Now Loading

Dendam Masa Lalu

Meski jauh di lubuk hatinya sudah menduga, namun kedatangan Arya tetap membuat Ki Sandireja terkejut. Firasatnya mengatakan sesuatu yang di luar kendalinya akan segera terjadi. Mengapa anak ini tidak mati? Padahal dalam hitungan Ki Sandireja, jika gagal menikahi Lasih secara gaib, Arya akan mati dicekam ketakutan sesuai perjanjiannya dengan penguasa Telaga Ranjeng.

“Aku tidak mau dilibatkan dalam masalah ini. Cepat kamu pergi dari rumahku!” teriak Ki Sandireja.

Arya terhenyak. Tiba-tiba ia merasa sendirian di tengah marabahaya yang sedang mengancam.

 “Tidak, Ki,” bantah Arya. “Semua sudah terjadi. Aku harus bisa menikahi Lasih.”

“Bocah edan!” sentak Ki Sandireja sambil mengayunkan tangan. Namun tangannya terhenti di udara ketika seseorang menegurnya dengan suara dingin dan berat, “Sejak awal aku sudah menduga, sampeyan berada di balik semua ini!”

Perlahan Ki Sandireja menoleh. Tatapannya menumbur wajah Ki Bano yang mengeras di bawah pantulan cahaya obor. Dada Ki Sandireja bergetar. Tatapan itu mengingatkan pada kemarahan Ki Sukmo ketika ia berkhianat dengan mengambil guru lain yang menjadi musuh bebuyutannya.    

Anak buah Ki Bano langsung mengerubung dengan beringas. Tinggal menunggu satu isyarat dari Ki Bano. Namun isyarat itu tidak pernah diberikan. Namun Ki Sandireja pun tidak berani bertindak lebih jauh. Perlahan tangannya turun lalu dilipat di depan dada.

“Kalian mau membunuhku? Silahkan! Tapi kalian harus tahu, aku yang menjaga Lasih ketika diincar oleh anak ini,” ujar Ki Sandireja sambil menujuk Arya. Suara bergetar. Sejumlah warga yang melihat mulai merubung dan merapat sehingga tercipta gelanggang layaknya pertunjukan sintren. Mereka yakin Ki Sandireja tidak kesulitan mengalahkan anak buah KI Bano. Meski terlihat ringkih, semua orang tahu Ki Sandireja memiliki kekuatan gaib. Bukankah dia bisa memanggil arwah Dewi Lanjar?

Warga justru penasaran dan menantikan adegan ketika Ki Sandireja harus bertarung melawan Ki Bano. Pasti sangat seru karena sama-sama menguasai ilmu gaib.

“Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, Kang,” ujar Ki Bano. “Tapi aku ingin tahu, apa yang sudah sampeyan lakukan terhadap Lasih?”

“Jangan menuduh sembarangan,” sentak Ki Sandireja. “Aku tidak pernah menyentuh anakmu. Aku justru melindunginya!”

“Apa yang sampeyan lakukan di hutan karet?” cecar Ki Bano penuh tekanan, meski suaranya tetap rendah.

Ki Sandireja tertawa. Mengejek. “Tanya sendiri anakmu!”

“Jangan main-main, Kang,” erang Ki Bano. “Aku sudah lelah mengikuti permainan sampeyan. Sekarang aku hanya butuh jawaban, apa yang sudah sampeyan lakukan terhadap anakku, si Lasih, di hutan karet?”

“Sudah aku jawab dari tadi, aku tidak-menahu. Aku tidak terlibat…”

“Bohong!”

Perlahan semua mata beralih ke pemilik suara itu.

“Ki Sandireja yang mengatur semuanya,” lanjut Arya.

Hening. Hanya dengus nafas yang terdengar. Memburu. Anak kecil dalam gendongan ibunya yang semula rewel mendadak terdiam seolah ikut menanti peristiwa besar yang akan segera terjadi.

“Jaga ucapanmu!” ujar Ki Sandireja, lirih. Namun siapapun bisa merasakan ancaman yang ditebar. Penonton yakin anak muda itu akan langsung terjengkang dengan satu kali hentakan kaki Ki Sandireja.

