Now Loading

Padepokan Kemuning Senja

Di Losari Lor, nama Lasih ibarat mantra sakti. Ketika diucapkan, semua yang mendengar langsung antusias dan ingin menjadi yang pertama memberi info. Bahkan di luar desa, nama Lasih tidak hanya akrab di kalangan penggemar sintren, namun juga anak-anak remaja yang mungkin tidak pernah pernah menonton pementasannya.

Setahu Arya, saat ini tontonan seni tradisional seperti sintren hanya digemari oleh orang-orang tua sebagai sarana bernostalgia. Dulu sintren merupakan tontonan favorit dan selalu ramai layaknya konser musik di jaman sekarang. Banyak yang akhirnya bertemu jodoh di tempat sintren. 

Sira pan ngomah Lasih? Lurus bae. Nanti di depan belok kiri, manjing dalan tanah,” ujar serombongan remaja tanggung yang sedang bermain bola di pinggir jalan desa.

Arya mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, ia memacu motor bebek sewaannya menuju tempat yang ditunjukan. Setelah melewati jalanan berlubang di tengah persawahan, Arya tiba di kampung Lasih. Sesuai petunjuk, Arya belok ke kiri ketika bertemu pertigaan jalan. Jika hujan jalan tanah ini pasti berubah menjadi kubangan, pikir Arya.

Setelah masuk ke jalan tanah, Arya tidak perlu lagi bertanya. Sebuah papan penunjuk arah menuju Padepokan Kemuning Senja dipaku di pohon kelapa. Arya mengikuti arah panah dan berhenti di depan rumah berdinding kayu. Papan nama pedepokan dari triplek dibuat asal jadi, tanpa diukur terlebih dahulu. Huruf ‘a’ pada  kata “senja” tidak mendapat tempat sehingga ukurannya sangat kecil dibanding huruf lainnya.

“Cari siapa, Kang?” tanya laki-laki parobaya yang ada di halaman setelah Arya memarkir motor. Di teras padepokan, seperangkat gamelan yang biasa digunakan untuk pentas sintren teronggok, membisu. Meski memiliki teras dengan pagar tembok setinggi setengah meter, padepokan sekaligus rumah tinggal itu sama sekali tidak menampakkan kemegahan. Bahkan kesannya kusam dan suram. Apalagi lantai semennya sudah mengelupas hingga ke dalam. Mata Arya dengan leluasan menjelajah ruang tengah melalui pintu depan yang dibiarkan terbuka.

“Eh, maaf Pak, mau tanya, apa Ki Bano ada di rumah?”

“Akang ini siapa?”

“Saya Arya, dari Jakarta.”

Laki-laki itu mengernyitkan kening lalu matanya menjelajah tubuh Arya.  Melihat hal itu, Arya buru-buru menyela, “Iya, saya dari Jakarta, tapi sementara ini tinggal di Cirebon karena sedang membuat tulisan.”

“Untuk keperluan apa mau bertemu Ki Bano?”

“Ini terkait tugas yang sedang saya kerjakan.”

Sekilas Arya menceritakan soal penulisan skripsi. Ia tidak yakin laki-laki di depannya mengerti. Namun Arya tidak peduli. Ia sudah cukup senang ketika laki-laki itu mempersilahkan untuk duduk di kursi kayu yang ada di teras sementara orang itu masuk ke rumah.

Arya menyisir rambutnya yang agak panjang dengan tangan. Bapaknya sempat melarang, namun Arta tidak menghiraukan. Bapak pasti tidak tahu penampilan mahasiswa, gerutu Arya namun tidak berani diucapkan.  

“Assalamualaikum…”

Arya menoleh dan spontan membalas uluk salam. Namun bibirnya tidak segera mengatup. Matanya tak berkedip hingga beberapa lama.

“Lasih?” ujarnya tanpa sadar. Arya benar-benar tidak menyangka bisa bertemu penari sintren yang tengah menjadi buah bibir di mana-mana, meski harapan itu yang terucap dalam doa ketika hendak pergi ke rumah Ki Bano. Penampilan Lasih benar-benar berbeda dengan yang dilihatnya saat pertunjukkan. Lasih terlihat cukup modis dengan balutan celana jeans dan kaos putih dengan tulisan ‘NY’ yang mencolok.  

“Maaf, bapak tidak bisa menerima tamu,” ujar Lasih.

“Oh, tidak apa-apa,” jawab Arya spontan. “Kalau boleh tahu, apa bapak sedang pergi?”

“Ada di dalam, tapi tidak bisa diganggu. Maaf…”

“Sedang ada tamu?”

