Now Loading

Mendung Menggayut

Kilau cahaya bulan berpendar di atas air yang bergelombang. Sesekali terdengar deburan seperti lenguh penyesalan ketika ombak itu sampai di pantai; pecah tanpa daya. Airnya menyebar ke segala penjuru, membasahi rumah ubur-ubur di dalam pasir yang kotor. Ketika kembali ke laut, ubur-ubur akan menyambutnya dengan sorak sambil berlarian di atas pasir. Namun sesaat kemudian, ketika ombak yang lebih besar datang mengancam, mereka pun serentak masuk ke dalam pasir. Menyembunyikan ketakutan untuk kembali bersorak saat air menjauh.  

Di atas tebing karang, di bawah pohon bakau tua, Ki Bano tak henti merapal mantra. Dupa di depannya membara. Mengeluarkan asap.  Angin timur menerbangkan asap kemenyan, melarung hingga jauh ke tengah samudera. Berkejaran dengan gelombang, Ki Bano pun semakin kencang melafalkan mantra. Tubuhnya mulai bergetar. Lasih yang duduk di sebelahnya pura-pura tidak melihat. Matanya lurus menatap perahu-perahu nelayan yang mulai berangkat mencari ikan. Saya ingin seperti laut, pikir Lasih. Laut yang setia memberi makan kepada jutaan manusia di darat, tanpa keluh.

“Nok, kamu mau pulang duluan?” tanya Ki Bano tiba-tiba. Rupanya satu tahapan ritual sudah diselesaikan.

Lasih mengangguk. “Saya mau beli handphone di pasar Tegalgubuk.”

“Aku pan ngirim donga siji maning. Kalau kamu mau pulang dulu, ya sudah. Hati-hati,” kata Ki Bano. Sebelum Lasih beranjak ia sudah kembali pada sikap semula: tafakur di depan dupa dengan mata terpejam dan bibir merancau mantra.

Lasih buru-buru meninggalkan tempat itu. Dengan telapak kaki tak beralas, Lasih berlarian di atas tanah berpasir. Setelah menyeberang jembatan kayu, kini kaki kecilnya menjejak jalan berkerikil. Ia sedikit menyesal mengapa motor kreditan yang dipesan bapak belum juga datang. Lasih sudah tidak sabar ingin belajar naik motor. Jika aku sudah bawa motor sendiri, tentu sekarang tidak perlu berlari-lari dengan telapak kaki nyeri seperti ini, keluhnya.

Namun Lasih segera meralat keluhannya. Ia sudah menjalani ritual puluhan kali dan tidak pernah mengeluh ketika harus pulang pergi jalan kaki. Bahkan dulu dengan perut lapar. Sekarang kondisinya sudah berubah setelah grup sintrennya semakin sering menerima order. Lasih tidak perlu menahan lapar seperti dulu. Keluh emak ketika terpaksa harus ngutang beras ke warung juga tidak pernah  didengar lagi. Saya harus bersyukur, kata Lasih dalam hati.

Dengan kesadaran itu juga, Lasih mengurangi kecepatan langkahnya.  Berjalan santai sambil mendengarkan suara kodok bersahutan dari tengah sawah, membuat hatinya lebih tenang. Lagi pula belum terlalu malam. Mungkin baru jam tujuh, pikirnya. Ia akan langsung ke pasar Tegalgubuk karena biasanya penjual handphone di sana buka sampai jam  10 malam.

Selepas persawahan, ketika hendak melalui kebun karet, tiba-tiba muncul sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Motor itu kemudian berhenti tepat di depannya. Pengendaranya langsung turun.

“Nok, mau pulang?” tanyanya.

Lasih mengernyitkan kening, mencoba mengenali laki-laki di depannya.

“Iya, Kang,” jawabnya setelah mengenal laki-laki yang menegurnya.

“Ayo aku bonceng,” ajak laki-laki itu.

“Tidak usah, Kang,” tolak Lasih. Ia tahu siapa Ratman. Bapak sering menasehati agar tidak bergaul dengan orang-orang seperti Ratman.

“Ayo ikut!” desak Ratman. Tangannya berkelebat dan langsung menangkap lengan Lasih. Meski sudah mencoba meronta, namun  tenaga Lasih kalah kuat. Dengan sekali sentak, Ratman berhasil mendekap Lasih dan menyeretnya ke kebun karet. Setelah mengikat dan menyumpal mulutnya dengan selendang yang sudah disiapkan, Ratman langsung melaksanakan aksi bejatnya. Dengan garang ia melumat tubuh mungil yang sudah tak berdaya. Setelah puas, Ratman melepas tali pengikat dan meninggalkan Lasih begitu saja.

