Now Loading

Ritual Terakhir

Prastowo sangat marah mendengar ocehan Ambar. Namun ia tidak berani gegabah untuk menyerang. Bukan karena takut Ambar memegang pisau besar, tapi ia memperhitungkan reaksi Wiro. Mungkin saja Wiro marah pada Ambar. Namun ketika temannya itu diserang, bukan mustahil justru akan menyerang dirinya. Makhluk hitam di belakanganya belum bisa diandalkan karena masih memerlukan satu ritual pelengkap agar dia benar-benar jinak. Rencananya malam ini ritual pamungkas selesai. Namun gara-gara Yanto semuanya berantakan. 

Ya, karena mengira kepala yang dibutuhkan sudah cukup- tinggal memenggal kepala Faizil yang saat itu sudah dikurung dalam alam gaib, Prastowo melepas Dini. Namun saat Dini hendak masuk ke tenda, justru dihalang-halangi oleh Ambar.

Ambar tentu takut jika Dini kembali karena akan terbongkar semuanya. Untuk membunuh Dini juga tidak mungkin karena Ambar pasti akan dibunuh oleh Prastowo. Sementara Yanto yang saat itu tengah duduk di dekat kolam, bermaksud menyerang Dini agar Ambar terbebas dari semua dakwaan. Jauh di dalam hatinya, Yanto yakin Ambar pelaku pembunuhan terhadap teman-temannya. Namun karena diam-diam ia mencintainya, Yanto ingin melindunginya. Dengan membunuh Dini, Yanto berharap Ambar akan mau menerima cintanya karena sudah berjasa menyelamatkan Ambar dari tuduhan pembunuhan berantai.

Namun Prastowo yang melihat anaknya dalam kondisi genting, langsung membatalkan semua ritual. Prastowo berlari ke tenda diikuti oleh Hugo dan makhluk gaib yang akan dipeliharanya. Sebelum Yanto sempat menyentuh tubuh Dini, Prastowo sudah membacok punggungnya. Dengan amarah meluap, Prastowo lantas memenggal kepalanya dan menyeret jasad Yanto dekat pintu tenda. Prastowo membiarkan Dini kabur karena yakin ritual pamungkas akan segera selesai.

Prastowo lantas bergegas ke bawah pohon tempat ritual terakhir akan digelar. Tetapi alangkah terkejutnya, ketika mengetahui Faizil sudah tidak ada. Rupanya saat pergi ke tenda, Prastowo lupa mengunci pagar gaib karena panik melihat Dini hendak dibunuh oleh Yanto. Prastowo pun kembali ke tenda. Ketika dia melihat Faizil tengah berbicara dengan Wiro, Prastowo langsung menghujamkan kapaknya ke punggung Faizil. Dan kini semuanya jadi terbongkar.

“Kapan kamu kenal papanya Dini?” tanya Wiro. Meski pertanyaan itu ditujukan kepada Ambar, namun ekor mata Wiro tetap tertuju pada Prastowo. 

“Saat Jumadi dibunuh!”

“Apa?”

“Ya, saat kamu dan Hugo mencari kepala Jumadi, aku betemu Pak Pras. Maksudku Prastowo, papanya Dini. Aku memergoki dia sedang membawa kepala Jumadi. Dia kemudian menawanku di tempat ritualnya.”

“Sebentar! Kamu bilang Pak Pras sempat menawanmumu di tempat ritual? Mengapa kami tidak tahu? Bukankah kamu tidak pernah hilang?”

“Kejadiannya sangat singkat. Karena saat itu masih kacau, kamu dan yang lain tidak ingat aku!”

“Tapi apa yang kemudian dia lakukan?”

“Pak Pras mengancam akan memenggal kepalaku, kecuali aku mau menuruti keinginannya. Aku harus menyediakan 7 kepala sebagai syarat ritual yang tengah dijalani. Dia juga menjanjikan akan memberikan ilmu dan membujuk Hugo agar mau berpaling padaku karena Pak Pras tidak setuju Hugo balik lagi ke Dini.”

“Tapi aku tidak yakin kamu bisa melakukannya.”

“Iya, aku sebenarnya tidak sanggup. Tapi karena dibantu oleh makhluk hitam itu, aku jadi bisa. Beberapa kali Ria memergoki aksiku, tapi dia terus melindungiku. Terakhir Ria memergokiku saat aku tengah memenggal kepala Wanda, namun kemudian ketakutan melihat makhluk itu.”

Di pojok tenda Ria menggigil ketakutan. “Ambar, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa,” rengeknya.

“Jadi siapa saja yang kamu penggal kepalanya?” tanya Wiro tajam. 

