Now Loading

Bertemu Mbah Rijah

Kampung Alas yang terletak di belakang bangunan pabrik. Kampung itu cukup lengang. Jarak antara rumah yang satu dengan rumah lainnya cukup berjauhan. Namun di pojok jalan, ada lima rumah yang berhimpitan. Di depan salah satu rumahnya, tampak beberapa ibu-ibu parobaya sedang bercengkerama sambil mencari kutu. Kebiasaan ibu-ibu di kampung meski sudah jarang ditemui sejak sampo anti ketombe gencar diiklankan di TV.

“Selamat siang, Bu,” sapa Yuni.

“Siang,” sahut salah seorang di antara mereka. Namanya Ratminah, namun warga memanggilnya Bu Rat. “Mau cari siapa ya?”

“Aku sedang mencari Mbah Rijah. Di mana rumah beliau ya?”

“Siapa yang mau melahirkan?” tanya Bu Rat penuh selidik.

“Mbah Rijah sedang sakit,” timpal lainnya.

“Tidak, tidak ada yang mau melahirkan. Aku bukan mau minta tolong untuk membantu persalinan, kok,” jawab Yuni dengan wajah memerah karena pandangan orang-orang itu penuh selidik, bahkan terkesan kurang ramah. “Ee…kalau boleh tahu, Mbah Rijah sakit apa ya?”

“Tidak tahu sakit apa. Mungkin stres saja karena dicecar banyak pertanyaan oleh orang-orang bule.”

“Orang bule?” ulang Yuni terkejut. Jangan-jangan orang Belanda yang mengaku sebagai keturunan van Jankelstein. Bagaimana mereka bisa sampai ke sini?

“Ngga tahu bule dari mana. Dia diantar oleh bos pabrik,” tutur Bu Rat.

Yuni kian penasaran. Pasti ada sesuatu yang membuat Mbah Rijah didatangi bule-bule itu.  “Apakah boleh saya tahu dimana rumah Mbah Rijah?” tanya Yuni hati-hati.

“Rumahnya ya ini,” ujar Bu Rat sambil menujuk rumah di belakangnya.

Hati Yuni bersorak. “Boleh saya bertemu dengan Mbah Rijah?”

“Tidak bisa!” ujar laki-laki muda yang tiba-tiba keluar dari rumah Mbah Rijah. Dia hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong warna hitam.   

“Maaf?”

“Mbah saya sedang sakit, jadi tidak bisa diganggu,” ujarnya.

Yuni nyengir. Ia kemudian mendekat laki-laki muda itu sambil mengulurkan tangan. “Namaku Yuni, karyawan pabrik…”

“Iya, saya tahu,” jawabnya ketus sambil menunjuk ke dada Yuni. Reflek Yuni melihat ke arah yang ditunjuk. Pikiran buruknya seketika hilang ketika menyadari ia memakai kaos berlogo pabrik tempatnya bekerja.

“Boleh saya masuk?” tanya Yuni sedikit memaksa. “Ini sangat penting. Menyangkut keselamatan banyak orang.”

“Saya tidak peduli,” ujar laki-laki yang mengaku bernama Yanto itu. Namun anehnya dia justru bergeser sehingga seperti memberi jalan. Yuni pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menerobos masuk ke ruang tamu. Beberapa warga yang tadi duduk di depan rumah, ikut-ikutan masuk.

“Mungkin perempuan ini yang dimaksud mbahmu, To,” ujar salah seorang dari mereka.

Tentu saja hal itu membuat Yuni terkejut. Rupanya kedatanganku sudah ditunggu oleh Mbah Rijah! pekik Yuni dalam hati.

“Ada apa ya? Mbah Rijah pernah menyebut namaku?” tanya Yuni setelah duduk di sofa tua yang sudah robek di sana-sini. Rumah ini tanpa plafon sehingga puluhan jelaga hitam yang menggantung di langit-langit mirip stalaktit di gua, terlihat dengan jelas.

