Now Loading

Lasih Hilang

Setelah meminta emak untuk menjaga Lasih,  Ki Bano bergegas keluar rumah. Menyusuri jalanan yang gelap dan sepi menuju laut utara.

Sepeninggal Ki Bano, emak, Somad dan kru sintren terpekur dalam kebisuan. Air mata emak tak henti mengalir. Ia tidak tega melihat kondisi Lasih. Raganya sudah sangat lelah. Namun gerakkan tariannya tetap lincah karena digerakkan oleh kekuatan lain yang merasuk dalam tubuhnya.

“Bagaimana kalau kita panggil pak kyai?” cetus seseorang.

“Jangan, nanti Ki Bano marah,” cegah lainnya.

“Tapi Ki Bano pasti akan maklum. Lagi pula Ki Bano juga pernah beberapa kali meminta bantuan pak kyai.”

“Ini tidak ada hubungannya dengan kyai. Saya tahu maksudmu, agar pak kyai mengusir roh halus dalam tubuh Lasih. Tetapi yang perlu sampeyan ingat, jika roh Sulasih dipaksa pulang tidak dengan cara-cara yang biasanya, besok-besok tidak mau datang lagi saat pementasan!”

“Lalu sekarang kita harus bagaimana?”

“Kita tunggui sampai Lasih, eh maksud saya, Sulasih puas menari.”

“Sampai kapan?” sergah temannya.

“Saya tidak tahu. Tapi untuk memutuskan sesuatu yang sangat penting, yang berkaitan dengan kondisi Lasih, biar Ki Bano saja. Tadi kita hanya dipesan untuk menjaganya.”

Hening. Hanya isak emak yang terdengar.

Menjelang pagi terjadi kegemparan. Saat Ki Bano pulang dengan wajah kuyu karena belum tidur, ia mendapati semua orang yang menjaga Lasih, termasuk emak,  tengah tidur di ruang tengah. Posisi mereka tidak berubah. Emak tidur sambil duduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding. Sementara Somad dan lainnya tertidur di kursi.

Namun bukan itu yang membuat Ki Bano meradang. Ia tidak menjumpai Lasih. Ki Bano bergegas mencarinya ke kamar. Tidak ada. Di ruang ritual dan dapur, juga tidak ada.

“Bangun!” teriak Ki Bano.

Sontak semua terbangun dengan wajah terkejut dan bingung. Terlebih ketika Ki Bano melanjutkan teriakannya, “Mana Lasih?!”

Spontan emak berdiri dan berlari ke kamar. Namun ketika ia hendak ke dapur, langkahnya tertahan oleh berondongan Ki Bano, “Lasih tidak ada. Aku sudah mencari ke semua tempat!”

Emak kembali ke ruang tengah. Langkahnya limbung.

“Di mana Lasih?” gumannya antara gugup dan takut.

“Bukankah sebelum pergi sudah aku pesan supaya kalian menjaganya?!” sentaknya Ki Bano membuat emak tidak berani berguman lagi.

“Mau ke mana kamu?!” teriak Ki Bano ketika melihat Somad dan teman-temannya beranjak ke pintu depan.

“Mau mencari Lasih, Ki.”

“Cari ke mana?”

“Mungkin dia ada di luar. Maksudnya kalau pun pergi, mungkin belum jauh karena seingat saya, kami baru saja tertidur. Entah kenapa tiba-tiba rasa kantuk menyerang dan kami semua tertidur.”

“Seperti kena sirep,” lanjut lainnya. Ilmu sirep biasanya digunakan oleh maling dengan tujuan agar penghuni rumah yang akan dijadikan sasaran, tertidur pulas. Namun alasan itu jelas tidak bisa diterima oleh Ki Bano.

“Tidak ada sirep. Kalau ada yang bermain-main dengan ilmu di rumah ini, aku pasti bisa merasakannya. Kalian hanya cari-cari alasan!” sentak KI Bano. Namun tak urung dia tetap membiarkan Somad dan teman-temannya keluar rumah. Mereka berpencar mencari Lasih. Emak yang akan ikut keluar, langsung dicegah oleh Ki Bano dengan isyarat tangan.

