Now Loading

Pengkhianatan

Hari berlalu dan itu waktu yang sangat lama bagi Ki Bano. Rasanya seperti puluhan tahun. Tangis istrinya, juga adik dan kakak Lasih, belum lagi seribu pertanyaan dari saudara-saudara lainnya, bagai sembilau yang menyayat-nyayat hatinya. Sampai kapan istriku bisa tutup mulut tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Lasih? Ia kuatir istrinya keceplosan omong sehingga semua tahu jika dirinya tetap memaksa Lasih menjadi sintren padahal sudah tidak perawan. Jika sampai hal itu terjadi, rasanya bukan hanya keluarga besarnya yang akan menyalahkan, namun juga seluruh warga kampung.

Alasan itu juga yang memaksa Ki Bano menahan diri setiap kali wajah Ratman berkelebat dalam pikiran. Tidak sulit bagiku untuk membunuhnya. Tidak perlu bantuan orang lain untuk membalas sakit hati Lasih dan juga rasa sakit hatiku. Tetapi bagaimana jika sampai ketahuan aku yang membunuh? Semua orang pasti akan mengaitkan hilangnya Lasih dan kematian Ratman.

Ki Bano merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk balas dendam. Tetapi apa yang harus aku lakukan sekarang? tanya Ki Bano pada dirinya sendiri. Pertanyaan yang seak kemarin menggemuruh dalam dada namun tidak juga menemukan jawaban. Justru muncul masalah lain yang langsung menghantam harga dirinya. 

“Saya diminta bantuan untuk pentas sintren Sekar Malam,” kata Somad sambil tersenyum. Maksudnya hanya untuk bergurau agar Ki Bano tidak terlalu tegang. Tidak mungkin bagi Somad meninggalkan Ki Bano dalam kondisi begini. Lagu pula Somad pun tahu tujuan Ki Sandireja hanya untuk mengejek. Dulu Somad pernah bergabung dengan Sekar Malam namun keluar karena tidak suka dengan sifat Ki Sandireja yang temperamental.

Namun bagi Ki Bano waktunya tidak. Gurauan Somad dianggap serius. Tawaran KI Sandireja pasti punya motif. Membiarkan Somad bergabung dengan grup sintren lain- meski hanya sementara, sangat beresiko. Bisa saja Somad menceritakan apa yang terjadi di sini. Ia tahu watak Ki Sandireja. Tawaran kepada Somad tentunya disertai motif lain, simpul Ki Bano.

“Aku tidak bisa memutuskan sebelum Lasih ditemukan,” ujar Ki Bano setelah lama terdiam.

“Jangan dianggap serius, Ki. Saya hanya bergurau. Lagi pula saya juga merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaa sampean. Sulit mencari laki-laki yang masih perjaka.”

“Aku pasti bisa menemukan Lasih,” erang Ki Bano tanpa memperdulikan ucapan Somad. Tangannya terkepal lalu terhujam ke atas meja. Kemarahan yang sudah tertahan sejak kemarin teruar. Somad hampir terjengkang saking terkejut.

“Lasih tidak mungkin dimakan setan seperti dikatakan Ki Sandireja dan yang lain. Tidak! Itu tidak mungkin terjadi. Bano tidak membiarkan siapa pun menganggu Lasih!”

Somad melongo karena benar-benar tidak menduga reaksi Ki Bano. Meski tampangnya sangar, namun Ki Bano jarang sekali mengeluarkan kata-kata kasar, apalagi memarahi anak buah. Bahkan ketika ada yang mengganggu pementasannya, Ki Bano cenderung membiarkan, terkecuali sudah keterlaluan.

Tetapi Somad pun memaklumi kemarahan Ki Bano saat ini. Ada tiga hal sekaligus yang tengah dihadapi. Keselamatan anaknya, harga diri yang tercabik-cabik dan keberlangsungan Kemuning Senja. Somad justru heran mengapa Ki Bano masih bisa menahan diri terhadap Ratman yang menjadi pangkal penyebab semua masalah.

***

Juragan Tirta mengakui Sriatun memiliki paras lumayan justru ketika tidak memakai bedak tebal seperti saat menjadi penari pengiring sintren atau dayang. Alisnya cukup tebal sehingga menyamarkan matanya yang sedikit lebar. Jika berbicara, bibirnya selalu basah sehingga mengesankan sebagai perempuan penggoda.

