Now Loading

Situasi Mulai Berbalik

Sejak diangkat menjadi pemimpin rombongan kemah yang sudah kehilangan semangat akibat teror yang luar biasa, Ambar mulai menerapkan aturan yang tegas. Ia mulai menyusun strategi untuk membebasan Hugo dan Faizil.

“Mangapa kita tidak berupaya untuk membebaskan Dini?” tanya Seno ketika Ambar tengah memberi arahan dan juga instruksi yang harus dijalankan anak buahnya. "Bukankah sebelum diangkat menjadi pemimpin kamu bertekad akan menemukan Dini, hidup atau mati? Mengapa setelah sekarang menjadi prioritasmu mendadak berubah?"

“Mengapa?” sambar Ambar dengan dahi berkerut. “Pertanyaan itu hanya mungkin terlontar dari manusia bodoh!”

“Aku hanya minta penjelasan,” guman Seno lirih.

“Meminta penjelasan atau menagih janji? Jelas-jelas Dini sudah melakukan pembunuhan terhadap teman-teman kita karena ingin membebaskan Hugo. Jika Dini bebas, sama saja kita mengundang seorang pembunuh, jagal kejam, ke dalam rumah kita. Apa kamu mau menjadi korban berikutnya? Lagi pula aku sangat yakin Dini bukan tengah terkurung di alam gaib, tapi bersembunyi, sehingga kalau kita memburunyai berarti kita akan terjebak dalam permainannya!”

“Tapi aku melihatnya sendiri,” ujar Wiro lirih karena ragu-ragu.

“Mengapa kamu tidak berpikir jika dia tengah menjebakmu dengan berpura-pura dirinya terkurung di suatu tempat gaib? Saat ini yang kita butuhkan hanya orang-orang yang cerdas berpikir. Sebagai pemimpin aku tidak akan membiarkan pikiran-pikiran bodoh meracuni…”

 “Justru aku berpikir sebaliknya,” sela Wanda. “Kalau untuk membebasan Dini dan Faizil, aku setuju. Tapi untuk membebaskan Hugo rasanya perlu kita pikir ulang.”

 “Mangapa kamu berpendapat seperti itu?” tanya Ambar ketika Wanda berhenti berbicara untuk mengatur nafasnya. Udara sore menjelang malam terasa lembab. Tiupan angin tidak sekencang siang tadi. Rumput tempat mereka duduk melingkar, seperti mulai mengeluarkan air.  

“Menurut analisaku, Hugo berada dibalik semua peristiwa yang kita alami, termasuk pembunuhan terhadap teman-teman kita!” jelas Wanda.

“Hanya karena dia diduga, ingat ya terduga, sudah membunuh kawan-kawan kita lantas tidak layak kita bebaskan?” kejar Ambar dengan suara tajam.

“Bukankah Dini juga baru terduga?”

“Untuk kasus Dini, ada saksinya yang melihat saat dia melakukan pembunuhan terhadap Tyas. Saat itu Ria jelas-jelas melihat Dini memegang golok berlumuran darah dekat jasad Tyas, sebelum kemudian menghilangkan diri. Dengar, Dini sengaja menghilangkan diri, bukan hilang!” tandas Ambar untuk meredam protes Wanda.

“Tetapi untuk apa juga kita membebaskan anjing terjepit?” sindir Wanda tak kalah sengit.

“Maksudmu?” tanya Ambar.

“Membebaskan Hugo sama saja…”

“Kamu samakan Hugo dengan anjing?!” tanya Ambar degan suaranya meninggi.

“Hanya perumpamaan. Itu juga jika benar Hugo tengah ditawan,” kata Wanda menjelaskan maksud ucapannya. “Tapi aku yakin, Hugo tidak tengah ditawan oleh makhluk gaib. Hugo saat ini masih bebas berkeliaran dengan pisau daging terhunus yang sudah berlumuran darah!”

Mendengar penjelasan dan argumen Wanda, spontan Ambar meradang. “Sekarang aku yang memimpin kalian. Jadi ikuti perintahku!”

