Now Loading

Bimbang

Sampai tiga hari kemudian Yuni belum juga mendapat kabar soal Ivony dari bagian humas. Bahkan Yuni merasa sekarang semua pagawai yang bekerja di bagian gedung depan- dari bagian administrasi, keuangan, personalia sampai humas, seperti memata-matainya. Ada apa sebenarnya? Siapa Ivony? Benarkah yang menemuinya itu hantu Ivony? Apa kaitannya kematian karyawan pabrik dengan kemunculan roh Ivony? Semakin lama Yuni semakin curiga, sosok Ivony ada kaitannya dengan arisan maut. Ada ritual hitam, mungkin semacam ritual memanggil arwah dengan tumbal para karyawan, yang tengah dilakukan para pembesar pabrik.  

“Saya takut, Yun. Saya tidak mau ikut,” jawab Poniyem saat Yuni menemuinya di kantin.

Jawaban senada juga diberikan semua orang yang Yuni minta untuk menemaninya menyelidiki keberadaan Ivony. Ada dua ketakutan sekaligus yang menjadi alasan mereka; takut dipecat karena dianggap melakukan penyelidikan illegal terhadap keluarga pendiri perusahaan dan takut pada sosok Ivony. Meski belum pernah bertemu, namun cerita Yuni sudah cukup membuat mereka yakin jika Ivony berasal dari dunia lain, dunia gaib.

“Aku juga tidak ikut,” sambung Turen.

“Tapi hal ini harus bisa segera kita ungkap sebelum jatuh korban lagi,” kata Yuni meyakinkan.

“Belum tentu ada kaitan antara Ivony dengan arisan. Dunia kita berbeda dengan dunia Ivony,” bantah Turen mencoba memberikan alasan, meski nada bicaranya ragu-ragu.

“Terserah kalian saja. Tetapi dengan atau pun tanpa kalian, aku tetap akan melakukan penyelidikan,” tegas Yuni.

“Bagaimana caranya?” tanya Trimo.

“Kamu mau ikut, Mo?”

“Kasih tahu dulu cara. Kalau tidak terlalu beresiko, saya mau ikut!”

“Bagus! Terima kasih, Mo,” sahut Yuni senang. “Pertama-tama kita akan mencari tahu kebenaran hubungan Ivony dengan keluarga van Janklestein, pendiri pabrik tekstil ini. untuk itu kita harus menemukan kuburan Ivony…”

“Tidak…. tidak!” potong Trimo cepat. “Kalau urusan kuburan, saya tidak mau ikut!”

“Kita harus mencari kuburannya karena pada papan nisa pasti ada keterangan mengenai keluarganya. Jika benar dia anak Janklestein, tentu akan tertulis Ivony van Janklestein,” kata Yuni sok tahu.

Namun penjelasan itu tidak membuat Trimo berubah pikiran. Ia tetap tidak mau ikut sehingga Yuni hanya bisa mengangkat bahu meski hatinya kesal. Katanya laki-laki, tapi kuburan saja ditakuti, rutuknya dalam hati.

Yuni sudah hampir putus asa mengajak teman-temannya untuk membongkar segala keanehan yang terjadi di pabrik tempat mereka bekerja. Sebenarnya ia ingin melakukan penyelidikan sendiri, namun ia tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang seluk-beluk pabrik. Tidak enak juga rasanya jika harus mengendap-endap sendiri mencari kuburan Ivony. Pasti dirinya yang balik dicurigai karena dikira sedang melakukan ritual gaib. Huft!

Usai makan, Yuni sengaja tidak langsung meninggalkan kantin. Kali ini ia berharap Ivony akan muncul lagi. Yuni memastikan dirinya dalam kondisi sadar. Ia memfokuskan perhatiannya pada Bik Rum, penjual bakso dan soto tempatnya makan. Dulu penjual di kantin ini hanya satu orang, istri salah satu manajer. Namun karena menunya monoton, karyawan protes. Akhirnya sejumlah pedagang diijinkan berjualan di kantin. Bik Rum sendiri awalnya berjualan di depan pabrik. Setelah kebijakan itu, dia pun ikut berjualan di kantin.

“Lagi nunggu siapa, Mbak Yuni?” tanya Bik Rum.

“Tidak, Bik. Malas saja mau istirahat di dalam.”

“Dulu sewaktu masih ada Mas Tobi, enak ya, ada yang menemani Mbak Yuni ngobrol,” kata Bik Rum lagi.