Selama bergabung dengan grup sintren Kemuning Senja, Atun berperan sebagai kepala dayang. Posisi itu, bahkan keberadaan penari dayang, murni kreasi Ki Bano. Dari pengalamannya, keberadaan penari dayang sangat membantu terutama ketika pertunjukan utama belum dimulai atau saat sintren sedang dalam kurungan.

Atun juga bukan anggota baru atau yang masuk setelah Kemuning Senja berkibar kembali. Atun sudah bergabung sejak Ki Bano membentuk grup sintren dan ikut mengalami jatuh-bangun. Loyalitasnya diakui oleh anggota lain, bahkan Ki Bano sering memuji dan dijadikan contoh bagi anggota baru.

Sikap Ki Bano bukan tidak pernah menimbulkan masalah. Seletingan kabar Ki Bano menyukai Atun sampai juga ke telinga istrinya. Ketika Ki Bano hendak menjadi Atun sebagai penari sintren istrinya menentang sehingga akhirnya memilih Lasih yang saat itu belum cukup umur.

Atun bukan tidak tahu ketika impiannya kandas karena ketidaksetujuan istri Ki Bano. Gadis 22 tahun merasa disingkirkan untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukan. Terlebih ketika Lasih mulai dikenal hingga akhirnya menjadi primadona. Ia tidak pernah mendapat perhatian lagi baik dari Ki Bano, kru sintren maupun penonton.

Harapannya sempat membumbung ketika Lasih diperkosa Ratman sehingga tidak memenuhi syarat menjadi sintren. Terlebih ketika Ki Bano menyuruh Somad mencari penggantinya.

“Saya tahu kemampuan kamu. Hanya kamu yang cocok menggantikan Lasih. Tetapi istri Ki Bano tidak akan setuju,” kata Somad ketika Atun menawarkan diri.

Atun semakin terpukul ketika Ki Bano akhirnya memaksa Lasih tetap menjadi sintren di alun-alun kabupaten sehingga terjadi tragedi. Meski ikut merasa sedih, namun Atun tidak dapat menyembunyiakn rasa senangnya. Ia berharap istri Ki Bano menyadari kesalahannya dan memberinya kesempatan.

Namun lagi-lagi harapannya pupus ketika tanpa sengaja mendengar percakapan Ki Bano dengan Somad. “Jika sampai terjadi sesuatu dengan Lasih, aku tidak akan mengangkat sintren baru. Kemuning Senja tidak akan pernah pentas lagi.”

Atun merasa semua sudah berakhir. Tidak ada harapan lagi dirinya akan menjadi sintren. “Lebih baik saya pergi jauh. Mungkin jadi TKW. Saya akan pamit setelah suasana agak tenang, terlepas Lasih ditemukan atau tidak,” ujar Atun pada teman satu grupnya.

Keputusan itu juga yang akhirnya mengantarkan kakinya ke rumah Juragan Tirta.   

Kon butuh apa? Ngomong bae,” ujar Juragan Tirta.   

“Saya tidak butuh apa-apa, Juragan. Katanya Juragan mencari saya makanya saya ke sini,” jawab Atun sedikit gelisah. Ia sudah tahu maksud Juragan Tirta. Hatinya berperang apakah akan melanggar larangan Ki Bano ataukah ini saat yang tepat untuk memikirkan diri sendiri. 

“Iya, aku pan takon. Sebenere Lasih kenang apa?”

Atun tidak langsung menjawab. Matanya melirik ke pintu depan yang terbuka. Ia ingin memastikan tidak ada orang yang tengah menguping pembicaraan mereka.

“Saya takut, Juragan.”

“Takut apa? Kon ming ngeneh laka sing weruh , kan?”

Atun mengangguk, namun hatinya tetap was-was. Melihat hal itu, Juragan Tirta mengeluarkan uang dari saku baju dan melemparkannya ke atas meja. “Kurang?” tanyanya dengan suara khasnya.

Atun melirik segepok uang yang dilemparkan Juragan Tirta. Hatinya mendadak kembali bimbang padahal ketika memutuskan datang  ke sini, Atun sudah berulangkali meyakinkan diri dan menanggap ini yang terbaik. Bukankah jika aku mundur secara baik-baik, Ki Bano tidak akan meberi pesangon? Paling-paling ucapan terima kasih dan senyum sinis dari istrinya.

