Now Loading

Tabir Pekat

Arya membuka mata ketika mendengar ribut-ribut dan mencoba mengenalinya. Tidak bisa. Semua serba gelap. Tiba-tiba sebuah obor menyala dekat wajahnya. Apinya menyilaukan mata.

“Tolong jauhkan obor itu dari wajahku,” teriak Arya. Ia mencoba berdiri, tapi badannya terasa sakit.

Bukannya menjauh, obor itu justru semakin dekat. Arya memekik ketika obor itu mengenai wajahnya.

“Aduh!” jeritnya sambil memejamkan mata. Namun tidak berapa kemudian dia kembali membuka mata dengan kening berkerut. Aneh, aku tidak merasakan apa-apa. Padahal api obor jelas mengenai wajahku. Dengan perasaan campur-aduk Arya mencoba memegang api di depannya. Tidak panas. Ia lantas menyingkirkan obor itu dari wajahnya. Tidak bisa! Tangkai obor itu seperti tidak ada. Tangannya bisa melewati bambu yang dijadikan tangkai obor.

Arya buru-buru berdiri lalu berjalan mendekati orang yang memegang obar lalu menepuk pundaknya. “Pak!” tegurnya.

Tidak ada sahutan. Orang itu seperti tidak merasakan tepukannya. Arya lantas mengulanginya beberapa kali. Bahkan dengan sedikit lebih keras. Namun justru tangannya yang masuk ke dalam pundak orang itu.

Orang ini hanya bayangan, pikir Arya. Mungkin setan. Arya lantas berjalan ke arah kerumunan orang-orang yang juga memegang obor.

“Maaf, Pak, ada apa ya?” tegur Arya.

Tidak ada yang menyahut. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Setelah beberapa kali menyapa namun tidak mendapat respon, Arya mulai sadar jika dugaannya tadi keliru. Mereka bukan bayangan, tapi aku yang tidak terlihat oleh mereka! Aku yang telah berubah menjadi makhluk gaib!

Arya cemas ketika menyadari dirinya masih di alam gaib. Namun di mana Ki Baurekso dan raksasa itu? Juga Lasih? Bukankah Ki Baurekso mengatakan ia akan menemukan Lasih setelah tabir kegelapan dibuka?

Ataukah ada tabir gaib lain yang dipasang Ki Sandireja? Arya mengingat-ingat pertemuanya di perkebunan karet saat mengikuti Ki Bano dan Lasih yang hendak melakukan ritual ke laut. Ia bertemu Sandireja dan mengancam akan mengadukan ulahnya kepada Ki Bano.

“Kecuali kamu mau menuruti perintahklu,” ujar Ki Sandireja. “Bukankah kamu juga ingin menikah dengan Lasih?”

Dalam kondisi terpojok, Arya mengiyakan. Ki Sandireja lantas mengajak ke rumahnya dan menjalani serangkaian ritual. Selesai ritual mereka kembali ke perkebunan karet untuk mencegat Lasih. Kebetulan saat itu Lasih pulang sendirian sehingga keinginan Ki Sandireja  dapat diwujudkan sesuai rencana.

***

Ki Bano dan rombongannya berhenti di bawah pohon besar di dalam perkebunan karet. Bersedekap degan khusyu. Hanya mata batinnya yang mengembara, mencaritahu sesuatu di balik tabir yang tak kasatmata. Ia meyakini Lasih dan juga Arya ada di sekitar tempat itu.

“Tapi bukankah Ki Bano melihat Arya masuk ke laut?”

“Aku ditipu! Aku mengikuti setan yang maujud seperti Arya,” dengus Ki Bano. “Ayo, terus cari. Kita harus masuk ke dalam hutan!”

“Tapi sekarang sudah malam, Ki,” sanggah Somad. “Bagaimana kalau besok saja?”

“Tidak, Kita harus mencarinya sekarang. Lasih sudah tiga hari ditawan mereka!”

