Now Loading

Ki Sandireja

Kesuksesan pertunjukan sintren di rumah Juragan Tirta semakin melambungkan nama Lasih, melebihi grup sintrennya. Lasih juga mulai dikenal oleh para pejabat setempat yang datang ke acara Juragan Tirta. Tak pelak, jadwal pentas Lasih semakin padat. Puncaknya, Lasih diundang untuk pentas di acara tujuhbelasan di pendopo kabupaten.

“Bano mulai kurang ajar!” sentak Ki Sandireja. “Dia berani mengambil job kita!”

“Betul, Ki,” sahut Mustar, anak buahnya. “Malah yang aku dengar, Ki Bano berhasil mempengaruhi pejabat kabupaten melalui Juragan Tirta.”

“Kita musti membuat perhitungan! Jangan sampai periuk kita terguling!”

“Betul, Ki. Kita harus ganti penari sintrennya. Mustika kalah cantik dibanding Lasih.”

Koen ngomong apa?!” bentak Ki Sandireja tiba-tiba. “Laka sing ngalahna ayune Mustika.”

“Tapi kenapa kalah terkenal dibanding Lasih?” bantah Mustar.

“Itu yang harus kita cari tahu penyebabnya,” sambar Ki Sandireja tanpa menurunkan suaranya. “Bano pasti sudah mendapatkan ajian dari Dewi Lanjar.”

“Kalau begitu, Aki juga harus segara melakukan hal yang sama. Bukankah Aki lebih dekat dengan Ibu Ratu dibanding Ki Bano?”

Ki Sandireha mengangguk. “Itu sudah aku pikirkan. Namun harus ada upaya lain karena semua juragan sudah terpincut dengan Lasih. Harus dihentikan secepatnya. Pementasan di pendopo kabupaten harus digagalkan!”

“Bagaimana caranya, Ki?” tanya Mustar mulai cemas. Ia takut K Sandireja akan melabrak Ki Bano seperti yang sering dilakukan ketika tersinggung. TIdak peduli siapapun orangnya, sekali pun aparat desa. Mustar masih ingat ketika dulu Ki Sandireja marah-marah di balai desa gara-gara dilarang pentas malam hari karena sebelumnya terjadi tawuran antar kampung yang dipicu rebutan joget dengan Mustika.

“Sintren bukan penyebab kerusuhan. Dari dulu juga sudah biasa perang kampung. Mengapa sintren disalahkan?!” maki Ki Sandireja kepada aparat desa.

Namun akhirnya Ki Sandireja mengalah setelah pihak kepolisian turun tangan dengan memberikan edaran terkait larangan semua pentas hiburan di malam hari. Sejak itu juga sintren selalu diadakan pada siang hari.

“Kamu temui Ratman. Bilang saya setuju dengan idenya!” perintah Ki Sandireja.

“Ide apa, Ki?”

Ki Sandireja tidak menjawab. Namun bahasa tubuhnya menyiratkan kemarahan yang amat sangat. Mustar tidak berani mendesak dan langsung pergi dari hadapan pemilik grup sintren Sekar Malam.

Setelah anak buahnya pergi, Ki Sandireja segera masuk ke rumah. Sesaat kemudian dia keluar lagi. Namun kali sudah berganti dengan pakaian kebesarannya: baju lengan panjang hitam ukuran longgar. Kancingnya dibiarkan terbuka sehingga tulang iganya terlihat menonjol, mendesak kulit perutnya yang sudah keriput.  Sementara celana komprangnya juga berwarna hitam, selaras dengan udeng yang menghiasi kepala. Penampilan Ki Sandireja tak kalah garang dibanding jawara. Apalagi dengan keris terselip di pinggang, tertutup selendang yang dililitkan di sekitar pusarnya.

Setelah mengeluarkan motor dari garasi kayu di samping rumah, Ki Sandireja lantas memacu dengan kecepatan tinggi. Ia tidak menuju jalan aspal tapi ke arah laut, melalui tegalan di belakang rumah. Wajahnya sangat keruh  sehingga orang-orang yang berpapasan dengannya memilih menyingkir.

