Now Loading

Episode 3

Ketiga porter yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya berbadan kurus tinggi bernama Mang Ujang terus bergerak ke arah utara. Kejadian raibnya dua rekan mereka dan seorang anggota tim ekspedisi tentu mengejutkan bagi orang-orang lugu itu. Kampung mereka di sekitar hutan memang penuh dengan segala cerita, mitos dan legenda. Namun baru kali inilah mereka mengalaminya secara langsung. Dan itu tentu sangat mengerikan bagi mereka.

Mang Ujang dan kedua rekannya adalah orang-orang tua yang sangat berpengalaman keluar masuk hutan karena pekerjaan mereka memang tidak jauh-jauh dari mengembarai hutan. Mencari kayu bakar, mengunduh madu, dan mengumpulkan tumbuhan obat. Oleh karena itu mereka paham mengenai seluk beluk hutan dan juga menelusuri jejak.

Hingga setengah harian Mang Ujang dan kawan-kawan mencoba mencari tanda-tanda keberadaan kedua rekan mereka dan juga Dara. Mang Ujang sangat yakin tidak ada binatang buas pemangsa di hutan ini. Namun Mang Ujang juga mempercayai bahwa hutan ini banyak menyimpan rahasia-rahasia gaib yang sangat kuno dan sakral.

Pencarian mereka sampai ke sebuah telaga yang sebelumnya tidak mereka lewati saat perjalanan menuju ke situs candi. Telaga yang tidak terlalu luas dengan air berwarna kebiruan itu sangat tenang. Tapi Mang Ujang punya pendapat lain mengenai ketenangan telaga itu.

Cep, cobi tingali, aya anu araraneh situ teh nya?” Mang Ujang bertanya kepada salah satu rekannya yang bernama Pak Acep menggunakan bahasa Sunda yang kurang lebih artinya ada yang aneh di telaga ini bukan?

Pak Acep tidak menjawab. Orang tua kecil pendek dengan janggut putih itu memandangi telaga dengan penuh selidik.

Muhun Akang, situ iye aya anu nungguan,” tak lama kemudian Pak Acep menjawab pertanyaan Mang Ujang. Artinya benar Akang, telaga ini memang ada penunggunya.

Mang Ujang manggut-manggut percaya. Di antara mereka berlima yang berangkat, Pak Acep lah yang mempunyai penglihatan lebih terhadap dunia atau dimensi lain. Mang Ujang sendiri juga punya kelebihan yang sama, hanya saja level sensitivitasnya masih jauh di bawah Pak Acep.

Mang Ujang, atas saran Pak Acep, mengitari telaga yang tidak terlalu luas itu beserta satu rekannya lagi yang bernama Kang Maman. Sedangkan Pak Acep sengaja tinggal untuk mencoba mengetahui lebih lanjut mengenai telaga itu melalui mata batinnya. Dia perlu bersamadi.

-----

Kejadian yang begitu cepat dan tak terduga itu kontan saja membuat Raja, Raka dan Bima pucat bukan alang kepalang! Keanehan apa yang sedang terjadi sehingga Dewi bisa hilang di depan mata mereka tanpa diketahui.

“Raja, kita sesungguhnya sedang terlibat dengan apa?” Raka berkata lirih seolah bertanya kepada dirinya sendiri.

“Tenanglah Raka, candi misterius ini ingin mengungkapkan rahasianya yang telah terkubur selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Aku tidak paham apa yang sedang berlaku, tapi aku sangat yakin Dara dan Dewi baik-baik saja,” Raja berkata dengan penuh keyakinan. Diapun sedang menguatkan dirinya sendiri dengan berkata begitu.

Bima hanya diam. Lelaki bertubuh tinggi besar yang nyalinya biasa tinggi ini kelihatan shock dengan kejadian baru saja. Dia melihat dengan mata kepala sendiri Dewi merangkak di belakang Raja dan di depan Raka. Dia orang terakhir.

Namun tiba-tiba Dewi lenyap begitu saja! Jadi siapa yang tadi di belakang Raja? Bima bergidik. Apalagi kalau teringat kepada dua perempuan mengerikan yang mereka temui sebelum mereka tergesa-gesa memasuki lorong sempit sebelah kanan itu.

Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh suara tegas Raja.

“Kita harus terus berjalan teman-teman. Kita tidak mungkin kembali. Dua perempuan mengerikan di belakang kita tadi pasti akan mencegah kita melakukannya. Mereka sengaja menggiring kita ke sini.”

Kedua temannya hanya mengangguk pasrah.

Raja memimpin teman-temannya menyusuri lorong yang ternyata makin lama makin masuk ke dalam bumi. Berliku-liku seakan tak ada habisnya. Oksigen semakin menipis, akibatnya mereka bertiga mulai tersengal-sengal. Dada terasa sesak nyaris kehabisan nafas.

Saat keputusasaan mulai menyerang mereka bertiga, mendadak muncul cahaya samar di depan. Tidak jauh lagi. Ketiganya menguatkan diri.

