Now Loading

Cinta Belum Usai

Kalimat Wiro sulit dibantah. Mitos angker hutan Pengker akan semakin melegenda jika sampai mereka ikut mempercayai.    

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Yanto.

“Kok kamu bertanya seperti itu? Bukankah seharusnya kita bersama-sama memikirkannya?” sergah Faizil dengan nada tidak suka karena Yanto terus mendesak Wiro.

“Ya, maksudku, mari kita pikirkan bersama apakah kita akan mencari mereka lagi atau menunggu saja di tenda, atau apa?” kata Yanto.

“Benar, jika kita masih meyakini ini semua tidak ada kaitannya dengan makhluk gaib, lantas apa yang akan kita lakukan untuk membuktikan peristiwa ini apakah nyata atau hanya halusinasi?” tanya Ambar yang sedari tadi diam.

“Kita tetap akan bertahan di sini,” putus Wiro. “Dan satu hal lagi, jangan ada yang menggunakan telepon untuk menghubungi siapapun. Bahkan jangan juga menulis status atau mengupload foto di jejaring sosial terkait peristiwa ini.”

Semua terdiam mendengar keputusan Wiro.

“Yanto, ajak berapa teman untuk mengawasi gerak-gerik Pak Sastro. Pantau saja dari kejauhan. Kalau kamu lihat dia mendekat ke tenda kita, cepat laporkan padaku,” perintah Wiro.

“Siap!” sahut Yanto.

“Aku ikut Yanto,” kata Faizil.

Wiro mengangguk. “Sekarang semua bubar dan kembali ke tenda masing-masing. Siapkan makan siang dan acara seperti yang sudah kita rencanakan.”

Setelah semuanya bubar, Wiro memanggil Seno dan mengajaknya ke pohon besar itu.

“Kita lihat bekas lukanya,” kata Wiro.

“Ayo.. aku bawa golok,” kata Seno bersemangat.

Berdua mereka pergi ke pohon itu. Ternyata kepala Topo sudah tidak ada.

“Di mana kepala Topo?!” seru Seno penuh keheranan. Ia mendekat ke pohon untuk memastikan. “Lihat, ceceran darahnya masih ada,” katanya.

Wiro mengangguk. Ia pun melihat masih ada ceceran darah di bawah pohon. Ia mengalihkan tatapannya ke atas. Pohon ini memiliki banyak cabang. Daunnya sangat rimbun sehingga tidak terlihat bagian atasnya. Ada apa di balik cabang yang rimbun itu?

“Nanti malam kita begadang di sini,” kata Wiro. “Kebetulan malam Jumat. Kata orang, makhluk gaib keluar setiap malam Jumat.”

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Aku mau negoisasi lagi sama mereka,” jelas Wiro.

“Jadi kamu percaya pelakunya makhluk gaib?”

“Bukan, pelakunya salah satu dari kita!” desis Wiro.

“Apa?” potong Seno keheranan.

“Yang bisa memenggal kepala manusia ya manusia, bukan setan atau makhluk gaib lainnya!”

“Lalu apa yang hendak kamu negoisasikan?”

“Meminta agar kepala Hugo dipenggal.”

“Apa?” seru Seno kaget.

“Dengan begitu, pelaku pemenggalan yang sebenarnya tidak lagi beraksi karena Hugo sudah mati sehingga tidak perlu ada 7 kepala sebagai penebusnya.”

Seno mengangguk. Ia baru mengerti jalan pikiran Wiro. “Tapi mengapa kamu tidak berpikir semua ini perbuatan Pak Sastro?”

“Aku tidak bisa menjelaskan. Tapi aku yakin sekali, bukan dia pelakunya!”

Seno mengangguk.

“Hanya orang gila yang bisa memenggal kepala rekannya. Gila karena rasa cinta!”

“Dini?” Alis Seno terangkat mengikuti kerut dahinya.

Wiro menggeleng. “Aku tidak yakin.”

Setelah memastikan lokasi dan rencananya, Wiro dan Seno kembali ke tenda. Rupanya mereka cukup lama berada di dalam hutan. Beberapa temannya sudah duluan makan dan sebagian lainnya tidur.

Ketika Wiro sedang makan, tiba-tiba Ria datang dengan tergopoh-gopoh. Mukanya pucat. Tubuhnya gemetar dengan hebat. “Tyas…Tyas mati!”