Lasih menggeleng. Rambut sebahunya ikut bergoyang. “Bukan. Tidak ada tamu. Bapak sedang melakukan ritual karena besok akan pentas di Karang Tengah.”

“Ee, bagaimana kalau saya bertanya-tanya sedikit?”

“Maaf, saya tidak bisa.”

“Kenapa?” kejar Arya. Namun setelahnya ia menyesali karena bertanya terlalu cepat.

Lasih tampak jengah ditatap sedemikian rupa oleh Arya. Ia melengos dan mencoba mengalihkan fokus perhatiannya pada induk ayam yang tengah mencari makan di bawah pohon pisang. Anak-anaknya langsung berebut ketika induknya mendapatkan cacing kecil. Suaranya sangat gaduh. 

“Saya hanya penari sintren. Tidak tahu apa-apa,” ujar Lasih lirih sambil duduk di pagar tembok teras. Namun matanya tetap terarah ke induk ayam.

“Justru saya mau bertanya soal itu,” sahut Arya. Lagi-lagi ia menyesali rasa antusiasnya karena bisa membuat Lasih semakin takut. 

“Apa yang mau ditanyakan?” Wajah Lasih bergerak sedikit. Kini ia bisa melirik lawan bicaranya. Tidak ada tanda-tanda orang ini bermaksud jahat, pikirnya. Ki Bano selalu memperingatkan agar Lasih tidak mudah percaya dengan orang lain, apalagi yang baru dikenal. Namun Lasih tidak tahu apakah hal itu juga berlaku bagi tamu yang datang ke rumah. Mungkin maksud bapak orang asing yang ditemui di arena pertunjukkan, simpul Lasih.

“Sejak kapan Nok Lasih mulai menari sintren?” tanya Arya sambil mengeluarkan pulpen dan kertas dari dalam tas.   

Ia yakin usia Lasih jauh di bawahnya sehingga tepat menggunakan panggilan ‘nok’ sebelum menyebut namanya. Nok merupakan panggilan kepada perempuan yang lebih muda atau sebaya di daerah Cirebon dan sekitarnya.

 “Mau ditulis?” tanya Lasih.

“Oh, iya. Kenalkan, nama saya Arya.”

Lasih menerima uluran tangan Arya, namun cepat-cepat ditariknya kembali. Wajahnya merona karena tatapan Arya langsung menghujam ke dalam matanya.

“Saya mahasiswa dari Jakarta yang tengah menyusun skripsi tentang kesenian sintren. Jadi semua cerita Nok Lasih akan saya catat supaya tidak lupa,” lanjut Arya.

“Saya sudah menari ejak umur 8 tahun. Tetapi jadi sintren belum lama.”

“Sekarang umur Nok Lasih berapa?”

“16 tahun.”

 “Nok Lasih memang suka menari sintren?”

Lasih tampak kebingungan. Pertanyaan itu dirasa aneh karena selama ini ia tidak pernah berpikir apakah suka ataukah hanya menuruti keinginan bapaknya.

“Maksud saya, ketika menari, Nok Lasih suka tidak?”

Kembali Lasih terdiam. Ia tidak pernah merasa suka atau tidak. Semua mengalir begitu saja. Bahkan ketika bapaknya memutuskan menjadi sintren - setelah sebelumnya hanya sebagai penari dayang, Lasih sama sekali tidak tahu apakah dirinya senang atau merasa terbebani.

“Saya tidak tahu,” jawab Lasih ketika Arya mencoba mengulang pertanyaannya dengan kalimat lain. “Saya hanya menari saja.”

“Saat berdandan di dalam kurungan, Nok Lasih sadar tidak?”

Kembali Lasih kebingungan. Ia tidak merasa sedang berdandan, namun juga tidak merasa didandani. Mana yang harus dikatakan, keluh Lasih  dalam hati.

“Nok Lasih tidak merasakan apa-apa ketika roh Sulasih manjing?”

Lasih menggeleng, pelan. Ia benar-benar gelisah.

“Tidak merasa ada roh yang menyusup dalan tubuh Nok Lasih?”

Kembali Lasih menggeleng.

Dari dalam rumah terdengar seperti langkah tergesa. Sesaat kemudian muncul laki-laki yang tadi menegur Arya.

“Maaf, Kang. Nok Lasih mau diajak menemui Dewi Lanjar.”

“Di mana?” tanya Arya penuh semangat.

“Di ruang khusus ritual. Ki Bano sudah menunggu.”

“Boleh saya ikut melihat?”

Laki-laki itu menggeleng.  Lasih pun buru-buru masuk ke rumah.  Meninggalkan Arya yang masih terbengong-bengong di depan pintu.