Now Loading

Arisan Terakhir

“Ada apa lagi?” jerit Yuni ketika melihat Ivony. Suara bergetar. Lelah bercampur emosi.

“Kamu yang memulai sehingga kamu yang harus mengakhiri. Aku pun ingin tenang di alamku. Jika tidak segera kita akhiri, akan lebih banyak lagi korban berjatuhan,” kata Ivony. Suaranya sangat serius. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ivony makhluk gaib. Bahkan Yuni harus mengakui penampilan Ivony malam ini sangat cantik. Yuni baru sadar jika Ivony memakai topi lebar dari kain layaknya noni Belanda  jaman dulu seperti yang pernah dilihatnya dalam film-film.

Ivony duduk di karpet di sebelah tempat tidur. Matanya lurus menatap wajah Yuni. Dengan tubuh gemetar, Yuni menggelosor dan duduk di depan Ivony. Jaraknya keduanya sangat dekat. Bahkan ujung jari kaki Ivony nyaris menyentuh paha Yuni. Sepintas Yuni melirik kaki Ivony yang terlihat panjang karena noni Belanda itu hanya mengenakan baju terusan warna. Yuni bersyukur kaki Ivony utuh, tidak seperti serpihan tulang yang ditemukan di bawah tempat tidur Mbah Rijah.

“Kamu tentu kenal Pak Mardi,” Ivony membuka percakapan tanpa melepas tatapannya pada wajah Yuni. “Semua kejadian ini bersumber dari dia.”

Yuni mengernyitkan kening. Ia menunggu lanjutan kalimat Ivony dengan dada berdebar. Sebagian dugaannya benar. Tetapi bagaimana kaitannya? Yuni mulai tak sabar. “Bukankah Mbak Ivony, maksudku teman-teman Mbak Ivony yang melakukan semua ini?”

“Awalnya aku yang punya ide.”

Glek…! Yuni berusaha menelan ludah. Namun tenggorokannya terlalu kering. Tidak ada air lagi di sana.

“Selama puluhan tahun arwah kami- yang diperkosa dan ditembak mati oleh tentara Nipppon, tidak bisa kembali ke surga. Sebab ajal kami belum tiba. Jadi, awalnya aku hanya ingin mencari kawan.  Sebatas untuk main-main. Aku pun menemui Pak Mardi.”

“Jadi Pak Mardi sudah tahu?”

Ivony mengangguk.

“Mengapa dia tidak mau memberitahuku,” potong Yuni lagi. Ia sudah lupa jika lawan bicaranya makhluk gaib yang tengah maujud menjadi manusia.

“Dia diancam oleh teman-temanku. Jika Pak Mardi tidak mau mengadakan arisan maka keluarganya akan diteror.”

“Mengapa melalui arisan?”

“Sebab dulu kami diperkosa dan dibunuh ketika sedang mengocok arisan!” Ivony menghela nafas lalu menghembuskannya secara perlahan. Seketika Yuni mencium bau mayat. Bulu kuduknya kembali meremang. Bau itu menyadarkan dirinya jika ia tengah berbincang dengan hantu!

“Aku tidak mau orang-orang yang kami kerjain sampai meninggal dunia. Aku hanya ingin main-main saja. Tetapi teman-temanku tidak mau. Mereka ingin korbannya mati. Aku pun lantas ditinggal oleh teman-temanku.”

“Sebentar, kata Mbah Rijah hanya may…maksudkua, tubuh Mbak Ivony yang dibawa pulang,” kata Yuni. Ia tadi hampir saja mengatakan mayat Ivony. “Kalau begitu dimana jasad teman-teman Mbak Ivony dikubur?’

Ivony terpejam. Di bawah keremangan cahaya lampu 5 watt, wajah Ivony tampak mulai berubah. Yuni beringsut, merapatkan badannya ke dinding. Ia tidak bisa bergeser lebih jauh lagi.

