Now Loading

Dua Alam

Arya mengikuti Ki Bano dan rombongannya ke dalam hutan. Meski tahu mereka tidak bisa melihat dirinya, namun Arya tetap berusaha menjaga jarak. Matanya ikut mengawasi tiap sudut hutan, mecari Lasih. Ia percaya Ki Baurekso tidak berbohong. Hanya saja masih ada satu tabir gaib yang dipasang KI Sandireja. Arya yakin Ki Bano akan dapat menembus tabir itu.

Untung saja saat di kamar pengantin aku masih bisa waspada sehingga tidak terjebak pada  makhluk yang menyamar sebagai Lasih. Pasti itu makhluk suruhan Ki Sandireja sementara Lasih masih disembunyikan di padepokan Sekar Malam.   

“Tunggu!” teriak Ki Bano tiba-tiba. Rombongan berhenti secara mendadak.  “Aku merasakan kehadiran Lasih di sini. Ayo kalian bunyikan tetabuhan sementara aku akan melakukan ritual pemanggilan,” lanjut Ki Bano.

Tanpa menunggu jawaban, Ki Bano langsung menggelar ritual. Ia menancapkan obor di bawah pohon karet lalu duduk bersila di dekatnya. Kedua telapak tangannya bertemu di depan dada layaknya orang yang tengah menjura. Matanya terpejam sementara mulutnya komat-kamit merapal mantra.

***

Ki Sandireja merasakan hawa panas yang luar biasa menyelimuti padepokan Sekar Malam. Ia tahu Ki Bano tengah melakukan serangan gaib. Memang tidak ditujukan secara langsung kepada dirinya, melainkan kekuatan yang tengah mengurung Lasih.

Andai saja dulu aku tidak gegabah, sesal KI Sandireja. Ia tidak bisa melupakan peristiwa di Telaga Ranjeng. Bano kembali mengalahkan dalam ilmu kanuragan sehingga ilmu pamungkas Ki Sukmo diberikan kepada Bano. Sejak saat itu Sandireja menaruh dendam kesumat. Terlebih ketika grup sintren Kemuning Senja menjadi primadona dan mulai menggerus order pentasnya.

Ki Sandireja masuk ke kamar ritual. Matanya nanar melihat gadis lemah di depannya. Bagaimana pun bencinya pada Bano, ia tetap tidak punya nyali untuk menghabisi Lasih.

“Sudah kamu kasih makan? Jangan sampai dia mati di rumahku”

“Sudah Ki,” jawab Sriatun.

Pagi itu, atas perintah Ki Sandireja, Atun membawa kabur Lasih. Janji dirinya akan dijadikan sintren Sekar Malam mengantikan Mustika yang sudah kehilangan pamor, membulatkan tekadnya. Meski sudah mendaftar menjadi calon TKW ke Singapura, keinginan untuk menjadi sintren tetap berkobar. Ketika tawaran datang disertai syarat membawa Lasih yang saat itu sedang dalam pengaruh kekuatan gaib, ke rumah Ki Sandireja, Atun menganggapnya sebagai jawaban atas permintaanya kepada Dewi Lanjar.

“Apakah Lasih tidak mengenali saya. Ki?” tanya Atun was-was.

KI Sandireja mendengus.. “Selama belum sadar, dia tidak mengenalimu. Sekarang kamu antar Lasih ke kebun karet. Aku akan mengawalnya dari jauh.”

“Kenapa, Ki? Bagaimana kalau nanti Ki Bano tahu? Saya..”

“Aku akan mengurungmu dalam bayangan gaib. Tidak ada yang tahu. Cepat kamu tuntun Lasih ke sana sebelum diketahui Bano. Aku tidak kuat lagi menahan gempurannya!”

***   

“Lasih?” ujar Arya begitu melihat sosok perempuan tiba-tiba di balik pohon karet, di belakang Ki Bano.

Lasih menoleh. Temaran cahaya obor menyapu wajahnnya yang sangat kusut. Tubuhnya terlihat lemah. Sorot matanya menyiratkan kebingungan.  Ia lantas berjalan ke depan Ki Bano.

“Bapak…” panggilnya.

KI Bano terus merapal mantra. Sembilan orang yang berdiri mematung di depannya mulai gelisah.  

“Mereka tidak melihatmu,” ujar Arya lagi.

“Di mana kita?”

“Kamu benar Lasih?”