Malang bagi kawanan bebek  yang tengah berada di atas tegalan. Tanpa mau menunggu pengangonnya menghalau ke sawah, Ki Sandireja langsung menerebas. Tak ayal, dua bebek patah kakinya. Sementara satu ekor lainnya, langsung mati karena lehernya terlindas roda motor. Ki Sandireja menghentikan motornya, lalu menatap wajah pengangong bebek. Tidak ada ucapan apa pun dari Ki Sandireja. Namun tatap matanya sudah cukup membuat pengangong bebek meminta maaf dengan wajah tertunduk.

Ki Sandireja pun meneruskan laju motornya. Setelah melewati persawahan, roda motornya mulai menjejak tanah berpasir. Dari jembatan kayu di atas sungai kecil yang memisahkan persawahan dengan rawa-rawa payau, Ki Sandreja berbelok ke kanan lalu menyusuri tepian laut. Hari sudah lewat magrib ketika Ki Sandireja tiba di tebing yang cukup curam. Ia memarkir motornya di atas pasir lalu meninggalkannya tanpa dikunci. Kakinya masih tampak sigap saat naik ke atas batu besar yang berada tepat di bibir pantai. Bahkan batu itu sebenanya sudah berada di atas air laut. Bagian bawahnya berlubang karena saban hari dihempas ombak.

Sampai di atas batu, Ki Sandireja berkacak pinggang sambil mengedarkan tatapannya ke laut lepas. Setelah puas, matanya lantas terpejam, sementara mulutnya sibuk merapal mantra. Perlahan Ki Sandireja turun ke laut melalui undakan batu. Konon undakan itu dibuat sendiri oleh Ki Sandireja. Ia menatah undakan batu hanya dengan telapak tangan, tanpa bantuan alat apa pun. Cerita tentang kehebatan dan kesaktian Ki Sandireja tersebut didengungkan oleh anak buahnya sehingga warga percaya. Namun sebagian terpaksa percaya karena tidak ingin mengambil resiko dimusuhi Ki Sandireja dan anak buahnya.

Tiba di atas batu pipih yang sebagian lantainya terendam air laut, Ki Sandireja kembali merapal mantra. Setelah itu ia masuk ke gua yang lantainya lumayan tinggi sehingga tidak terendam air laut. Namun ketika ombak besar datang, lantainya akan terkena percikan air. Demikian juga sebagian dindingnya. Hal itu sudah terjadi sejak puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun lalu sehingga meninggalkan jejak di dinding gua berupa goresan mirip ukisan.

Tanpa penerangan, Ki Sandireja duduk bersila di dalam gua. Kerisnya diletakkan tepat di ujung jempol kaki. Bersebelahan dengan anglo kecil yang dipakai untuk membakar kemenyan dan kain putih tempat bunga tujuh rupa dihampar. Tatapannya lurus ke depan, mencari batas laut. Mata tuanya tidak mampu menangkap apa pun selain air laut. Namun tidak demikian dengan mata batinnya. Setelah menghaturkan salam dan membaca mantra yang menghubungkan dunia nyata dengan alam gaib, Ki Sandireja merasa jiwanya sudah masuk ke dasar laut, ke istana nan megah yang hanya dihuni oleh perempuan. Wajah dan tubuh mereka nyaris serupa sehingga susah dikenali. Satu-satunya pembeda hanya jumlah pada titik hitam di keningnya. Namun siapa yang berani menghitung titik hitam di kening mereka? Ki Sandireja pun tidak pernah berniat untuk menghitungnya. Bahkan ia menolak ketika salah satu di antara mereka menawarkan diri untuk diperistri.