Lasih menangis sejadinya. Awan di langit mendadak begitu pekat. Deru motor Ratman yang menjauh, terdengar bagai tembang kematian. Dengan sisa-sisa tenaganya, Lasih keluar dari kebun karet lalu berlari pulang. Jiwanya terasa hampa.

“Ada apa, Nok?” tanya Emak begitu melihat Lasih masuk dengan tangis berderai.

Lasih menggeleng. Ia berlari ke kamar, merebahkan dirinya di atas kasur tipis. Tubuhnya berguncang hebat. Emak segera mendekapnya. Air matanya tumpah. Firasatnya mengatakan Lasih telah mengalami kejadian besar.

“Ada apa, Lasih? Katakan sama Emak, Nok,” bujuknya tanpa henti. Tangannya kian erat memeluk tubuh Lasih.

“Baju kamu robek? Kotor? Kamu jatuh?” berondong Emak begitu menyadari kondisi anaknya.

Lasih menggeleng. Tangisnya semakin keras.

“Ada apa? Cerita Nok, ada apa?” desak Emak.

“Saya…saya diperkosa, Mak!”

Jleg! Spontan emak histeris. “Siapa yang melakukan Nok?!”

“Kang Rat..Ratman!”

Emak merasa dunia berputar sangat kencang.  Badannya limbung. Nafasnya memburu. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Tanpa disadarinya, tubuhnya melorot, jatuh ke lantai. Pingsan. Melihat emak terjatuh tidak sadarkan diri, gantian Lasih yang menjerit. Ia mendekapnya sambil berteriak minta tolong.

Somad yang baru tiba di halaman rumah Ki Bano untuk membahas rencana pementasan sintren di pendopo kabupaten, langsung menyerbu masuk. Dengan dibantu dua anak buah Ki Bano yang tinggal tidak jauh dari situ, emak diangkat ke ruang tengah.  Lasih bersimpuh di sampingnya dengan tangis yang semakin menyayat.

“Di mana Ki Bano?” tanya Somad.

“Masih ritual di pantai,” sahut lainnya.

“Cepat ambil air putih!”

Seseorang berlari ke dapur dan segera kembali dengan membawa segelas air putih. Somad membaca sesuatu di atas gelas lalu memercikkan airnya ke wajah emak. Hal itu dilakukan berulang-ulang sampai kemudian emak tersadar. Namun tubuhnya tidak bergerak. Hanya  kelopak matanya yang terbuka, lurus menatap langit-langit rumah. Sepertinya ia tengah mengingat-ingat sesuatu.

“Kalian pulang saja,” ujar Emak, lirih. Tangannya bergerak mengusap kepala Lasih yang masih menangis.

“Ada apa, Nyai?” tanya Somad.

“Tidak ada apa-apa,” ujar Emak tanpa menoleh. “Biar nanti Kang Bano saja yang memberitahu kalian.”

“Sangat penting? Biar saya jemput Ki Bano.”

“Tidak usah. Kalian pulang saja. Juga yang lain,” ujar Emak.

Somad maklum. Ia lantas mengusir semua orang yang tadi merubung. Terakhir ia menutup pintu dan memastikan tidak ada lagi orang di sekitar rumah Ki Bano. Nalurinya meyakini ada sesuatu yang sangat rahasia dan ada hubungannya dengan sintren.

Kini rumah Ki Bano kembali sepi. Hanya isak Lasih yang masih terdengar. Begitu liris dan ngelangut seperti lirik sintren yang biasa ditembangkan Somad. Kini nyanyian itu benar-benar menjadi requiem di saat malam mulai sempurna menebarkan jala hitamnya.

Belum juga sampai di rumah, Somad sudah disusul rekannya. “Cepat, Kang, dipanggil Ki Bano!”

Ketika Somad tiba kembali di rumah Ki Bano, tangis Lasih sudah reda. Wajahnya pucat-pasi. Ki Bano, emak dan Lasih duduk di menghadap meja panjang. Sementara dua rekannya- penabuh gamelan sintren Kemuning Senja, duduk di seberang. Somad buru-buru bergabung dengan mereka tanpa suara.

Setelah memastikan tidak ada yang menguping, Ki Bano membuka pertemuan kecil itu dengan suara tertahan. “Kita harus secepatnya mencari sintren untuk menggantikan Lasih!”

Somad dan kedua rekannya melongo. Namun mereka menahan diri untuk tidak berkomentar karena masih menunggu alasan di balik keputusan tersebut.

“Malam ini juga kita harus bisa menemukan gadis perawan pengganti Lasih untuk pentas besok. Aku harus memandikan dan mengenalkannya terlebih dulu kepada Ibu Dewi Lanjar sebelum pementasan.”

