Now Loading

Pentas

Wis aja pada ribut bae. Sintrene pan dimulai,” ujar perempuan bahenol yang berdiri di baris kedua, di belakang Arya- yang mengaku sebagai mahasiswa semester akhir dan datang ke tempat pentas Lasih untuk melengkapi skripsinya tentang sintren.

Benar saja. Dari dalam rumah, Lasih keluar dengan busana ala kadarnya: celana pendek hitam dari bahan katun yang dipadu dengan kaos oblong putih. Sementara empat penari di belakangnya yang berperan sebagai dayang-dayang, berpakaian lengkap. Wajah Lasih tampak pucat tanpa riasan. Rambutnya yang hanya sebahu, terlihat masai. Lasih tidak ada bedanya dengan umumnya gadis pantai yang kulitnya kering bersisik. Dua jerawat di pipinya kian menegaskan Lasih hanyalah gadis biasa yang tengah beranjak dewasa.

Tiba di halaman yang menjadi arena pertunjukan, Lasih duduk bersimpuh- dekat dupa. Ki Bano lantas meraih telapak tangan anaknya lalu mengarahkan tepat di atas dupa.

“Buka telapak tanganmu,” perintah Ki Bano.

Lasih menuruti perintah Ki Bano dan membiarkan tangannya bermandikan asap kemenyan yang mengepul dari tungku dupa. Sejenak kemudian Ki Bano menggoyang-goyang tangan Lasih, sementara mulutnya sibuk merapal mantra. Bunyi gamelan yang semula riuh, perlahan kendur berganti nada mistis.

Selesai merapal mantra, Ki Bano menyuruh Lasih berdiri. Ia lantas mengikat kedua tangan Lasih ke belakang. Setelah itu  ujung tambang dikalungkan ke leher, terus turun, dikaitkan ke selangkangan, sebelum akhirnya dililitkan ke tubuh Lasih. Dalam kondisi seperti itu, rasanya Lasih tidak mungkin bisa melepas ikatan. Sebelum dimasukan ke dalam kurungan yang sudah ditutup kain hitam, Ki Bano memutar tubuh Lasih agar bisa dilihat penonton. Setelah penonton yakin calon sintren sudah terikat dengan kuat, Lasih disuruh jongkok lau dimasukan dalam kurungan bersama pakaian penari, sampur (selendang), alat rias, kaca mata hitam dan topi kertas bermotif bunga di mana bagian depannya lebih tinggi, mirip udeng namun tanpa penutup.

Gamelan terus mengalun membawakan irama kesedihan. Meski tidak pernah ditunjuk sebagai sinden, namun Somad dengan sendirinya mulai melantunkan tembang beraroma mantra, diikuti para penabuh gending lainnya. Mengiringi tarian empat dayang, mengundang jiwa yang masih berkelana di alam kegaiban.  

Turun-turun Sintren

Sintrene widadari

Nemu kembang ning ayunan

Nemu kembang ning ayunan

Kembange siti mahendara

Widadari temurunan ngaranjing ning awak ira  

 

Sih sulasih sulandana

Menyan putih pengundang dewa

Ala dewa saking sukma

Widadari temurunan  

 

Turun-turun sintren

Sintrene widadari

Nemu kembang yun ayunan

Nemu kembang yun ayunan

Kembange si jaya Indra

Widadari temurunan

Kang manjing ning awak ira

 

Turun-turun sintren

Sintrene widadari

Nemu kembang yun ayunan

Nemu kembang yun ayunan 

Kembange si jaya Indra

Widadari temurunan

 

Kembang gewor bumbung kelapa lumeor

Geol-geol bu sintren garepan njaluk bodor

Bumbune kelapa muda

Goyang-goyang nyi sintern minta bodor

 

Kembang kates gandul

Pinggire kembang kenanga

Kembang kates gandul

Pinggire kembang kenanga

Arep ngalor garep ngidul

Wis mana gageya lunga

 

Kembang kenanga

Pinggire kembang melati

Kembang kenanga pinggire

Kembang melati

Wis mana gageya lunga

Aja gawe lara ati

Kembang jahe laos

Lempuyang kembange kuning

Kembang jahe laos

Lempuyang kembange kuning

Ari balik gage elos sukiki menea maning

 