“Baik...baik,” sahut Wiro menengahi. “Tadi kita sudah sepakat untuk mengangkat Ambar sebagai pemimpin. Konsekuensinya kita harus patuh dan mengikuti kata-katanya. Jika kita tetap bersikukuh pada jalan pikiran dan kehendak masing-masing, maka apa gunanya ada pemimpin?”

“Tapi boleh dong kita mengingatkan jika pemimpin kita salah?” sela Seno.

“Bahkan kita cabut mandatnya juga boleh!” tegas Wanda.

“Oh, jadi kamu tidak mau aku pimpin? Kamu akan mencabut mandat… “

“Tidak,” potong Wanda karena pertanyaan Ambar dilontarkan dengan nada mengancam. “Aku hanya mengingatkan agar kamu mau menerima saran dan juga kritik kita.”

“Begini saja, kita akan bebaskan semuanya.” ujar Yanto.

“Alasannya?” tanya Ambar.

“Kita sama-sama belum tahu siapa dalang pembunuhan berantai ini. Mungkin saja dilakukan oleh makhluk halus…”

“Mana ada makhluk halus bisa membunuh manusia,” sela seseorang.

“Betul, kita sama mereka sudah beda alam,” dukung lainnya.

“Tapi semua kemungkinan tetap harus kita buka agar kelak kita tidak menyesal karena lupa memikirkan faktor itu. Lagipula, di antara kita tidak ada yang paham soal makhluk gaib. Bahkan kita tidak tahu apakah ada salah satu dari kita yang merupakan penjelmaan makhluk gaib.”

“Apa?” seru sejumlah orang.

Spontan beberapa orang menggeser pantatnya agar duduknya lebih dekat dengan teman di sebelahnya. Bayangan makhluk seram penghuni pohon besar di dalam hutan Pengker di belakang mereka, menyeruak tanpa salam: meracuni pikiran. Angin malam berhembus sedikit kencang. Membawa bau anyir air kolam dan juga darah tubuh empat teman mereka yang terbujur kaku tanpa kepala.

Namun hembusan angin itu tidak meredakan pikiran Wiro dan teman-temannya, terutama Ambar. Sebagai pemimpin, Ambar merasa kewenangan yang dimilikinya belum sepenuhnya digenggam karena masih banyak yang protes dengan keputusannya. Terlebih ketika Yanto membuka kemungkinan, di antara mereka ada yang merupakan penjelmaan dari makhluk gaib. Situasi ini akan semakin runyam jika sebagai pemimpin aku tidak segera mengambil keputusan tegas. Nyawa Hugo tengah dipertaruhkan! Bisa hati Ambar.

“Dengar, makhluk halus atau makhluk gaib hanya bisa melakukan kekerasan seperti pembunuhan, dengan cara merasuk ke dalam tubuh makhluk hidup, terutama manusia,” terang Yanto.

“Dari mana kamu tahu soal itu?” tanya Ria.

“Bukankah kalau ada orang kalap, apalagi sampai melakukan pembunuhan dengan sadis seperti memotong kepalanya, sering kita bilang si pelakunya kerasukan setan?” jawab Yanto datar.

Terdengar dengungan, kecewa. Penjelasan Yanto menuai cibiran tanpa kompromi.

“Orang lagi serius malah bercanda,” kecam Wanda.

“Kalau yang itu bukan manusia kerasukan setan, tapi manusianya yang jadi setan. Makanya sekarang setan sudah pada tobat karena kalah sadis dengan manusia,” cibir Ria, kesal.

“Mungkin maksud Yanto benar,” ujar Wiro setelah teman-temannya saling bersahut tanpa kejelasan selain melecehkan argumen Yanto. “Tapi Ria juga benar.”

“Benar bagaimana?” tanya Wanda sambil mengernyitkan kening meski tidak ada yang bisa melihatnya. Malam sudah bersiap datang, mengurung mereka dengan gelapnya.

“Mungkin ada di antara teman kita yang sudah kerasukan setan sehingga tidak lagi bisa berpikir rasional.”

Serempak semua mata tertuju pada Ambar.