Now Loading

Kembalinya Lasih

Turun-turun sintren

Sintrene widadari

Nemu kembang ning ayunan

Nemu kembang ning ayunan

Kembange siti mahendara

Widadari temurunan manjing ning awak ira  

Riuh gending nada selendro dan tepukan gendang diselingi ungkapan jorok dari mulut Somad bergema memecah malam. Penonton semakin merapat. Larut dalam kegembiraan. Melupakan kepenatan hidup dan persoalan sehari-hari tak kunjung berakhir kecuali saat malam tiba atau ajal menjemput. 

Kepulan asap kemenyan memenuhi angkasa. Mengundang dewa, mengundang keabadian.

Lasih sudah masuk ke dalam kurungan. Semua mata tertuju ke situ. Berdebar-debar menunggu keluarnya Lasih dengan dandanannya yang cantik. Meski sudah berulangkali melihat dan tidak pernah ada sesuatu yang berbeda, namun mereka tetap antusias setiap kali menunggu sintren keluar dari kurungan. Terlebih sejak kejadian di pendopo kabupaten. Ada kekuatiran peristiwa itu akan terulang lagi.

Namun yang paling kuatir tentu saja KI Bano. Pementasan kali ini menjadi pembuktian apakah Lasih benar—benar masih perawan ataukah sudah dinodai oleh Arya. Jika sampai Sulasih tidak manjing dalam tubuh Lasih, berarti anaknya sudah tidak suci lagi. Tentu ia akan membuat perhitungan dengan KI Sandireja dan terutama Arya.

Tidak mengherankan jika tangan Ki Bano gemetar dengan hebat manakala mengangkat kurungan di depannya. Ia ingin menjadi yang pertama melihat wujud Lasih sebelum yang lain sehingga bisa langsung bertindak manakala  Lasih gagal menjadi sintren. Namun hal itu tidak mungkin bisa dilakukan karena kurungan berada di tengah kalangan dan dirubung ratusan penonton.

Perlahan Ki Bano mengangkat kurungan itu. Matanya terpejam. Ia tidak kuat jika harus melihat secara langsung apa yang terjadi. Ki Bano akan menggunakan sambutan penonton untuk mengetahui apakah Lasih berhasil ataukah gagal menjadi sintren.

“Ayo, cepat buka, Ki!” teriak penonton tak sabar karena kurungan itu tertahan di udara.

Setelah menghela nafas beberapa kali, Ki Bano menyentak kurungan secara mendadak. Di bawah kurungan, Lasih meringkuk. Wajahnya tersembunyi di antara kedua lututnya. Ki Bano yang panik langsung melemparkan kurungan ke tengah penonton. Diraihnya tangan Lasih dan dipaksanya untuk berdiri.

“Maafkan, Bapak…”

“Hore…hore…” teriak penonton.

Ki Bano kebingungan. Lasih berontak dan segera menari. Ki Bano menatap seolah tidak percaya anaknya sudah dalam balutan pakaian sintren.

Ternyata kamu masih suci, Nok! bisik Ki Bano sebelum beringsut ke belakang meja sesaji. “Teruslah menari, anakku!”

Tarian demi tarian sukses dibawakan oleh Lasih. Kini sintren itu telah kembali, menghibur masyarakat. Ki Bano tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Bahkan ia membiarkan Ratman berjoget sepuasnya.    

Ki Bano tahu Ki Sandireja pun ikut menonton pertunjukan dari kejauhan. Ki Bano pura-pura tidak melihat karena tidak ingin membuat malu. Bagaimana Ki Sandireja  bukan hanya teman seperguruan namun juga seperjuangan; sama-sama berjuang untuk tetap melestarikan sintren di tlatah Cirebon dan sekitarnya. Mungkin perasaan itu juga yang membuat Ki Sandireja tetap menjaga Lasih dan memberinya makan selama ditawan di rumahnya.

Ki Bano yakin, batin Ki Sandireja pasti juga berperang. Jika pun kemarin ada rasa iri dan kecewa karena beberapa ordernya berpindah, hal itu sangat wajar. Ki Bano berjanji ke depan akan berbagi order dengan Ki Sandireja.

Ki Bano mengambil lima bungkus rokok yang tadi dilemparkan penonton. Ia membungkusnya dengan kertas koran.

“Berikan pada Ki Sandireja,” bisiknya pada Somad sambil memberi petunjuk di mana Ki Sandireja berada. “Jangan ada yang tahu.”

Somad mengangguk lalu beringsut dengan diam-diam. Ki Bano mengirim isyarat dengan jari tangannya ketika Ki Sandireja menoleh setelah diberi bungkusan rokok oleh Somad. Sesaat kemudian Ki Sandireja berlalu. Meski tidak ada kata-kata atau isyarat, namun Ki Bano merasa lega karena Ki Sandireja mau menerima bungkusan yang diberikan. Iya yakin ke depan pentas sintren akan lebih semarak dan Ki Bano ingin suatu ketika bisa menonton pementasan sintren Sekar Malam pimpinan Ki Sandireja.