Now Loading

Dua Kematian

Sore itu suasana pabrik mendadak riuh. Pasalnya, arisan kali ini akan dikocok di tempat kerja. Mereka ingin menjadi orang pertama yang mengetahui siapa yang mendapat arisan. Meski tidak bisa menyembunyikan kecemasan akan kematian karyawan yang mendapat arisan, namun tetap saja mereka sangat antusias.

“Biarlah aku mati yang penting sudah dapat arisan,” celetuk salah seorang karyawan.

“Hush..jangan ngomong begitu. Tuhan yang menentukan kapan kita akan mati, bukan arisan ini!” bentak rekannya.

Beberapa orang tertawa. Namun sisanya cemberut karena ketakutan. Siapa yang mau nyawanya dikocok dalam arisan seperti ini? Ketika akhirnya keluar gukungan kertas dan dibacakan nama yang tertera di situ, seketika terdengar dengungan layaknya lebah pindah sarang. Ya, kali ini giliran Lia yang mendapat arisan. Karena Lia kerja shift malam, uang itu tidak ada yang mengambil.

“Siapa yang mau mengantarkan uangnya ke rumah Lia?” tanya Pak Mardi.

“Biar saya saja, Pak,” ujar Rahayu.

Pak Mardi menyerahkan uang dalam amplop coklat. “Hitung dulu jumlahnya. Setelah keluar dari sini, komplain tidak diterima lagi,” canda Pak Mardi seperti teller bank.

Namun Rahayu enggan membukanya. Ia memasukkan amplop ke dalam tas dan memastikan uangnya aman. Namun setelah keluar areal pabrik, Rahayu baru ingat dia sudah janji akan membelikan kado ulang tahun buat teman anaknya. Acara ultahnya besok pagi di sekolahan, jadi tidak mungkin menundanya. Lagi pula besok ia masuk kerja pagi. Rahayu bergegas naik angkot ke arah kota. Uang Lia aku antar nanti malam saja, pikirnya.

Setelah membeli kado, Rahayu langsung pulang. Namun sebelum sampai di rumah ia belok ke perumnas di mana Lia tinggal. Rumah Rahayu sendiri berada di belakang perumnas. Mudah-mudahan Lia belum berangkat kerja, harapnya dalam hati.

Sampai di depan rumah Lia suasana agak sepi karena menjelang Magrib. Tetangga kanan-kirinya juga tidak ada yang berada di luar rumah. Rahayu mengetuk pintu sambil memanggil nama Lia. Tidak ada sahutan. Sesaat hatinya berdebar karena pintunya tidak tertutup rapat. Rahayu mendorongnya sedikit sambil mengulangi panggilannya. Tetap tidak ada sahutan. Ketika daun pintu itu terbuka cukup lebar, sontak Rahayu menjerit histeris. Tubuh Lia terbujur tanpa busana di depan pintu. Kepalanya sempat tersentuh daun pintu. Darah tercecer dimana-mana. Tampaknya Lia baru saja dibunuh. Darah di lehernya masih mengalir. Bahkan jari tangan kanannya masih tampak bergerak=gerak.

“Lia! Tolong...tolong….!” Jerit Rahayu sambil berlari ke halaman.

Beberapa orang keluar dari rumah dan langsung berlari ke dalam rumah Lia. Namun tidak ada yang berani memberikan pertolongan. Meski Lia masih sekarat, mereka yakin nyawa Lia tidak mungkin lagi bisa diselamatkan. Batang lehernya nyaris putus. Di bagian dada juga terdapat luka seperti tusukan benda tajam. Beberapa ibu-ibu hanya menutup tubuh Lia dengan kain panjang yang diambil dari jemuran.

“Cepat telepon polisi,” kata seseorang.

“Di mana suaminya?” timpal sejumlah orang. Namun tidak ada yang memberikan jawaban. Suasana semakin histeris ketika dari dalam rumah terdengar suara dua anak Lia. Beberapa orang masuk. Rupanya kedua anak Lia disekap dalam kamar. Warga membuka paksa pintunya karena kuncinya tidak ada. Warga lantas mengendong kedua anak Lia yang masih kecil sambil menutupi wajahnya agar mereka tidak melihat kondisi ibunya.

Ketika polisi datang, tubuh Lia sudah tidak bergerak-gerak. Hampir dua jam polisi melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mencari sidik jari dan juga jejak para pelaku. Namun tidak ada tanda-tanda pelaku masuk ke dalam rumah secara paksa. Tidak ada jendela maupun pintu yang rusak kecuali pintu kamar yang tadi didobrak warga.

