Now Loading

Petaka

Pentas malam hari memberi sensasi lain. Meski cahaya lampu di pinggir alun-alun begitu terang, namun tetap saja suasana mistis lebih kental jika dibanding pentas pada siang hari. Tembang Somad mengundang dewa menyesap hingga ke relung hati. Ribuan orang yang tumpah di alun-alun depan pendopo kabupaten seperti tersihir. Anak-anak terdiam dalam gendongan ibunya. Para pedagang berhenti menawarkan dagangan. Semua larut dalam nestapa.

Ki Bano memilih berdiri di belakang penabuh gamelan. Menyembunyikan kegelisahan hatinya. Matanya nyaris tak berkedip mengawasi Lasih yang masih menari. Ia sempat merasa senang ketika Sulasih manjing dalam raga anaknya. Namun kemudian merasa ada yang tidak beres ketika melihat Lasih menari dengan sangat gemulai. Bukan tarian biasa. Ada beberapa gerakan yang berbeda dari biasanya. Mungkin karena sudah lama tidak pentas malam hari, sehingga tarian Lasih tampak lain, guman Ki Bano menghibur diri.

Tetapi ia tidak bisa memungkiri firasatnya. Pasti akan terjadi sesuatu, namun belum bisa diprediksi. Jika berkaitan dengan ketidakperawanan Lasih, mengapa roh Sulasih tetap manjing? Padahal Ki Bano sudah menyiap trik andai Sulasih tidak manjing. Lasih akan tetap menari layaknya sintren dengan bantuan tenaga gaib ia kirim. Nyata roh Sulasih manjing. Ki Bano pun sempat merasa senang karena Perjudiannya berhasil.      

Apa yang sebenarnya sedang terjadi, tanya Ki Bano dalam hati. Kini ia hanya bisa menunggu dan itu membuatnya sangat gelisah.

“Kapan acara balangane, Kang?!” seru penonton karena belum juga ada pengumuman soal acara balangan. Dua bodor yang biasanya memberitahu dimulainya acara balangan, masih menunggu isyarat dari Ki Bano.

“Iya, kapan kita bisa menari dengan Lasih?” seru lainnya tak sabar.

Ki Bano pura-pura tidak mendengar. Setelah terjadi saling-sahut di antara penonton, tiba-tiba sebuah bungkus melayang dan mengenai tubuh Lasih yang tengah menari. Penonton pun bersorak. Menanti tubuh Lasih jatuh terkulai. Namun setelah ditunggu beberapa saat, ternyata Lasih tetap berdiri dan terus menari. Sejurus kemudian benda-benda lainnya beterbangan dan sebagian besar tepat mengenai tubuh Lasih karena dilenpar dari jarak dekat. Tetapi Lasih tetap saja menari di balik kaca mata hitamnya. Bahkan sepertinya tidak merasakan benda-benda yang mengenai tubuhnya.

Melihat hal itu Ki Bano pun panik. Firasatnya kini menjadi kenyataan. Ki Bano maju ke gelanggang, sementara bodor mengambil barang-barang lemparan penonton yang berserakan. Ki Bano membimbing Lasih ke pojok meja tempat menaruh semua bahan sesaji. Lasih dipaksa jongkok lalu tangannya diletakkan di atas dupa yang masih mengepul. Mulut Ki Bano tak henti merapal mantra, menyuruh Sulasih meninggalkan raga anaknya. Namun sampai beberapa saat, tubuh Lasih masih tegang dan berusaha meronta karena ingin kembali menari.

“Menarilah satu babak lagi. Setelah itu aku mohon pulanglah karena tubuh Lasih bukan rumahmu,” ucap Ki Bano setengah terbata.

Lasih berdiri dan langsung menuju ke tengah gelanggang pentas. Ia kembali menari dan menari. Satu dua penonton mulai masuk gelanggang untuk ikut menari. Semakin lama jumlah penonton yang ingin menari bersama Lasih semakin banyak sehingga mulai terjadi keributan. Mereka saling berebut tempat di depan Lasih.

