Now Loading

Makam Tersembunyi

Namun belum sampai kakinya mencapai pintu, terdengar suara Mbah Rijah memanggil namanya.

“Nak Yuni…!”

Yuni tersentak. Didorong keinginannya yang kuat, Yuni ingin berbalik. Namun mengingat resiko yang bisa terjadi andai Mbah Rijah terus dipaksa untuk mengingat peristiwa memilukan itu, Yuni menjadi bimbang. Ia terpaku di mulut pintu.

“Sini Nak, aku mau cerita semuanya. Aku sudah lelah memendam cerita ini. Non Ivony pun sudah setuju jika aku cerita sama Nak Yuni,” ujar Mbah Rijah.

Yuni masih bimbang sehingga belum juga berbalik.

“Mari…” ujar Yanto sambil meraih tangan Yuni. “Jika itu kemauan mbah, ngga apa-apa. Kamu tidak perlu bertanggung jawab atau merasa bersalah jika sampai terjadi apa-apa.”

Yuni menatap wajah Yanto untuk mencari kepastian. Ternyata, di balik sikapnya yang cuek dan terkesan antipati, cowok ini tahu juga bagaimana meluluhkan hati perempuan. Wajahnya tidak terlalu jelek, pikir Yuni. Tanpa sadar Yuni menyorongkan tangannya supaya dipegang Yanto.

“Aku di sini, Mbah!” kata Yuni setelah berdiri dekat Mbah Rijah.

Mbah Rijah menghela nafas. Suaranya terdengar berat. “Sore itu Non Ivony sedang bermain bersama beberapa temannya di halaman rumah yang sekarang sudah tidak ada, dirobohkan untuk pelebaran pabrik. Dulu hanya ada dua gedung, dan beberapa rumah petinggi pabrik termasuk orang tua Non Ivony. Saat itu Non Ivony hendak mengocok arisan bersama teman-teman perempuannya. Kalau tidak salah ada delapan orang.”

Glek…! Yuni menelan ludah. Arisan apa? tanya Yuni. Namun pertanyaannya tertahan dalam hati. Ia takut mengganggu konsentrasi Mbah Rijah.

“TIba-tiba datang ratusan tentara Nippon. Saat itu Belanda sudah menyerah kepada Nippon tetapi masih banyak orang-orang Belanda yang belum sempat pulang ke negaranya, termasuk orang tua Non Ivony dan beberapa petinggi pabrik. Tentara Nippon menembak siapa saja yang dijumpainya, setelah ada anak buah Tuan Klestin menembaki mereka. Tuan Klestin tewas dekat pintu karena diberondong puluhan peluru.”

“Sadis!” cetus Yuni tanpa sadar. Buru-buru ia menutup mulutnya dan berharap Mbah Rijah tidak terganggu.

“Bukan hanya itu. Beberapa tentara Nippon menyuruh agar Non Ivony dan teman-temannya tetap mengocok arisan. Kemudian, yang dapat arisan dibawa ke belakang rumah. Di sana dia diperkosa ramai-ramai, dan setelah itu ditembak hingga mati. Mayatnya dibiarkan tergeletak di situ hingga busuk.”

“Biadab!” kembali Yuni tak mampu menahan umpatan yang keluar dari mulutnya. Ia ingin muntah mendengar cerita itu. Pantasan Mbah Rijah begitu menderita karena menyaksikan peristiwa biadab itu dan harus menyimpannya bertahun-tahun.

“Non Ivony dapat giliran paling terakhir,” lanjut Mbah Rijah. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Ia kemudian minta air putih dan minum beberapa teguk dari gelas yang disodorkan Yanto.

“Tentara itu membawanya ke belakang. Aku mengintip dari dapur. Aku benar-benar tidak tega menyaksikan bagaimana lima tentara itu memperkosanya kemudian memberondongnya dengan tembakan. Tubuh Ivony berkelojot sebelum nyawanya meregang. Tanpa sadar aku menjerit. Aku bisa merasakan kepedihan yang dialami Non Ivony..”

