Now Loading

Prolog

Hawa di dalam paseban mulai panas. Tubuh Ki Ageng Baurekso menggigil. Sorot matanya berkilat menghujam Raden Sulandono yang tengah bersimpuh di depannya. Gagang keris bersimpul bunga melati bergetar ketika kakinya melangkah. Kini wajah putranya tepat berada di ujung jari kaki.

Di belakang Ki Baurekso, bahu Dewi Rantamsasri berguncang menahan tangis. Keringat membasahi telapak tangannya. Ia tidak berani mendongak. Hanya ekor matanya yang terus tertuju pada wajah Sulandono.

“Ampun Romo, dalam hal ini hamba yang salah mendidik Raden Sulandono,” ujar Dewi Rantamsari sebagai upaya terakhir menyelamatkan putra terkasih.

“Tidak Romo,” sahut Sulandono. “Ibunda tidak bersalah. Hamba yang tidak menuruti nasehatnya. Hamba layak menerima hukuman.”

“Diam!” bentak Ki Baurekso. “Jawab saja pertanyaanku, Sulandono. Apakah kamu tetap akan menikahi penari dari dusun?”

“Benar, Romo. Hamba tetap akan menikahi Sulasih dengan atau tanpa restu Romo.”

Kaki Ki Bahureksi berkelebat. Namun kalah cepat dengan tubrukan Dewi Rantamsari sehingga wajah Sulandono terhindar dari sepakan ayahnya. Ki Bahureksi mencoba membebaskan kakinya, namun istrinya justru semakin kuat mendekap.

“Pergilah anakku, Sulandono. Cepat!” jerit Dewi Rantamsari sambil menangis. 

“Tidak, Ibunda. Biarkan Romo menghukum hamba. Jika pun harus kehilangan nyawa, hamba rela.”

“Oh, jadi kalian berdua bersengkol? Kalian sudah berani membantah titahku. Baiklah! Mulai saat ini, aku tidak mengakui kamu lagi sebagai anakku, Sulandono,” teriak Ki Baurekso. “Dan kamu, Dewi Rantamsari, aku persilakan untuk pergi dari istana!”

“Tidak Romo,” sahut Sulandono sambil berdiri dan mundur beberapa langkah. “Ibunda tidak salah. Biar hamba yang pergi, mencari mencari jalan hidup hamba. Jika masih boleh hamba memohon satu hal; jangan pernah Romo menyalahkan Ibunda ”

Tanpa menunggu jawaban ayahnya, dan juga tangis ibunya, Sulandono langsung meninggalkan paseban. Sulandono kemudian memacu kudanya keluar dari istana. Sejenak terbayang wajah Sulasih. Ada keinginan untuk mempir ke padepokan tarinya. Tetapi buru-buru ia menepis. Jika ia nekad pergi ke sana, mungkin ayahnya akan mengerahkan punggawa istana untuk membubarkan padepok. Sulasih tidak boleh ikut menderita karena ulahku!

Sulandono memacu kudanya ke arah utara, menjauh dari istana dan juga padepon tari Sulasih. Ia kemudian masuk ke gua dan sejak itu tidak pernah keluar lagi.  

Sementara sepeninggal Sulandono, Dewi Rantamsari perlahan berdiri. Sambil menyeka airmata, ia berkata,”Romo sudah mengusir hamba. Baiklah, hamba akan mengembara mengikuti langkah anak kita, Raden Sulandono.”

“Pergi!” teriak Ki Baurekso. Gusar.

“Namun dengankan sumpah hamba, Romo,” ujar Dewi Lanjar sambil menatap mata Ki Baureksio. “Hamba tidak akan menginjakan kaki di istana lagi kecuali bersama Sulasih dan Sulandono!. Jika tidak di masa sekarang, mungkin di masa seribu tahun mendatang!”

Kilat menyambar diikuti gelegar petir. Ki Baurekso mengeram. Emosinya membuncah. Hatinya tidak juga luruh melihat Dewi Rantamsari meninggalkan istana di tengah hujan deras. Bahkan Ki Baurekso melarang dayang yang hendak memayungi. 

Setelah berada di luar kompleks istana, Dewi Rantamsari melepas pakaian kebesarannya. Dengan mengenakan pakaian sederhana, Dewi Rantamsari kemudian berjalan ke laut utara. Berhari-hari ia berjalan tanpa henti.

Tiba di tebing nan curam, di atas batu karang di pantai utara, Dewi Lanjar melakukan semedi. Satu hari, dua hari hingga berbulan-bulan, Dewi Rantamsari melakukan tapa brata. Para nelayan  dan warga sekitar yang tidak mengenali, memberinya nama Dewi Lanjar. Kadang mereka membawakan makanan. Namun hingga esoknya makanan itu tetap utuh.

“Dia pasti orang sakti,” ujar salah seorang warga

“Benar,” sahut salah seorang nelayan. “Sejak Dewi Lanjar bersemedi di sana, hasil tangkapan ikan melimpah.”

Semedi yang dilakukan Dewi Rantamsari membuat panas lautan sehingga ikan menepi dan masuk ke jaring nelayan. Getarannya juga sampai ke istana Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian datang ke tempat semedi Dewi Rantamsari.

“Apa yang hendak kamu tuntut sehingga semedimu menggetarkan istanaku di Laut Kidul?” tanya Kanjeng Ratu Kidul yang menemuinya di bawah bulan purnama.

“Ampuni hamba, Kanjeng Ratu,” sahut Dewi Rantamsari atalias Dewi Lanjar. “Hamba tidak akan membatalkjan semedi kecuali hamba bisa bertemu dengan Raden Sulandono.”

“Anakmu sudah kembali ke alamnya. Apakah kamu akan menyusul?”

“Jika itu yang terbaik, hamba iklas,” jawab Dewi Lanjar.” Namun hamba ingin mempertemukan Raden Sulandono dengan kekasih pujaan hatinya meski di alam yang berbeda.”

Kanjeng Ratu Kidul menyanggupi permintaan itu. Dewi Rantamsari diberi ilmu untuk memanggil arwah Sulandono saat Sulasih menari. Namun Dewi Lanjar kecewa karena Sulasih tidak mengetahui kehadiran Sulandono.

Dewi Rantamsari kemudian memanggil danyang laut utara dan meniupkan ke dalam raga Sulasih. Seketika Sulasih yang telah dirasuki kekuatan gaib, dapat melihat Sulandono. Mereka sangat bahagia dan menari sepanjang hari.

Sementara kebiasaan memberi makan kepada Dewi Lanjar terus dilakukan oleh para nelayan hingga saat ini. Mereka meyakini dan menghormati Dewi Lanjar sebagai penguasa Laut Utara Pulau Jawa.