Now Loading

Mengantar Raden Sulandono

Ki Bano mengikuti Arya dengan perasaan campur-aduk. Meski mulutnya terus nembang sintren, namun batinya tak henti merapal mantra. Ia menduga Sulandono tengah menuju tempat Sulasih yang manjing ke dalam raga Lasih. Tetapio di mana? Apakah dibawa ke istana Dewi Lanjar di di dasar laut utara?      

Tadinya Ki Bano berharap Sulandono akan menari di rumah dan mengundang Sulasih. Namun ternyata justru Sulandono yang mengejar Sulasih. Ki Bano mengutuk dirinya yang lupa pada sejarah sintren yang dulu dipelajari. Bukankah dalam setiap pagelaran sintren, Sulandono yang mendatangi Sulasih atas bantuan Dewi Lanjar?

Mengapa aku sampai lupa, sesal Ki Bano. Kini mereka melewati persawahan sudah gelap. Meski matanya setengah terpejam, namun langkah Arya begitu mantap. Seolah sudah berulangkali melewatinya. Kecemasan Ki Bano semakin berlipat ketika Arya terus berjalan menuju laut seperti yang dikuatirkan.

Namun bukan hanya Arya yang dipikirkan. Ki Bano merasa cemas dengan keselamatan Lasih. Jika sekarang Sulandono menuju laut, berarti Sulasih yang tengah merasuk dalam tubuh Lasih ada di dasar laut. Masih hidupkah Lasih? Sebersit pertanyaan itu membuat tubuh Ki Bano gemetar. Ia ketakutan dengan bayangan buruk yang memenuhi pikirannya.

Meski demikian Ki Bano terus mengikuti langkah Arya. Kini kakinya mulai menjejak tanah berpasir. Di depannya terbentang lautan maha luas. Sunyi dan kelam. Debur ombaknya terdengar lirih dan mistis. Burung-burung yang tadi siang menari di atas ombak, sudah kembali ke sarang. Nyaris tidak ada kehidupan di situ, kecuali sebuah perahu kecil yang tengah mengadu nasib. Namun sebenarnya Ki Bano tidak bisa melihat perahu itu. Hanya cahaya lampunya yang timbul tenggelam dimainkan ombak.

Ketegangan Ki Bano mencapai puncaknya ketika Arya terus berjalan ke laut. Kakinya mulai tersapu ombak. Hatinya terlibat peperangan apakah membiarkan Arya masuk ke laut untuk mengikuti Lasih ataukah mencegahnya.

Aku tidak ingin Lasih sendirian di istana gaib di dasar laut. Mungkin Lasih butuh teman sesama manusia. Namun jika benar Lasih berada di dasar laut, pastinya sudah meninggal. Jasadnya mungkin sudah dibawa ombak entah kemana. Hanya arwahnya yang bersemayam di kerajaan laut. Jadi untuk apa aku mengorbankan orang lain?

Ki Bano terlibat dalam perang batin untuk memilih sesuatu yang sama-sama tidak diinginkan. Tetapi kondisi Lasih belum jelas, apakah benar di dasar laut ataukah di tempat lain. Apakah masih hidup atau sudah meninggal. Sementara laki-laki muda di depannya akan mati jika masuk ke laut.   

Ki Bano tersentak seolah tersadar dari mimpi buruk. Buru-buru diraihnya tangan Arya dan menariknya ke tepi pantai. Namun tenaganya kalah kuat. Arya seperti tidak merasakan tarikan tangan Ki Bano. Dia terus melangkah. Perutnya sudah terendam air laut.

“Maaf Raden, anak muda ini belum waktunya ikut!” ujar Ki Bano. Suaranya bergetar, mengabarkan kepedihan ke dinding langit.

Arya terus melangkah. Matanya tetap terpejam. Meski sudah di dalam air, tangannya masih menari. Tanpa musik dan tembang. Kini lehernya mulai basah. Andai saja datang gelombang tinggi, Arya pasti sudah terseret ke tengah.

“Ampuni kelancanganku, Raden!” teriak Ki Bano semakin panik. Ia sudah nyaris ikut tenggelam. Meski pandai berenang, Ki Bano tidak yakin mampu menarik Arya. Meski tubuh Arya tidak terlalu besar, namun jika dalam air, beratnya akan berlipat-lipat. Terlebih kini dalam kendali roh Sulandono yang tengah kasmaran ingin segera bertemu kekasihnya.

