Now Loading

Bertemu Lasih

Arya tidak perlu berlama-lama untuk mendapatkan jawaban. Iring-iringan sembilan perempuan muncul dari arah selatan. Langkah mereka begitu anggun, berbalut baju panjang serba kuning.  Rambutnya disanggul dengan beberapa bunga tangkai panjang- seperti bunga kantil yang belum mekar. Namun hiasan rambut salah satu dari mereka menggunakan bunga melati. Ya, dandanan dia yang paling beda. Kini Arya mulai paham, jika dia yang menjadi ‘ratunya’ dan delapan lainnya hanya pengiring.

Rombongan itu terus berjalan mendekat ke arah Arya. Langkah mereka begitu seirama dengan wajah tertunduk. Namun sepertinya mereka sudah hafal dengan tempat yang hendak dituju. Mungkin sebelumnya mereka sudah melakukan gladi resik. Tanpa menoleh ‘ratunya’ duduk di kursi seperti yang diduduki Arya, sementara delapan pengiringnya duduk di lantai- di belakang kursi, membentuk setengah lingkaran. Kini Arya duduk berhadapan dengan ‘ratu’ yang hanya jarak sekitar tiga meter. 

Sampai beberapa saat ruangan itu sangat hening. Tidak ada yang bersuara. Bahkan angin pun mati. Semuanya seperti tengah menunggu.  Tapi siapa lagi yang ditunggu? pikir Arya. Bukankah ‘ ratunya’ sudah hadir? Mengapa acaranya tidak segera dimulai?

Teka-teki itu terjawab ketika iring-iringin lain datang. Sama seperti iringan tadi, semuanya perempuan dalam balutan baju kuning. Hanya satu orang yang mengenakan baju berwarna hijau lumut. Langkah paling anggun. Arya baru sadar, di antara dua kursi yang ia dan ‘ratunya’ duduki, ada kursi lain. Di situlah perempuan baju hijau lumut duduk. Sementara para pengiringnya bersimpuh di lantai tepat di belakang kursinya.

“Anakku Raden Sulandono, inilah Sulasih- jodohmu,” kata perempuan berbaju lumut sambil menunjuk ke “ratunya”..

Arya menoleh dan kini ia bisa melihat dengan jelas wajah “ratunya’. Sulasih? Siapa dia? Sepertinya aku sangat mengenal nama itu. Di mana? Lalu mengapa mereka menjodohkanku? Siapa perempuan berbaju hijau lumut ini?

“Raden, aku ibumu, – Dewi Rantamsari.  Aku telah merestuimu untuk menikah dengan Sulasih,” ujar perempuan berbaju hijau lumut.

Ketika Arya hendak protes, tiba-tiba Ratu lenyap. Ya lenyap dari kursinya. Para pengiringnya seperti mahfum sehingga dengan sendirinya berdiri dan meninggalkan tempat pertemuan.  Demikian juga Sulasih dan para pengiringnya. Mereka beringsut meninggalkan bangsal tanpa sepatah kata pun. Bahkan sama sekali tidak menoleh ke Arya.

“Mari Raden,” ujar laki-laki tua berwajah tengkorak. Sepertinya dia mendapat tugas khusus untuk mengawalku, pikir Arya.

“Aku mau dibawa ke mana?” tanya Arya.

“Menjalani prosesi selanjutnya. Raden akan dimandikan sebelum disandingkan dengan pengantin perempuan, Ndoro Sulasih.”

Dengan setengah memaksa, laki-laki tua itu memegang lengan kanan Arya dan membimbingnya masuk ke sebuah taman yang berada di belakang ruang pertemuan. Arya disuruh duduk di sebuah bangku tanpa sandaran. Ketika ia masih kebingungan, dua orang mendekat dan melepas bajunya lalu diganti kain tipis yang diililitkan di pinggang. Perlahan keduanya mengguyur tubuh Arya dengan air kembang yang diciduk dari jamban besar.

Arya berusaha protes. Tubuhnya menegang. Namun setelah tiga kali guyuran, Arya mendadak terdiam. Dahinya berkerut. Air yang mengguyur kepalanya seperti obat penawar yang melunturkan selubung misteri. Perlahan Arya mulai mengenali dirinya. Sambil terus menikmati guyuran air kembang, Arya berusaha keras mengumpulkan seluruh ingatannya.

“Tidak!” teriak Arya tiba-tiba. Ia berdiri dan berusaha menjauh dari tempat itu. Namun beberapa ular besar segera mengepung dengan lidah terjulur. Arya pun terpaksa duduk kembali di bangku tanpa sandaran. Dua orang yang memandikan segera melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa. Ular-ular yang tadi mengepung, kini telah sirna. Arya hanya melihat beberapa orang tengah mengawasi tanpa berkedip.

Aku terjebak di dunia lelembut, pikirnya. Ini pasti ulah Ki Bano dan perempuan tadi yang hendak dijadikan pengantin adalah Lasih. Beginikah prosesi menjadi sintren? Hati Arya terus bertanya-tanya. Sampai acara mandi selesai dan diriya didandani layaknya pengantin Jawa- lengkap dengan baju surjan warna hitam dengan bawahan kain panjang yang diwiru, Arya belum juga menemukan jawaban.