“Tyas, Rini, Topo, Ani, Wanda dan Seno,” kata Ambar lantang. Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. “Itu masih kurang satu lagi. Rencananya, terakhir aku akan memenggal kepala Ria…”

“Ambar!” jerit Ria spontan. “Kenapa kamu bisa berpikiran untuk membunuhku. Bukankah aku sudah berusaha menutupi semua perbuatanmu.”

“Karena kamu terlalu banyak tahu”

“Bukankah Jumadi dan Yanto sudah terbunuh. Malah sekarang Faizil ...”

“Seperti tadi aku bilang di tenda, sebelum kamu keluar, hitungan 7 di luar Jumadi karena dia dibunuh oleh Pak Pras hanya untuk memancing ketakutan. Sementara Yanto, dan juga Faizil, bukan aku yang membunuhnya. Padahal Pak Pras minta aku membunuh 7 orang, dengan tanganku sendiri.”

Wiro mengernyitkan kening. Omongan Prastowo dan Ambar tidak sinkron. “Lalu, apa yang bisa kamu jelaskan saat Hugo ditawan makhluk gaib, dibawa ke dalam pohon, dan meminta tebusan 7 kepala?”

“Itu hanya akal-akalan Pak Pras dan Hugo agar kepergian Hugo dari kelompok kita tidak dicurigai.” 

“Cukup Ambar!” teriak Prastowo. Suaranya terdengar sangat keras, bahkan seperti harimau mengaum, sehingga semua terkesiap dan terdiam untuk beberapa saat. 

“Wiro, mari kita buat kesepakatan antara aku dan kamu- selaku pimpinan di perkemahan ini,” ajak Prastowo setelah yakin kini dirinya sudah menguasai keadaan.

“Kesepakatan apa?”

“Aku akan menyelesaikan ritual. Sementara kamu dan teman-temanmu, kecuali Hugo, silahkan pulang tanpa aku ganggu. Tapi ingat, jangan lapor polisi!” 

“Papa terlambat! Aku sudah melaporkan semuanya pada polisi,” seru Dini yang muncul tiba-tiba. Bukan hanya Dini, puluhan orang dengan postur tegap ada di belakangnya sambil mengacungkan pistol ke Wiro, Ambar, Hugo dan Prastowo. Sementara Pak Sastro- penjaga hutan Pengker, berdiri mematung di tengah-tengah orang itu dengan tangan diborgol. 

“Saya minta, letakkan senjata kalian!” teriak salah seorang dari mereka.

Wiro langsung membuang goloknya. Namun Ambar dan Prastowo tampak ragu-ragu.

“Cepat letakkan senjata kalian atau kami tembak!” bentak orang itu. Sepertinya dia komandannya.

“Kamu tega, Nak,” seru Prastowo kepada Dini sambil meletakkan kapaknya.

“Papa yang telah melenceng. Saya tahu papa kesepian setelah ditinggal Mama. Tetapi tidak seharusnya Papa melakukan ritual gaib. Masih banyak kesenangan lain dari sekedar bermain-main dengan makhluk gaib!” ujar Dini mulai terisak. 

Tiba-tiba makhluk di sebelah Prastowo mengaum. Suaranya sangat keras. Ria dan teman-temannya langsung berlari ke dalam tenda. Sementara beberapa orang polisi mengarahkan moncong pistolnya pada makhluk itu. Namun sebelum pistol-pistol itu meledak untuk memuntahkan pelurunya, makhluk hitam bertubuh tinggi besar tersebut menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana perginya karena hilang begitu saja, hanya dalam sekali kerdipan mata. 

Setelah makhluk itu menghilang, polisi segera meringkus Prastowo dan Ambar.

“Tangkap Hugo juga!” teriak Dini. 

“Hugo tidak bersalah. Dia tidak membunuh siapa-siapa!” bela Ambar tak kalah keras. Ia meronta hendak menerjang Dini. Ambar pikir ini langkah terakhir untuk menunjukkan cintanya pada Hugo.

“Tangkap Hugo!” teriak Dini lagi ketika polisi di depannya terlihat ragi-ragu. “Dia memang tidak membunuh siapa pun. Tapi dia yang membantu Papa menguliti kepala teman-teman kita yang jadi korban. Sebagai dokter yang tengah mengambil spesialis bedah, Hugo yang mengajari Papa bagaimana mengambil otak dan jantung beberapa korban tanpa merusak organ dan tubuh mayat,” tegas Dini.

Mendengar keterangan Dini, polisi langsung meringkus Hugo. Wiro heran melihat Hugo sama sekali tidak melakukan perlawanan, atau setidaknya membantah tudingan Dini. 

“Bagaimana Hugo dan papa kamu bisa terlibat dalam persekongkolan hitam?” tanya Wiro dengan mimik kebingungan. Ia benar-benar belum sepenuhnya memahami kejadian ini. 