“Sore itu Ki Sandireja bermaksud menyuruh Ratman untuk memperkosa Lasih,” cetus Arya tanpa menghiraukan ancaman Ki Sandireja. Ini jalan terakhir agar saya bisa mendapat simpati Ki Bano, pikirnya. “Tetapi karena Ratman mabuk sampai tidak sadarkan diri di Terminal Losari, Ki Sandireja kemudian pulang. Namun kemudian KI Sandireja memergoki aku yang sedang mengikuti Ki Bano dan ke Lasih. Aku diancam akan dilaporkan jika tidak mau menuruti keinginannya. Akhirnya kami sepakat untuk saling-membantu karena aku memang ingin mendekat Lasih. Ki Sandireja  kemudian menyuruhku menyaru sebagai Ratman.”

“Menyaru bagaimana? Disulap jadi Ratman?” seseorang bertanya dengan sangat antusias karena didorong rasa penasaran.

Arya mengangguk. “Ya, itu sebabnya Lasih mengira diperkosa oleh Ratman.”

“Apa yang kamu lakukan kepada Lasih, anak muda?” kejar Ki Bano tidak sabar. Ia maju dua tapak sehingga jaraknya dengan Arya kian dekat. Namun Ki Bano tidak berani lebih dekat lagi karena harus mewaspadai gerakan Ki Sandireja.

“Aku tidak menggauli Lasih. Belum! Saat itu Lasih berontak.  Padahal menurut Ki Sandireja aku harus mendapat persetujuan Lasih agar….”

Plak!

TIba-tiba Lasih menyerbu ke tengah gelanggang dan langsung menampar pipi Arya.

Bangsat!” makinya.

“Tunggu Lasih,” cegah Ki Bano ketika melihat anakknya kembali menyerang Arya yang tengah meringis menahan sakit. “Aku harus tahu sesuatu.”

Perlahan Lasih mundur namun tatapannya masih menyalang seperti hendak menelan Arya. Tidak ada kesan dirinya baru disekap selamaa beberapa oleh Ki Sandireja dan Sriatun. Namun ia menghargai bapaknya dan sebenarnya juga ingin apa yang telah diperbuat Arya di kebun karet. Sebab saat itu Lasih benar-benar ketakutan. 

“Lanjutkan, anak muda,” perintah Ki Bano.

“Sumpah, Ki, aku belum menggauli Lasih. Tapi karena Lasih juga belum tahu dia merasa sudah ternoda. Ki Sandireja memanfaatkan kondisi Lasih untuk mengacau pikirannya. Lasih dibuat kehilangan kesadaran saat pentas di alun-alun sehingga terus menari sebelum kemudian tersedot ke alam gaib yang diciptakan Ki Sandireja.

Jika aku menikahi Lasih secara gaib dan mempunyai anak, maka Lasih benar-benar tidak bisa lagi menjadi sintren sehingga pamor Kemuning Senja akan surut dan sebaliknya, sintren Sekar Malam akan berjaya. Sementara anaknya akan diambil oleh penghuni Telaga Ranjeng yang melakukan perjanjian dengan Ki Sandireja. Saat itu Ki Bano pasti mau menerima lamaranku setelah Juragan Tirta mencampakkanya karena dihasut oleh Sriatun.

Tetapi dalam alam gaib pun aku aku gagal menikahi Lasih karena muncul Ki Baurekso yang mengacaukan skenario Ki Sandireja.” 

“Ha..ha...ha...” Tawa Ki Sandireja membuyarkan perhatian warga pada cerita Arya. “Sekarang terserah kamu, Bano. Apakah kamu percaya dengan cerita anak ingusan yang sedang mabuk cinta atau percaya dengan omonganku.”

Ki Bano terdiam dalam amarahnya. Tatapannya kosong. Dengan isyarat tangan, dia menyuruh Somad dan yang lain pulang.

“Aku akan mengambil keputusan setelah pentas di Karang Kemiri,” ujar Ki Bano kepada Arya dan Ki Sandireja.