Emak kembali duduk di atas kursi kayu. Wajahnya semakin sayu. Tangisnya kini tanpa air mata. Firasatnya mengatakan, saat ini Lasih dalam kesusahan sementara dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berharap suaminya segera menemukan jalan keluar. Meski berdiri mematung tepat di mana tadi Lasih menari, emak tahu suaminya tengah mencoba mencari Lasih dengan mata batinnya.

Benar saja. Tiba-tiba Ki Bano meloncat dan bergegas keluar rumah. Ia mencari Somad dan menemukan laki-laki 40-an tahun itu tengah mengendap-endap di dekat rumpun bambu di belakang rumah.

“Sini,” kata Ki Bano dengan suara rendah seolah takut suaranya didengar  orang lain.

“Ada apa, Ki?”

“Lasih dibawa Dewi Lanjar ke istananya.”

“Ke dalam laut?” sahut Somad tanpa sadar.

Ki Bano mengangguk. “Tetapi hanya jiwanya, sementara raganya di tinggal di suatu tempat yang aku tidak tahu.”

“Lalu?”

“Carikan aku bocah lanang yang masih perjaka.”

“Untuk apa?”

“Jangan banyak tanya!” sentak KI Bano tak senang.

Somad menggaruk kepalanya yang tidak gatal.  Ia sebenarnya ingin kembali bertanya, di mana mencari perjaka itu. Tetapi karena takut pertanyaannya akan membuat KI Bano semakin meradang, Somad hanya menyimpannya dalam hati dan diam-diam meninggalkan rumah Ki Bano.

***

Ki Sandireja tidak berusaha menutupi rasa senangnya ketika mendengar kondisi Lasih. Lebih senang lagi karena Ki Bano tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anaknya. Ia merasa sudah bisa mengalahkan saingannya dengan sangat gampang dan tidak mungkin ketahuan. Sekarang ia bersyukur sore itu Ratman tidak jadi datang sehingga tidak perlu berurusan dengan preman kampung.    

Ini peluang bagi saya, guman Ki Sandireja. Ia membayangkan Grup sintren Sekar Malam miliknya akan kebanjiran order pentas karena sudah tidak ada saingan. Kemuning Senja tentu tidak akan bisa pentas lagi selama Lasih belum ditemukan. Dan kalau bisa selamanya, harapnya.

“Mustar, coba kamu temui Somad,” perintah Ki Sandireja. Mulutnya mengepulkan asap rokok kretek. Walau terhalang meja panjang, namun Mustar dapat mencium bau asapnya. Ki Sandireja suka menambahkan kemenyan dalam rokok bikinin pabrik. Biasanya kemenyan itu digerus halus lalu dimasukan ke sela-sela tembakau. “Ajak dia untuk bergabung dengan grup sintren kita.”

“Mana mau, Ki. Somad sudah menjadi andalan Ki Bano.”

Ki Sandireja tertawa. Memamerkan giginya yang kehitaman karena seumur-umur tidak pernah digosok. Bahkan konon kabarnya, hal itu bagian dari pantangan ilmu yang dimilikinya. Jika sampai menggosok gigi, Ki Sandireja tidak bisa lagi memanggil roh roh sintren.

“Dulu kamu juga sempat akan pergi dari sini ketika order pentas sedang sepi,” sindir Ki Sandireja.

Wajah Mustar menebal. Siapa betah bertahan di satu grup kesenian yang  tidak pernah pentas? Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, mungkin masih bisa diatasi. Tetapi bagaimana dengan uang belanja dan jajan anak-anak?  

“Tapi grup Ki Bano sedang laris-larisnya. Bahkan kabarnya sampai menolak order.”

“Itu kemarin, sebelum Lasih hilang,” kata Ki Sandireja. “Sekarang jangankan mau pentas, keberadaan Lasih saja belum diketahui.”

“Betul juga, Ki.”

“Aku lebih tahu dari kamu,” potong Ki Sandireja. “Sekarang temui Somad. Suruh dia ke sini. Tapi hati-hati, jangan sampai Bano tahu!”

Sepeninggal anak buahnya, Ki Sandireja tertawa lebar. Ia mengelus-elus batu cincin growok andalanya yang telah membantunya menemui Dewi Lanjar.