi Lasih telah tersiar ke mana-mana, termasuk ke desanya. Akibatnya Arya menjadi bahan ejekan teman-temannya.

“Namnya memperkosa, ya pasti pakai maksa. Kalau perempuannya iklas, namanya suka sama suka,” ledek temannya.

“Ada dua hal kesalahan fatal kamu, Arya. Pertama, niatnya. Cita-cita nawu lautan boleh-boleh saja, tetapi kamu harus sadar diri alat apa yang kamu punya. Masa menguras lautan dengan sendok? Kedua, kalau belajar yang bener dan sungguh-sungguh. Pan dadi mahasiswa ya maring kampus, bukan belajar di warnet sambil nonton film bokep,” timpal Sarno saat mereka sedang memperbaii jaring.    

Jika ejakan dan caci-maki itu hanya ditujukan pada dirinya, Arya mungkin tidak terlalu terpukul. Bahkan malah bangga karena berani mencoba sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan  oleh teman-temannya, termasuk Sarno yang tamatan SMA.

Tetapi Arya sangat terpukul ketika kedua orang tuanya sampai datang ke rumah Ki Bano untuk meminta maaf. Ki Bano memang tidak mau memperpanjang masalah dan sudah memaafkan perbuatannya. Bagi KI Bano yang penting Lasih masih bisa menjadi sintren.

Tetapi sikap kedua orang tuanya berubah dratis. Emak selalu pulang duluan saat ikut pengajian. Bahkan belanja ke pasar pun terburu-buru karena takut ada yang mengenal dan bertanya soal anaknya. Mengapa bukan aku saja yang dihukum? keluh Arya setiap kali melihat Emak yang tidak pernah lagi menyungging senyum.   

Malam semakin larut. Angin bertiup lumayan kencang. Ratusan ikan memenuhi kotak yang sudah diisi dengan es balok. Namun beberapa kotak lain masih kosong.

“Istirahat dulu,” kata Sarno. Sebagai pemimpin rombongan dalam perahu itu,  Sarno tahu tenaga anak buahnya mulai terkuras. Padahal mereka masih akan menangkap ikan di dua tempat lagi karena target belum terpenuhi. Ia heran mengapa hasil tangkapan belakangan ini tidak pernah memuaskan. Mungkin benar sesaji sedekah laut kemarin tidak lengkap. Harus ada tumbal agar laut tidak bergolak.    

Arya mengambil sebatang rokok dan membakar ujungnya. Bahunya bersandar pada tiang perahu. Kepulan asap rokok hanya bertahan sebentar di depan hidung sebelum musnah dibawa angin. Membawa kegetiran dan angan-angannya.

Sebenarnya Arya sudah malas menjadi nelayan yang telah bertahun-tahun dilakoni. Ia ingin mencari pekerjaan di kota sehingga kelak bisa kembali mencoba melamar Lasih secara baik-baik. Namun orang tuanya tidak mengijinkan.

Arya masih ingat dengan jelas saat pertama kali melihat Lasih.

“Kenapa kamu sudah pulang? Bukankah rombonganmu masih di laut?” seru ayahnya ketika melihat Arya pulang sambil memanggul jala.

“Aku pan nonton sintren,” jawab Arya.

“Kamu tidak melaut?”

“Pulang duluan, numpang kapal Mang Isup.”

Setelah menyimpan jala, Arya bergegas mandi dan melesat ke dusun sebelah.

Sintrene arane Lasih. Ayune pool, laka sing nandingi,” promosi teman-temannya yang membuat Arya kebelet ingin menonton.

Ternyata benar, sintrennya cantik sekali. Sepanjang pertunjukan Arya tidak beranjak dari tempat duduknya di atas rumput. Bagaimana caranya aku bisa berkenalan? Pikiran itu ternyata terus dibawanya hingga pertunjukkan usai. Tepat seminggu setelah itu, Arya menemukan caranya. setelah membaca cerita di internet. Ya, menyamar sebagai mahasiswa. Meski hanya lulusan SMP, namun Arya yakin tidak akan dicurigai karena Lasih dan orang-orang di kampung itu juga tidak ada yang kuliah. Sejak itu Arya sibuk belajar menjadi mahasiswa dari internet. Dari cara bicara, pakaian dan menghafal beberapa istilah asing.

Dasar nasib lagi mujur, Arya bertemu Ki Sandireja yang tengah sakit hati melihat kemajuan grup sintren Ki Bano dengan Lasih yang menjadi primadona baru. Keduanya pun saling memanfaatkan.

“Kang Arya…”

Arya terkejut mendengar bisikan itu. Ia menoleh untuk mencari sumbernya. Matanya terbelalak melihat Lasih berdiri di depannya.

“Lasih?”

“Iya, Kang.”

“Kamu mau ke mana?”

 “Menemui Ibu Ratu. Tapi aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut IBu Ratu marah karena kita tidak jadi menikah,” keluh Lasih.

Arya berdiri lalu mengulurkan tangan. Lasih menyambutnya.

“Mau aku temani? Kita nanti menikah di depan Ibu Ratu.”

Lasih mengangguk. Arya pun melompat kegirangan. Didekapnya tubuh mungil di depannya dengan sepenuh jiwa. Arya tidak ingin melepasnya. Mimpinya telah tunai dan ia merasa sangat bahagia.  

***

Suasana terasa begitu muram. Satu-dua bunga kamboja luruh. Daun-daunnya merunduk. Angin yang datang menawarkan kegetiran. Warga pun bergegas meninggalkan gundukan tanah merah bertabur kembang setaman.

“Aku tidak tahu mengapa Arya tiba-tiba melompat ke laut dan tidak muncul lagi. Padahal dia pandai berenang. Untung jasadnya terbawa ombak ke pantai sehingga bisa kita temukan,” ujar Sarno sambil berjalan meninggalkan areal pemakaman desa.

Warga yang mendengar cerita Sarno tidak ada yang menyahut. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Laut selalu minta tumbal. Namun mereka tidak pernah takut karena laut juga telah banyak memberikan kekayaannya untuk kelangsungan hidupnya.