Polisi kemudian memasang police line. Mas Dudi, suami Lia, tampak sangat terpukul. Namun polisi tetap melakukan pemeriksaan intensif karena satu-satunya orang yang sangat mungkin melakukan pembunuhan terhadap LIa hanya suaminya. Kedua anak almarhumah sudah dibawa ke kampung oleh orang tua Lia. Sementara diam-diam tetangga kanan-kiri Lia mengungsi karena setiap malam mereka mendengar suara Lia yang sangat menyayat.

“Suaranya seperti orang yang sedang dicekik,” kata Nur yang diamini beberapa ibu-ibu yang sedang memesan bakso Marno di perempatan kompleks perumahan. Dari situ rumah Lia terlihat sama-samar karena tidak ada penerangan. Sejak diperiksa polisi, suami Lia belum pernah pulang.

“Iya, bahkan aku sempat mendengar bunyi seperti golok yang sedang dipakai untuk mencincang sesuatu. Almarhumah Lia menjerit-jerit tapi suara sayatan golok itu tidak berhenti, bahkan semakin keras,” tambah lainnya.

“Mungkin hanya perasaan ibu-ibu saja,” ujar Marno.

“Huh…Mas Marno tidak pernah ditakuti sih. Coba kalau dengar sendiri, merinding semua bulu kita,” sergah Nur.

Marno cuma angkat bahu. Ia kembali sibuk melayani pesanan bakso sehingga tidak menghiraukan lagi candaan pelanggannya.

“Mas Marno, pesan satu. Kosong ya,” ujar seseorang.

“Iya,” jawab Marno tanpa menoleh. Keringat mulai bercucuran dari dahinya karena uap panas dari panci kuah yang mendidih.

“Antar ke sebelah.”

“Ya..”

Selesai membuat bakso tanpa mie, Marno lantas membawanya ke sebelah. Namun ia tertegun. Ke sebelah mana? Ibu-ibu yang tadi mengerubuti sudah tidak ada lagi. Marno mengunci laci tempat uang lantas berjalan ke arah pohon jambu ke rumah di ujung jalan ketika ia melihat seseorang melambaikan tangannya.

Namun setelah sampai di tempat itu ternyata orang tadi melambaikan tangan sudah tidak ada. Marno mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tidak ada siapa-siapa. Marno menoleh ke rumah Lia yang berada di deberang jalan. Dari dalam rumah tampak seseorang melambaikan tangan. Wajahnya perempuan itu sangat cantik. Rambutnya panjang terurai. Marno sangat mengenal perempuan itu. Ya, itu Lia. Marno pun mundur dengan tubuh gemetar. Mangkok berisi bakso di tangannya terjatuh.

“Han..han...tu…!” teriaknya.

Sontak perumahan itu geger. Sejumlah orang berusaha menolong Marno yang nyaris pingsan. Malam itu atas kesepakatan semua warga, rumah Lia diberi penerangan. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang diganggu arwah almarhumah. Terlebih ketika polisi akhirnya bisa mendapat petunjuk siapa tersangka pembantai Lia.

“Suaminya curiga Lia berselingkuh. Dia lantas menyuruh seseorang untuk membuntutinya. Namun orang tersebut justru menaruh hati pada Lia. Dia lantas menceritakan semua pada Lia. Merasa sakit hati dengan kecurigaan suaminya, Lia pura-pura menerima cinta orang itu. Dari situlah keduanya terlibat affair,” ujar Bu Rumi kepada ibu-ibu yang mengerubuti.

“Terus siapa yang membantai almarhumah?”

“Ya suami Lia, Mas Dudi. Mereka sempat bertengkar sebelum kemudian terjadi pembantaian. Untuk menghilangkan kecurigaan, posisi mayat Lia dibuat seolah habis diperkosa dan kemudian dibunuh oleh teman dekatnya. Mas Dudi juga yang cerita soal affair itu kepada penyidik polisi,” terang Bu Rumi dengan bangga karena dialah yang paling tahu persoalan yang tengah jadi perbincangan hangat ibu-ibu kompleks. Dia tidak tahu jika kata affair yang digunakan tidak tepat. Bu Rumi ikut-ikutan menggunakan kata itu biar terdengar hebat.

“Kasihan anak-anaknya,” celetuk salah seorang ibu yang segera mendapat dukungan lainnya.

