Now Loading

Bertemu Romo

Arya merasa seluruh wajahnya sudah dibaluri liur. Namun ternyata hanya sebatas itu. Padahal ia sudah membayangkan tubuhnya akan berpindah ke dalam perut ular di depannya.

“Lasih atau siapapun kamu, aku...aku minta maaf,” ujar Arya setelah berhasil menenangkan hatinya. Perlahan ia membuka mata dan mencoba menatap moncong ular di depannya. “Aku tidak bermaksud untuk....”

Belum selesai Arya berkata, ular di depannya tiba-tiba hilang. Sementara Lasih masih berdiri di tempat semula tanpa reaksi. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Lasih?” panggil Arya, lirih.

“Ya?”

“Kami Lasih, bukan?”

Perempuan di depannya mengangguk. Arya menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Otaknya dipaksa kerja keras karena merasa ada yang aneh. Setiap kali ia berpikiran buruk, semua yang dilihatnya berubah menjadi ular dan juga hewan buas lainnya. Tapi jika ia pasrah dan mengikuti aturan, semuanya tampak biasa-biasa saja. Ini hanya halusinasi, pikir Arya. Aku berada di suatu tempat yang dibatasi tabir gaib. Tapi bagaimana caranya agar Lasih tahu?

Hingga beberapa saat Arya hanya kebingungan. Ia tidak menemukan cara untuk memberitahu Lasih mengenai situasi yang sedang mereka hadapi. Kini pikirannya justru dpenuhi pertanyaan lain yang tak kalah menohok: benarkah sosok di hadapannya Lasih?

Katakanlah bukan siluman ular yang tadi menjilati wajahnya, tapi benar-benar Lasih, namun mungkin hanya raganya. Sedang jiwanya telah digantikan oleh Sulasih. Arya teringat pada kisah dunia gaib, dunia supramistis, tentang orang-orang yang telah menggadaikan jiwanya kepada makhluk gaib. Meski tetap berwujud manusia, namun jiwanya iblis sehingga ada yang tega mengorbankan anaknya untuk tumbal pesugihan atau demi mendapatkan ilmu hitam.

Lasih tentu tidak melakukan itu. Tetapi bagaimana dengan Ki Bano? Bisa saja Ki Bano sengaja mengorbankan Lasih demi kejayaan grup sintrennya. Juga diriku! Arya tersentak ketika kesimpulan itu didapat. Ya, mengapa Ki Bano mengirimku ke sini? Apakah dia sengaja mengorbanku sebagaimana dia mengorbankan Lasih?

Aku harus mengakhiri semua ini! tekad Arya. Aku harus menemukan jalan keluarnya. Aku tidak boleh menyerah. 

“Lasih, mari kita ikuti kehendak Ibu Ratu,” ujar Arya sambil mengatur nafas.

Lasih tersenyum. Kaki mungilnya diseret menuju peraduan.

“Ibu Ratu ingin agar kita memiliki anak,” lanjut Arya. Kalimat yang digunakan ditata sedemikian rupa sambil berharap Lasih paham akan maksudnya. “Setelah itu, kita akan meninggalkan anak kita di sini sebagai persembahan, sebagai tanda bakti kita kepada Ibu Ratu.”

Lasih duduk di tepi peraduan. Menatap Arya dengan wajah gembira.

“Kamu mau?” tanya Arya dengan mimik serius. Ia kuatir Lasih tidak menangkap maksud ucapannya.

Lasih mengangguk. Senyumnya kian lebar.  Hal itu membuat Arya gugup. Ternyata Lasih benar-benar tidak memahami ucapannya.  Padahal ia telah menggugah batinnya dengan kalimat, “akan meninggalkan anaknya di sini sebagai persembahan”. Bukankah tidak ada ibu yang mau mengorbankan anaknya? Mestinya Lasih berontak. Tetapi mengapa dia malah girang? Ataukah dia bukan Lasih?

“Lasih, benarkah kamu Lasih anak Ki Bano?”

Hening. Lasih tidak bereaksi. Bibirnya terkatup.

“Lasih, kita harus keluar dari…”

Wushh….

Belum selesai kalimat itu, wujud Lasih kembali berubah menjadi ular hitam yang sangat besar. Dari caranya melesat menghampiri Arya, terlihat ular itu sangat marah. Moncongnya terbuka lebar membuat kepala Arya tampak begitu kecil. Sekali telan pasti habis. Karuan saja Arya memekik sejadinya. Ia menyesal mengucapkan kalimat yang bernada menantang Ibu Ratu sehingga kembali Lasih berubah menjadi ular.