“Mereka? Siapa Ki?” seseorang bertanya tanpa berusaha menyembunyikan ketakutannya.

Ki Bano mendengus, namun tidak memberikan jawaban pasti.

“Saya takut, Ki. Bagaimana kalau nanti kita juga ditawan oleh mereka?”

“Yang tidak berani, silahkan pulang. Aku mau masuk ke hutan, meski tidak ada yang ikut!” erang Ki Bano.

“Apakah mungkin Lasih masih bisa kita selamatkan, Ki?”

Tidak ada jawaban. Ki Bano berhenti lalu berusaha mencari pemilik suara itu. Semua dapat merasakan kemarahan Ki Bano. Suasana menjadi begitu hening. Keheningan yang mencekam.

Ki Bano berusaha mengenali setiap wajah di depannya. Namun tidak satupun dari sembilan laki-laki itu yang bersuara. Wajah mereka terlihat sangat tegang di bawah temaran cahaya obor yang meliuk-liuk dipermainkan angin.

“Setelah kejadian di laut, aku tahu ada orang yang sedang mempermainkanku. Aku dijebak untuk mengikuti permainannya sehingga mengira Lasih terkena kutukan karena tetap menjadi sintren karena padahal sudah tidak perawan. Ternyata itu tidak benar.” 

“Bukankah itu pengakuan Lasih sendiri?” tanya Somad, mengingatkan.

“Aku sudah menemui Ratman. Aku tahu anak itu tidak bohong ketika mengatakan sore itu tidak jadi datang menemui Sandireja karena dia mabuk berat di terminal Losari.”  

“Kalau begitu, siapa yang memperkosa Lasih?”

“Tidak ada yang memperkosa anakku. Sejak pulang dari laut usai ritual, sudah ada makhluk lain yang manjing di dalam tubuh Lasih. Dan yang bisa melakukan itu hanya Sandireja!” desisnya.

 “Mengapa Arya ikut hilang?”

“Itu kemauan dia sendiri. Dia sudah terlebih dulu datang ke tempat Sandireja sebelum aku mengajaknya melakukan ritual pemanggilan arwah Sulandono. Tubuhnya ternyata sudah diisi oleh Sandireja!”

“Mengapa kita tidak suruh Ki Sandireja untuk membebaskan Lasih?”

Kali ini Ki Bano tidak bisa menahan emosinyai. Telunjuknya teracung pada orang yang baru saja memberi saran. “Bano tidak akan mengemis belas kasihan! Tidak akan pernah menyerah kepada Sandireja! Jika kamu tidak mau ikut mencari Lasih, pulang!”

Ki Bano terus memaki-maki sembilan orang di depannya dan menyuruh mereka pulang. Setelah itu ia bergegas masuk ke hutan. Tubuhnya hilang di antara jajaran pohon karet. Hanya nyala obor  yang menjadi penanda ke mana orang itu melangkah.  Somad bersama lainnya mengikuti tanpa suara.

Arya mendengarkan penuturan Ki Bano dengan dada berdebar. Ia membiarkan rasa kagumnya memenuhi pikiran. Ternyata Ki Bano bisa mengetahui jika sebelumnya tubuhku sudah diritual oleh Ki Sandireja.  

“Kamu tidak mungkin bisa mendapatkan Lasih,” cetus Ki Sandireja ketika meritual Arya. “Bano tidak mungkin mau melepas anak gadisnya kecuali kamu sudah menikahinya, sudah membuat dia tidak perawan! Jika sudah demikian, Bano pasti tidak punya pilihan lain kecuali menikahkan kalian.”

“Bagaimana caranya?”

“Kamu sekarang sedang menjalani ritual untuk mendapatkan Lasih,” jawab Ki Sandireja sambil terkekeh. “Tapi kamu harus hati-hati. Bano memiliki ilmu rogoh sukma yang dapat mengetahui, bahkan mempengaruhi sukmamu. Ilmu itu diturunkan langsung oleh Eyang Sukmo, guru kami.”