Now Loading

Lasih

Gending selendro menghentak memecah langit. Asap dupa meliuk-liuk mencari ruang, sebelum kemudian terbang ke angkasa bercampur rindu. Menggedor jiwa-jiwa yang masih berkeliaran dalam gelap. Menghubungkan dunia kegaiban dengan dunia wadag, dunia fana. Menjadi perantara antara yang ada dan tiada. Meminjamkan raga untuk jiwa yang masih mengembara mencari cinta sejatinya karena diputus paksa oleh ego status manusia.

Dua bodor yang sejak tadi menghibur penonton sudah terlihat letih. Penonton yang semakin berjubel tidak merespon lawakannya.  Bagi sebagian besar penonton, lawakannya sudah sering didengar sehingga tidak memiliki greget lagi, apalagi mengundang tawa. Bahkan dua preman yang sejak tadi sibuk dengan botol kolesomnya, mulai berulah sehingga lebih menarik perhatian penonton meski disertai rasa was-was. Penonton tidak ingin terjadi keributan sebelum Lasih keluar.

Ya, mereka semua tengah menunggu Lasih. Berbeda dengan bodor, Lasih- meski juga sering mereka tonton, tetap memberikan daya tarik luar biasa. Lasih selalu menampilkan gerakkan berbeda dalam setiap penampilannya. Lasih jelas lebih menghibur dibanding para bodor, apalagi dua preman di bawah pohon jambu yang mulai reseh.

Ora lucu! Kalau sudah habis bahan lawakannya,  mending manjing bae!” teriak Ratman- preman kampung yang mulai mabok.

Seperti penonton, dua bodor malang itu mulai gelisah. Mereka kesal karena Ki Bano masih sibuk merapal mantra, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar pertunjukan berlangsung sukses tanpa gangguan, baik dari manusia maupun bangsa lelembut.

“Ganti tarling sambil nunggu Lasih,” cetus rekan Ratman.

Namun keinginan preman-preman itu tentu tidak dipenuhi. Ki Bano, pemimpin sekaligus pemilik grup sintren  Kemuning Senja yang sedang melakukan pementasan, pantang mendengar suara organ tunggal di arena pentas sintrennya. Meski mengalah oleh desakan zaman sehingga memperbolehkan adanya alat musik lain dalam pemetasannya,  Ki Bano tetap tidak pertunjukannya didahului atau diselingi pentas tarling apalagi organ tunggal.

“Boleh ada tarling, tapi pentasnya setelah sintren selesai!” tegas Ki Bano kepada orang-orang yang hendak menyewa atau nangggap sintrennya.

Ketegasan Ki Bano bukan tanpa sebab. Saat ini banyak pertunjukan sintren dicampur tarling, bahkan dalam beberapa pertunjukkan, sintren ditempatkan hanya sebagai pengisi waktu kosong saat pemain tarling istirahat.

“Kalau mau nanggap Kemuning Senja, harus mau mengiikuti aturan saya. Kalau tidak mau, lebih baik menyewa grup sintren lain,” kata Ki Bano.

Awalnya, aturan yang dibuat Ki Bano membuat grup sintrennya nyaris gulung tikar. TIdak ada warga yang mau nanggap sintren tanpa disertai organ tunggal atau tarling.

“Jaman sekarang tidak ada yang mau nonton sintren kalau tidak ada organ tunggalnya,” alasan warga.

Namun Ki Bano tidak menyerah meski penari sintren dan penabuh gamelannya keluar karena Kemuning Senja tidak pernah pentas, yang ber arti tidak ada pemasukan bagi mereka. Baik penabuh gamelan maupun penari sintren dan bodor hanya dibayar saat ada pementasan.

Ki Bano kemudian memaksa Lasih- anak gadisnya yang tengah beranjak dewasa, menjadi penari sintren, menggantikan penari lama yang pindah ke grup sintren yang tengah laris. Sementara untuk penabuh gamelan, Ki Bano meminta bantuan personil grup lain dengan sistem ngebon (sewa). Bayarannya jelas lebih mahal dibanding penabuh yang menjadi anggota grup sendiri. Tetapi karena tidak ada pilihan, cara itu terpaksa ditempuhnya. Terakhir Ki Bano memperbolehkan pertunjukan sintren disatukan dengan organ tunggal atau tarling dengan catatan sintrennya pentas terlebih dahulu.

Perlahan Ki Bano mampu menghidupkan kembali grup sintrennya. Orderan mulai datang. Dari sebulan sekali menjadi seminggu sekali. Bahkan sekarang Ki Bano berani menolak permintaan pentas karena hingga dua bulan ke depan, jadwalnya sudah padat.

“Lasih bukan penari sintren biasa. Tubuhnya sangat harum,” ujar penonton usai pementasan sintren Kemuning Senja.

“Lasih memiliki pancaran aura magis sehingga penontonnya seperti dibawa ke alam gaib,”  puji yang lainnya.

Jika pentas grup sintren pesaingnya hanya ditonton puluhan- paling banyak ratusan orang, maka pementasan Lasih mampu menyedot ribuan penonton. Mereka bukan hanya warga sekitar tempat pementasan namun datang dari berbagai daerah. Para penggemarnya membuat grup di Facebook dan saling memberi kabar jika ada pementasan Kemuning Senja.