“Beberapa hari setelah kedatangan bule itu, Mbah Rijah jatuh sakit. Katanya dia harus bertemu dengan perempuan muda yang bekerja di pabrik. Kami kebingungan karena Mbah tidak menyebutkan namanya dan pabriknya. Di daerah sini kan banyak pabrik,” terang Bu Rat. Dia duduk persis di sebelah Yuni, sementara Yanto duduk di depannya, dibatasi meja kecil tanpa taplak.

“Apa Mbah Rijah menyebut tentang sesuatu?” tanya Yuni semakin penasaran.

“Maksud Mba Yuni menyebut soal apa?”

“Eh…anu, hantu!” ceplos Yuni membuat semua yang hadir dalam pertemuan kecil itu terkejut. Beberapa dari mereka bahkan beringsut, merapat.

“Hantu?”

“Maksudku.. aduh aku jadi bingung,” ujar Yuni.

“Mbah memang pernah mengatakan soal hantu,” tiba-tiba Yanto bersuara.

Penjelasan Yanto membuat beberapa orang berguman. Sepertinya mereka menuntut agar Yanto berbicara terus terang.

“Tidak banyak yang dikatakan Mbah. Dia hanya bilang bertemu dengan hantu bule. Namanya…” dahi Yanto berkerut seperti tengah memikirkan satu nama. Namuan sampai beberapa saat, nama itu tidak berhasil diingatnya.

“Apakah namanya Ivony?” tanya Yuni dengan suara yang sangat pelan. Namun semua orang pasti mendengarnya dengan jelas. Sebelum Yanto menjawab, tiba-tiba terdengar panggilan dari salah satu kamar yang berada di belakang. Buru-buru Yanto pergi menuju ke kamar.

“Mbah Rijah,” ujar Bu Rat menjawab keingintahuan Yuni.

Tanpa menunggu dipersilahkan, Yuni berdiri dan langsung menyusul Yanto menuju kamar Mbah Rijah. Kamar itu sangat kecil, hanya berdinding setengah tembok. Bagian atas dindingnya dari papan sehingga sinar matahari bisa menerobos ke kamar dan menjadi satu-satunya penerangan yang ada dalam kamar Mbah Rijah. Bukan saja pengab, namun kamar itu juga bau karena penuh baju kotor yang bergelantungan di sana-sini.

Yuni terpaku di depan pintu. Mulutnya ternganga. Matanya sempat bersirobok pandang dengan Mbah Rijah yang tengah tiduran menghadap ke pintu. Wajah Mbah Rijah penuh keriput. Rambutnya putih semua. Dia sudah tidak punya gigi sehingga pipinya yang kurus tampak semakin kempot. Namun bukan kondisi fisik itu yang menahan langkah Yuni, melainkan gadis kecil yang tengah duduk di atas tempat tidur, dekat kepala Mbah Rijah. Gadis itu sangat dikenalnya!

“Mbak Ivony?” seru Yuni tanpa sadar.

Tentu saja hal itu membuat kaget Yanto. Sebab ia tidak melihat siapa-siapa di kamar itu kecuali mbahnya yang tengah tergolek tak berdaya di atas tempat tidur. Dia lebih terkejut lagi ketika mbahnya ikut-ikutan mengatakan hal yang sama.

“Sejak kecil Noni memang senang memainkan rambutku,” ujar Mbah Rijah tanpa mengubah posisi tidurannya. Bahkan kelopak matanya tetap terpejam.

“Ada apa ini? Mbah Ngomong apa?” sentak Yanto. Meski ada amarah dalam nada kalimatnya, namun kentara sekali jika Yanto tengah ketakutan.

Yuni maju beberapa langkah hingga berada di tepi ranjang Mbah Rijah. Yuni bergidik ketika ia mencium bau khas kuburan di tempat itu: bunga kasturi, kamboja dan wewangian seperti minyak japaron- minyak wangi untuk jenasah.

