Now Loading

Dini Tertuduh

Suara Hugo mendadak terhenti. Dari dalam batang pohon besar itu tiba-tba keluar serombongan mahluk gaib; seperti seperti berbaris, terdiri dari dua lajur. Beberapa saat kemudian mahluk itu mengurung Hugo. Mereka mendekap Hugo dan mengikatnya dengan tali dari akar pohon. Karuan saja Dini dan sejumlah orang berteriak panik. Namun Wiro hanya diam terpaku melihat pemandangan di depannya.

“Ayo kita kembali ke tenda,” rengek Dini.

Wiro menolak melalui isyarat tangannya. 

“Kita bisa mati semua di sini!” jerit Tyas.

“Kenapa takut? Bukankah awal niatan kita berkemah di sini untuk mencari tahu penyebab utama tragedi berdarah yang menimpa anak-anak SMP 10 tahun lalu? Ini kesempatan bagi kita untuk menyingkap misteri di baliknya,” tegas Wiro.

 “Aku belum mau mati sekarang,” rengek Tyas.

“Iya, Wiro!” timpal Rini. “Sebaiknya kita tinggalkan hutan ini!”

Belum sempat Wiro menjawab, dari dalam batang pohon itu keluar mahluk lagi. Kali ini sosoknya tinggi besar. Meski tidak menyeramkan, namun tetap saja membuat para peserta kemah ketakutan setengah mati. Apalagi ketika sosok itu berjalan ke arah mereka. Setelah jaraknya tinggal sekitar tiga meter, barulah mereka melihat sesuatu yang ditenteng mahluk tinggi besar itu: kepala Jumadi!

Makhluk tinggi besar dengan badan berbulu terus mendekati mereka.

“Kalian telah lancang. Kami harus melakukan prosesi pembersihan hutan ini karena kalian sudah mengotorinya. Kami akan merebus dua kepala teman kalian sebagai syarat ritual kami,” katanya.

“Tapi...tapi ...” Wiro tidak bisa meneruskan kalimatnya karena lehernya dicekik oleh mahluk itu.

“Dengar,” kata mahluk itu. “Jika kalian ingin membebaskan Hugo, siapkan 7 kepala sebagai gantinya!” Setelah berkata seperti itu, dia berbalik dan masuk kembali ke dalam batang pohon disusul mahluk-mahluk yang tadi mengikat Hugo.

 “Hugo akan dibawa ke mana?” tanya Dini spontan ketika semua mahluk itu hilang namun Hugo tidak terlihat.

Terdengar guman ketakutan namun tidak ada yang menjawab pertanyaan Dini.

“Ya, dibawa ke mana Hugo?” timpal Ambar dengan kecemasan seperti Dini. Semua menoleh pada Ambar namun tetap tidak ada yang buka suara.

“Dibawa makhluk gaib ke dalam batang pohon,” jawab Wiro akhirnya. Meski tadi semua juga melihat bagaimana Hugo ditawan oleh makhluk gaib dan dibawa pergi, namun penjelasan Wiro seolah kabar terbaru yang cukup mengagetkan. 19  anak muda itu saling melempar pandangan dengan gerak tubuh yang menyiratkan ketakutan.   

“Kita pulang saja,” kembali Dini merengek. Kali ini keinginannya mendapat dukungan dari Tyas, Wanda, Rini dan beberapa kawan lainnya.

“Iya, betu, kita pulang saja,” kata Topo. “Untuk apa kita menyiapkan 7 kepala hanya untuk menebus Hugo?”

“Siapa yang mau dipenggal kepalanya? Salah Hugo sendiri,” sahut Yanto.

“Kita tunggu sampai besok pagi,” kata Wiro. “Jika tidak ada kabar tentang Hugo dan Jumadi, terpaksa kita pulang dan melaporkan kejadian ini ke polisi.”

“Sekarang saja!”

“Besok!” tegas Wiro memotong ucapan Tyas.

“Tapi…tapi kamu tidak berpikir untuk menyerahkan 7 kepala kita, kan?” sergah Ria.

Wiro tidak menjawab. Namun tatapan tajam menghujam bola mata Ria hingga semuanya terdiam. Di saat -saat seperti ini, kepemimpinan Wiro memang sangat dibutuhkan. Kharisma dalam suaranya memancar begitu kuat sehingga semua merasa harus taat dan mengikuti keputusannya.

