Now Loading

Pulang ke Istana

“Bukalah matamu, Raden,” perintah seseorang. Suaranya perempuan itu sangat merdu dan berirama layaknya nyanyian sinden.

Perlahan Arya membuka matanya. Mematung. Hanya bola matanya yang bergerak, berputar-putar pada tempatnya seperti tengah mencari sesuatu. Tidak. Ia tidak mencari apa-apa tapi mencoba mengenali tempat di mana dirinya berada. Ia tidak tahu apakah tengah berada di dalam ruangan atau di halaman rumah. Tembok berwarna terang di depannya seperti tanpa tepi- baik ke kanan maupun ke kiri. Mungkin aku berada di seberang tembok sebuah bangunan, pikir Arya.

“Sudah cukup tapa yang kamu lakukan selama 1000 tahun. Kini Sulasih- kekasih sejatimu sudah ada di sini. Menunggumu sejak kemarin. Sekarang temui dia,” perintahnya.

Setelah gagal mengenali lingkungan tempatnya berada, Arya menoleh ke kanan untuk mencari tahu pemilik suara itu. Tidak ada siapa-siapa. Buru-buru Arya menoleh ke arah sebaliknya. Kosong. Tidak ada siapa pun di situ.

“Teruslah berjalan.”

Jalan ke mana? tanya Arya dalam hati.

“Lewati tembok itu.”

Kini sorot mata Arya tertuju pada tembok di depannya. Kakinya bergerak dua langkah. Tangannya terulur lalu menyentuh tembok di depannya. Kosong. Tembok ini hanya fatamorgana. Arya kembali melangkah. Kakinya masuk ke tengah tembok. Ya, tembok yang dilihatnya tidaklah nyata. Arya kembali melangkah. Kini seluruh tubuhnya berada dalam tembok. Dua langkah berikutnya, Arya menemukan dirinya sudah berada di sebuah taman.

Sampai beberapa saat Arya terpaku di tempat itu. Hanya matanya yang menjelajah ke setiap sudut taman. Di sebelah kiri, terdapat kolam yang sangat luas. Ya, sangat luas untuk ukuran kolam. Bahkan seberangnya nyaris tidak terlihat. Airnya sangat jernih. Di tengahnya terdapat pulau di mana berdiri beberapa bangunan mirip gazebo. Tanpa sadar kaki Arya melangkah ke tepi kolam. Namun seketika ia mundur ketika melihat isi kolam itu.

“Jangan takut. Hewan-hewan itu sangat jinak,” suara merdu perempuan yang menuntunnya terdengar menentramkan.

Bukan hiu dan hewan-hewan buas lainnya yang ada dalam kolam itu yang membuatku takut, bantah Arya dalam hati. Namun ia tidak meneruskan kata hatinya. Arya mengalihkan pandangan pada gapura indah di depannya. Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya jika ular-ular raksasa yag sedang menjulur-julurkan lidah sambil bergelantungan di antara dua gapura hanya ilusi, hanya tipuan seperti halnya tembok tadi.

Namun kesimpulan Arya meleset. Belum juga sempat mengerdipkan mata, ular sebesar pohon kelapa menyambar. Reflek Arya mundur hingga tiga langkah. Namun tetap saja ujung lidah ula hitam itu sempat mengenai wajahnya.

“Auughh...” pekiknya.

“Jangan takut, Raden. Ular-ular itu hanya ingin mengenalimu.”

Benar saja. Tiba-tiba puluhan ular yang tadi bergelantungan di gapura, serentak turun lalu diam di depan Arya dengan kepala tertunduk. Tidak ada lagi yang menjulurkan lidah.

“Ampuni kami, Raden.”

Arya lagi-lagi terlonjak. Ular itu bisa bersuara! Tapi mengapa ular-ular itu bersujud padaku? Siapa aku?

Setelah terpaku beberapa saat, perlahan Arya kembali melangkah. Menuruti perintah yang terdengar sangat jelas namun tidak terlihat wujudnya. Mungkin perempuan itu pemilik tempat ini, pikir Arya sambil menapaki undakan batu-bata tanpa plester, persis seperti semua dinding dalam komplek ini. Arya merasa pernah melihatnya, namun tidak tahu kapan dan di mana. Jangankan mengingat sesuatu, bahkan aku pun tidak mengenal diriku, keluh Arya.