Piring yang dipegang Wiro terjatuh saking kagetnya. “Mati?”

“Iya, mati...mati dibunuh!”

“Dibunuh? Dibunuh di mana?” tanya Wiro sambil mengguncang tubuh Ria.

“Di dekat danau. Kepalanya hilang!”

“Apa? Siang-siang begini?!”

Wiro langsung berlari ke danau diikuti teman-temannya. Kondisi Tyas sangat menyedihkan. Darah segar masih mengalir dari leher yang terpotong. Beberapa orang tampak mual-mual. Bahkan Ambar hampir pingsan.

“Di mana Dini?” tanya Wiro setelah menyadari anggotanya kurang satu.

“Tadi aku lihat Dini…lihat Dini di sini pegang golok!” cetus Ria. Gigil tubuhnya semakin kuat.

“Apa? Di mana dia sekarang?”

“Lari…lari ke hutan…”

Raut wajah takut bercampur marah menyeruak di antara mereka. Tidak ada lagi keraguan jika Dini pelaku semua kejadian ini. Dini mempunyai motif untuk menyelamatkan Hugo. Perbuatan kejam hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki motif kuat. Dini jelas ingin mnyelamatkan Hugo, simpul mereka meski tak terucap.

“Bagaimana ceritanya kamu bisa menemukan mayat Tyas?” tanya Wiro pada Ria.

“Aku…aku mau buang air kotor bekas cuci piring ke sungai di belakang tenda,” ujar Ria setelah susah payah ditenangkan oleh rekan-rekannya.

“Lalu?” Faizil menyerobot sebelum Wiro bertanya.

“Saat itu aku lihat Dini sedang berjalan tergesa-gesa.”

“Ke arah danau?” kali ini Yanto yang mendahului.

“Bukan…bukan. Dia bergegas ke hutan. Aku lantas memanggilnya, namun Dini tidak menyahut. Dia justru mempercepat langkahnya,” terang Ria. “Karena heran dengan tingkah Dini, aku lantas mengejarnya.”

“Terus apa kata Dini?” tanya Ambar seperti sudah menyiapkan pertanyaan itu sejak lama.

“Aku tidak bisa mengejarnya karena begitu sampi di sini, aku lihat tubuh Tyas. Tubunya sudah tidak berkepala!”

“Ke mana Dini lari? Maksudku arahnya sebelah mana? Kamu lihat kan, banyak jalan yang bisa dilalui untuk masuk ke dalam hutan. Lagi pula hutan Pengker ini cukup luas,” kata Wiro.

“Melalui jalan setapak sebelah danau,” jawab Ria sambil menunjuk lokasi yang dimaksud.

“Dari jalan itu, jika belok ke kiri maka menuju ke pohon besar di mana Hugo ditawan makhluk gaib,” terang Ambar tanpa diminta.

Mereka saling pandang.

“Ee…apakah kamu lihat Dini bawa sesuatu?” tanya Wiro menegaskan.

“Iya, bawa golok!” jawab Ria tanpa keraguan. “Golok itu tadi dipakai untuk memotong daging beku yang dibawanya. Kami masak tongseng. Selesai makan, sebagian tidur, sementara aku kebagian tugas bersih-bersih. Setelah mencuci piring aku ke belakang untuk membuang air kotor bekas cucian piring…”

“Apakah kamu melihat ketika Dini memotong leher Tyas?”

“Faizil!” bentak Yanto tidak senang. “Jaga bahasamu!”

“Tidak!” jawab Ria tanpa memperdulikan kegusaran Yanto.

“Sudah...sudah!” sergah Wiro. “Sekarang semua kembali ke tenda. Biar aku, Faizil dan Yanto yang mengejar Dini.”

 “Bagaimana dengan jasad Tyas?”

 “Biar Seno yang urus. Tolong yang laki-laki bantu Seno mengangkat jasad Tyas ke tenda. Letakkan dekat jasad Topo,” perintah Wiro.

Semua setuju. Seno dengan dibantu dua temannya, segera membopong jasad Tyas ke tenda. Darah Tyas belum membeku. Saat diangkat terlihat beberapa kali menetes. 

“Pantesan Dini ngotot sekali mengadakan reuni di sini,” celetuk seseorang ketika mereka kembali ke tenda. “Rupanya dia masih mencintai Hugo dan ingin balikan.”