“Tolong…!” teriak Arya dengan tubuh mengigil.

Kepala ular itu berputar lalu perlahan mundur sejengkal dan bersiap menerkam mangsa di depannya.

“Tunggu!” ujar seseorang.

Ibu Ratu? Arya spontan membuka mata ketika dirasa moncong ular itu sudah menjauh. Benar saja. Ular itu sudah tidak ada. Yang terlihat tinggal Lasih dan Ibu Ratu. Dari mana dia masuk ke kamar sementara pintunya masih tertutup?

“Raden Sulandono, mengapa kamu tidak menuruti perintahku? Jangan sampai bapakmu datang untuk memisahkan kalian. Aku ibumu. Aku telah mengijinkanmu menikah dengan Sulasih. Bukankah itu kehendakmu sendiri?”

Rentetan kalimat perempuan cantik di depannya membuat Arya mulai bimbang dengan keyakinannya sendiri. Mungkin benar aku sudah menjadi Raden Sulandono. Buktinya aku bisa tetap hidup di sini, di alam gaib.

“Aku tahu Raden sedang bingung,” ujar Dewi Lanjar ketika dilihatnya Arya bergeming. “Ada baiknya kamu istirahat. Mari Sulasih.”

Sulasih tersenyum sambil mengangguk. Dalam sekejap mereka meninggalkan kamar pengantin. Seperti kedatangannya, perginya pun begitu cepat. Tiba-tiba sudah hilang dari pandangan Arya.

Pikiranku masih normal dan bisa mengingat semuanya. Tetapi ragaku seperti terpasung, keluhnya.

Mendadak Arya berdiri lalu mondar-mandir sambil memegangi jidatnya. Kesadaran bahwa raganya telah tertukar dengan Raden Sulandono membuatnya ketakutan. Bukan mustahil, hal yang sama juga terjadi pada Lasih. Jiwanya Lasih tetapi raganya Sulasih. Kenyataan bahwa raga Lasih bisa berubah menjadi ular, menguatkan kesimpulan Arya.

Ya, ragaku dan raga Lasih telah ditukar. Itu sebabnya mereka memperlakukanku layaknya seorang raden. Mungkin benar, Dewi Lanjar bermaksud baik, menikahkan Raden Sulandono dengan Sulasih yang telah terpisah ribuan tahun karena kekerasan hati KI Baurekso. Apa salahnya aku menuruti kehendak Dewi Lanjar. Mungkin saja setelah itu jiwaku akan dibebaskan sehingga bisa kembali ke ragaku yang asli.

Setelah meyakinkan diri hanya itu jalan yang terbaik, Arya lantas mencoba membuka pintu kamar. Karena daun pintunya tidak memiliki pegangan, Arya mencoba mendorongnya dengan tangan kiri. Tidak bisa. Arya mencoba lagi dengan kedua tangannya. Tetap tidak bisa. Arya lantas mengambil ancang-ancang sebelum kemudian menabrakan tubuhnya pada daun pintu. Namun akibatnya sungguh fatal. Daun pintu itu seperti tidak ada sehingga tubuh Arya terlempar. Sesaat kemudian tubuhnya berguling-guling hingga akhirnya berhenti setelah menabrak kaki seseorang.

“Apa yang kamu lakukan, Raden?!” ujar suara pemilik kaki itu.

Arya mendongak sambil meringis kesakitan. Laki-laki tinggi besar berkumis baplang tengah menatapnya penuh amarah. Buru-buru Arya berdiri lalu menundukkan wajah diiringi permintaan maaf.

“Bukankah aku belum mengijinkan Raden  pulang?”

Celaka! Dia pasti Ki Baurekso, pikir Arya. Kini semuanya akan semakin kacau. Andai Ki Baurekso tahu Lasih, atau Sulasih, ada di sini, pasti dia akan sangat marah. Pasti mengira aku yang telah membawanya.

“Jawab, Raden! Mengapa sudah kembali tanpa seijinku?” desak Ki Baurekso.

Kaki Arya mulai gemetar. Ia pun tidak tahu jawabannya.

Baurekso mencabut keris, lalu menghunuskan tepat ke dada Arya.