Now Loading

Arya

Kampung itu sebenarnya berada di pinggir laut Pantura. Tapi entah mengapa dinamakan Karang Tengah. Begitu masuk, akan tercium bau amis ikan laut yang cukup menyengat. Jaring dan jemuran ikan yang dibuat seperti meja panjang dengan alas anyaman bambu mendominasi isi kampung. Kedua benda itu hampir ada di semua pelataran rumah warga. Bahkan aktifitas warga di siang hari tidak jauh dari jaring dan jemuran ikan. Si laki-laki menjahit jaring yang robek saat melaut, sedang istrinya sibuk menjemur ikan.

Ikan yang diasinkan biasanya hasil sortiran dari tempat pelelangan ikan milik pemerintah yang berada tidak jauh dari Kampung Karang tengah. Tepatnya di Pelabuhan Perikanan  Gebang.

Perempuan Kampung Karang Tengah sangat terampil ketika memilah ikan-ikan hasil tangkapan suaminya. Sebab setiap jenis ikan memiliki harga berbeda. Bahkan andai sudah remuk sekalipun, tetap bisa diolah untuk kemudian dijual. Mereka mewarisi ketrampilan itu dari orang tuanya. Begitu seterusnya, berganti zaman, berganti generasi. Hanya kesejahteraan mereka yang tidak pernah berganti. Meski hasil tangkapan melimpah, mereka tetap tinggal di rumah-rumah sederhana di pinggir laut berdinding papan, berlantai semen.

Kesibukan yang lebih ramai terlihat di rumah lantai dua di baris kedua deretan rumah  di sepanjang garis pantai. Rumah berdinding beton dilapisi keramik merah itu memiliki halaman paling luas. Ada banyak tempat penjemuran ikan, berjajar rapi layaknya meja prasmanan. Setiap meja persegi panjang berukuran 4x 2 meter i, diurusi oleh satu perempuan yang mengenakan caping lebar. Tubuhnya dibungkus kaos lengan panjang. Umumnya mereka memakai kain panjang sebagai bawahan. Namun ada juga yang memakai rok berumbai-rumbai sehingga tersingkap ketika angin laut bertiup agak kencang. Memperlihatkan pantatnya yang hitam.

Kesibukan di samping rumah yang dibuat seperti paviliun- terpisah dari rumah utama, tidak kalah ramai. Sekitar 15 laki-laki, rata-rata masih berusia muda, sibuk dengan jaring di depannya. Tangannya dengan lincah menyulam jaring yang robek. Jarum besar dengan ekor senar putih, menari-nari, keluar masuk lubang jaring, tanpa dilihatnya. Mata mereka lebih sering tertuju pada perempuan-perempuan parobaya yang tengah menjemur ikan. Ketika ada rok yang tersingkap, spontan mereka bersorak.

“Dasar mata ora mangan bangku sekolah,” sungut perempuan dengan rok berumbai. Namun tidak ada upaya untuk menahan agar roknya tidak tersingkap angin. Tangannya tetap di atas meja jemuran ikan.

“Lah, beramal sedikit. Pan lumayan ana tontonan gratis,” sahut laki-laki yang tadi bersorak paling keras.           

Meski dikelilingi tembok setinggi 2 meter, namun terdapat banyak pintu masuk sehingga para pekerja tidak keluar-masuk melalui pintu depan yang berfungsi sebagai pintu utama, lengkap dengan gerbangnya. Pintu gerbang hanya terbuka saat Juragan Tirta keluar-masuk seperti saat ini. Pintu gerbang terbuka dengan dua penjaga di kedua sisinya. TIdak lama mobil Land Cruiser masuk. Setelah itu gerbang  ditutup kembali.

“Sagor, kamu bersihkan ini!” perintah Juragan Tirta setelah turun dari mobil sambil menunjuk deretan meja penjemuran ikan. “Cukup empat penjemuran saja yang kamu geser ke samping. Ajak Bagor sama Tur.”

“Memangnya mau ada hajatan, Gan?” tanya Sagor.

Juragan Tirta menoleh tapi tidak memberikan jawaban.

“Maaf, Juragan. Maksud saya kalau untuk hajatan, berarti jemuran yang depan rumah juga harus dibongkar dulu supaya…”

Sing pan hajatan sapa?” sentak Juragan Tirta.

“Maaf, Gan.”

“Kalau disuruh jangan banyak tanya. Kerjakan saja sesuai yang saya suruh!”

“Siap, Gan.”