“Mundur, gantian..!”

“Iya, jangan dimonopoli! Seperti istrinya saja!”

Ki Bano menarik nafas dalam-dalam. Bayangan kekacauan menyeruak memenuhi pikiran. Ia sudah mencoba berbagai mantra, termasuk mantra pamungkas untuk memaksa roh Sulasih keluar dari tubuh anaknya. Namun semuanya gagal. Inikah yang terjadi ketika sintrennya sudah tidak perawan?

Namun sebelum Ki Bano bisa menjawab pertanyaannya sendiri, keributan yang sejak tadi dikuatirkan, pecah tanpa kendali. Tubuh Lasih dijadikan rebutan sejumlah penonton yang mabuk. Sementara yang lain berlarian menyelamatkan diri sambil berteriak-teriak. Beberapa kali tubuh Lasih jatuh karena ditarik kesana- kemari, dijadikan rebutan. Ki Bano yang mencoba menyelamatkan anaknya, tak kuasa menahan amukan penonton.

Butuh waktu satu jam dan puluhan tembakan senjata api ke udara sebelum akhirnya aparat keamanan berhasil mengendalikan situasi. Perlahan Ki Bano berdiri dengan tubuh nyaris ringsek. Kru sintren lainnya entah ke mana. Pergi sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri. Sementara Lasih masih terus menarii di bawah penjagaan aparat, di tengah lapangan yang kini sunyi ditinggal penonton.

Lasih dibawa pulang dengan menggunakan mobil bak terbuka milik Satpol PP. Sepanjang jalan Lasih terus menari. KI Bano yang duduk di bangku panjang di atas mobil itu- berdesakan dengan gamelan dan peralatan lainnya, hanya bisa memegangi tubuh anaknya agar tidak terjatuh. Tiga anggota Satpol PP duduk di pinggir bak mobil untuk melindungi.

“Apa Lasih akan terus seperti ini, Ki?” tanya salah satu anggota Pol PP. Mobil sudah masuk ke jalan tanah yang tidak rata. Beberapa kali bak mobil berguncang  sehingga Lasih nyaris jatuh.

Ki Bano menggeleng.

“Entahlah,” gumannya kemudian.

Tiba di rumah, Lasih langsung dibawa ke dalam karena sudah banyak warga berkumpul di pelataran. Rupanya mereka mendengar kejadian di alun-alun dan kini ingin melihat secara langsung kondisi Lasih. Tiga anggota kepolisian dibantu Pol PP berusaha membubarkan kerumunan massa yang berusaha merangsek ke dalam rumah.

“Bubar…bubar. Sudah malam, pulang semua!”

“Bagaimana kondisi Lasih? Apakah dia tidak terluka?” tanya warga, cemas.

“Iya, kami ingin tahu kondisi Lasih. Kami semua sayang Lasih,” timpal lainnya.

“Lasih tidak apa-apa!” jawab petugas. “Dia hanya butuh istirahat. Makanya sekarang kalian semua bubar, pulang. Sudah larut malam!”

“Kami akan berjaga di sini. Kami akan menunggui Lasih!” potong warga.

Upaya aparat keamanan membubarkan warga tidak membuahkan hasil. Mereka tetap bertahan hingga akhirnya Ki Bano keluar. Wajahnya sangat kuyu dan letih. Dengan suara terbata ia meminta warga pulang.

“Jika situasi ramai, Lasih mengira pementasan belum selesai, maka dia akan terus menari,” ujar Ki Bano.

Terdengar dengungan dan protes kecil. Namun sebagain besar mematuhi kata-kata Ki Bano. Berangsur halaman rumah Ki Bano ditinggalkan warga. Demikian juga anggota kepolisian dan Pol PP. 

Dengan langkah semakin lunglai, Ki Bano kembali ke dalam rumah dan berjongkok di depan Lasih yang masih menari di ruang tengah.

“Maafkan saya yang ceroboh,” ujar Ki Bano.