Now Loading

Terjebak Lorong Gaib

Wiro berusaha menyibak semak di depannya sebagai jalan masuk menuju tempat Dini. Ia sudah melupakan Faizil karena kini ada sesuatu yang harus lebih didahulukan. Keselamatan Dini lebih utama dari pada membunuh Faizil, pikirnya.

Kelihatannya Dini dikurung di dalam rumah kaca tembus pandang. Wiro bisa melihat ada banyak ruangan di sana. Dini berada di salah satu ruangan yang sempit, menyerupai kotak kaca. 

Dengan susah payah Wiro berhasil masuk ke tengah semak. Namun beberapa langkah kemudian, ia terkejut ketika mengetahui ada lorong di situ. Sepertinya lorong tersebut sering dilalui. Namun ia lebih terkejut lagi ketika menyadari posisi Dini ternyata sangat jauh. Sebab, meski sudah jauh masuk ke dalam semak-semak, namun Wiro belum juga sampai. Wiro lalu mempercepat langkahnya, bahkan setengah berlari. Ia tidak peduli beberapa kali badannya tertusuk semak-semak. Pikirannya cuma satu : menyelamatkan Dini.

Tetapi setelah jauh menyusuri lorong belum juga bisa mencapai tempat Dini dikurung, Wiro mulai menyadari jika dirinya tengah ditipu. Aku hanya berhalunisasi, pikirnya. Bukan, bukan halusinasi, bantah hatinya. Apa yang dilihatnya nyata, namun Dini ditawan dalam sebuah tabir gaib. Tabir itu terus menjauh setiap kali ia mendekat. Wiro pun menjadi bimbang. Jika diteruskan, bukan mustahil dirinya juga akan terperangkap dalam alam gaib. Ini pasti ulah makhluk gaib penunggu pohon besar itu, simpul Wiro.

Perlahan Wiro mundur. Lebih baik aku kembali ke tenda dulu. Gampang nanti ke sini lagi dengan beberapa teman. Sehebat-hebatnya ilmu gaib, dia tidak bisa membuat beberapa orang terpengaruh sekaligus. Dengan adanya teman, maka jika ia terpengaruh dalam balutan hawa gaib, minimal ada yang menariknya keluar. Pada titik ini ia menyesal mengapa tadi tidak mengajak Faizil. Mungkin benar dia tidak membunuh Rini, Tyas dan yang lainnya. Pelakunya pasti makhluk gaib yang kini menawan Hugo dan Dini, pikir Wiro.

Setelah beberapa langkah berjalan mundur, Wiro mulai merasakan adanya keanehan yang membuatnya ketakutan. Ternyata lorong yang tadi dilaluinya sudah tidak ada. Di belakangnya justru hutan lebat yang sepertinya jarang dijamah manusia. Jangan-jangan aku sudah masuk perangkap gaib, pikir Wiro. Ia kini harus menentukan pilihan, apakah jalan ke depan di mana ia masih bisa melihat Dini yang terus melambai-lambaikan tangan, atau menerobos semak-semak di belakangnya dengan kemungkinan akan sampai ke tenda.

Tidak, aku harus kembali ke tenda, tegas Wiro. Ia berbalik dan berjalan di antara pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Di mana kira-kira posisi tendanya? Tidak ada sinar matahari yang bisa dijadikan petunjuk arah. Semua serba gelap karena cahaya matahari terhalang rimbunnya daun-daun pohon hutan. Atau jangan-jangan sekarang sudah malam? Berbagai kemungkinan berkecamuk dalam pikiran Wiro. Namun ia terus berjalan mengandalkan instingnya. Ia dulu pernah mendapat pelajaran saat mengikuti latihan pramuka di SMP. Jika tersesat seperti ini, maka jangan pernah berbelok atau bahkan berbalik arah. Terus saja berjalan menuju satu titik karena pasti akan ada ujungnya. Namun jika berbelok-belok, atau balik arah, kemungkinan justru akan berputar-putar di tempat itu saja.

Setelah berjalan cukup lama, hati Wiro bersorak ketika matanya melihat ada perkampungan. Oh, bukan perkampungan, tetapi tiga rumah sederhana. Rumah-rumah itu berdinding gedhek dengan atap ilalang. Wiro pun mempercepat langkahnya menuju perempuan tua yang tengah menyapu di depan salah satu rumah.