Tiba-tiba langit menjadi kelam. Kilat menyambar diikuti petir menggelegar. Air laut semakin tinggi. Ki Bano mulai menggerakkan kaki agar tubuhnya tetap mengapung. Ia meraih rambut Arya dan kembali menariknya, namun sia-sia.

Perlahan tubuh Arya hilang ditelan laut. Ki Bano menyelam untuk melakukan penyelamatan terakhir. Ia memeluk tubuh Arya lalu dengan sekuat tenaga mendorongnya ke pantai. Kakinya menjejak pasir untuk mencari kekuatan. Namun sesuatu yang fatal terjadi. Pasir yang dijejak amblas. Bukan Arya yang terdorong, justru tubuhnya sendiri yang terbawa arus ke tengah laut. Tubuh Arya terlepas, meninggalkan Ki Bano yang kini harus berjuang untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Setelah menyadari tidak mungkin lagi menyelamatkan Arya, Ki Bano berdiam sejenak di dasar laut, menahan nafas. Pikirannya tertuju pada satu hal- fokus. Perlahan tubuhnya melayang, naik ke permukaan. Setelahnya Ki Bano berenang ke pantai. Dengan langkah tertatih ia naik ke tebing. Duduk di atas batu pipih. Pandangannya menghujam ke tengah laut. Batinnya mengucap doa untuk Arya, juga Lasih. Bukan doa keselamatan. Bukan pula doa kematian. Ya, hanya sebuah doa tanpa tujuan karena Ki Bano pun bingung dengan serentetan kejadian yang dialaminya. Ia meyakini Arya tidak mungkin selamat. Demikian juga Lasih. Namun sangat sulit untuk menerima hal itu.

Segerombol awan hitam bergerak tergesa. Melintasi langit nan lengang. Sesaat kemudian menutupi bulan sehingga alam begitu gelap. Tubuh Ki Bano nyaris tak terlihat. Bahkan Somad sempat mengira hanya seonggok batu yang tengah tafakur- menyeru alam. Namun setelah memastikan, Somad tidak berani menegur. Apalagi Ki Bano juga tidak menghiraukan kedatangannya.

Somad duduk di sebelah Ki Bano sambil mengatur nafasnya yang naik-turun. Tidak ada sepatah kata yang terucap. Pandangannya terlempar jauh ke tengah laut. Mencoba mencari tepian di seberang. Somad tidak pernah tahu ada apa di seberang laut sana. Sejak kecil hingga usianya kini ia belum pernah ke sana. Saat masih menjadi nelayan, daerah tangkapannya hanya sampai di pulau Biawak. Para nelayan tidak berani lebih jauh dari situ. Bahkan kebanyakan hanya di sekitar pulau Gosong dan Candikian.

“Aku harus membunuh Ratman,” desih Ki Bano, membuyarkan lamunan Somad.

“Apa yang terjadi, KI? Di mana anak muda itu?”

“Dia menyusul Lasih,” sahut Ki Bano, pelan.

“Ke mana?” sahut Somad sambil berpaling. Mencari keseriusan pada wajah Ki Bano sebagai penegas dugaannya. Namun ia tidak melihat apa-apa. Hanya sliuet gelap yang tengah menggigil menahan amarah.

“Lasih dan anak muda itu telah menjadi sepasang kekasih, menjadi Sulasih dan Sulandono. Mereka akan hidup bahagia di alam sana,” guman Ki Bano mencoba menghibur diri.

Namun bagi Somad, kalimat itu terdengar bagai rintihan. Kepasrahan dalam ketidakberdayaan melawan sesuatu yang sangat besar: kehendak alam.

Kini malam telah sempurna. Bulan sabit telah lama hilang di balik laut. Angin telah berbalik arah, menuju daratan. Hawa dinginnya membuat tubuh Ki Bano yang berbalut pakaian basah, kian menggigil.

“Ayo kita pulang, Ki,” ajak Somad.

“Pulanglah sendiri. Aku hendak melakukan ritual. Mungkin akan menjadi ritual terakhirku,” jawab Ki Bano.

“Apakah tidak bisa dilakukan besok?” tanya Somad. Nadanya sangat kuatir. Bayangan buruk berkelebat. Jika pun Ki Bano tidak bunuh diri, mungkin esok tubuhnya sudah kaku digerogoti hawa dingin.

“Aku harus melakukannya malam ini.”

“Ki...”

“Pulanglah kamu,” potong Ki Bano. “Jangan katakan apa pun soal Lasih dan anak muda itu. Hanya kita berdua yang tahu.”

Somad mengangguk. Dengan berat hati ia berdiri lalu melangkah meninggalkan Ki Bano sendirian di tepi laut