Now Loading

Juragan Tirta

Sepeninggal Ratman, pertunjukan sintren semakin ramai. Terlebih ketika acara balangan yakni melempar sesuatu ke tubuh sintren, sudah dimulai. Tubuh Lasih berulang-ulang jatuh pingsan terkena lemparan. Ketika Ki Bano menyadarkan Lasih dengan cara memanggil kembali roh Sulasih, kru sintren memunguti benda-benda yang dilemparkan. Rata-rata berupa uang yang dibungkus dengan kertas. Ada juga yang isinya sebungkus rokok.

Semua bergembira ketika ada benda yang mengenai tubuh Lasih. Meski hanya terkena lemparan kertas berisi uang Rp 5.000 yang sudah diremas-remas, tetap saja Lasih akan jatuh karena Sulasih mendadak keluar dari tubuhnya. Mereka yang berhasil menjatuhkan Lasih, berhak untuk masuk ke gelanggang dan berjoget dengan sang primadona seperti yang dilakukan Ratman. Hanya saja Ratman melakukannya terlalu cepat, sebelum acara balangan dimulai sehingga penonton kesal karena belum menikmati tarian Lasih secara utuh.

Menjelang sore, terjadi kegaduhan lainnya. Tetapi ini tidak ada hubungannya dengan Lasih. Semua mata tertuju pada laki-laki tua berbadan kurus, nyaris ceking. Begitu turun dari mobil yang diparkir agak jauh dari gelanggang sintren, laki-laki tua itu menebar senyum ramah kepada warga.

“Juragan Tirta datang. Cepat kamu salami, biar dikasih duit,” ujar ibu paraboya kepada anak perempuannya yang masih berumur 5 tahunan.

Namun bocah perempuan itu tampak ragu. Ia tidak mau mendekati Juragan Tirta, meski sudah didorong-dorong. Terpaksa sang ibu menyeretnya. 

“Ayo salaman!” perintahnya ketika sudah di depan Juragan Tirta. Namun kedua tangan anaknya justru mengepal dan wajahnya menunjukkan ketakutan. Juragan Tirta pura-pura tidak melihat dan terus berjalan sambil membagi-bagikan uang pecahan Rp 2.000 kepada anak-anak kecil yang menyalami dan mencium tangannya.

“Uh, bocah bodoh!” sungut ibu itu memarahi anaknya.

Arya yang sejak tadi larut dalam tembang sintren, terutama pada tarian Lasih, terheran-heran melihat antusiasme warga.

“Maaf Kang, beliau siapa ya?” tanya Arya  kepada laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Matanya tertuju pada Juragan Tirta.

“Masa kamu tidak tahu? Itu Juragan Tirta,” jawabnya tanpa menoleh.

“Maksud saya, Juragan Tirta itu siapa?”

“Juragan kapal.”

“Dia punya banyak kapal?” desak Arya.

Laki-laki yang ditanya menoleh dengan tatapan mata tidak suka. “Kamu dari mana? Bukan asli orang sini?”

“Iya, maaf.  Saya mahasiswa dari Jakarta. Saya baru dua hari di sini, Kang.”

“Oh, pantesan tidak kenal Juragan Tirta. Beliau orang terpandang. Orang terkaya di kampung sebelah, Kampung Karang Tengah. Orangnya royal banget, suka bagi-bagi duit,” terangnya sambil kembali menatap Juragan Tirta yang langsung masuk ke gelanggang dan duduk kursi plastik dekat dupa.

Arya mengangguk meski masih belum paham. Setahunya banyak orang kaya di daerah Pantura. Tetapi tidak semua mendapat perlakuan seperti yang diterima Juragan Tirta. Terlalu berlebihan, batinnya.

“Dia akan memperistri Lasih,” sambung laki-laki itu.

Arya tersentak. Sekarang ia mengerti mengapa warga sangat antusias. Tetapi mengapa Lasih akan menikah dengan laki-laki yang bahkan lebih tua dari bapaknya? Ah, Juragan Tirta tentu laki-laki yang sangat beruntung, simpul Arya. Meski sudah tua, tapi yang hendak dinikahi tidak tanggung-tanggung: perawan ting-ting yang tengah menjadi primadona dan masih bau kencur!

Kedatangan Juragan Tirta ke acara pementasan sintren membuat suasana sedikit berubah. Apalagi beberapa centengnya yang datang duluan menggunakan tiga sepeda motor bertingkah melebihi pengawal pejabat. Dua orang yang memakai pakaian safari warna hitam, tanpa basa-basi merebut kursi yang tengah diduduki warga. Bukannya protes, warga malah menunduk-nunduk sambil menjauh. Setelah duduk, salah seorang di antaranya melepas kacamata hitam lalu menggantungnya di saku baju.

“Hai, minggir dikit!” teriak centeng yang tadi melepas kacamata pada penonton yang menghalangi pandangannya. Seperti juga pemilik kursi, penonton yang terkena tegur langsung bergeser tanpa protes.