Tobi? Sesaat wajah laki-laki itu melintas. Yuni mengusap wajahnya untuk mengusir bayangan mengerikan itu. Yuni ikut diperiksa polisi karena dianggap sebagai saksi kunci atas tragedi itu. Awalnya polisi menduga Tobi jatuh karena didorong oleh seseorang dan saat itu tidak ada orang lain di eskalator kecuali Yuni. Namun entah mengapa, belakangan polisi meralat keterangannya dengan mengatakan Tobi murni jatuh karena kehilangan keseimbangan saat turun dari eskalator.

“Mengapa orang baik cepat mati ya?” guman Bik Rum.

Yuni mengangkat bahu. Sesaat kemudian dia berdiri lalu mendekati Bik Rum. “Bik Rum pernah lihat cewek bule makan di kantin ini?”

“Cewek bule? Belum. Kenapa?”

“Coba diingat-ingat lagi,” desak Yuni.

Bik Rum menggeleng.

***

“Aku tidak masuk kerja dulu, Li” ujar Yuni ketika Lia mengajaknya ke pabrik. Hari ini giliran masuk shift malam. Namun entah mengapa firasatnya mengatakan besok akan terjadi sesuatu yang menghebohkan. Ya, besok arisan akan kembali dikocok. Apakah penerima arisan besok juga akan menemui ajal?

“Akhir-akhir ini kamu sering tidak masuk kerja. Ada apa Yun?” tanya Lia.

Meski sudah punya 2 anak, tapi penampilan Lia masih seperti ABG. Wajahnya imut, dengan tinggi badan kurang dari 160 cm. Salah satu kebiasaan Lia yang membuat kawan-kawannya jengkel adalah pola makannya yang sangat ketat. Lia hanya makan nasi sekali sehari yakni pada hari. Sementara paginya ia cukup minum air teh tanpa gula dan malamnya makan buah. Jika tidak ada buah, Lia memilih tidak makan apapun. Makan apapun di malam hari bisa menjadi racun bagi tubuh kita, katanya. Racun yang dimaksud adalah kegemukan. Lia akan sangat heboh berat badannya bertambah setengah kilogram saja.

“Aku mungkin akan keluar,” ujar Yuni setelah Lia lama menunggu.

“Jangan macam-macam. Katanya kamu mau nyicil beli tanah di kampung buat persiapan merit,” ingat Lia.

“Entahlah. Aku sudah tidak kuat dengan situasi kerja di pabrik. Aku merasa akan menjadi korban berikutnya, entah kapan. Hanya saja cepat atau lambat pasti akan tiba waktunya. Itu sebabnya aku pikir, aku harus bergerak cepat agar bisa menghindarinya. Tetapi tidak ada yang mau mendukung…”

“Bukan tidak mau mendukung, tapi resikonya yang terlalu berat,” sela Lia.

“Resiko apa? Dimakan hantu Ivony?”

“Hush…tidak baik ngomongin begituan,” ujar Lia serius. “Ini menyangkut status kita sebagai karyawan. Jika kita ketahuan menyelidiki sesuatu yang belum jelas, apalagi menyangkut pendiri pabrik, bisa-bisa nanti kita dipecat.”

“Apa hubungannya?”

“Ya dikiranya kita mencurigai pihak kantor- bos-bos itu, sebagai penyebab meninggalnya beberapa karyawan setelah menerima arisan…”

“Jika itu memang untuk kebaikan kita bersama, apakah salah? Jika pemilik atau bos-bos di kantor memang tidak terlibat dalam horor ini, mestinya pihak pabrik justru wajib berterima kasih kepada kita.”

“Terserah kamu saja, Yun. Aku tidak mau ikut-ikutan. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kondisi rumah tanggaku. Aku masih perlu mengumpulkan uang untuk membantu suamiku mencicil rumah BTN,” kata Lia sambil pamit.

Yuni mengangguk. Namun malam itu ternyata Yuni tidak bisa tidur. Kamar kontrakan itu terasa begitu panas dan pengab meski Yuni sudah menghidupkan kipas angin duduk di atas buffet . Tidak ada keinginan untuk menonton TV. Tidak ada acara yang menarik baginya. Semua acara itu-itu saja. Bahkan sinetronnya hanya pengulangan dari cerita-cerita yang pernah ada sebelumnya. Demikian juga acara hiburannya. Kalau pun ada yang baru, pasti adopsi acara serupa di luar negeri.

Aku harus melakukan sesuatu, meski sendiri, pikir Yuni. Perutnya melilit minta diisi. Ia ingat Lia dengan segala ceramahnya tentang makan malam. Yuni tersenyum kecil. Memangnya kalau perempuan gendut tidak akan ada laki-laki yang mau? pikir Yuni geli. Enak benar jadi laki-laki! Perempuan harus diet, menjaga pola makannya dengan ekstrim supaya badannya tidak melar. Tapi laki-laki bebas makan dan boleh gendut, cercau Yuni dalam hati. Namun Yuni juga heran dengan badannya. Meski ia tidak membatasi pola makannya, badannya ternyata tidak juga gemuk. Bahkan boleh dibilang terlalu kurus karena beratnya hanya 45 kilogram sementara tingginya hampir 163 cm.     