Kini warga merasa lega setelah terungkap dengan jelas pelaku pembantaian Lia. Namun tidak demikian halnya dengan teman-teman kerjanya, terutama Rahayu. Ia terus menyesali keterlambatannya mengantarkan uang arisan itu. Andai aku tidak mampir beli kado, pasti Lia masih hidup, sesalnya. Rahayu sudah memberikan uang arisan milik Lia kepada polisi saat ia diperiksa sebagai saksi. Polisi kemudian memberikan pada keluarga Lia.

“Rahayu, kamu dapat arisan!” seru rekan kerjanya.

“Apa?” Rahayu balik bertanya. Sejak kematian Lia, Rahayu lebih banyak melamun baik di rumah maupun di tempat kerja.

“Iya, kamu dapat arisan. Tadi sudah dikocok di atas oleh Pak Mardi,” terang temannya.

Rahayu tersenyum. Mendadak hatinya merasa senang. Ada banyak tagihan yang harus ia bayar dan uang arisan inilah solusinya. 

Rahayu membagi-bagikan uang arisan itu secara merata. Meski belum seluruh hutangnya lunas, namun kini sudah jauh berkurang. Sisanya bisa ditutup dengan gaji bulan depan, pikirnya. Tidak heran jika kemudian Rahayu menjadi riang. Beberapa kali Rahayu terlihat tertawa bersama teman-teman kerjanya saat istirahat jam makan siang. Perubahan itu tentu menyenangkan buat teman-temannya.

“Mba Rahayu seperti mintoni,” canda temannya. Mintoni bisa diartikan sebagai sikap seseorang yang mendadak berubah 180 derajat karena dirinya sudah merasakan akan datangnya ajal.

“Hidup kan harus berubah. Aku yang sekarang bukan aku yang dulu,” balas Rahayu.

Perubahan itu juga membuat kaget suaminya. Tiba-tiba saja Rahayu sering masak enak. Padahal sebelumnya Rahayu paling irit dalam hal makan.

“Kamu kenapa mendadak berubah seperti itu?” tanya suaminya ketika sore itu mendapati Rahayu sudah berdandan. Sudah lama suaminya tidak pernah melihat Rahayu pakai make up. Mungkin sejak melahirkan anak pertamanya, 10 tahun lalu.

“Masa mau bikin kenangan saja tidak boleh,” balas Rahayu.

“Kenangan? Memangnya kamu mau kemana?”

Rahayu tertawa. “Ya ngga kemana-mana. Aku sekarang merasa lega setelah bisa mengatasi masalah utang kita yang menumpuk itu. Tiap bulan hanya bisa bayar bunganya. Sekarang aku sudah tenang kalau pun nyawaku diambil…”

“Sttt…! Kamu ngomong apa, Bu?” bentak suaminya.

Rahayu kembali tertawa. Dia tidak merasa ada yang aneh dengan ucapannya. “Bercanda saja, Mas.”

“Bercandanya jangan kelewatan seperti itu,” kata suaminya masih dengan nada tinggi.

Rahayu melengos. Malam itu ia mendekap suaminya dengan sangat erat. Tidak terasa air matanya mengalir. Namun suaminya tidak tahu karena dia sudah tidur. Tengah malam Rahayu bangun karena tenggorokannya kering. Ia ingin minum. Dipandanginya wajah suaminya. Rasanya dia bukan suami lagi, tapi sudah seperti saudaranya saja. Selama membina rumah tangga hampir 15 tahun, hampir tidak pernah mereka bertengkar. Kalau pun terpaksa adu mulut, hanya sesaat dan setelah itu sama-sama melupakannya. Aku sangat bahagia mendapat suami seperti dia, ujar Rahayu. Tiba-tiba ia ingin mencium pipi suaminya. Namun niat itu diurungkan karena takut suaminya terbangun.

Rahayu keluar dari kamar sambil mengucek mata. Ia sempat melongok kamar tidur anaknya. Ketiga anaknya sudah tertidur sejak sore. Meski ranjang itu cukup besar, namun tampak sudah kekecilan dipakai tidur oleh mereka. Ah, anak-anakku sudah besar, pikir Rahayu.

Rahayu terus melangkah ke dapur. Ia mengambil gelas dari rak. Tangan kirinya meraih pegangan pintu kulkas. Namun ketika ia hendak membuka, Rahayu mendengar seseorang memangglnya. Rahayu tidak jadi membuka kulkas. Ia menajamkan pendengarannya.

“Mbak Rahayu…!” panggil seseorang dari balik pintu.