“Saya mau nanggap sintren. Tadi saya sudah ngomong sama Bano dan Lasih.”

“Kapan, Gan?” sahut Sagor senang. Lupa pada nasehat yang baru saja didengar.

Beruntung Juragan Tirta juga sudah lupa dengan nasehat yang diberikan. “Seminggu lagi. Sekalian mau selametan kapal  anyar,” jawab Juragan Tirta sambil berlalu.

Kebiasaan mengadakan selamatan untuk kapal  baru, konon sudah dilakukan sejak Juragan Tirta baru memiliki satu perahu. Kebiasaan itu terus dilakukan meski sekarang sudah memiliki 20 perahu. Setiap kali selamatan berarti pesta besar bagi para nelayan. Juragan Tirta akan membagi-bagikan sembako dan juga uang kepada nelayan-nelayan yang dianggap sudah memberi keuntungan besar. Selain menyewakan perahu, Juragan Tirta juga kerap memborong hasil tangkapan ikan nelayan tanpa melalui tempat pelelangan. 

“Jangan senang dulu. Itu uang syarat pesugihan,” ujar juragan lainnya. Sedikitnya ada tujuh juragan kapal di Cirebon. Namun nama dan pamornya kalah oleh Juragan Tirta. Meski secara umum mereka akrab satu sama lain, tetapi bukan rahasia lagiu jika di belakang saling telikung.

Terlebih Juragan Tirta termasuk orang kaya baru di daerah itu. Dulunya Juragan Tirta hanya nelayan biasa seperti juga orang tuanya. Berkat keuletan dan tekadnya yang kuat, Juragan Tirta akhirnya berhasil membeli kapal sendiri dari uang tabungan. Kapal pertamanya diberi nama “Kencana Laut”.

“Setiap kali naik kapal ini, saya merasa sedang duduk di dampar kencana dengan lautan sebagai kerajaannya,” ujar Juragan Tirta penuh kebanggan.   

Terkait kabar Juragan Tirta memiliki pesugihan, memang ada yang percaya meski belum bisa dibuktikan. Namun bagi orang-orang terdekatnya, kabar justru menjadi bahan tertawaan. Mereka tahu persis bagaimana pelitnya Juragan Tirta, bahkan untuk dirinya. Tidak ada kalender  hiburan dalam hidup Tirta muda. Ia bukan saja menghindari judi dan mabuk seperti kebanyakan teman-temannya,  Juragan Tirta juga tidak merokok.

Setelah kaya-raya Juragan Tirta tetap tidak mau menyentuh menuman keras, judi dan rokok. Satu-satunya kesenangannya mencari perempuan muda untuk dinikahi. Jika sudah suka dengan perempuan yang ditemui dan ada isyarat lamarannya bakal diterima, Juragan Tirta mendadak lupa dengan sifat pelitnya.

Demikian juga ketika hatinya sedang bungah usai membeli kapal baru baru. Pada saat selamatan, Juragan Tirta tidak segan-segan membagi-bagikan uang.

“Untuk buang sial,” canda Juragan Tirta ketika ada yang bertanya. Tujuannya untuk menyindir supaya orang-orang yang menggunjing dirinya melakukan ritual pesugihan. 

Tidak mengherankan jika pekerjanya, juga warga sekitar rumah, tetap antusias berebut uang setiap kali Juragan Tirta mengadakan selamatan. Apalagi sekarang akan dibarengi dengan pentas sintren Kemuning Senja. Mereka ingin melihat Lasih menari di Kampung Karang Tengah.

“Tapi katanya Juragan Tirta punya ajian untuk memilkat perempuan?” ujar Arya ketika datang ke Kampung Karang Tengah untuk mencari sosok Juragan Tirta yang sebenarnya. Namun orang yang diajak bicara hanya mengangkat bahu. Jawaban justru datang dari pemilik warung kopi. 

“Ajian untuk memikat perempuan mah gampang.”  

“Jadi isu itu benar?” tanya Arya antusias.

“Ya benar. Asal kamu punya uang, perempuan mana yang tidak terpikat. Itu ajian pemikat perempuan yang paling ampuh,” ujar pemilik warung kopi sambil tertawa puas karena bisa meledek pengunjungnya.

Merasa dikerjai, Arya pura-pura tidak mendengar. Setelah membayar kopi dan dua potong pisang goreng, Arya bergegas meninggalkan Kampung Karang Tengah. Lebih baik aku langsung mendekati Lasih, tekadnya.