“Aku setuju,” kata Faizil. “Tapi usahakan jangan ada yang tidur, terutama yang laki-laki.”

“Benar!” sahut yang lain.

“Baik,” kata Wiro. “Sekarang semua kembali ke tenda masing-masing!”

Dengan langkah gugup mereka meninggalkan tempat itu. Dengung serangga dan jerit burung malam tak lagi mereka hiraukan. Hanya satu perasaan yang kini mengikat mereka: ketakutan!

“Aku tidak akan tidur,” cetus Ria, setelah mereka berada dalam tenda.

“Tidur saja,” sahut Ambar. “Kalau tidak tidur, nanti pikiran kita malah melayang ke mana-mana.”

“Iya,” dukung Rini. “Biar anak laki-laki saja yang jaga!”

Ria melengus. Namun ia tidak segera menarik selimutnya seperti Ambar dan Rini. Teman-teman lainnya malah sudah meringkuk dan menutupi seluruh badannya sehingga mirip mayat yang dijejer. Ria bergidik. Ia membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata. Namun sampai beberapa lama, pikirannya belum juga bisa diajak kompromi. Bayangan buruk terus bermain di layar pikirannya.

“Huh!” keluh Ria sambil membuang nafas.

“Belum tidur?” tegur Ambar.

“Tidak bisa,” sahut Ria tanpa membuka mata.

“Tidurlah. Jangan sampai kamu jadi korban!”

“Korban? Korban apa?” kali ini kelopak mata Ria terbuka dan menoleh pada Ambar yang tidur di sampingnya. Pandangan matanya membentur punggung Ambar.

“Entahlah. Firasatku tidak enak. Pasti besok akan terjadi sesuatu,” jawab Ambar tanpa menoleh.

Ria kembali menghela nafas dan buru-buru menutup wajahnya dengan selimut. Mulutnya komat-kamit membaca doa. Dengan perasaan takut yang semakin memuncak, akhirnya Ria tertidur meski tidak benar-benar pulas.

“Ria bangun..bangun!” teriak Rini.

Spontan Ria melompat. Pandangan matanya masih berkunang-kunang ketika kakinya melangkah keluar tenda mengikuti Rini. Ternyata sudah terang. Namun api unggun sisa semalam masih menyala.

“Ada apa?” tanya Ria kebingungan.

“Kepala Topo …”

“Kenapa kepala Topo?”

“Hilang!”

“Hilang? Hilang bagaimana?”

“Tadi pagi tubuhnya tergeletak di dekat tenda laki-laki, tapi kepalanya tidak ada!” terang Rini.

Ria mulai limbung. Semalam ia tidak mendengar suara apapun padahal tidur paling akhir. Namun sesaat ia ingat sesuatu. Matanya menjelajah ke segala arah.

 “Di mana Ambar?”

 “Itu!” sahut Rini sambil menunjuk ke samping tenda. Di sana Ambar tengah duduk bertopang dagu. Ria bergegas mendekatinya.

“Apakah semalam kamu mendengar sesuatu?”

“Kenapa?” sahut Ambar dengan nada tidak senang karena seolah tengah diinterograsi.

“Bukankah kamu tidur paling larut?”

Ambar melengos ketika beberapa temannya menoleh karena suara Ria cukup keras. Dini dan Wiro bergegas mendekati mereka.

“Aku tidak mendengar apa-apa,” akhirnya Ambar menjawab meski suaranya terdengar sangat terpaksa.

“Sama kalau begitu,” kata Ria sambil mengangguk-angguk. “Berarti Topo dibunuh tadi pagi!”

“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Dini dari balik punggung Wiro.

“Kalau dibunuh tadi malam, aku dan Ambar pasti dengar karena semalam kami sulit tidur.”  

“Iya, kami semua juga tertidur setelah sholat subuh,” kata Wiro.

“Persoalannya, di mana kepala Topo? Mengapa dia hanya mengambil kepalanya?” berondong Faizil yang juga sudah bergabung dengan mereka diikuti yang lain.

“Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan permintaan makhluk gaib yang menyekap Hugo,” timpal Yanto.

Semua terdiam. Namun mereka membenarkan dugaan yang dilempar Yanto. Hal itu membuat mereka mulai saling lirik.

 “Ya, benar. Ini ada hubungannya dengan permintaan makhluk gaib itu. Ada salah seorang dari kita yang ingin membebaskan Hugo!” ujar seseorang melempar teori.

Spontan semua mata tertuju pada Dini.