Tiba di ujung undakan, Arya kembali terpaku. Pemandangan di depannnya sangat menakjubkan. Sebuah bangunan mirip bangsal dengan hiasan penjor dan payung warna-warni. Dua penyambut di seberang undakan, dekat pintu utama bangsa, menundukkan wajah. Hanya tangannya yang memberi tanda- mempersilahkan untuk masuk. Eh, itu bukan tangan, bantah Arya. Itu sirip!

Ya, dua penyambutnya bukan manusia melainkan ikan besar mirip hiau. Mengapa ikan itu bisa berdiri, tanya hati Arya sementara bola matanya bergerak dari moncong ikan hingga ke bagian bawah. Ah, ikan ini tidak berdiri, melainkan berenang dengan posisi tegak. Ekornya bergerak-gerak untuk menahan keseimbangan layaknya manusia yang tengah berdiri di dalam air.

Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata di situ banyak ikan sejenis. Semuanya berdiri. Ada yang sedang menata sesuatu, memasang umbul-umbul dan juga menyiapkan makanan. Sepertinya akan ada pesta, guman Arya.

Tapi, jika itu benar ikan, berarti aku tengah berada dalam air, di istana Dewi Lanjar? kembali Hati Arya bertanya. Mengapa pakaianku tidak basah. Juga rambut dan badanku?

Arya terus bertanya-tanya. Kakinya menapak undakan menurun sehingga kini dirinya berada sepenuhnya dalam ruangan. Dan, ajaib! Kini ia menjumpai banyak manusia di tempat itu, termasuk penyambutnya. Ke mana ikan-ikan tadi? Apakah berubah menjadi manusia.

“Silahkan masuk, Raden. Kanjeng Ratu sudah menunggu,” ujar penyambutnya sambil menundukan wajah sementara tangan kanannya bersilang di depan dada dan tangan kirinya ditengkuk ke belakang punggung.

“Ada apa ini? Di mana aku?” tanya Arya kepada penyambutnya.

“Raden tentu heran dengan perubahan tempat ini setelah ribuan tahun bertapa,” jawab penyambutnya.

“Bertapa? Kapan aku bertapa? Dan sekarang aku di mana?”

“Di rumah Raden sendiri...”

“Rumahku? Jangan bohong kamu!” potong Arya mulai gusar.

“Ampun Raden, hamba tidak berani berbohong.”

Di dorong rasa penasaran, Arya bergegas masuk ke ruangan mirip bangsal. Menyeberangi hamparan karpet yang sangat halus. Beberapa orang tengah duduk bersila dan buru-buru menundukkan wajah ketika Arya lewat.

“Selamat datang, Raden!” seru mereka mengucap salam.

Setelah menjelajah ke dalam ruangan yang nyaris tak bertepi, Arya mulai kebingungan. Apa yang aku cari?

“Silahkan duduk, Raden,” tegur seseorang.

Arya menoleh. Di sampingnya berdiri laki-laki tua- sangat tua sehingga wajahnya tinggal menyisakan tulang. Arya bergidik lalu buru-buru duduk di karpet. Namun laki-laki tua itu mencegahnya.

“Silahkan Raden duduk di kursi itu,” katanya sambil menunjuk kursi kayu dengan sandaran tinggi. Warnanya kekuningan seperti bersepuh emas.

Tidak ingin berdebat dengan laki-laki tua yang menyeramkan, Arya berdiri lalu duduk di kursi kayu. Tempat duduknya sangat empuk karena dilapisi beludru. Sambil menunggu apa gerangan yang akan terjadi, Arya mengedarkan tatapan ke segala sudut ruangan. Namun sejauh mata memandang, yang tampak hanya orang-orang dengan pakaian serba hitam, duduk bersimpuh di atas karpet. Sepertinya semua sedang menunggu sesuatu. Mungkin menunggu Kanjeng Ratu, pikir Arya meski dia sendiri tidak tahu siapa yang dimaksud oleh penyambutnya tadi.