Melihat Atun bimbang, Juragan Tirta kembali melemparkan uang yang diambil dari saku berbeda. Jumlahnya juga beda, tidak utuh satu gepok. Juga tidak ada pertanyaan bernada sarkasme.

“Begini Juragan,” kata Atun setelah mengambil uang di meja. Atun kuatir Juragan Tirta akan mengambil kembali setelah mendengar ceritanya. “Lasih diperkosa..”

“Hah?”

“Iya, Juragam. Bener, saya tidak bohong. Lasih diperkosa oleh Ratman di kebun karet.”

***

Mobil pikup itu parkir tepat di depan pintu rumah Ki Bano. Lima penumpangnya, termasuk sopir,  turun dan masuk ke rumah dengan tergesa tampa salam. Ki Bano yang sedang di ruang ritual keluar dengan tergesa ketika mendengar jerit istrinya.

“Ada apa ini?” tanya Ki Bano pada tamunya yang masih berdiri.

“Mereka mau mengambil meja rias yang kemarin diberikan oleh Juragan Tirta,” teriak Emak dengan gugup.

“Maaf, Ki Bano. Katanya Juragan Tirta tidak jadi memperistri Lasih karena sudah tidak perawan. Jadi kami disuruh mengambil kembali barang-barang yang pernah diberikan,” ujar salah satu centeng sekalugus sopir pikup.

“Oh, silakan. Cepat, ambil semuanya!” teriak Ki Bano.

“Kami hanya disuruh mengambil meja rias dan seluruh isinya.”

“Sampaikan kepada Tirta, semua barang yang pernah diberikan, termasuk sabun mandi, beras, baju Lasih, akan aku kembalikan. Sekarang ambil barang-barang Tirta di rumah ini yang kalian tahu. Sisanya besok aku antar sendiri,” ujar Ki Bano, geram.

Teriakan Ki bano dan juga istrinya, mengundang sejumlah orang yang semula keheranan melihat ada mobil parkir di halaman padepokan Kemuning Senja. Awalnya mereka menduga Lasih sudah ditemukan dan diantar pulang pakai mobil.

“Mungkin benar kata rika, Yu. Lasih tidak hilang tapi pergi ke rumah Juragan Tirta,” ujar warga yang mengenali mobil itu.

“Huss..! Kowe ngomong apa? Lasih tidak mungkin ke rumah Juragan Tirta. Pan mereka belum menikah.”

Setelah warga mengetahui yang sebanrnya, kini caci-maki berhamburan. “Tega nemen Juragan Tirta. Kecewa ya kecewa, tapi masa barang-barang begituan diambil lagi! Nggak punya malu!” 

Setelah mobil pergi, Ki Bano masih termangu di ruang tengah.  Somad yang datang tergopoh-gopoh dan harus menyibak kerumunan warga agar bisa masuk ke rumah, tidak berani menegur. Ia mulai kuatir KI Bano tidak dapat lagi menahan amarahnya. Siapa yang kuat menahan gempuran masalah yang begitu menyakitkan?

Perlahan Somad keluar untuk menemui warga yang masih berkerumun. Somad meminta mereka bubar karena takut terkena amarah Ki Bano. Meski sempat mendapat tentangan, namun akhirnya warga bubar juga.

“Selamat sore. Apakah Ki Bano ada di rumah?”

Somad menoleh dan bersirobok pandang dengan Arya. Ia sudah hampir mengusir ketika tiba-tiba ingat pernah bertemu pemuda ini. Namun bukan itu yang membuat Somad memberi jalan agar Arya masuk ke rumah. Ia teringat pada pesan Ki Bano untuk mencari perjaka. Siapa tahu cocok, pikirnya.

Somad menutup pintu dan segera meninggal meninggalkan rumah Ki Bano. Ia tahu dirinya tengah berspekulasi. Jika cocok, Ki Bano akan berterima kasih. Tetapi jika tidak, bukan mustahil dirinya menjadi sasaran amarahnya. Ia tidak yakin Ki Bano kuat menahan semua ini, terlebih setelah menerima hinaan yang dilemparkan Ki Sandireja dan Juragan Tirta.