Now Loading

Episode 8

Wajah Dewi yang cantik kelihatan sangat pucat. Matanya kosong dan gestur tubuhnya memperlihatkan ketidakberdayaan total.

“Sadarkan dia,” Sang Ratu memberi isyarat kepada si pemimpin yang lalu mengusap muka Dewi sambil mengucapkan mantra-mantra dengan lirih.

Ada kilatan sejenak di bola mata Dewi. Jika tadi nampak begitu kosong, sekarang sorot mata itu penuh dengan kebingungan dan ketakutan. Dia berada di lingkaran para perempuan berpakaian aneh serba hijau ini seperti pesakitan yang bersiap-siap menerima hukuman.

Ah! Tapi dia sendiri juga berpakaian aneh! Serba merah, mewah, tapi bergaya tradisonal serta kuno. Dewi mencoba mengerahkan ingatan. Satu-satunya yang dia ingat adalah dia bersama ketiga kawan lelakinya berada di sebuah gua. Lalu semua memorinya tak bisa dilacak seolah dirampas paksa.

Sekarang dia di mana? Siapa perempuan-perempuan cantik dan dingin ini? Dan itu, wanita cantik luar biasa bermahkota yang sedang duduk di singgasana, siapa dia?

Dewi terpaksa memutus konsentrasinya karena si pemimpin membimbing tangan dengan setengah paksa agar maju mendekat ke arah Sang Ratu.

“Siapa namamu?” suara itu sangat lembut tapi mampu meremangkan semua bulu di tubuh Dewi.

“De…dewi,” Dewi menjawab terbata-bata. Entah kenapa, rasanya semua keberanian dan kekuatan di dirinya moksa.

“Kau adalah yang terpilih. Maukah kau secara sukarela menjalani takdirmu?” suara lembut itu seperti ribuan lebah memasuki gendang telinga Dewi.

“Tak..dir..ter..pilih?…saya tidak mengerti,” Dewi menguatkan diri bertanya. Kepalanya terasa begitu berat meskipun pikirannya tetap normal.

Sang Ratu mengangkat kepalanya. Menatap ke arah si pemimpin.

“Sa..saya belum men….menjelaskan semuanya Sang Ratu,” tergopoh-gopoh si pemimpin menjelaskan.

Sang Ratu kembali menatap Dewi.

“Kamu terpilih sebagai Putri Sesaji. Kesempatan langka yang diimpikan banyak orang. Maukah kau sukarela melakukannya?” pandangan Sang Ratu yang begitu tajam menusuk kesadaran Dewi hingga ceruk yang terdalam.

Putri Sesaji? Apa itu? Batin Dewi bergulat dengan keras antara pertanyaan dan dugaan. Namun yang keluar dari mulutnya adalah yang pertama.

Putri Sesaji? Maksudnya bagaimana Sang Ratu?” kali ini kalimatnya keluar dengan lancar. Mungkin karena adrenalin mulai sampai ke puncaknya.

“Itu sebuah kehormatan Dewi. Putri Sesaji adalah langkah pertama untuk menjadi salah satu dari sepuluh Putri Laut Selatan. Dan yang bisa menjadi Putri itu hanyalah orang yang terpilih. Sangat sedikit sekali. Dan kamu adalah salah satunya.” Sang Ratu menjelaskan secara panjang lebar karena memang dalam prosesi ini calon terpilih harus mau melakukannya secara sukarela.

Dewi termangu. Jalan pikiran intelektualnya menolak semua kejadian yang sedang dialaminya ini. Tapi kenyataan membuatnya sadar bahwa dia harus membuat sebuah keputusan.

“Kalau saya menolak bagaimana Sang Ratu?” pertanyaan singkat dari Dewi seolah halilintar yang tiba-tiba mendarat di tempat itu. Semua perempuan menjengit kaget. Belum pernah ada orang yang menolak permintaan Sang Ratu!

Pipi halus Sang Ratu sedikit memerah. Hmm, gadis ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dia punya pendirian dan kemauan yang cukup keras.

“Kamu berhak menolak Dewi. Hanya saja jika kau menolak maka statusmu akan diturunkan menjadi sesaji. Apakah kau mau membuang kesempatan menjadi putri dan memilih menjadi sesajen?”

Dewi tersentak. Ini namanya bukan pilihan. Sama-sama mati. Hanya saja yang satu mati lalu menjadi putri, sedangkan satunya mati begitu saja. Duuh.