“Mbak Ivony,” panggil Yuni. Sepertinya panggilan ‘mba’ kurang tepat karena gadis kecil itu bahkan mungkin belum bisa berjalan dengan sempurna. Namun karena pernah melihat seperti apa dewasanya, Yuni merasa tetap harus memakai embel-embel ‘mba’ ketika memanggil. “Apa yang sedang Mbak lakukan?”

Gadis kecil itu tersenyum. Sangat manis.  Memamerkan giginya. Kulitnya putih, bahkan lebih putih dari Ivony yang ditemuinya di kantin dan beberapa tempat lainnya.

“Biarkan saja dia di situ. Kasihan dia,” ujar Mbah Rijah.

Beberapa orang yang tadi menguntit Yuni, kini ikut masuk dan berdesakan di dalam kamar yang sempit. Mereka ikut mendengarkan dialog Yuni dan Mbah Rijah. Namun seperti Yanto, mereka juga tidak bisa melihat gadis kecil yang dimaksud Yuni dan Mbah Rijah.

Tangan Yuni terulur hendak memegang tangan Ivony. Namun seketika gadis itu lenyap. Yuni tersentak. Rasa takutnya mulai menyeruak. Terlebih kemudian mulut Mbah Rijah komat-kamit dengan mata terpejam, seperti tengah berdialog dengan seseorang.  

Yuni tidak berani mengganggu. Demikian juga Yanto dan yang lain. Setelah beberapa saat, barulah Mbah Rijah membuka mata dan mencoba mengenali sekelilingnya.

“Mbah, aku Yuni,” ujar Yuni sambil menggenggam tangannya.

“Mbah rabun,” bisik Yanto. Yuni menoleh sekilas namun kemudian fokus kembali pada Mbah Rijah.

“Iya, sudah lama Noni Ivony menceritakan tentang Nak Yuni. Tapi aku tunggu-tunggu kok ndak datang-datang,” ujarnya lirih.

“Apa kata Mbak Ivony, Mbah?”

“Tidak ada, dia cuma bilang kamu akan datang. Tapi dia tidak menceritakan soal tujuannya,” kata Mbah Rijah. Suasananya tetap jernih meski sesekali diselingi batuk.

“Aku sudah capek,” sambung Mbah Rijah setelah Yuni tidak memberikan reaksi. “Aku ingin segera diambil oleh Gusti Allah biar bisa menemani Noni Ivony di sana. Kasihan sekali anak itu.”

Sudut mata Mbah Rijah mulai mengeluarkan air. Namun tidak ada isak di sana. Mbah Rijah bukan sedang menangis.

“Penyakit kataraknya sudah sangat parah,” bisik Yanto dekat telinga Yuni.

“Mbah…” panggil Yuni. “Boleh aku menanyakan sesuatu?”

Yanto sudah hampir mencegahnya, namun sudah didahului oleh anggukan kepala Mbah Rijah.

“Siapa sebenarnya Mbak Ivony?”

Yanto menarik nafas lega. Sebenarnya ia sudah beberapa kali mendengar soal nama itu, tapi tidak tahu karena Mbah Rijah tidak pernah mau menceritakan. Bahkan kepada orang-orang bule yang datang kemarin, Mbah Rijah tetap bungkam.

“Siapa Mbak Ivony itu?”

“Dia anak Tuan Klestin,” ujar Mbah Rijan dengan nada datar. Pasti yang dimaksud van Janklestein, pikir Yuni. “Anak bungsunya karena sebelumnya Tuan Klestin sudah punya dua anak laki-laki. Tapi mereka dibawa ke Holland oleh mantan istrinya. Setelah lama berpisah dengan anak-istrinya, Tuan Klestin kemudian menikah lagi dan punya anak perempuan yang diberi nama Ivony.

Sayangnya, ketika melahirkan Ivony, ibunya meninggal dunia. Karena tidak ada yang menyusui, Tuan Klestin kemudian menyuruhku untuk merawatnya. Apalagi saat itu pabrik baru berdiri sehingga Tuan Klestin sangat sibuk. Tidak sempat mengurus Ivony. Sesekali aku susui dia karena saat itu aku juga baru punya anak.”