Sunyi. Sesekali terdengar seguk Lasih.

“Sebenarnya ada apa, Ki?” mulut Somad akhirnya terbuka setelah Ki Bano terdiam cukup lama.

“Kamu tidak perlu tahu!” jawab Ki Bano pendek. “Yang penting malam ini kita bisa mendapatkan pengganti Lasih!”

“Mana mungkin bisa, Kang,” ujar penabuh gamelan. “Sekarang jarang ada yang mau jadi sintren. Kalau pun anaknya mau, belum tentu orang tuanya mengijinkan.”

Somad bukan asal bicara. Banyak warga yang sudah menjauhi sintren. Katanya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Somad tidak paham hal-hal demikian. Ia dan teman-temannya hanya sebatas ingin melestarikan budaya.

“Iya, waktunya juga sangat mepet karena besok sudah harus pentas di pendopo kabupaten,” sambung lainnya.

“Bagaimana kalau khusus untuk besok kita tetap pakai Lasih, setelah itu baru kita cari…”

“Tidak bisa!” sentak Ki Bano. “Lasih sudah tidak memenuhi syarat sebagai sintren. Dia sudah tidak perawan!”

Mulut Somad ternganga. Demikian juga dua temannya. Meski sejak awal Somad sudah menduga telah terjadi peristiwa yang sangat besar, namun tidak terpikir sampai ke situ. Ucapan KI Bano bukan saja mengejutkan tetapi kiamat karena langsung meruntuhkan semuanya. Seperti juga yang lain, Somad tahu kekuatan sintren Kemuning Senja terletak pada Lasih. Jika sekarang Lasih sudah tidak bisa menjadi sintren, dengan sendirinya grup sintrennya akan ditinggal penggemar.

“Apa apa dengan Lasih, Ki?” tanya Somad setelah berhasil menguasai dirinya.

Ki Bano tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir seperti tengah menahan perasaan. Sementara emak dan Lasih kembali menangis. Tanpa suara. Telaga di sudut mata mereka  seperti tak pernah kering, mengalirkan air hingga membasahi seluruh jiwanya.

“Lasih diperkosa!” ujar Ki Bano, lirih. 

“Diperkosa? Siapa yang berani melakukannya?”

“Ratman.”

“Bajingan!” umpat Somad dan dua rekannya nyaris bersamaan.

“Ijinkan saya untuk membalasanya, Ki.”

“Jangan,” guman Ki Bano. Wajahnya terpekur. Jiwanya berontak. Bayangan Ratman berkelebat dengan senyum ejekannya. Aku akan membunuhmu, erang hati Ki Bano. “Aku sendiri yang akan membereskan anak itu,” tegas Ki Bano.

Ketegangan dalam ruangan kian memuncak. Semua tahu, Ki Bano bisa membunuh Ratman kapan pun, bahkan tanpa perlu beranjak dari tempat duduknya.

“Tapi aku ingin tahu dulu, apakah Ratman melakukannya atas inisiatif sendiri atau ada orang yang menyuruh...”

“Pasti Ki Sandireja,” potong Somad tiba-tiba.

“Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti,” ujar Ki Bano meski hatinya meyakini ucapan Somad.

“Lalu apa yang harus saya lakukan, Ki? Kalau mencari pengganti Lasih untuk pentas besok, sepertinya tidak mungkin bisa.”

“Kalau begitu kita tidak akan mencari pengganti Lasih,” kata Ki Bano tiba-tiba.

“Berarti pementasan di pendopo besok kita batalkan?”

“Tidak!” tegas Ki Bano. “Besok kita tetap akan pentas.”

Somad melongo.

“Lasih tetap akan jadi sintren,” lanjut Ki Bano. “Dan ingat, jangan sampai ada yang tahu kasus ini. ”

“Tapi seorang sintren harus gadis yang masih peraw...”

“Aku lebih tahu soal itu,” potong Ki Bano dengan nada datar. Namun semua tahu, ada tekanan amarah di sana. “Aku akan melawan kehendak alam!”

“Apakah tidak berbahaya, Ki?” tanya Somad hati-hati.

KI Bano tidak menjawab. Ia beranjak dari tempat duduknya dan langsung masuk ke ruang ritual. Dengan mulut bergetar ia merapal mantra. Tanpa disadari, air matanya menetes. Ketegaran yang coba ia pertahankan di depan anak istrinya, di depan Somad yang lain, bobol di tengah sunyi. Sebagai ayah, Ki Bano merasa sangat terpukul karena gagal melindungi anak gadisnya.