“Jasad mereka dibiarkan tergeletak sampai membusuk di tempat di mana mereka ditembak. Jasad mereka tidak pernah dikubur.”

Yuni menghela nafas. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu dan berbicara dengan makhluk gaib seperti Ivony. Yuni mencubit lengannya. Sakit! Berarti aku tidak sedang bermimpi.   

“Aku lantas mencari cara untuk menghentikan aksi mereka. Ketika aku tahu kamu tengah berusaha mencari tahu kematian karyawan pabrik yang mendapat arisan, aku girang dan kemudian menemuimu di kantin…”

“Apa yang bisa aku lakukan?” tanya Yuni.

“Suruh Pak Mardi menggelar ruwatan di pabrik, meruwat pabriknya supaya teman-temanku kembali ke alamnya dan tidak lagi mengganggu karyawan.”

“Kenapa bukan Mbak Ivony saja yang menyampaikan ke Pak Mardi?”

“Tidak bisa. Ada batasan-batasan yang tidak bisa aku langgar,” jawab Ivony sambil menggeleng. “Lagi pula, mulai besok aku tidak bisa lagi masuk ke alammu, alam manusia. Setelah jasadku dikubur, aku sudah tidak bisa berkeliaran lagi. Aku harus menjalani kehidupan berikutnya di alam lain, di alam yang tidak bisa dilihat oleh kamu namun ada di sekitarmu.”

Yuni tidak tahu apakah ia harus bersedih atau gembira. Setelah semua ini dilalui, tidak akan ada lagi korban berjatuhan. Namun ia juga tidak akan bisa melihat Ivony lagi.

“Besok aku coba ngomong sama Pak Mardi. Mudah-mudahan beliau paham dan mau melakukan ruwat pabrik,” kata Yuni akhirnya.

“Meski jasad teman-temanku tidak dikubur, tetapi dengan diruwat, arwah mereka tidak akan bisa muncul lagi. Ruwat juga menjadi jalan bagi arwah mereka untuk merasuk kembali ke alam gaib selamanya...”

“Tapi,” sela Yuni. “Mba Ivony kan orang bule. Kok percaya dengan ruwat?”

“Hanya darahku yang Holland. Jiwa dan keseharianku sama seperti kamu. Bahkan aku minum air susu pribumi, air susu Mbok Rijah,” terang Ivony.

Yuni mengangguk. Ia ingat di kampungnya dan juga kampung-kampung di sekitar pabrik sering diadakan ruwatan bumi. Katanya hal itu untuk membersihkan kampung dari segala bencana dan kesialan yang menimpa warga kampung. 

“Itu sebabnya aku tidak mau menemui keluargaku yang datang dari Holland karena aku tidak mau jasadku dibawa ke Holland, negeri yang aku sendiri tidak tahu entah berada dimana. Aku suka jasadku tetap di sini, karena aku lebih mengenal Hindia.”

“Indonesia,” ralat Yuni.

Ivony tertawa dengan suara yang khas. Jika saja tidak sedang berhadapan, tentu Yuni akan lari terbirit-birit. Tapi karena ia bisa melihat dengan jelas dan tidak ada yang menakutkan pada diri Ivony, Yuni hanya bergidik sedikit.

“Sudah larut malam,” guman Ivony setelah tawanya berhenti.

Yuni mengangguk.

“Aku pergi ya?” kata Ivony sambil berdiri. Yuni ikut berdiri dan menatap lurus wajah Ivony. Ia ingin tahu bagaimana caranya Ivony menghilang.

“Oh ya, hampir lupa. Aku juga mau mengucapkan terima kasih. Akhirnya keinginanku agar jasadku dikubur dengan baik, bisa terlaksana. Itu juga sebenarnya yang mendorongku ketika mulai sering muncul dalam rupa yang menakutkan.”

Yuni kembali mengangguk. Namun ketika wajahnya mendongak, Ivony sudah tidak ada di tempatnya. Yuni sempat celingukan ke segala arah, namun tidak menemukan yang dicarinya. Ivony benar-benar sudah kembali ke alamnya. Semoga damai kamu di sana, Mbak Ivony, bisik Yuni.