Mbah Rijah kembali terdiam. Air matanya begitu deras mengalir dari kedua sudut matanya. Yuni meminta agar Mbah Rijah menghentikan ceritanya, meski dia sendiri masih penasaran. Kisah Ivony teramat tragis. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutannya. Pantasan saja Mbah Rijah jatuh sakit ketika ada orang yang memintanya untuk mengenang kembali peristiwa yang terjadi puluhan tahun lampau itu.

“Sudah, Mbah. Aku sudah paham,” ujar Yuni mulai terisak.

“Tidak,” kata Mbah Rijah setelah nafasnya kembali teratur. “Aku harus menceritakan sampai tuntas.”

“Tapi..tapi…”

“Tidak apa-apa,” kata Yanto. Kali ini justru dia melarang Yuni untuk menghentikan cerita Mbah Rijah. “Sudah kepalang tanggung. Mungkin setelah diceritakan semuanya, kondisi mbah akan membaik karena bebannya sudah berkurang.”

“Mendengar jeritanku, beberapa tentara Nippon langsung masuk ke rumah dan menggeledah seluruh ruangan. Aku sempat dipukul pakai popor senapan dan dipaksa menunjukkan keluarga anggota lainnya. Aku hanya bisa menangis sambil meminta ampun. Tentara itu kemudian melepasku namun melarang untuk mengubur mayat-mayat itu. Setelah itu mereka pergi.”

“Jadi mayat Mba Ivony tidak dikubur?’

Mbah Rijah menelan ludah. Sesaat matanya terbuka dan mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamar. Namun setelah itu terpejam kembali. “Tengah malam aku nekad mengambil mayat Non Ivony. Aku mengambilnya diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk suamiku karena dia sudah lama masuk hutan begitu tentara Nippon datang ke sini. Suamiku tidak mau ikut Nippon. Saat itu semua laki-laki di kampung dibawa Nippon entah kemana. Ada yang kemudian pulang, namun banyak juga yang tidak kembali. Katanya mereka disuruh bekerja membuat jembatan di Semarang.”

“Terus mayat Mba Ivony Mbah kubur di mana?”

“Malam itu aku kebingungan. Jenasah Non Ivony aku bawa pulang.”

“Apa?!” serentak Yuni dan Yanto memekik tanpa sadar. Beberapa ibu-ibu yang ada di kamar itu juga memekik namun suara mereka tertahan.

“Ya, aku membawanya ke rumah ini. Aku mandikan lalu aku kubur di sini…”

“Di sini?!” kembali terdengar jerit ketakutan. Kali ini serempak.

“Di bawah tempat tidurku!”

Beberapa ibu-ibu yang sejak tadi turut mendengarkan penuturan Mbah Rijah, langsung kabur. Sementara  Yanto dan Yuni mundur beberapa langkah. Reflek mata mereka menengok ke bawah tempat tidur Mbah Rijah. Gelap. Tidak terlihat apa-apa di sana. Tanahnya rata, tidak ada gundukan tanah layaknya kuburan. Mungkinkah Mbah Rijah menggigau? pikir Yuni.

“Tanahnya sengaja aku bikin rata agar anakku dan keluargaku tidak curiga,” ujar Mbah Rijah seolah bisa mengerti jalan pikiran Yuni. “Namun setiap weton-nya aku selalu memberi bunga dan sentir. Dia pun suka keluar dan bermain bersamaku,” lanjutnya.

Yuni menggeleng-gelengnya kepala kebingungan. “Maksud Mbah Rijah, arwah Mbak Ivony sering keluar dari kuburnya?”

Mata Mbah Rijah tiba-tiba terbuka. Sorotnya begitu menghujam. Yuni sampai ketakutan. Ia mundur dan bersembunyi di belakang punggung Yanto. Namun ia merasa tatapan Mbah Rijah masih mengikutinya!

“Bukan arwah, tapi Non Ivony,” serunya Mbah Rijah dengan suara serak. Ada amarah di sana. Sesaat kemudian Yuni melihat sosok Ivony tengah duduk di sebelah Mbah Rijah. Kali ini bukan gadis kecil, tapi Ivony yang pernah ditemuinya beberapa kali.