“Kamu punya waktu berpikir satu hari satu malam Dewi. Sampaikan keputusanmu esok hari di waktu yang sama seperti sekarang ini. Besok aku akan kembali ke sini.” Begitu ucapan Sang Ratu selesai, secepat itu pula terdengar suara keras ringkik kuda dan derap roda kereta. Angin bersiutan dengan keras dan membawa hawa dingin luar biasa yang kali ini membuat tubuh Dewi menggigil tak karuan. Dewi menundukkan muka untuk menghindari hawa sangat dingin itu menerpa langsung mukanya.

Sepersekian detik saja hawa membekukan itu terjadi. Saat Dewi mengangkat muka kembali, Sang Ratu sudah tidak berada lagi di singgasana. Begitu juga para dayang-dayangnya. Satu-satunya yang tinggal hanyalah si pemimpin. Wanita cantik yang kini memandang tajam ke arahnya.

“Aku akan mengurungmu di penjara bawah tanah ruangan ini. Terserah kamu memilih cara halus dengan berjalan mengikutiku ke sana, atau cara keras yang akan cukup membuatmu kesakitan,” suara dingin dan tajam wanita di hadapannya membuat Dewi cepat mengambil keputusan. Dia sedang tak berdaya. Untuk apa melawan hal yang sama sekali tak bisa dilawannya? Lebih baik dia menghemat tenaga supaya bisa berpikir jernih.

Dewi melangkah dengan patuh mengikuti si pimpinan yang berjalan di depannya. Menuruni sebuah undak-undakan melingkar menuju ruang bawah tanah yang disebutnya sebagai penjara tadi.

Duuh, kemana Raja, Raka, dan Bima ya? Aku sangat membutuhkan mereka saat ini. Sambil berjalan tertatih-tatih Dewi membatin. Berharap teman-temannya datang menyelamatkan dirinya.

Penjara yang disebutkan si pemimpin tadi adalah ruang bawah tanah dengan ukuran tak lebih dari enam meter persegi. Ada 1 dipan kecil dengan kasur di atasnya. Sedangkan dinding ruangan berwarna gelap sehingga suasana di dalamnya terlihat sangat remang.

Dewi membaringkan tubuh di dipan melepaskan kelelahan setelah si pemimpin pergi mengunci ruangan. Mereka itu makhluk apa sih? Kenapa secara fisik terlihat begitu nyata?

Ah, biarlah nanti saja dia berpikir. Lebih bagus sekarang beristirahat. Tubuhnya terasa begitu letih. Entah berapa lama dia di bawah pengaruh mantra-mantra mereka sampai kehilangan memori begitu banyak.

Dewi nyaris terlelap kalau saja telinganya tidak menangkap suara-suara gaduh di samping atas ruangannya. Dewi mendekatkan telinganya ke dinding. Astaga! Itu suara Bima! 

Dewi langsung saja bangkit berdiri. Memperhatikan dengan seksama suara-suara yang cukup gaduh di lantai bagian atas samping ruangannya. Jelas tadi suara berat Bima dan dia sedang bercakap-cakap dengan orang lain. Mungkin Raja atau Raka. Oh syukurlah!

Tapi bagaimana caranya dia memberitahu mereka bahwa dia ada di sini?

Dewi meraba-raba dinding. Suara mereka tadi bisa sampai terdengar dari sini pasti karena ada lubang di sela-sela dinding atau atap batu. Dewi naik ke dipan memeriksa dengan teliti atap batu di atasnya. Ah ini dia!

Dewi berpikir sebentar. Lubang ini cukup besar untuk dimasuki ranting kecil kayu atau yang serupa. Dewi meraih saputangan di saku celananya. Untung sapu tangannya ini sangat tipis. Mata Dewi mencari-cari. Nah!

Dipan kecil itu terbuat dari kayu. Sedangkan galarnya terbuat dari bambu. Dewi mematahkan sedikit galar lalu meletakkan saputangan di atasnya. Setelah itu naik ke atas dipan dan berusaha dengan hati-hati menyusupkan galar itu ke lubang yang dia temukan di atap tadi.

Berhasil!

Dewi kembali berbaring dan memasang pendengaran baik-baik.

Aaaahhh! Braakkkkk! Aduuuuhhh! Aaaggghhhhh….!

Terdengar suara keras bergedebukan beberapa kali disusul suara mengaduh. Lalu hening.

Itu suara Raka! Tapi kenapa? Dewi tercenung. Harapannya sedikit memudar.

-------
Jakarta, 11 Oktober 2019