Begitu sampai di sebuah ruangan cukup besar yang terangnya seakan disirami oleh cahaya dari mana-mana, Raja, Raka dan Bima menjatuhkan tubuh yang hampir sampai pada batas kekuatannya. Perlahan-lahan pernafasan mereka kembali normal. Rongga dada kembali lapang. Ketiganya menarik nafas lega sepanjang-panjangnya.

Ini sebenarnya sebuah keanehan. Dan mereka belum menyadarinya.

Ruangan ini adalah sebuah ruangan buntu yang hanya dipenuhi cahaya, tapi bukankah kedalamannya sama dengan lorong terakhir yang mereka lewati? Seharusnya level udara juga tak jauh berbeda. Artinya sekarang mereka seharusnya tetap kehabisan nafas bukan?

Bimalah yang pertama menyadari keanehan tersebut. Lelaki itu melompat bangun tiba-tiba.

“Heii! Ini ruangan apa? Kenapa udaranya sama dengan di permukaan?” Bima berusaha meraba setiap jengkal dinding ruangan tertutup itu dengan teliti.

Ucapan Bima kontan menyadarkan yang lain bahwa ada sesuatu yang aneh di ruangan buntu ini. Serentak Raka dan Raja membantu Bima menelisik setiap sudut dengan hati-hati. Dinding ruangan ini terdiri dari batu yang disusun secara rapi dengan tingkat ketelitian tinggi. Berukuran sama dengan bentuk yang serupa. Agak sulit menemukan sebuah pertanda atau penanda.

Terdengar suara derak keras saat Bima berspekulasi mendorong sebuah batu yang dilihatnya agak sedikit berbeda dengan lainnya. Sebuah pintu besar dan berat membuka di bagian atas ruangan. Terlihat juga tangga tegak lurus yang tersusun dari batu saling bersilangan muncul di dinding sebelah kanan.

Ruang ini ternyata semacam dasar sumur yang dalam. Cahaya yang menerangi pasti datang dari sela-sela batu di atap yang sengaja disusun tidak serapat dinding.  Dan tangga itu pasti digunakan untuk naik turun ke ruangan ini.

Seiring dengan terbukanya ruangan itu, terdengar suara gemuruh dari belakang mereka. Raka sempat berpikir itu adalah gempa, namun Raja berteriak lantang menyuruh teman-temannya segera menaiki tangga-tangga yang bersilangan.

“Cepat! Cepat naik tangga! Suara gemuruh di belakang kita adalah suara air bah!”

Belum juga kering bibir Raja meneriakkan peringatan, ujung air semata kaki sudah sampai ke ruangan itu. Kontan saja ketiga lelaki itu buru-buru menaiki tangga dengan cepat. Entah karena tenaga mereka sudah pulih atau karena didorong oleh adrenalin yang begitu kuat, ketiganya dengan lincah menaiki tangga rumit dari batu itu.

Namun kecepatan air ternyata jauh lebih cepat dari yang diduga. Belum sampai setengah jumlah tangga dinaiki, air terus meninggi mengejar mereka. Raja yang berada pada urutan paling belakang, kakinya mulai terendam air. Raka yang berada paling atas menjadi panik. Jika dia tidak bergerak cepat, Raja akan tenggelam.

Secercah harapan mampir di benak Raka saat melihat lubang besar di atas kepalanya. Lagi-lagi sebuah gua. Dia tidak tahu apakah itu bisa menyelamatkan mereka, tapi memang tidak ada pilihan lagi. Raka melompat memasuki gua diikuti Bima dan Raja. Sementara air terus saja naik dengan cepat dan sekarang mulai membanjiri gua.

Ketiganya terus saja berlari berkejaran dengan air. Untungnya ternyata lorong gua itu menanjak ke atas dengan bentuk diagonal sehingga meskipun sambil terengah-engah tidak karuan, ketiganya tidak segera digulung air yang terus berdatangan.

Mulut gua mulai terlihat. Seakan disuntik dengan 1 mg adrenalin, ketiga lelaki itu mengerahkan tenaga sekuatnya mencapai mulut gua.

Berhasil! Sambil ngos-ngosan tak karuan, ketiganya lagi-lagi menjatuhkan diri ke tanah dalam kondisi kelelahan teramat sangat. Suara luapan air di belakang mereka sudah tak terdengar lagi. Aneh! Seolah-olah air itu memang menggiring mereka ke tempat itu.

Raka bangkit berdiri setelah merasa nafasnya sudah kembali normal. Memandangi kedua rekannya yang juga mulai bangkit berdiri, lalu melihat sekeliling untuk melihat mereka ada di mana. Matanya terantuk pada sebuah pemandangan yang lagi-lagi mendirikan bulu roma.

Mereka sedang berada di tengah-tengah kompleks pemakaman yang sangat tua. Dan ternyata mereka tadi bukan keluar di mulut gua, namun di lubang kuburan yang terbuka!

----

Pekanbaru, 19 September 2019