Now Loading

Dokumen Rahasia

Mendengar keinginan Yuni, beberapa kawannya mulai menjauh. Bukan sekali ini saja Yuni mengutarakan keinginannya. Dan seperti yang kemarin, teman-temannya tidak mau memberi dukungan secara terbuka meski juga tidak melarang. Mengapa mereka begitu ketakutan? Takut dipecat? pa enaknya kerja di bawah bayang-bayang kematian? keluh Yuni.

“Tidak apa-apa jika kalian tidak mau membantuku. Kali ini aku benar-benar harus bertindak. Aku harus mencari kuburan Ivony,” tegas Yuni ketika hanya tinggal beberapa orang yang ada di sekitarnya. Sebenarnya ia masih menunggu kabar dari Hanafi. Tetapi sampai hari ini belum juga memberi kabar. Apa dia juga ketakutan? guman Yuni.

“Aku mau menemanimu,” ujar Ananto tiba-tiba.

“Serius?!” seru Yuni seolah tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.

“Iya, aku mau ikut membongkar misteri kematian karyawan pabrik penerima arisan,” ulang Ananto menegaskan.

“Wah…luar biasa. Akhirnya aku punya teman,” seru Yuni.  

“Tetapi sebaiknya tidak usah mencari kuburan Ivony. Cukup membuka arsip perusahaan. Di situ pasti ada foto keluarga van Janklestein. Nanti kamu bisa cocokkan anak-anak dia yang ada dalam foto keluarga dengan Ivony yang kamu temui.”

Yuni mengangguk. Dua kali senyumnya mengembang. Ia merasa senang karena pada akhirnya ada yang mendukung untuk membongkar misteri kematian karyawan pabrik dan kaitannya dengan Ivony.

“Tapi sangat susah untuk mendapatkan arsip perusahaan. Aku sudah mencoba memintanya ke bagian humas dan dokumentasi. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban,” ujar Yuni. Sekilas ia menceritakan soal pertemuannya dengan Hanafi, pegawai di sub bagian arsip dan dokumentasi perusahaan.

“Tentu saja sulit,” ujar Ananto. “Perusahaan pasti tidak mau memberikan dokumen rahasia menyangkut perusahaan kepada sembarang orang. Jadi sebaiknya kita curi..”

“Curi?” potong Yuni dengan alis terangkat.

“Maksudku kita masuk diam-diam ke bagian arsip. Kita periksa dokumen-dokumen di sana, tidak perlu dibawa keluar. Saya sudah sering keluar-masuk ke bagian itu, jadi tahu dimana mereka menyimpan dokumen perusahaan, terutama yang sudah kuno.”

Yuni kembali mengangguk. Cara itu pasti jauh lebih mudah dari pada mencari tahu kuburan Ivony, tegas hati Yuni. “Kapan kita akan melihat dokumen itu?”

“Nanti malam saja. Kebetulan kita shift malam jadi lebih mudah masuk ke lantai atas,” kata Ananto cepat, bahkan lebih cepat dari dugaan Yuni. 

“Aku tahu beberapa dari kalian tidak mendukung ide ini,” ujar Yuni sambil mengedarkan tatapannya pada kawan-kawannya yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan dirinya dengan Ananto. “Tetapi ini salah satu cara untuk menghentikan teror kematian yang sudah menimpa teman-teman kita. Jika nanti sudah terungkap apa yang sebenarnya terjadi, mudah-mudahan arwah para korban arisan maut bisa tenang di alam sana!”

Teman-temannya mengangguk dengan tatapan kosong. Mereka salut dengan tekad dan semangat Yuni, namun di sisi lain mereka juga khawatir akan keselamatannya.

Sesuai waktu yang sudah disepakati, malam itu Yuni menyelinap ke kantor perusahaan saat jam istirahat kerja. Ananto sudah menunggu di bawah tower air. Rupanya ada pintu kecil yang bisa digunakan untuk masuk ke ruang kantor tanpa melewati pintu utama di bagian depan yang dikunci dan berada tepat di depan pos jaga satpam.