“Mari Raden, acara sudah siap dimulai,” ujar seseorang.

Dengan pikiran bingung, Arya berjalan mengikuti arahan orang itu. Tiba di tempat yang dituju, mata Arya terbelalak. Di depannya terhampar ruangan yang sangat indah. Semuanya berkilau bagai permata. Bahkan tempat duduk dan juga dinding ruangan bersepuh emas.  Puluhan orang sudah hadir. Semuanya duduk bersimpuh di lantai dengan wajah menunduk.

“Duduklah di sini, Raden.”

Arya duduk di bangku bersepuh emas dengan sandaran berlapis belundru. Dua dayang-dayang yang duduk di samping- di bawah kursi, mengipasinya dengan kipas bertangkai panjang. Tidak lama kemudian datang Lasih dengan diantar dayang-dayang lalu duduk di sebelahnya.

“Lasih,” bisik Arya.

TIdak ada reaksi. Wajah Lasih tampak sangat tegang.

“Lasih, di mana kita?”

Masih tidak ada reaksi. Bahkan sepertinya Lasih tidak merasa tengah diajak berbicara. Pandangannya lurus nyaris tanpa berkedip.

Arya tidak berani menegur lagi. Apalagi kemudian muncul Dewi Rantamsari dan langsung berdiri di depan Arya dan Lasih.

“Mulai saat ini kalian adalah pasangan suami istri. Berilah saya cucu sebagai penerus kerajaanku,” kata Ibu Ratu alais Dewi Rantamsari. Sebuah selendang dikalungkan ke pundak Arya dan Lasih. Setelah itu Ibu Ratu pergi. Beberapa orang lantas membimbing Arya dan Lasih kamar pengantin.

Setelah Arya dan Lasih masuk, orang-orang yang mengantarnya beringsut sambil menutup pintu. Tinggal Arya dan Lasih di dalam kamar. Kebingungan jelas tergambar pada  wajah Arya. Matanya sibuk menjelajah setiap sudut ruangan.

Ia merasa tengah berada di dalam air dan kamar itu pun sebenarnya berdinding air. Selain ranjang berseprei biru dengan taburan bunga melati, tidak ada benda lain di kamar itu. Suasananya sangat redup. Arya bingung dari mana asal cahaya redup itu karena tidak melihat lampu atau alat penerangan lain.

Arya tidak berani mendekati ranjang. Demikian juga Lasih.  Keduanya berdiri mematung seperti saling menunggu.

“Lasih,” bisik Arya. “Apakah kamu mengenalku?”

Lasih menoleh, menatap wajah Arya sekilah, lalu kembali memalingkan wajah. Tatapannya masih kosong. 

“Lasih, kita terjebak di alam gaib,” bisik Arya. “Awalnya aku tidak tahu. Tetapi setelah dimandikan dengan air kembang, aku mulai sadar. Tapi aku belum berani melakukan apa-apa karena setiap kali hendak berontak, semua yang aku lihat langsung berubah menakutkan. Orang-orang yang mengantar kita tadi sebenarnya ular!”

Lasih mendengarkan tanpa reaksi.

“Aku masih berpikir keras untuk mencari jalan bagaimana kita keluar dari sini. Hanya ayahmu- Ki Bano, yang bisa menyelamatkan kita. Tapi...”

Suara Arya mendadak berhenti. Ia mundur beberapa langkah. Tubuhnya bergidik.  Mulutnya ternganga melihat pemandangan di depannya.

“Lasih, mengapa kamu berubah jadi ular?”

Ular hitam itu memutar badannya. Mulutnya mendesih sambil menjulurkan lidah. Ketika kepala ular itu maju, jarak antara moncongnya dengan wajah Arya tinggal sejengkal. Arya memekik sambil memejamkan mata. Seluruh tubuhnya bergidik.

“Kamu bukan Lasih. Kamu…kamu….”

Arya terus merancau. Sementara moncong ular itu semakin dekat. Bahkan lidah ular itu sudah menyentuh wajahnya.

Arya mundur hingga mepet ke tembok. Tangan kanannya berusaha menepis lidah ular. Sementara tangan kirinya dipakai untuk menutupi wajah. Namun usahanya sia-sia. Lidah ular menyapu wajahnya, meninggalkan liur dingin. Jeritan ketakutan yang keluar dari mulut Arya begitu menyayat. Tubuhnya bergetar dengan hebat. Bayangan kematian tiba-tiba menyergap dan ia tidak punya pilihan untuk menghindar.

“Tolong...tolong!”

Hening. Tidak ada suara apa pun, kecuali desis ular.

“Apa salahku, Lasih? Apa salahku Ibu Ratu! Tolong... tolong!”

Ular hitam sebesar pohon kelapa itu tidak hirau dengan cercauan Arya. Lidahnya terus menjilati wajah Arya dengan ganas.