“Aku masih ingin datang ke sini,” tolak Ki Sandireja dengan halus. Boleh saja mengambil beberapa dari mereka untuk diperistri seperti juga yang dilakukan guru Ki Sandireja. Dewi Lanjar tidak melarangnya. Namun setelah memperistri dayang Dewi Lanjar, maka dia tidak diperbolehkan lagi berkunjung. Ketentuan itu juga berlaku bagi dayang yang telah diperistri oleh manusia. Maka, ketika ada dayang yang diceraikan oleh manusia, ia akan mengembara tanpa tempat tinggal. Biasanya, dayang berstatus janda tersebut akan berada di sekitar danau atau tasik yang jarang didatangi manusia.

Setelah lama menunggu, salah seorang dayang menemui Ki Sandireja. “Ibu Ratu tidak berkenan menerima tamu,” ujarnya.

Ki Sandireja tersentak. Kini bayangan istana megah di dasar laut hilang dari mata batinnya. Ia buru-buru memeriksa kembang tujuh rupa di atas kain. Lengkap, tidak ada yang tertinggal. Ia memungut bunga kantil lalu menciumnya. Masih segar. Mengapa Dewi Lanjar tidak berkenan menerimaku?

 Ki Sandireja langsung teringat pada Ki Bano. Dia pasti telah memagari agar aku tidak bisa berhubungan secara langsung dengan Dewi Lanjar, pikirnya. Aku harus menggunakan cara untuk memaksa Dewi Lanjar keluar.

Awas kamu, Bano, aku  akan membalas! erang Ki Sandireja. Dengan amarah meluap-luap, ia a bergegas keluar dari gua. Tanpa menoleh lagi, Ki Sandireja langsung naik motor dan melarikannya dengan kecepatan tinggi. Namun arahnya bukan ke rumah. Sebab ketika tiba di ujung persawahan Ki Sandireja justru berbelok ke kiri. Melewati tegalan menuju perkebunan karet yang ada di batas desa. Ki Sandireja menyimpan motornya di dalam kebun, lalu berjalan kaki dengan langkah tergesa. Ia baru berhenti setelah tiba di tepi perkebunan karet yang masuk ke wilayah desa seberang.

Mana Ratman? Seharusnya dia sudah di sini, ujar KI Sandireja dalam hati setelah memastikan orang yang dicarinya tidak ada di sekitar tempat itu.

Ki Sandireja semakin gelisah ketika dilihatnya Ki Bano datang bersama Lasih. Besok mereka hendak pentas di pendopo kabupaten sehingga malam ini pasti akan melakukan ritual di laut untuk memberitahu sekaligus mengundang Dewi Lanjar agar datang saat pementasan. Ki Sandireja hafal jadwal bahkan rute yang dilalui Ki Bano dan Lasih setiap akan melakukan ritual di laut. Apalagi tempat ritualnya juga tidak jauh dari gua miliknya.

Sebenarnya ritual itu bisa dilakukan di rumah, di kamar khusus. Namun ketika grup sintrennya nyaris bangkrut, Ki Bano selalu melakukan ritual langsung di pinggir laut. Kebiasaan itu tetap dilakukan meski sekarang grup sintrennya kembali ke masa kejayaan. Ki Bano tidak mau mengingkari janjinya pada Dewi Lanjar meski ritual pembukanya tetap dilakukan rumah.

Memanggil Dewi Lanjar sebenarnya juga bukan ritual wajib. Sebab ketika roh Sulasih sudah manjing dalam raga sintren, penguasa laut utara Jawa itu pasti akan datang untuk menghadirkan roh Sulandono agar bertemu dan menari dengan kekasih abadinya.   

Sudah hampir gelap, keluh Ki Sandireja. Ia menggeser tubuhnya ke balik pohon karet sehingga tidak tampak dari jalan. Ia tidak ingin ada yang mengetahui keberadaannya. Setelah Ki Bano dan Lasih melewati jalan itu dan terus lurus menuju laut, Ki Sandireja baru keluar dari tempat persembunyian. Ia meninggalkan perkebunan karet sambil mengumbar caci maki.