Now Loading

Requiem

Yuni cukup lama pingsan. Ia baru sadar setelah sampai di poliklinik perusahaan.

“Di mana aku?’ tanyanya begitu sadar. Saaat itu menyangka dirinya sudah meninggal dunia karena semua yang dilihatnya serba putih.

“Kamu di poliklinik. Tadi kamu pingsan,” ujar perawat parobaya. Tangannya memegang jarum suntik. Spontan Yuni melompat. Tubuhnya terhuyung sebelum kemudian menabrak  tiang infus.

“Aku tidak sakit,” teriaknya sambil melepas slang infus yang menancap di lengannya.

“Tubuhmnu sangat lemah. Kamu perlu istirahat,” tegas perawat.

“TIdak!” jerit Yuni. Kini kesadarannya kembali pulih. “Aku harus melihat Mbah Rijah. Aku telah membunuh Mbah Rijah!”

“Tidak, kamu tidak membunuh siapa-siapa,” ujar seseorang.

Yuni mendongak. Pandangannya langsung membentur wajah Yanto.

“Iya, kamu tidak membunuh mbah saya. Memang sudah takdirnya begitu,” ujarnya dengan nada parau.

“Mengapa kamu di sini? Siapa yang mengurusi jenasah Mbah Rijah?” tanya Yuni.

“Tadi sudah dimandikan. Tinggal disholatkan, tapi masih menunggu beberapa anak dan cucunya dari Semarang,” terang Yanto.

“Kalau begitu, aku mau ke rumahmu,” ujar Yuni.

“Jangan dulu...”

Belum selesai perawat itu berbicara, seorang warga dari Kampung Alas yang berada di belakang pabrik masuk ke ruang poliklinik dengan tergopoh-gopoh. “Yanto, cepat pulang. Mbah Rijah hidup lagi!”

Yanto kebingungan mendengar berita itu. Bagaimana orang yang sudah meninggal, sudah dikafani dan disholatkan bisa hidup lagi? Ia malah merasa telinganya salah dengar. Tapi akhirnya ia percaya ketika pembawa berita  mengulangnya beberapa kali.

Yuni pun akhirnya punya alasan kuat untuk meninggalkan poliklinik. “Ini pasti ada kaitannya dengan makam di bawah tempat tidurnya. Makam itu harus dibongkar!” ujar Yuni sambil naik keboncengan motor Yanto.

“Kuburan itu sudah puluhan tahun. Pasti di dalamnya sudah tidak ada apa-apa lagi.”

“Secara fisik, memang begitu. Namun arwah Ivony masih menetap di sana. Kita harus memindahkan ke tempat lain. Aku yakin arwah Ivony akan tenang sehingga Mbah Rijah pun bisa berpulang ke sisi-Nya tanpa gangguan. Selama arwah Ivony terus bergentayangan, maka di pabrik akan terus jatuh korban jiwa!” tegas Yuni.

Mereka tiba di rumah Mbah Rijah yang kini sudah dipenuhi pelayat. Bukan, bukan pelayat tetapi orang-orang yang ingin tahu kebenaran tentang Mbah Rijah hidup lagi. Rupanya berita itu sudah menyebar ke mana-mana.

“Mungkin tadinya belum meninggal, hanya pingsan saja,” celutuk seseorang ketika Yuni tiba di depan rumah Mbah Rijah.

“Iya, masa ada orang sudah mati hidup lagi,” timpal lainnya tak percaya.

Yanto langsung menerobos kerumunan orang di depan pintu sambil menggandeng tangan Yuni. Bangku-bangku yang disediakan di bawah tenda beratap terpal milik mushola, tidak lagi terisi. Semua berjejal ingin melihat sosok Mbah Rijah. Padahal saat itu Mbah Rijah sudah kembali dibaringkan di kamar setelah kain mori yang tadi sempat dikenakannya dilepas. 

Di atas tempat tidur yang kini terang karena sebagian dinding kayunya dibuka, tampak Mbah Rijah terbaring. Kaku. Yanto sanksi apakah benar simbah hidup lagi. Ia berjalan mendekat dan dengan gemetar memegang tangan Mbah Rijah. Dingin sekali.

“Tadi sempat menanyakan kamu dan Mbak Yuni,” ujar Bu Rat ketika melihat Yanto ragu-ragu.

Yuni memejamkan mata. Mencoba memahami peristiwa yang tengah terjadi. Namun ia belum paham juga. Terlalu banyak misteri dan semua seperti saling berhubungan. Beruntung Ustadz Haryono yang tiba belakangan, cepat bertindak setelah mendengar cerita Yuni.

Ustadz Haryono menyuruh beberapa  orang untuk menggotong tubuh Mbah Rijah ke ruang depan tempat Yanto tadi dibaringkan. “Kita akan yasinkan agar jalan Mbah Rijah menuju alam kelanggengan dimudahkan,” kata Ustadz Haryono. “Sementara beberapa orang silahkan menggali kuburan di bawah tempat tidur Mbah Rijah.”

Dengan sigap beberapa oarng melaksanakan perintah Ustadz Haryono. Menjelang Magrib, makam di bawah temnpat tidur Mbah Rijah selesai dibongkar. Namun tidak ditemukan apa-apa di situ kecuali rambut dan sisa tulang belulang dalam potongan kecil-kecil. Mereka mengumpulkan sisa raga Ivony dan memasukannya dalam karung.

“Buatkan peti kecil saja untuk mengubur kembali sisa jasadnya,” perintah Ustadz Haryono. “Malam ini juga kita serahkan ke gereja untuk diurus dan dikubur oleh mereka sesuai keyakinan almarhumah.”

“Bagaimana dengan Mbah Rijah?” tanya Yuni.

“Alhamdulillah arwahnya sudah tenang,” jawab Ustadz Haryono.

Setelah mendapat kepastian waktu pemakaman dan situasi sudah kondusif. Yuni pulang diantar Anmanto yang terus mengikutinya karena kuatir akan keselamatannya. Sampai di kontrakan, Ananto langsung pulang. Yuni tidak bisa mencegah. Lagi pula ia sudah ingin istirahat. Serangkaian peristiwa hari ini bukan hanya melelahkan fisiknya, namun juga jiwanya.

Yuni masuk dengan terburu-buru. Ia menyalakan lampu dan mengunci pintunya dari dalam. Bergegas ia menuju kamar yang gelap karena lampunya masih mati. Yuni menekan saklar di sisi pintu kamar dan spontan memekik.