Ki Bano pun tampak kikuk dengan kehadirannya Juragan Tirta.Ki Bano sudah mengetahui keinginan Juragan Tirta untuk menikahi Lasih meski belum pernah diucapkan secara langsung. Suara-suara di luar sudah gencar dan ia yakin kabar itu sengaja dihembuskan oleh orang-orang Juragan Tirta. Cara demikian sudah sering dipakai untuk mengetahui sejauh mana reaksi keluarga gadis yang diincar. Jika ada isyarat positif, Juragan Tirta akan langsung melamarnya tanpa takut ditolak. Bahkan biasanya keluarga si gadis yang menyodorkan.

“Terserah anak saya saja. Pastinya dia akan bahagia karena derajatnya diangkat  oleh Juragan Tirta.” Begitu umumnya jawaban orang tua yang anak gadisnya tengah diincar Juragan Tirta. Jawaban itu keluar saat ditanya tetangganya yang kebetulan dekat dengan Juragan Tirta sehingga pasti akan sampai pada yang bersangkutan. Jika sudah begitu, Juragan Tirta segera mengirim satu pickup kebutuhan si gadis dan keluarganya dari mulai beras, ikan asin, alat rias hingga sabun mandi. Setelah kiriman diterima, dua atau itiga hari kemudian Juragan Tirta datang melamar.

Tidak ada yang tahu persis sudah berapa kali Juragan Tirta menikah. Namun yang pasti istrinya tetap tiga. Artinya ketika dia akan menikah lagi, maka sebelumnya sudah menceraikan salah satu istrinya. Mantan istri-istrinya tidak ada yang protes karena Juaragan Tirta sudah mencukupi kebutuhannya dan juga kebutuhan anak-anaknya, termasuk memberi rumah dan kapal ikan untuk disewakan kepada nelayan. Hanya saja rumah dan kapal itu masih atas nama Juragan Tirta. Ketika mantan istrinya menikah dengan orang lain, Juragan Tirta akan mengambil kembali disertai dengan nasehat bijak.

Kie umah karo kapal e reang. Umahe kanggo ngaub anake reang. Kapale kanggo luru pangan. Ari kae pan nikah maning ya kongkon lanange gawe umah karo luru pangan dewek (rumah ini untuk berteduh anakku dan kapalnya untuk cari makan. Kalau kamu mau menikah lagi, ya suamimu suruh bikin rumah dan cari makan sendiri),” ujar Juragan Tirta ketika mengambil kembali rumah dan kapalnya.

Karena alasan itu juga, jarang ada mantan istri Juragan Tirta yang menikah lagi. Mereka tidak ingin membuat masalah dengan juragan yang memiliki banyak centeng dan namanya tersohor hingga seantero Cirebon. Beberapa orang yang tidak suka dengan sifat kawin-cerainya juga memilih diam daripada nanti berurusan dengan centengnya. Konon Juragan Tirta juga sangat dekat dengan kepala polisi dan kepala tentara di daerah.

Duite ora berseri,” ujar warga penuh kekaguman ketika menceritakan kehebatan Juragan Tirta.

Lasih terus menari. Kini tariannya mulai berubah lebih dinamis. Tidak ada lagi orang yang berani melempar duit dibungkus kertas. Tidak ada juga yang berani menari di gelanggang.

“Eh, kon pan apa?” tegur Juragan Tirta ketika salah seorang anak buah Ki Bano hendak mengedarkan baskom untuk meminta saweran dari penonton.

Orang itu tampak kebingungan. Namun setelah melihat isyarat Ki Bano, dia mendekati Juragan Tirta. Dari saku baju model jas, Juragan Tirta mengambil segepok uang lalu melemparkannya ke dalam baskom.

“Cukup?” tanyanya dengan nada sarkasme.

Si pembawa baskom mengangguk sambil mundur. Beberapa penonton yang sudah menyiapkan uang receh tampak kecewa. Meski tidak ada kewajiban untuk memberi saweran, namun warga yang terhibur dengan pementasan sintren merasa punya tanggung jawab agar grup sintren yang disenanginya tetap eksis. Saweran itu juga sebagai penegasan jika warga merasa ikut memiliki. Apalagi pementasan Lasih kali ini bukan ditanggap warga, melainkan acara amal dalam rangka bersih desa.  

“Mentang-mentang orang kaya, semua mau dibelinya,” guman salah seorang penonton.

Namun temannya buru-buru menyikut sambil melotot. “Jangan bicara sembarang. Nanti kamu susah sendiri!”

Setelah puas menghibur penonton, terutama Juragan Tirta, Ki Bano kembali merapal mantra sambil menambah kemenyan di dupa. Kini Ki Bano bersiap menyadarkan Lasih. Setelah diberi asap kemenyan dan permohonan kepada Sulasih agar sudi meninggalkan raga sintren, Lasih tersadar. Ia lantas dipapah masuk ke rumah.  Juragan Tirta pun bergegas pergi setelah memberi dua lembar uang kepada bodor yang tengah memuji-muji dirinya.

Tidak ada yang memperhatkan ketika Ki Bano melempar bunga ke sebelah utara. Mulutnya komat—kamit seolah sedang berterima kasih. KI Bano percaya, pementasannya lancar dan Sulandono hadir menemani Sulasih menari dalam raga Lasih berkat peran Dewi Lanjar.