“Selamat sore, Nek,” sapa Wiro.

Perempuan itu menoleh, menatap lurus wajah Wiro. Matanya cekung dengan kulit wajah yang sudah berkerut. Namun bukan itu yang membuat Wiro memekik. Wajah perempuan tua itu berubah-ubah. Bahkan terakhir mirip sekali dengan wajah Rini meski rambutnya tetap penuh uban dan mulutnya tanpa gigi.

“Dari mana kamu?” tanya Nenek.

“Aku tersesat, Nek. Aku tidak tahu jalan menuju tenda,” jelas Wiro.

“Di mana kamu membuat tenda?”

“Di pinggiran hutan Pengker.”

“Ini bukan hutan Pengker,” sahut Nenek dengan ketus.

“Bukan hutan Pengker? Jadi di mana Nek?”

“Itu!” kata si Nenek sambil menujuk ke arah pohon di belakang Wiro.

Wiro berbalik. Ia heran bagaimana pohon ini bisa tiba-tiba ada di belakangnya. Padahal tadi tidak ada. Namun yang membuat dirinya terlonjak sambil memekik adalah sosok yang ada di salah satu dahan pohon itu.

“Faizil!” pekik Wiro. Tidak mungkin ia bisa naik ke atas sana. Pohon itu sangat besar.

“Bagaimana kawanku bisa berada di sana?” tanya Wiro sambil berbalik. Namun, lagi-lagi ia memekik karena nenek itu sudah tidak ada. Bukan cuma nenek itu yang hilang, tapi juga tiga rumah yang tadi dilihat!

“Tolong!” jerit Wiro dengan tubuh gemetar. Baru kali ini ia merasakan ketakutan yang luar biasa.

Setelah menenangkan diri, Wiro mencoba mereka-reka posisinya. Namun hingga berapa saat, tidak ada petunjuk sama sekali. Hutan ini begitu lebat. Bahkan sinar matahari pun tidak bisa menerobos rerimbun daun-daun. Wirto sempat heran mengapa ada hutan dengan pohon-pohon yang begitu besar. Rasanya tidak mungkin ada hutan yang sedemikian lebat di daerah ini, bahkan di seluruh Pulau Jawa. Atau aku sekarang berada di hutan lain, bukan di hutan Pengker lagi seperti kata nenek tadi?

Bukan, bukan hutan lain, tetapi dunia lain! pekik Wiro dalam hati. Ini bukan dunia manusia, tapi dunia para lelembut. Kesimpulan itu membuat Wiro semakin ketakutan, sekaligus waspada.

“Wiro, tolong aku,” rintih Faizil.

Wiro kembali mendongak ke atas pohon yang menjulang tinggi di belakangnya. Lebih tinggi dari bangunan 31 lantai sekalipun. Faizil tampak begitu kecil. Bagaimana caranya menurunkan Faizil dari atas pohon yang sangat besar itu? Rasanya tidak mungkin ia bisa memanjat ke atas sana. Faizil pun tidak tahu bagaimana caranya bisa turun karena pohonnya tidak memiliki dahan selain yang ia pijak.

“Bagaimana kamu bisa sampai di situ?” tanya Wiro. Suara bergema.

“Aku tidak tahu. Tadi aku mengejarmu ke lorong itu. Tapi kemudian aku tersesat dan tahu-tahu sudah berada di sini,” terang Faizil mulai terisak.

“Bagaimana kalau kamu melompat saja? Berani, kan?”

“Tidak, Wiro! Aku tidak berani,” katanya lamat-lamat.

“Dengar, ini hanya tipuan pandangan mata kita. Sebenarnya pohon ini tidak setinggi yang kita lihat,” kata Wiro berusaha meyakinkan temannya meski ia sendiri ragu.

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Kita sekarang berada di hutan lelembut.”

“Apa? Di hutan setan?”

Wiro mengangguk meski dia tidak yakin Faizil bisa melihat anggukkannya.

“Tolong aku, Wiro. Aku belum mau mati!” rengek Faizil. Tangisnya pecah. Tubuhnya bergetar.