“Jadi saat itu Mbah kerja di rumah Tuan Klestin?” tanya Yuni.

“Sejak masih anak-anak aku sudah ikut Tuan Klestin,” ujar Mbah Rijah. Nafasnya terdengar mulai memburu. Dadanya naik turun. Melihat hal itu Yanto berusaha menenangkan dengan memberi tambahan bantal di bawah kepalanya.

“Sebaiknya kita sudahi ceritanya,” ujar Yanto. “Sekarang sudah jelas siapa Ivony…”

“Apa penyebab Mbak Ivony meninggal dunia? Dan di mana kuburannya, Mbah?” kejar Yuni tanpa memperdulikan omongan Yanto. Tiba-tiba wajah Mbah Rijah berubah. Matanya melotot. Ketegangan mendadak menyeruak di wajahnya.

“Nippon jahanam,” erang Mbah Rijah.  

Yuni terkejut. Ucapan Mbah Rijah sama dengan tentara yang ada dalam mimpinya.; tentara Jepang! Ya, tentara Jepang seperti yang pernah dilihatnya di film maupun gambar-gambar dalam buku pelajaran. Topi yang dikenakan tentara Nippon berbentuk panjang di kedua sisinya sehingga  menutupi telinga mereka.

“Apa yang dilakukan tentara Jepang itu, Mbah?” desak Yuni.

Yanto tampak tidak suka dengan kengototan Yuni. Ia mendorong tubuh Yuni agar segera keluar dari kamar mbahnya.

“Lihat, mbah saya sudah megap-megap, masih juga kamu cecar dengan pertanyaan seperti itu!” sempot Yanto.

“Tentara jahanam itu memperkosa Ivony dan teman-temannya,” kata Mbah Rijah. Kali ini suaranya mulai parau. Ada kesedihan teramat sangat yang menggumpal dalam dadanya.

Yuni menutup mulutnya. Cerita itu pasti memilukan bagi Mbah Rijah. Hati Yuni ikut berdesir, membayangkan sesuatu yang sangat buruk. Kini ia mulai mengerti apa yang tengah terjadi. Ya, aku dipilih Ivony untuk mengungkap kekejian yang telah mencabik-cabiknya, merenggut semuanya. Yuni pun tetap bertahan di kamar itu meski Yanto terus mendesaknya segera keluar.

“Oke, akun tidak akan tanya-tanya lagi. Tapi mohon biarkan aku di sini bersama Mbah Rijah,” ujar Yuni.

“Tidak bisa…”

“Kenapa Mas. Aku tidak akan mengganggunya la…?”

“Apa kamu mau bertanggung jawab kalau sampai terjadi apa- apa dengan mbah saya?” potong Yanto dengan nada tinggi dan kasar.  “Kalian enak saja, datang ke sini, bertanya-tanya tentang sesuatu yang bisa mengguncang jiwanya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan lanta kabur tanpa tanggung jawab, sementara mbah saya tergolek sakit!” cerca Yanto.

“Aku tidak seperti mereka, Mas,” bantah Yuni. “Aku akan bertanggung jawab untuk merawatnya.”

“Merawat? Itu kalau cuma sakit. Bagaimana kalau mbah saya meninggal?!” bentak Yanto.

Yuni terdiam. Hatinya mulai bimbang. Benar juga, pikirnya. Andai terus dipaksa, kemungkinan sakit Mbah Rijah semakin parah karena jiwanya terguncang dipaksa mengingat peristiwa yang sangat menyakitkan! Meski begitu Yuni tidak juga beranjak keluar kamar. Beberapa ibu-ibu yang tadi diam saja, kini mulai ikut bicara dan meminta agar Yuni menuruti kata-kata Yanto.

“Yanto yang bertanggung-jawab terhadap keselamatan Mbah Rijah. Jadi sebaiknya Mbak tidak lagi menanyai karena bisa berakibat fatal,” bujuk  Bu Rat.   

Yuni mengangguk. Perlahan ia menggeser kakinya dan dengan berat hati berbalik menuju pintu.