“Pintu khusus keluar-masuk petugas cleaning service,” bisik Ananto menjawab kebingungan Yuni.

Setelah berada di dalam kantor, mereka segera naik ke lantai dua. Suasana di situ sangat gelap dan sepi. Namun Yuni merasa Ivony ada di tempat itu dan tengah mengawasi mereka! Bulu kuduk Yuni mendadak merinding.  

Tiba di depan ruang penyimpanan arsip, Ananto langsung membukanya dengan kunci yang dibawanya. Setelah mereka masuk, Ananto kembali menutup pintu itu setelah terlebih dahulu mencabut anak kuncinya. Dengan penerangan sinar dari handphone mereka kemudian membuka brankas besi yang ada di ruang arsip kuno. Yuni membuka brangkas di pojok kiri sementara Ananto sibuk dengan laci-laci brangkas di dekat pintu yang menurutnya tempat khusus menyimpan arsip keluarga para pendiri perusahaan.

“Namun sebaiknya kamu buka juga brangkas itu karena mungkin juga ada dokumen lain,” ujar Ananto ketika tadi Yuni ragu-ragu.

Yuni hampir terbatuk ketika membukanya akibat kepulan debu dari tumpukan dokumen. Namun ia berhasil menahannya meski sempat gelagapan. Yuni lantas memperhatikan tiap dokumen yang ditemuinya. Beberapa di antaranya sudah berwarna kuning. Bahkan sebagian sudah tidak bisa dibuka karena lengket dengan dokumen lain. Mereka harus ekstra hati-hati memilah dan membuka dokumen-dokumen itu.     

“Mengapa foto-foto itu sudah tidak ada sini lagi?” keluh Ananto setelah puas membuka seluruh laci brangkas besi.

“Mungkin sudah dipindah ke brangkas lainnya. Atau mungkin juga posisinya yang sudah ditukar,” sahut Yuni sambil menoleh ke arah temannya. “Soalnya di brangkas ini juga tidak ada apa-apa.”

“Tidak, aku ingat betul foto-foto itu ada di brangkas ini. Posisinya masih sama dengan yang aku lihat beberapa waktu lalu,” sahut Ananto.

“Memang kamu ada urusan apa sampai membongkar dokumen-dokumen ini?” tanya Yuni menyelidik. Mendadak terbersit kecurigaan.

 Ananto sedikit gelagapan mendapat pertanyaan Yuni.

“Waktu itu kunci beberapa brangkas ini rusak. Aku disuruh memperbaikinya karena katanya ada dokumen foto yang mau diambil. Makanya aku masih memegang kuncinya ruangan ini.”

“Kalau begitu, benar dugaanku, dokumennya, maksudku fotonya sudah diambil oleh pegawai bagian arsip.”

“Tidak mungkin…tidak mungkin,” kata Ananto sambil geleng-geleng kepala.

“Kok tidak mungkin?” tanya Yuni heran. Rupanya Ananto tahu banyak soal dokumen di sini, pikirnya.

“Awalnya brangkas ini tidak bisa dibuka. Selama beberapa hari aku mengakalinya dengan mengoleskan cairan pembersih karat. Tiga hari kemudian baru bisa dibuka. Namun saat saya lapor ke Pak Hanafi, beliau malah marah karena katanya sudah terlambat. Orang yang mencari foto itu sudah pulang ke Belanda.”

“Ke Belanda?” Mulut Yuni ternganga. Mungkinkah yang mencari foto itu orang-orang yang mengaku sebagai keturunan van Janklestein, pendiri pabrik ini?

“Iya, mereka orang Belanda. Katanya masih cucu atau cicit pendiri pabrik ini. Karena yang membutuhkan sudah tidak ada, brangkas-brangkas di sini kemudian ditutup lagi, tapi tidak dikunci makanya sekarang kita bisa membukanya. Cuma aku heran, mengapa tidak ada satu pun foto di sini,” ujar Ananto lirih, seolah ucapannya itu ditujukan hanya untuk dirinya sendiri.

