Now Loading

Kenekadan Ki Bano

Lama Ki Bano menatap Arya yang sedang berdiri di depannya sambil mengulurkan tangan. terlebih ketika mengatakan sudah pernah datang dan bertemu Lasih. Ia tidak suka dipublikasikan. Sejumlah wartawan yang pernah mencoba mewawancarai, dibuat kecewa karena tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya meski sudah dipancing dengan puluhan pertanyaan yang menohok.

“Bukan untuk berita, Ki. Saya bukan wartawa, tapi mahasiswa yang sedang membuat skripsi tentang sintren. Tugas dari kampus,” kata Arya.

Ki Bano belum juga memberika reaksi. Bahkan tidak menyambut uluran tangan Arya.  Ia merasakan ada hawa lain yang teruar memenuhi. Namun karena pikirannya sedang kalut, Ki Bano tidak dapat berkonsentrasi untuk mengetahui dari mana asalnya. Apakah anak buah Juragan Tirta yang menyebarkan ataukah dari dalam diri Arya.

“Apakah kamu sudah mendengar cerita tentang Lasih?” tanya Ki Bano tanpa berkedip.

“Sudah Ki. Saya mendengarnya kemarin sewaktu masih di Jakarta. Saya kaget membaca berita hilangnya Lasih di internet, makanya buru-buru ke sini.”

Rasa penasaran Ki Bano akhirnya dikalahkan oleh tujuan lain. Ia melihat pemuda di depannya masih polos meski ada sesuatu yang belumd apat dilihat secara kebatinan. Ada kabut yang menghalangi. Mungkin pakai pelet untuk memikat Lasih, simpul Ki Bano.

“Apakah betul kamu ingin tahu tentang sintren? Sebab untuk bisa mengetahui secara mendalam, kamu harus masuk ke dunianya. Bukan hanya mendengar cerita orang atau baca buku. Kamu harus merasakan sendiri. Kamu harus menjadi sintren!”

Wajah Arya mendongak. Bukan karena Ki Bano lebih tingi tetapi karena terkejut. Namun sesaat kemudian dia mengira Ki Bano tengah bercanda. Sebab dari beberapa tulisan dan juga cerita orang-orang, tidak ada sintren laki-laki.

“Aku serius!” kata KI Bano. “Kamu akan aku jadikan sintren supaya bisa mengetahui secara langsung, bukan hanya mendengar ceritaku.”

Kini Arya bisa merasakan keseriusan Ki Bano. Tidak ada canda di sana. Bahkan terlalu naif jika menganggap Ki Bano sedang bercanda di tengah kesusahan yang dialami. Bukankah sampai sekarang keberadaan Lasih belum diketahui? Bagaiamana kondisinya? Jika tersesat di suatu tempat, barangkali sudah meninggal karena selama dua hari. Namun jika dibawa ke alam gaib, mungkin saja masih hidup. Banyak cerita tentang manusia yang tersesat di alam gaib dan akhirnya bisa kembali ke dunia fana, meski dengan kondisi mental yang sudah tidak waras. Akankah Lasih mengalami hal itu?

Arya tanpa sadar bergidik. Tidak, aku tidak mau masuk ke dunia sintren. Tetapi jawaban yang diberikan justru berbeda sehingga Ki Bano langsung membawanya ke kamar ritual. Arya mendadak bingung dengan dirinya. Ia tidak bisa membantah ucapan Ki Bano meski pikirannya menolak.

Ki Bano menyuruh Arya duduk di atas tikar lusuh. Tepat di depan dupa yang membeku. Hanya ada bongkahan hitam bekas bara dan kemenyan. Sampai Ki Bano menyalakan dupa dan semerbak bau kemenyan menusuk hidung, Arya merasa mulutnya telah terkunci.

“Datanglah, Raden Sulandono,” cercau Ki Bano seperti orang kesurupan. Namun tubuh Ki Bano sama sekali tidak bergetar. Suaranya juga tidak pelo (cadel). Hal yang berbeda justru dirasakan Arya. Ia merasa tubuhnya menjadi hangat dan bergerak tanpa diminta.

Arya mulai tidak mengenali dirinya. Meski kesadaran belum sepenuhnya hilang, namun sudah tidak memiliki kontrol lagi atas dirinya. Sesuatu yang lebih kuat tengah mencoba masuk dan Arya tidak kuasa menolak. Ia menggigit bibir untuk menjaga kesadarannya.

“Anak Muda, lepaskan hawa nafsumu. Kosongkan pikiranmu,” cercau Ki Bano sambil terus merapal mantra.

Arya ingin membantah, namun  tenggorakannya seperti tersumbat sesuatu.

“Dunia sintren adalah dunia kekosongan. Kamu hanya bisa memasukinya jika membiarkan jiwamu kosong,” cercau Ki Bano lagi. Kali ini pertahanan Arya luruh. Kesadarannya benar-benar hilang. Bersamaan dengan itu ia berdiri dan mulai menari di depan Ki Bano.

“Terima kasih, Raden Sulandono. Aku memerlukan bantuanmu untuk memanggil Sulasih,” seru Ki Bano dengan kepala tertunduk.

Tangan Arya terus bergerak layaknya orang menari. Mula-mulai kaku. Namun seiring berlalunya waktu, gerakan Arya mulai luwes. Setelah itu Arya keluar ruangan sambil terus menari. Ki Bano mengikuti dengan cemas. Meski memang hal ini yang dikehendaki, namun Ki Bano tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagaimana firasat yang dirasakan saat Lasih menari di alun-alun kabupaten.

“Panggil Somad dan yang lain. Kita segera menggelar sintren!” teriak Ki Bano pada istrinya yang muncul dari dapur karena mendengar suara gaduh dari kamar ritual.

Setelah memastikan istrinya pergi, Ki Bano mulai nembang sintren. Tarian Arya yang telah dirasuki arwah Sulandono semakin gemulai sambil terus melangkah hingga keluar rumah. Awalnya Ki Bano mengira Arya akan menari di halaman. Namun dugaannya keliru. Arya berjalan ke samping rumah. Ki Bano terpaksa mengikuti sambil terus nembang. Sesekali mulutnya mendesah, berusaha menirukan bunyi kendang, kenong dan gong dalam laras slendro.

“Mereka ke mana, Nyai?” tanya Somad setelah tiba di rumah Ki Bano.

Emak menggeleng.

Somad bergegas mencari Ki Bano dan Arya di sekitar rumah, namun tidak ditemukan. Dadanya mulai berdebar-debar saat pikiran buruk melintas. Apakah mereka menuju ke tempat Lasih? Menuju ke alam gaib? Sangat mungkin sebab Ki Bano pasti ingin membuktikan ilmu yang dimiliki. Jika berhasil membebaskan Lasih dari alam gaib, namun pamornya akan melambung. Ki Sandireja tidak akan berani macam-macam lagi.

Meski satu guru dan persaingan mereka sudah dimulai sejak masih sama-sama nyantrik, Ki Bano lebih banyak mengalah karena menghormati Ki Sandireja yang usianya lebih tua. Tetapi siapa yang dapat terus mengalah ketika harga dirinya dihina dan nyawa anaknya terancam? 

Somad bergidik membayangkan kenekadan Ki Bano. Jika anak muda itu dibawa ke dasar laut, pasti tidak akan selamat. Somad bergegas ke laut sambil berharap Ki Bano tidak berbuat nekad.