Yuni bangun dari tempat tidur. Dengan langkah gontai ia beranjak ke dapur untuk membuat mie rebus. Sampai di dapur yang hanya berbatas dinding triplek dengan kamarnya, Yuni menyalakan kompor gas dan menaruh panci berisi air di atasnya. Setelah airnya cukup panas, Yuni memasukan mi instan berikut bumbunya. Setelah mienya siap, Yuni lantas ganti memasang wajan untuk menggoreng telur. Ia tidak suka makan telur yang langsung dicampurkan dengan mie. Amis telornya masih berasa, alasan Yuni ketika ada teman yang bertanya.

Tidak ada meja atau kursi di dapur karena ruang dapurnya terlalu sempit untuk ditaruh barang seperti itu. Yuni pun membawa piring berisi mie ke kamar. Ya, tidak ada ruang lain selain dapur, kamar tidur dan ruang depan yang juga sempit.         

Kaki kanan Yuni sudah terangkat hendak menapak ke dalam kamar berdaun pintu kain itu, ketika mendadak ia menghentikannya. Mulut Yuni ternganga. Piring di tangannya jatuh. Karuan saja kakinya terciprat air mie rebus yang masih panas. Namun ketika akhirnya dia bisa memekik, maka itu bukan karena rasa panas air mie rebus, tapi lebih pada sosok yang tengah duduk di tempat tidurnya.

“Hai…” sapa Ivony sambil tersenyum.

Yuni mundur dua langkah. Namun tatapan matanya tetap terarah pada sosok Ivony yang tengah duduk santai di tepi tempat tidurnya. Mulutnya ternganga. Rasa takutnya yang amat sangat terbayang jelas pada wajahnya. Namun hatinya ragu. Apa yang ditakutkan? Wajah Ivony begitu cantik. Persis noni-noni Belanda jaman dulu yang pernah dilihatnya di film perjuangan tempo doeloe. Bedanya, Ivony tidak memakai topi anyaman berbentuk bundar dengan tambahan renda dan bunga. Penampilan Ivony lebih modern meski tetap saja ketinggalan jaman jika dibanding dengan cewek jaman sekarang. Tas kecil yang dibawanya juga sudah ketinggalan jaman.

“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” sapa Ivony lagi setelah dilihatnya Yuni hanya diam terpaku di depan pintu kamar.

“Eh anu, Mba Ivony masuk dari mana?” tanya Yuni gagap.

“Loh…kok masuk dari mana yang kamu tanyakan? Tentu dari pintu depan. Tadi saya ketok, tapi tidak ada sahutan. Kemudian aku panggll nama kamu. Ada sahutan dari dapur yang menyuruhku untuk masuk karena pintunya tidak dikunci. Nah, aku lantas masuk dan duduk di sini,” terang Ivony. Mimiknya tak kalah terkejut.

“Tapi..tapi aku tidak mendengar suara Mba Ivony, apalagi menyuruh masuk…”

“Oh…jadi kamu mengira mau maling duit kamu? Atau baju kamu? Baiklah, saya keluar saja,” ujar Ivony dengan nada tersinggung. Ia berdiri dan bersiap keluar dari kamar.

“Bukan…bukan itu. Tunggu dulu, Mba, nanti aku jelaskan,” cegah Yuni. Namun dia tidak berani memegang tubuh Ivony yang kini berdiri tepat di depannya dan bersiap untuk keluar kamar.

“Kamu keterlaluan sekali. Asal kamu tahu, Papa saya yang punya pabrik itu!”

Glek! Yuni mundur ketika Ivony hendak keluar dari kamar sehingga tubuhnya terjajar ke tembok. Beruntung Ivony tidak jadi keluar, namun hanya berdiri di depan pintu, sehingga Yuni tidak perlu bersentuhan fisik. Masih ada jarak sekitar sejengkal antara Yuni dengan Ivony. Namun begitu, Yuni dapat mencium aroma tubuh Ivony yang sangat aneh. Seperti bau tanah!

“Mba Ivony ini sebenarnya siapa?”

“Maksud kamu saya maling?”

“Bukan…bukan itu maksudku. Lagi pula apa yang mau diambil dari kontrakanku? Aku tIdak punya uang, apalagi barang berharga. Aku ingin...ingin tanya Mba ini manusia atau ha..han..tu?”