Nada gamelan mulai melengking, menjeritkan kepedihan di kampung-kampung hati yang sepi. Menyusup di antara kepedihan. Tarian empat dayang kian syahdu, diiringi para bodor yang tak lagi lucu dan suara Somad yang mendadak serak. Semua hanyut dalam irama yang menghentak kalbu, larut dalam kepedihan kisah yang dituturkan dalam tembang itu. Mereka berharap dewa segera turun, menuntaskan janjinya.

Tidak berapa lama setelah lagu selesai dinyanyikan, kurungan bergetar pertanda dewa turun dan tubuh Lasih sudah dirasuki roh Sulasih melalui Dewi Lanjar. Perlahan Ki Bano memegang ujung kurungan, mengangkatnya secara perlahan. Semua mata terarah pada kurungan. Mereka segera ingin mengetahui apakah Lasih sudah terbebas dari ikatan dan selesai berdandan dalam waktu yang sangat singkat. Meski hampir semua penonton sudah pernah menyaksikan pertunjukan ini, namun tidak mengurangi rasa ingin tahunya. Mata mereka nyaris tidak berkedip menatap kurungan. KI Bano tahu bagaimana mempermainkan emosi penonton, sehingga dia sengaja mengangkat kurungan selama mungkin. Sedikit demi sedikit.

Penonton merangsek ke depan. Nyaris tidak ada celah untuk sekedar menggeser kaki.  Meski panas tidak lagi menyengat seperti tadi, namun debu yang memenuhi arena pertunjukan membuat suasana bertambah gerah. Bayi mungil yang tadi terlelap dalam gendongan ibunya, mendadak bangun dan langsung menangis keras karena kepalanya terkena siku pemuda tanggung yang berusaha merangsek ke depan. Tidak ingin dirinya menjadi penyebab kegaduhan, sang ibu langsung mengeluarkan tetek dan menyorongkan pada mulut anaknya. Meski masih menyisakan segukan, bayi itu langsung diam dan perlahan kembali tertidur. Sang ibu tidak peduli beberapa mata jalang menatap dadanya yang terbuka. Konsentrasinya kini tertuju pada kurungan yang tengah diangkat oleh Ki Bano.

Begitu kurungan terbuka, Lasih tampak tengah duduk bersimpuh. Kepalanya tertunduk. Tali yang tadi melilit tubuhnya sudah terlepas. Sekarang Lasih sudah mengenakan pakaian sintren, lengkap dengan topi dan kaca mata hitam. Selendangnya dikalungkan di leher. Sikunya menekuk di mana tangannya memegang kedua ujung selendang. Wajahnya dipenuhi bedak tebal dengan garis-garis pinsil yang tidak halus di bagian alis. Namun penonton tidak akan melihat sedetail itu. Mereka merasa lega karena sudah melihat sosok Lasih yang berubah menjadi sangat cantik dan siap menghibur mereka dengan tariannya. 

Meski tahu, namun mereka tidak peduli bahwa sosok yang dilihatnya sekarang bukanlah Lasih yang sebenarnya. Ada roh lain yang sudah bersemayam di dalam tubuh gadis perawan itu. Ya, roh Sulasih telah manjing, merasuk dalam tubuh Lasih dan siap mengundang kekasih abadinya, Raden Sulandono.  

Bunyi gamelan semakin syahdu. Perlahan Lasih berdiri. Ia kemudian naik ke atas kurung dan mulai menari dengan gerakan yang sangat gemulai. Lasih menjadikan kurungan seperti panggung pementasan. Anehnya kurungan itu kuat menahan tubuh Lasih, bahkan tidak penyok meski dinjak-injak. Tubuh Lasih terlihat sangat ringan, seolah melayang.  