Siapa yang datang malam-malam begini? pikir Rahayu. Namun ketika panggilan itu kembali terdengar, Rahayu segera menuju pintu yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang. Sebenarnya bukan halaman karena luas tanah di belakang rumahnya hanya satu meter. Banyak tanaman palawija seperti cabe dan juga tomat di situ yang ditanam suaminya. Di ujung kebun yang berbatasan dengan jalan setapak yang dilapisi paving block, diberi pagar bambu.

Rahayu membuka daun pintu itu. Ia kaget bukan kepalang. Namun ia agak ragu dengan pandangannya. Rahayu mengucek-ucek matanya. Namun sosok di depannya tidak juga berubah.

“Lia?” kata Rahayu dengan nada tercekat. Tatapan mata Lia tampak sayu. Ada bulatan hitam di sekitar matanya. Bajunya putih bersih. Hanya rambutnya yang tampak awut-awutan.

“Iya, saya mau mengajak Mbak Rahayu.”

“Kemana? Bukankah kamu sudah meninggal?”

“Iya, saya kesepian. Saya ingin ditemani.”

“Bagai…bagaimana caranya?”

Lia terdiam. Ia melangkah mendekati Rahayu. Jarak keduanya kini hanya beberapa centimeter.

“Mbak haus?” tanya Lia.

Rahayu mengangguk.

“Minumlah itu,” kata Lia sambil menunjuk ke botol di atas rak yang menempel di tembok belakang rumah. Rak itu cukup tinggi sehingga tidak bisa dijangkau anak-anak. Mulanya Rahayu sedikit ragu. Namun ketika dilihatnya Lia kembali mendesak, Rahayu pun berubah pikiran.

“Ba…baiklah,” kata Rahayu. Ia meraih salah satu botol yang ada di situ, lantas membuka tutupnya dan menenggak isinya sampai tandas.

“Sekarang, ayo ikut aku, Mbak.”

Rahayu mengangguk. Tubuhnya oleng dan sesaat kemudian ambruk menimpa daun pintu.

Kerasnya bentur tubuh Rahayu pada daun pintu membuat suaminya terbangun. Namun semuanya sudah terlambat. Ketika tiba di belakang rumah, dia menemukan tubuh Rahayu tengah kejang menjemput sakaratul maut.  Mulutnya mengeluarkan busa bercampur darah.

“Bu, bangun! Istigfar bu!” jerit suaminya.

Seketika tetangganya berdatang mendengar jeritan suami Rahayu.

“Mengapa kamu minum racun, bu! Apa salah saya sampai kamu tega meninggalkan saya dan anak-anak?!” cercau suami Rahayu. Ia terus menyesali mengapa dirinya menyimpan racun pestisida yang biasa digunakan untuk menyemprot tanaman, di tempat itu.

“Sudah…sudah. Ayo kita pindahkan mayat Rahayu ke dalam,” ujar seseorang. Beberapa tetangganya lantas menenangkan suami Rahayu sementara lainnya menggotong tubuh Rahayu yang sudah kaku ke ruang tengah. Dibaringkan di depan pintu lantas ditutupi kain panjang. 

Siang itu puluhan rekan kerja Rahayu melayat. Mereka tampak begitu terpukul. Rahayu yang dalam beberapa hari ini ceria, justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang teramat tragis. Benar-benar di luar dugaan siapa pun.

“Kematian Lia sepertinya memang tetap akan terjadi andai pun Mbak Rahayu datang lebih awal. Ini ada kaitannya dengan arisan yang baru diterimanya,” kata Yuni usai pulang melayat ke rumah duka. “Rahayu sempat menyesali kedatangannya ke rumah Lia  yang katanya terlambat. Dan sekarang dia bunuh diri. Artinya kematian Lia maupun Rahayu ada kaitannya dengan arisan di pabrik, bukan masalah terlambat atau tidak. Kematian itu seperti dipercepat bagi setiap karyawan yang sudah mendapat arisan!”

“Ya, dua karyawan yang menerima arisan meninggal dengan cara yang sangat tragis. Korban akibat arisan ini terus bertambah, meski sempat beberapa di antaranya tidak meninggal.”

“Mungkin mereka yang selamat dimaksudkan sebagai pengalihan oleh pelakunya…”

“Maksudmu?” tanya seseorang memotong ucapan Yuni.

“Dulu ketika kita protes, langsung tidak ada penerima arisan yang meninggal. Nah, sekarang terjadi lagi. Aku harus bertindak,” desis Yuni.