Now Loading

Pembunuhan di Dalam Tenda

Setelah memindahkan mayat Ani di dekat mayat Tyas, semua masuk ke tenda. Namun menjelang sore, jerit yang memilukan terdengar dari dalam tenda perempuan.

“Rini mati dengan kepala terpenggal,” kata Ria.

Sontak semua orang menjerit histeris. Mereka berlarian tak tentu arah. Teror pembunuhan itu sudah sangat mengerikan, karena terjadi di dalam tenda. Ya, Rini dipenggal di dalam tenda!

“Di mana kepalanya?” tanya Wiro.

“TIdak ada yang tahu. Ketika Ria menjerit, kami semua bangun dan mendapati tubuh Rini sudah tanpa kepala.”

“Masa tidak ada yang tahu ada pembunuhan yang begitu sadis di sebelah tempat tidur...” sesal Wiro sambil geleng-geleng kepala.

 Tidak ada jawaban karena Ria, Ambar dan yang masih terus menjerit-jerit tanpa jeda.

“Minimal mendengar jeritan Rini saat kepalanya dipenggal.”

“Kami semua tertidur karena ketakutan,” sergah Ria dengan bibir gemetar dan jerit tertahan. “Kami berpelukan satu sama lain, kecuali ...”

“Kecuali apa?” potong Seno tak sabar.

“Kecuali Rini. Dia tidur sendirian di pojok. Meringkuk.”

Semua terdiam tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Keheningan merayap jauh hingga ke relung hati. Ketakutan yang begitu meneror perlahan berubah menjadi kesunyian tanpa jeda karena merasa dirinya kini sendirian. Berada di sebuah altar persembahan. Kematian seakan tengah mengintip mereka dan sewaktu-waktu merenggutnya tanpa ampun. Ya, golok algojo kini tengah teracung dan semua merasa lehernya yang menjadi sasaran.

“Di mana lagi kita akan sembunyi?” bisik Wanda.

“Tidak ada tempat yang aman setelah pembunuhan itu terjadi di dalam tenda kita, di sebelah tempat tidur kita!”

“Bahkan jaraknya dengan leherku hanya satu jengkal,” timpal Ria. “Andai golok itu meleset, pasti leherku yang terkena tebas.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Pertanyaan itu menyeruak, menggantung di langit sebelum kemudian menggugah kesadaran jika mereka masih punya kesempatan untuk menghindar dari altar algojo.

“Ya, tapi kemana?” tanya Ambar.

“Kita pulang saja,” seseorang mengusulkan dengan cepat.

“Bagaimana dengan mayat Tyas, Rini dan lainnya?”

“Mayat Tyas dan Rini bisa kita bawa. Tapi bagaimana dengan jasad Ani, Topo, Jumadi…”

“Bagaimana juga dengan nasib Hugo?” potong Ambar tak senang dengan usulan pulang tersebut.

“Iya, lagi pula Dini juga belum kita temukan,” kata Wiro.

“Sebentar lagi malam. Aku tidak mau menjadi korban berikutnya,” cetus salah satu peserta kemah.

“Begini, jika sampai tengah malam tidak ada kepastian mengenai sosok pembunuh teman-teman kita, maka kita akan pulang,” kata Wiro. “Namun sebelum itu, aku dan Faizil akan masuk kembali hutan untuk mencari Dini.”

 “Setuju,” jawab Ambar capat, bahkan lebih cepat dari kerdipan mata Ria.

“Tapi jangan ada yang di dalam tenda, semua duduk di luar. Seno dan Yanto yang bertanggung-jawab atas keselamatan semua kemah!” perintah Wiro.

“Siap!”

Setelah menyatuhkan jasad Rini dengan jasad Tyas dan Ani, lalu meletakkannya di depan tenda, Wiro dan Faizil pun kembali masuk ke dalam hutan Pengker. Sementara 12 orang sisanya duduk melingkar, mengelilingi tiga mayat temannya.

“Baiklah, Dini punya motif memenggal kepala Topo, Tyas, Ani dan Rini untuk dipersembahkan kepada makhluk gaib penunggu pohon besar,” kata Wiro. “Tetapi Ambar dan Ria juga berada dalam posisi yang sama. Ambar yang menyuruh meletakkan mayat Tyas di depan tenda. Dia sengaja mengalihkan pandangan semua orang ke depan tenda.”

“Sehingga dia bisa menyelinap ke belakang ketika dilihatnya Ani keluar tenda?”

“Benar. Kedua, saat semua geger dengan penemuan mayat Ani, dia malah asyik mandi,” lanjut Wiro tanpa memerdulikan dukungan Faizil atas teorinya.

“Untuk membersihkan darah di tubuhnya?” tanya Faizil, lebih tepatnya memberikan penekanan atas penjelasan Wiro.

"Tadi aku juga dibisiki, jika Ambar tidur sendiri, tidak berpelukan dengan temannya seperti dikatakan Ria, meski posisi tidur Ambar berada di ujung depan, sementara Rini di ujung belakang” kata Wiro lagi.  

“Bagaimana dengan Ria? Dia selalu pintar mengalihkan perhatian dengan cerita-ceritanya. Dia yang ngarang cerita jika Rini yang pertama kali melihat jasad Ani. Padahal sebenarnya dia. Mengapa dia berbohong? Pada kasus penemuan mayat Tyas dan Rini, Ria menjadi pihak penemu karena sampai beberapa saat ternyata tidak ada teman-temannya yang melihat jasad korban, sehingga perhatian tidak teralihkan, padahal dia sudah akan membunuh Wanda.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Wanda mengaku melihat kelebat golok itu mengarah ke dirinya. Namun entah mengapa, dia hanya bisa berkelit tanpa bisa berteriak.”

“Berarti dia melihat siapa yang memenggal kepala Rini?” desak Wiro. Ia heran mengapa Faizil tidak menceritakannya di tenda. Lebih heran lagi mengapa Wanda juga bungkam? Ada apa ini? hati Wiro bertanya-tanya.

“Katanya laki-laki.”

Wiro menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Faizil tanpa berkedip. “Apa kamu pelakunya?”

Faizil mundur karena kaget dengan tuduhan Wiro yang tiba-tiba.

“Dengar, Wanda tidak pernah melihat pembunuhnya. Kamu hanya mengarang cerita!”

“Tunggu Wiro, jangan termakan skenario Hugo.”

“Skenario Hugo? Kamu mengetahui rencana Hugo?” Wiro maju dengan pisau terhunus.

“Hugo yang merencanakan ini semua!”

Wiro kian meradang. Musuhnya kini justu berada di depannya. Dengan sigap, Wiro menyerang Faizil.

“Kamu yang membunuh Ani. Aku ingat, ketika tadi di hutan kamu pura-pura kencing. Ternyata kamu tidak kencing tapi menyelinap ke tenda dan memenggal kepala Ani. Kamu juga yang memenggal kepala Rini. Yanto sebenarnya sudah curiga!” teriak Wiro.

“TIdak Wiro, aku benar-benar kencing.”

Tapi Wiro sudah tidak mau mendengar alasan Faizil. Ia kembali menyerang temannya. 

“Tunggu….tolong!”

Jeritan lirih itu cukup untuk menghentikan kelebat tangan Wiro yang sudah terarah ke dada Faizil. Wiro menoleh ke semak-semak di sebelah kiri yang sangat rimbun. Ia menyibak semak-semak itu dan di sana, di ujung lorong yang terbuat dari daun-daun dan ranting, ia melihat Dini tengah melambaikan tangan meminta tolong!