“Hanya kamu yang bisa menuntaskan,” kata Mbah Rijah lagi. Jelas kalimatnya ditujukan pada Yuni. “Pabrik itu harus segera dibongkar karena penuh dengan roh jahat. Non Ivony mau kembali ke sana karena pabrik itu milik dia!”

Yuni berusaha untuk tetap berdiri di tempatnya. Namun ketakutannya sudah di ujung batas. Aku tidak kuat lagi mendengar kata-kata Mbah Rijah, keluhnya dalam hati.

Yuni menguatkan hatinya untuk menatap Ivony. Perasaannya campur-aduk. Kesadaran bahwa dirinya tengah menatap sosok hantu, membuat badannya gemetar. Namun dorongan keinginan untuk segera menuntaskan persoalan ini juga kian menggebu. Rasanya tinggal keinginan itu yang membuat dirinya tidak histeris dan tetap bisa berdiri meski sedikit limbung. Beruntung, tanpa diminta Yanto sudah menyiapkan lengan tangan untuk menopang tubuhnya.

“Mengapa selama ini Mbah tidak cerita?” cetus Yuni akhirnya. Kebisuan yang terjadi beberapa saat di kamar Mbah Rijah benar-benar mencekam. Terlebih tatapan mata Ivony tak kalah tajam dengan sorot mata Mbah Rijah, seolah menembus jantungnya.

“Aku tidak mau dikejar-kejar tentara Nippon,” desah Mbah Rijah.

“Sekarang tidak ada lagi tentara Nippon, Mbah. Kita sudah lama merdeka.”

“Kata siapa? Umur Nak Yuni berapa tahun? Lebih tua aku tentunya, jadi aku lebih paham!” kecam Mbah Rijah dengan suara datar. “Tentara Nippon tidak akan pernah benar-benar pergi dari nuswantoro…”

“Nusantara,” ralat Yuni.

Yanto menoleh dan memberi isyarat agar Yuni tidak membantah ucapan Mbah Rijah. “Simbah tidak percaya bangsa Indonesia sudah merdeka,” bisiknya pada Yuni.

“Jadi segera Nak Yuni bilang ke tuan pemilik pabrik untuk mengusir roh jahat itu,” kata Mbah Rijah.

“Aku…aku tidak bisa, Mbah.”

“Mengapa? Apakah kamu mau nanti akan ada korban lagi?”

Tubuh Yuni terlonjak saking kagetnya. Mbah Rijah tahu soal korban penerima arisan itu? Yuni menatap Ivony. Namun gadis Belanda itu malah asyik memintal rambut Mbah Rijah.

“Jadi apa kaitannya para korban penerima arisan dengan Mbak Ivony?”

“Diam kamu!” bentak Mbah Rijah. “Jangan kaitkan Non Ivony dengan praktek kotor itu!”

“Praktek kotor?” seru Yuni.

Tiba-tiba Mbah Rijah tersengal-sengal. Terlihat dia susah sekali bernafas. Pada saat bersamaan Ivony hilang. Spontan Yanto meraih pundak Mbah Rijah dan menegakkan kepalanya dengan cara menambah tinggi bantalnya. Sementara Yuni kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Bu Rat yang tadi sudah keluar, bergegas masuk ke kamar lagi sambil membawa gelas berisi air putih. Dia menyorongkan gelas itu ke mulut Mbah Rijah. Tidak ada reaksi. Setelah tersengal-sengal beberap kali, Mbah Rijah lantas diam untuk selamanya.

“Inalilahi waina Illahi rojiun…” bisik Yanto diikuti ibu-ibu yang ada di situ.

“Mbah…!” pekik Yuni histeris. Ia memeluk tubuh ringkih yang kini terbujur di depannya. Sampai beberapa saat Yuni terus menangis meraung-raung. Beberapa warga yang datang mencoba menenangkan, tetapi Yuni tetap histeris. Dia baru diam setelah jatuh pingsan.