 Lasih mengangguk. Ia menyentuh pundak Ki Bano. Tidak ada reaksi.

“Ki Bano tidak tahu kehadiran kita karena kita berada...ah, aku tidak bisa menjelaskan. Yang pasti sekarang kita tengah berada di suatu tempat yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa.”

“Maksudmu di alam gaib?”

“Benar, benar sekali. Mereka menginginkan anak dari kita. Aku tidak tahu tujuannya. Tetapi itu syarat agar kita bisa bebas dari alam gaib.”

“Jadi?”

“Kita harus menikah agar bisa keluar dari sini.”

Lasih mendelik.  Ia berusaha menyampaikan kemarahannya melalui tatapan mata.

“Tidak!” katanya. “Aku harus kembali ke rumah!”

“Kamu tidak bisa keluar dari sini jika kita tidak menikah,” sergah Arya.

“Aku tidak mau…” kata Lasih. Suaranya terdengar ragu.

Arya terdiam sesaat. Kini keyakinannya sudah bulat. Ya, perempuan di depannya benar-benar Lasih, bukan makhluk jelmaan seperti di istana Dewi Lanjar. 

“Aku akan memaksamu!”

Lasih mundur beberapa langkah.

“Menurut KI Sandireja, aku harus menikahimu…”

“Tunggu,” sela Lasihi. “Ki Sandireja? Apakah kamu orang suruhan Ki Sandireja?”

Arya tertawa.

“Bukan,” katanya. “Aku yang memperalat Ki Sandireja agar bisa menikahimu.”

“Apa?!”

 Arya kembali tertawa. “Sejak melihat kamu, aku langsung  jatuh cinta. Tetapi aku tahu, itu tidak akan mungkin. Kamu sudah dijodohkan dengan Juragan Tirta.”

“Itu tidak benar. Aku tidak dijodohkan dengan siapa-siapa!”

“Memang belum, tetapi ayahmu tidak akan menolak ketika Juragan Tirta melamarmu. Itu yang membuatku takut karena tidak mungkin bisa bersaing dengan Juragan Tirta.”

Lasih mencoba mencerna perkataan Arya. Namun banyak hal yang belum bisa dimengerti.

“Mengapa kamu tidak mencoba melamarku dengan baik-baik?”

“Tidak mungkin diterima.”

“Mengapa? Karena kamu tidak bisa bersaing dengan Juragan Tirta?”

“Ya.”

“Tapi Juragan Tirta belum melamarku.”

“Ayahmu tidak mungkin mau menerima lamaranku karena tidak mau kamu berhenti menjadi sintren!”

“Oh…”

“Ki Bano menganggapmu sebagai aset untuk menghidupkan grup sintrennya. Kamu tidak akan mungkin diijinkan menikah- dengan siapapun!”

“Tapi tadi kamu bilang bapakku tidak akan menolak lamaran Juragan Tirta?”

“Karena terpaksa, karena ayahmu tidak bisa melawan Juragan Tirta. Dari situ kemudian aku mencari jalan agar memiliki kekuatan yang dapat memaksa ayahmu untuk menerima lamaranku. Aku bertemu KI Sandireja dan dia mau membantuku.”

“Jadi…jadi…”

“Ya, ilmu yang dimiliki ayahmu masih kalah hebat dibanding KI Sandireja. Dia yang menciptakan semua ini, termasuk me…”

“Cukup, anak muda!” terdengar suara gemuruh menghentikan ocehan Arya. Spontan Arya dan Lasih menoleh. Ki Bano kini sudah berdiri di antara mereka. Beberapa anak buahnya  langsung mengelilingi Arya.

“Bapak!” pekik Lasih sambil menubruk Ki Bano.   

“Tenang, Nok. Semua sudah berakhir”

“Kalian…kalian bisa melihatku?”

“Anak muda, mari ikut kami,” kata Ki Bano.

Arya menggeleng. Ia masih belum yakin sudah keluar dari pengaruh gaib dan kembali ke alam nyata.

“Jangan paksa aku menggunakan kekerasan,” erang Ki Bano.

Arya tiba-tiba berlari. Serempak anak buah Ki Bano mengejarnya, namun kalah gesit. Arya berlari sangat kencang dan berhasil mencapai jalan desa. Sesaat ia kebingungan karena belum sepenuhnya percaya dengan apa yang terjadi. Namun akhir Arya menuju ke rumah Ki Sandireja.