Yuni mendekat dan ikut memeriksa isi brangkas di depan Ananto. ternyata isinya hanya kertas-kertas tanpa tulisan apapun. “Sepertinya ini kertas baru,” ujar Yuni.

“Iya, kertas ini baru diletakkan di sini. Mungkin tiga atau empat hari lalu. Pertanyaannya mengapa mereka memindahkan dokumen itu?”

Yuni ikut-ikutan bingung. Lama keduanya hanya berdiri mematung di tempat itu.

“Kita harus segera balik ke tempat kerja. Jam istirahat hampir habis,” ujar Yuni memecah kebisuan.

Ananto mengangguk. Keduanya bergegas hendak keluar. Ananto mengeluarkan anak kunci untuk membuka pintu. Tidak bisa!!

“Seperti ada yang mengganjal!,” bisik Ananto.

Wajah keduanya mendadak tegang. Yuni meraih pegangan pintu dan mencoba membukanya berulang-ulang, tapi tetap tidak bisa. Lampu di ruangan itu tiba-tiba menyala. Sontak Yuni menjerit histeris ketika melihat Ivony tengah bersandar di brangkas besi yang tadi dibukanya.

“Hantu..han..hantuuuu!” teriak Yuni.

Ananto ikut memekik. Ia memukul-mukul pintu sambil berteriak meminta tolong. Namun sampai suaranya serak, tidak ada tanda-tanda orang yang mendekat.

Ivony tersenyum. Namun senyumnya begitu sayu. Tidak ada cahaya di sana. Ivony kemudian berjalan kea rah Yuni. “Kenapa kamu takut?” tanya Ivony sambil menepuk bahu Yuni.

“Mba..Mba Ivony hantu!” jerit Yuni.

Terdengar Ivony menghela nafas panjang.

“Katanya kamu mau mencari kuburanku?” tanyanya.

Yuni mengangguk ketakutan.

“Mengapa kamu mencari kuburanku? Apakah kamu mengira aku terlibat dalam pembunuhan karyawan yang mendapat arisan?” tanya Ivony.

Yuni menggeleng.

“Jawab yang jujur!” Intonasi suara  Ivony tetap sama, namun Yuni dan Ananto bisa merasakan nada amarah di dalamnya.

“Aku…aku…” Yuni tidak bisa meneruskan kalimatnya karena keburu Ivony menghilang dan ruangan kembali gelap. Ivony sempat menyebutkan satu kata tapi Yuni tidak dapat mendengarnya dengan jelas karena dari luar ruangan terdengar gedoran yang sangat keras, disusul kemudian tendangan pada daun pintu.

Seketika daun pintu itu terbuka bersamaan dengan lampu menyala. Beberapa orang langsung menyerbu masuk. Empat security yakni Paimun, Rujito, Bahrun dan Sarno- pengganti Parjo, berada di urutan terdepan. Sorot lampu senter mereka serentak menghujam wajah Yuni dan Ananto.

“Mengapa kalian masuk ke sini tanpa ijin?!” bentak Bahrun.

Yuni dan Ananto gemetaran. Meski sama-sama menakutkan, namun ketakutan mereka pada satpam-satpam itu melebihi dari ketakutannya pada sosok Ivony. Jika sampai kasus ini diketahui pimpinan, pasti keduanya akan dipecat. Membayangkan hal itu, bibir mereka menjadi kelu.   

“Ayo jawab! Mau mencuri ya?” susul Rujito.

Terdengar dengungan beberapa orang yang tidak bisa masuk ke ruangan itu. Rupanya banyak juga karyawan yang ikut menyerbu ke situ karena tadi Sarno sempat berteriak ada pencuri masuk ke ruang kantor bagian atas.

“Mau indehoy ya?” celetuk seseorang diikuti tawa berderai sejumlah karyawan.

“Sudah..sudah, kita bawa ke pos saja,” saran Paimun.