Ke empat dayang segera merapat, menyambut sang sintren. Mereka berdiri berjajar di belakangnya sambil terus menari. Setelah puas menari di atas kurungan, Lasih turun dengan bantuan dayang. Setelah itu kembali menari di halaman yang diplester semen dengan gerakan yang semakin cepat. Ketika proses pertunjukan sudah benar-benar sempurna, Ki Bano menepi dari kalangan, berdiri dekat dupa sambil mengawasi sintren dan penonton.

Semakin lama tarian Lasih semakin indah. Meski gerakannya tidak teratur, namun enak dilihat karena seperti tengah menari secara berpasangan. Padahal di depan Lasih tidak ada siapa-siapa. Penonton meyakini roh Sulandono sudah hadir dan ikut menari di depannya. Musik semakin menyayat dan membuai dua sosok gaib di mana yang satu menyusup dalam tubuh Lasih dan satunya tidak terlihat mata manusia. Mereka memadu asmara terlarang atas undangan Ki Bano.

Tiba-tiba sebuah bungkusan melayang dan mengenai tubuh Lasih. Sintren itu spontan jatuh terkulai. Pingsan. Rupanya Ratman yang melempar. Dia tertawa senang karena lemparannya tepat sasaran. Beberapa orang menoleh dengan tatapan kesal. Namun preman kampung itu tidak menghiraukan. Tawanya semakin keras.

Ki Bano masuk ke lingkaran, mendudukkan Lasih. Ia memegang kedua telapak tangan Lasih lalu mengangkatnya di atas dupa yang disodorkan salah satu pengurus grup Kemuning Senja sambil merapal mantra. Memanggil kembali roh Sulasih yang tadi meninggalkan raga Lasih.

Tidak lama kemudian Lasih siuman. Dengan sedikit tertatih dia berdiri dan menjadi sintren seperti semula setelah roh Sulasih manjing kembali. Menari dalam kerinduan yang terpendam seribu tahun .

Tiba-tiba Ratman masuk ke gelanggang dan langsung menari di depan Lasih. Ke empat dayang hanya bisa pasrah melihat aksinya. Mereka kini menari sambil mengawasi setiap gerakan Ratman karena kuatir preman kampung itu akan berbuat tidak baik kepada sang sintren.             

Joget Ratman semakin slebor. Beberapa kali ia hampir jatuh. Pengaruh minuman keras membuat tubuhnya limbung. Gerakannya hanya mengikuti naluri tanpa mampu dikontrol. Namun cemoohan dan teriakan penonton yang menyuruh agar segera keluar dari gelanggang tidak digubris. Ratman terus berjoget sampai akhirnya Ki Bano meniupkan sesuatu di tangannya dan melemparkannya ke tubuh Ratman dengan cara dijentik menggunakan ibu jari sehingga tidak ada yang melihat. Lagi pula, penonton tidak akan ada yang tahu apa yang dilemparkannya, terkecuali bagi yang bisa melihat hal-hal gaib.

Bukkk..! Tubuh Ratman jatuh terkulai. Pingsan. Pukulan gaib yang dilontarkan Ki Bano tepat mengenai ulu hatinya sehingga Ratman merasakan nyeri luar biasa. Beberapa anak buah Ki Bano langsung menggotong tubuh Ratman keluar gelanggang dan menidurkannya di bawah pohon jambu air. Setelah itu, Ki Bano menyadarkan dengan pukulan penawar dari jarak jauh.Seketika  Ratman tersadar, namun ia tidak mampu berdiri. Teman-temannya datang membantu.

“Badanku sakit semua,” keluh Ratman.

“Kamu terlalu banyak minum, Kang,” kata temannya sambil memapah Ratman.

“Ini belum seberapa. Biasanya satu baskom aku minum sendiri!” jawab Ratman tak senang karena kehebatannya minum miras diragukan.

“Iya, saya percaya. Kang Ratman jago minum. Cuma sekarang mungkin sedang tidak fit.”

“Sudah, jangan banyak omong,” bentak Ratman. “Antar aku pulang.”

Temannya buru-buru mengambil motor.  Namun Ratman tidak cukup kuat duduk di boncengan. Terpaksa satu orang lagi ikut naik ke motor untuk menjepit tubuh Ratman. Motor meninggalkan arena pertunjukan disertai caci-maki penonton.