“Dulu Hugo sering main ke rumah saat kami masih pacaran. Rupanya dia sering datang tanpa sepengetahuanku dan mulai terpengaruh dengan ritual yang papa lakukan. Sebab papa juga yang menjadi dalang pembunuhan anak-anak SMP yang sedang kemah di sini 10 tahun silam. Namun saat itu ritualnya gagal karena organ tubuh yang diperlukan untuk ritual rusak. Saat itu Papa tidak tahu cara mengambilnya. Sekarang, dengan bantuan Hugo, Papa bisa mengambil organ tubuh korbannya dengan sempurna!”

“Jadi Hugo sudah mengetahui dari awal?”

“Justru dia yang merencanakan semuanya, termasuk membuat akun palsu untuk menghubungi Ria. Dengan pintar dia menghubungi kita secara anonim untuk mengajak kemah di sini.”

“Ya, aku ingat,” kata Wiro. “Aku terpikir untuk melakukan kemah di sini sekaligus reuni setelah mendapat inboks dari akun anonim. Bodohnya saat itu aku tidak berpikir jika Hugo pemilik akun itu.”

“Jangan menyalahkan diri sendiri.” 

“Lalu apa hubungannya dengan Pak Sastro?”

“Pak Sastro yang menyeting tempat ini, termasuk lokasi kemah, setelah mendapat kabar dari Hugo dan Papa. Pak Sastro juga yang mengatur semuanya termasuk memindah-mindahkan mayat dan memanggil makhluk gaib itu.”

“Lantas siapa laki-laki yang kamu lihat di sungai Serayu? Apakah dia ada kaitannya dengan semua ini?”

“Dia papaku. Papa sudah mengikutiku sejak aku keluar dari rumah. Aku juga baru tahu mengapa saat pertama aku utarakan rencana kemah di sini, Papa marah dan bersikeras melarangku ...”

“Sebentar,” potong Wiro. “Setelah pembunuhan Tyas, kamu lantas menghilang. Mengapa?”

“Aku melihat Papa dan langsung aku kejar. Tapi aku malah ditangkap oleh Hugo. Papa kemudian mengurung aku di dalam pohon, dibentengi pagar gaib. Sebenarnya kamu pernah melihatku, tapi tidak punya cukup keberanian untuk melewati pagar gaib itu!”

“Oh ...” seru Wiro jengah. 

“Ayo, bubar semua!” teriak komandan polisi anak buahnya selesai mengumpulkan barang bukti. Hugo, Ambar, Prastowo dan Pak Sastro dinaikkan ke mobil bak terbuka yang ada tempat duduknya, dengan tangan terborgol. Sejumlah polisi ikut duduk di situ sambil menenteng pistol. Di belakangannya, berturut-turut mobil dan dua motor polisi lalu mobil-mobil peserta kemah. 

“Aku ikut mobilmu saja. Biar aku yang bawa,” kata Wiro. 

“Terus mobilmu bagaimana?” tanya Dini keheranan.

“Biar Ria dan teman-temannya saja yang bawa.”

“Kenapa kamu mau numpang mobilku?”

“Aku ingin menebus kesalahanku. Aku menyesal karena saat itu tidak punya keberanian untuk membebaskanmu,” kata Wiro, serius.

Dini tersenyum masam sambil menyerahkan kunci mobil. Namun tak urung, hatinya sedikit senang mendengar kata-kata Wiro. Entah berapa lama papa akan dipenjara. Mungkin malah seumur hidup. Aku butuh seseorang untuk mendampingiku melewati masa-masa sulit ini, bisik Dini.

“Kamu mau, kan?” tanya Wiro. Tatapannya tajam, menghujam hati Dini. Yang ditanya diam saja. Namun Dini tidak menolak ketika Wiro menggenggam tangannya. Bahkan ketika sudah berada dalam mobil, Dini menyandarkan kepalanya di bahu Wiro. 

“Ayo jalan!” teriak salah seorang polisi. 

Ketika rombongan mulai bergerak, didahului mobil polisi yang memuntahkan sirene, Prastowo tampak menyenggol Hugo yang duduk di sebelah kirinya. 

“Ini semua gara-gara kita melibatkan perempuan bodoh ini,” kata Prastowo sambil menunjukk Ambar dengan mulutnya. “Mestinya kamu sendiri yang melakukan pembunuhan.”

Hugo meringis, lebih tepatnya menyeringai. “Setelah selesai menjalani hukuman, kita harus mengulang ritual ini. Aku ketagihan melihat darah dan kepala yang terpenggal!”

Prastowo tertawa kecil. Puas. 

“Aku ikut!” rajuk Ambar penuh tekanan.

Prastowo dan Hugo saling pandang. Sesaat kemudian keduanya mengangguk.