Layaknya pencuri sandal, keduanya kemudian di arak ke pos satpam. Para karyawan yang ikut dalam penggrebekan itu disuruh kembali ke tempat kerja masing-masing karena waktu istirahat sudah habis.

“Sekarang kalian mengaku saja, mengapa malam-malam begini berada di ruang arsip? Mau berbuat mesum ya?”

Yuni dan Ananto yang dipaksa duduk di lantai saling pandang. Mereka saling memberi kode dengan gerakan bola mata. Keduanya lantas mengangguk.

“Oh, jadi kalian mau berbuat mesum. Tapi mengapa kemudian kalian berteriak-teriak?”

“Iya, kami mau pacaran,” ujar Yuni setelah bisa mengatur nafas. Mengaku pacaran lebih aman dari pada menceritakan tujuan sebenarnya. Paling-paling malu, tetapi tidak akan sampai dipecat, pikir mereka berdua.  

“Tapi ketika kami sedang ngobrol, tiba-tiba ada hantu. Kami ketakutan, apalagi pintunya mendadak terkunci,” sambung Ananto.

“Bagaimana kalian bisa masuk ke sana?” tanya Bahrun.

Sekilas Ananto menceritakan bagaimana dirinya bisa memegang kunci ruangan itu. Rupanya penjelasan Ananto dan Yuni bisa diterima Bahrun dan kawan-kawannya. Apalagi cerita soal hantu bukan hal baru sehingga mereka pun mempercayainya. 

“Tapi benar kan kalian bukan hendak mencuri?”

“Apa yang mau kami curi Pak? Di ruangan itu tidak ada apa-apa, kecuali kertas lapuk,” kata Ananto meyakinkan dalihnya. Kali ini nada bicaranya sudah normal. Apalagi mereka sudah diperbolehkan duduk di bangku panjang yang ada dalam ruangan.

“Kalau begitu, silahkan kalian kembali ke tempat kerja masing-masing. Tapi awas, jangan sampai mengulangi perbuatan ini lagi. Kali ini cukup kami yang memberi peringatan.  Jika kalian mengulanginya, kami akan laporkan ke bagian HRD,” ancam Bahrun.

Yuni dan Ananto serempak mengangguk. Setelah menyalami para security yang kemudian meledeknya dengan candaan jorok, mereka bergegas menuju ke tempat kerja masing-masing. Sepanjang jalan, Yuni berusaha keras mengingat kata terakhir yang diucapkan Ivony. Sepertinya kata itu menunjuk ke suatu tempat atau mungkin nama seseorang.

“Aku tidak mendengarnya,” kata Ananto ketika Yuni bertanya soal itu.

“Dia seperti menyebut kata ijah atau mijah. Aku yakin itu merujuk ke suatu tempat atau seseorang.”

“Jadi kamu masih mau mencaritahu soal Ivony?”

Yuni mengangguk.

“Entahlah. Aku tidak mau ikut lagi. Sudah kapok,” kata Ananto sebelum mereka berpisah di ujung bangunan karena Yuni harus masuk ke gedung di sebelah kiri sementara Ananto menuju ke gedung maintenance di depan sana.

Sepanjang malam itu Yuni terus berusaha menghimpun ingatannya pada kata terakhir yang diucapkan Ivony. Entah mengapa, ia berpikir kata itu akan membuka jati diri Ivony. Semacam penunjuk jalan. Yuni lantas menceritakan hal itu kepada beberapa teman kerjanya yang sudah tahu rencana penyusupan ke ruang arsip itu.  

 “Mungkin yang dimaksud Mbah Rijah,” ujar Tarsiah.

“Kamu kenal?”

“Mungkin saja. Sebab di kampung belakang pabrik ada dukun beranak namanya Mbah Rijah. Tapi orangnya sudah sangat sepuh. Katanya umurnya sudah 100 tahun lebih.”

Yuni mengangguk-angguk. Besok saya mau ke kampung itu, katanya dalam hati.