Now Loading

Dewi Lanjar

“Kamu telah melanggar perintahku, Sulandono!” teriak Baurekso. “Sekarang pilih, aku yang akan membunuhmu atau kamu pergi selamanya dari istana ini!”

“Saya tidak tahu, Ki, eh, bapak…”

Ki Baurekso mengernyitkan kening. Tangannya gemetar. “Apa katamu? Kamu panggil aku apa?”

“Ki..eh, anu bapak, anu…”

“Anak kurang ajar!” teriak Ki Baurekso sambil menghujamkan keris. Reflek Arya melindungi dadanya dengan kedua telapak tangan. Tepat pada saat itu sebuah selendang berkelebat dan menjadi perisai. Terdengar dentuman sangat keras ketika ujung keris membentur selendang.

Arya terpental. Tubuhnya melayang lalu jatuh dengan posisi terlentang. Hanya erangan kecil yang keluar dari mulutnya. Ia tidak punya waktu untuk mengeluh lebih lama. Pemandangan di depannya membuat dadanya berdebar.

“Rantamsari, apa yang kamu lakukan?”

“Romo, kita harus menyatukan mereka.”

“Oh, jadi kamu yang menyuruh Sulandono pulang?”

“Benar, Romo.”

“Untuk apa!” potong Ki Baurekso. “Sulandono tidak akan aku ijinkan menikahi Sulasih. Itu sudah keputusanku. Kamu jangan coba-coba menentangnya!”

“Romo, jika kita tidak mempunya keturunan, tidak ada generasi penerus Romo, siapa yang akan mewarisi semua ini?” sanggah Dewi Lanjar.

“Tapi tidak dengan Sulasih!”

“Apa salah Sulasih?”

Ki Baurekso terdiam. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu. Namun sebelum menemukan jawaban yang tepat, Dewi Lanjar sudah menyerobotnya, “Kita harus mengakhiri kisah ribuan tahun ini. Sekarang saat yang tepat karena mungkin tidak akan ada lagi sintren di tanah Jawa. Punah digusur budaya baru manusia. Jika itu terjadi, kita tidak bisa melihat Sulandono lagi!”

“Tidak!” jawab Baurekso, keukeuh. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang. “Di mana Sulasih? Aku merasakan kehadiran di sini!”

“Dia ada dalam perlindunganku!” jawab Dewi Lanjar dengan nada tinggi.

Tak ayal, hal itu membuat Ki Baurekso meradang. Kerisnya kini terarah ke perut istrinya. “Kamu sudah melanggar aturanku, Rantamsari!”

“Apakah Romo akan membunuhku?”

Arya bergidik membayangkan apa yang akan terjadi. Terlebih ketika Ki Baurekso menerjang tubuh istrinya dengan keris terhunus. Terdengar jerit Dewi Lanjar sebelum kemudian ambruk bersimbah darah.  Mengapa Dewi Lanjar tidak melawan atau menghindar? pikir Arya kebingungan.

Perlahan Dewi Lanjar berdiri. Darah masih menetes dari ulu hati. Tubuhnya sedikit limbung, namun kekerasan hatinya mampu menjadi penopang tubuhnya. Sorot matanya begitu dingin ketika menatap Arya yang tengah menggigil di pojok ruangan.

“Rantamsari, aku tahu kamu tidak akan mati oleh kerisku,” ujar Ki Baurekso dengan nada tinggi. “Tetapi aku bisa membuatmu menderita lebih lama karena pelanggaran yang telah kamu lakukan. Semua tergantung pada keputusanmu. Sekarang pilih, kamu mau melindungi Sulasih atau turuti perintahku?!”

“Aku tidak ingin terus mengembara di alam yang tidak menentu, Romo. Aku ingin mengakhiri semuanya. Kita harus sadar, kisah cinta Sulandono dan Sulasih tidak bisa kita pisahkan. Itu sudah kehendak alam, sudah takdir Yang Maha Agung!”

“Bedebah kamu, Rantamsari! Aku tidak akan pernah merestui anak lanang-ku menikahi penari dusun yang tidak jelas asal usulnya!” maki Ki Baurekso sambil kembali menghujamkan kerisnya.

Dewi Lanjar kembali terjatuh. Darah yang mengucur semakin banyak. Arya tidak tega melihat pemandangan di depannya. Namun dia pun tidak bisa melakukan apa-apa. Setelah Dewi Lanjar mati, pasti Ki Baurekso akan membunuhku, pikir Arya.

Seperti sebelumnya, Dewi Lanjar kembali berdiri. Namun Arya kaget ketika tidak melihat darah di tubuhnya. Sesaat kemudian tubuh Dewi Lanjar melenting ke udara dan berubah menjadi raksasa dengan wajah sangat buruk. Baurekso sempat terkesiap melihat pemandangan di depannya.

“Sudah aku duga, kamu pasti bukan Rantamsari!” erang Ki Bahurekso.

Raksasa itu tertawa. Tangannya berkelebat menyasar kepala Baurekso. Mendapat serangan mendadak, Baurekso mengelak ke samping. Tapi upayanya sia-sia. Pukulan raksasa itu masih mengenai bahunya sehingga menimbulkan luka cukup parah.

“Cukup Baurekso. Minggirlah. Jangan kamu ganggu kesenanganku!”

“Siapa kamu?!” desis Ki Baurekso.

Raksasa itu tertawa, mengejek. “Aku membutuhkan bayi manusia untuk mendapatkan keabadian.”

“Kurang ajar!” desis Ki Bahurekso. “Jadi anak ini dari bangsa manusia?” sambung sambil menunjuk ke arah Arya.

Tawa raksasa itu semakin lebar. Tangannya kembali berkelebat. Tubuh Ki Baurekso pun terpental dan jatuh di sebelah Arya. Darah segar mengucur dari mulutnya.

Arya beringsut menjauh. Namun Ki Baurekso mengejarnya dengan cara berguling karena sambil menghindari serangan raksasa.

“Anak manusia, pergi kamu dari sini. Cepat!”

“Bagaimana caranya?” tanya Arya, gugup sekaligus kaget melihat perubahan sikap Ki Baurekso.

“Aku akan membantu membuka tabir kegelapan yang memasungmu.”

“Tapi bagaimana dengan Lasih? Maksudku, Sulasih!”

“Dia pasti ada di sekitar sini. Setelah tabir kegelapan terbuka, kamu bisa menemukannya,” ujar Baurekso.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

“Larilah keluar ruangan ini. Cepat!”

Arya berdiri lalu berancang-ancang untuk lari. Namun pukulan dari sang raksasa menghentikan niatnya. Tubuhnya justru melayang dan tidak pernah jatuh.