Namun ketika kakinya hendak menuju ke kamar, terdengar ketukan pintu. Bukan ketukan, tapi gedoran beruntun. Burur-buru Yuni menuju pintu dan menyibak tirai jendela di samping pintu. Ternyata di luar sudah banyak orang. Beberapa di antaranya terus mengedor-gedor pintu.

“Ada apa?” tanya Yuni setelah pintu terbuka.

“Tadi kami mendengar suara hantu.”

“Kami juga melihat ada perempuan siluman masuk ke sini melalui dinding.”

“Baunya persis seperti mayat yang akan dikubur. Wangi kembang kamboja bercampur minyak japaron,” timpal lainnya.

Yuni gelagapan. Apa saya harus terus terang? Tapi apa mereka juga percaya jika saya ceritakan peristiwa yang sebenarnya?

“Atau jangan-jangan kamu memelihara makhluk gaib ya?”

“Astagfirullah…tidak-tidak. Saya tidak tahu apa-apa. Tapi di sini memang tidak ada apa-apa.”

“Begini,” seseorang yang berpenampilan cukup berwibawa mendekat ke arah Yuni. “Saya sudah mendapat laporan terkait kejadian-kejadian aneh dari tempat yang kamu sewa ini. Termasuk saat kamu pingsan karena melihat hantu, bukan? Saya sudah bicara dengan pemilik kontrakan ini. Mulai besok tolong segera kosongkan tempat ini karena akan dibongkar oleh pemiliknya.”

Sampai orang-orang itu bubar, Yuni masih berdiri mematung di depan pintu. Pindah kontrakan tidak menjadi masalah. Tapi mulai adanya kecurigaan kalau dirinya memelihara setan, benar-benar menyakitkan.

Esoknya Yuni langsung menemui Pak Mardi. Hatinya lega ketika Pak Mardi langsung menyetujuinya, meski bentuk ruwatannya berbeda dengan yang dimaksud.

“Kita pakai pengajian akbar saja. Tapi sebelumnya akan dilakukan ruwatan sesuai tradisi secara diam-diam karena manajemen pabrik tidak setujui dengan kegiatan yang berbau klenik. Agama kita juga melarang. Oleh karenanya, untuk ruwatan akan ditangani tersendiri oleh orang-orang dari kampung di belakang pabrik,” terang Pak Mardi.

“Terus bagaimana dengan arisannya?”

“Tadinya saya pikir arisan itu tetap bisa dilanjutkan. Tetapi manajemen pabrik tidak mau. Solusinya nanti akan ada kenaikan gaji bagi karyawan. “

Yuni tersenyum. Hatinya girang karena usahanya untuk membongkar dan menghentikan arisan maut berhasil. Kini aku dan teman-teman bisa bekerja dengan tenang, bisik Yuni dalam hati.

Yuni pamit dan keluar dari ruang Pak Mardi dengan perasaan lega. Ia mempercepat langkahnya karena hari ini ia akan ke mall untuk membeli beberapa tirai. Tadi sebelum ke kantor, ia sempat melihat kontrakan yang direkomendasikan temannya. Kontrakan itu lumayan bagus tapi tidak ada fasilitas apapun, termasuk tirai jendela.

Ketika turun tangga kantor, Yuni terkesiap. Di seberang tangga, di sebuah ruangan yang kosong tampak beberapa gadis muda tengah tertawa riang. Mereka berebut sesuatu. Bukan mainan, tapi kaleng susu. Salah seorang di antaranya berhasil menangkap kaleng dan langsung mengocoknya. Sebuah gulungan kecil keluar dari lubang tutup kaleng yang terbuat dari kertas.

“Siapa yang dapat?” seru seseorang pada perempuan centll yang tengah membuka gulungan kertas.

“Ivony…!” teriaknya sambil tertawa.