Ivony tersenyum. “Saya manusia sepertimu.”

“Tapi Mba Ivony tidak masuk melalui pintu?”

Alis Ivony terangkat. Ia tampak terkejut.

“Pintunya masih terkunci. Ini kuncinya aku pegang,” kata Yuni sambil mengambil anak kunci dari saku roknya dan menunjukkannya pada Ivony.

“Coba kamu buka pintunya.”

Yuni mengangguk sambil melangkah ke arah pintu. Ia memegang handle pintu dan mencoba membukanya. Tidak bisa.

“LIhat, pintunya masih terkunci bu…” mulut Yuni ternganga tanpa bisa melanjutkan ucapannya. Putaran kepalanya pun belum sempurna. Namun ia bisa memastikan Ivony sudah tidak ada di tempatnya. Sambil berjinjit Yuni menuju pintu kamar. Ia mengintip ke dalam kamar. Tidak ada. Penasaran, Yuni ke dapur. Namun di situ pun Ivony tidak ditemukan.

“Hantu…hantu…!” jerit Yuni sekuatnya.

Sontak tempat kontrakan itu geger. Sejumlah orang mencoba masuk, namun tidak bisa. Mereka pun hanya mengintip ke dalam kontrakan sambil berteriak-teriak.

“Ada apa Mba Yuni? Tolong buka pintunya…”

“Hantu…hantu…!”

“Buka dulu pintunya!”

Yuni berjalan setengah merangkak. Namun tangannya terlalu lemas untuk memutar anak kunci. Ia kemudian ambruk tak sadarkan diri. Beberapa orang lantas berinisiatif membuka kaca jendela. Dari situ kemudian salah seorang masuk dan membuka pintunya dari dalam. Tubuh Yuni dibaringkan di kamar.

Yuni sadar setelah diolesi minyak kayu putih. Setelah minum air putih dan ditenangkan warga, Yuni pulih kembali meski badannya terasa lemas. Kepada orang-orang yang mengerubutinya, Yuni menceritakan sekilas apa yang terjadi. Namun ia menolak ketika disuruh tidur di kontrakan lain.

“Aku mau tidur di sini saja. Mungkin karena tadi perutku kosong sehingga pandangan mataku berkunang-kunang,” kelit Yuni.

Orang-orang lantas bubar dan membiarkan Yuni sendirian. Meski masih ada perasaan takut, namun keinginan Yuni untuk membongkar rahasia Ivony dan juga arisan maut itu semakin berkobar. Aku harus kuat, tidak boleh kalah melawan roh halus, tekad Yuni. Malam itu Yuni tidur nyenyak sekali. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Ivony. Namun tidak seperti dalam dua kali pertemuannya sebelumnya, kali ini wajah Ivony begitu rusak. Darah merembes dari mata, hidung dan mulutnya. Pakaiannya compang-camping.

Saat itu Ivony tengah menangis dengan suara yang sangat menyayat. Namun yang mengejutkan Yuni, ternyata Ivony tidak sendiri. Ada beberapa noni-noni Belanda bersama Ivony. Kondisi tubuh mereka sama; begitu mengenaskan.

“Mereka memperkosa kami usai arisan,” ucap Ivony sambil menunjuk ke arah puluhan tentara.

Yuni terbangun ketika telinganya mendengar suara adzan Subuh. Ia mengucap asma Allah beberapa kali sambil mencoba merekonstruksi mimpinya tadi. Ivony diperkosa? Siapa yang memperkosanya? Mengapa tentara yang dimaksud Ivony berpenampilan seperti itu? Yuni merasa pernah melihat pakaian tentara seperti dalam mimpi, namun ia tidak bisa mengenalinya.

Usai sholat Subuh, Yuni kembali merebahkan diri di tempat tidur. Namun sampai matanya pedih, ia tidak bisa juga terlelap. Pikirannya mengembara jauh kemana-mana. Ingat kampungnya di Jawa Timur. Ingat orang tuanya. Sesaat ia juga teringat pada Handoyo, cowoknya yang kini entah dimana. Kadang ia ingin minta ketegasan apakah hubungan di antara mereka sudah berakhir atau belum karena sudah hampir setahun tidak ada komunikasi. Bahkan ia tidak tahu dimana gerangan cowok satu kampungnya itu. Sejak pamit mau mengadu nasib ke Surabaya, Handoyo bak hilang ditelan bumi. Akun facebooknya tidak pernah aktif. Tidak ada postingan terbaru di sana. Sepertinya dia memang tidak pernah membukanya lagi.

Sampai kapan aku harus menunggu dalam ketidakpastian ini? tanya hati Yuni. Usiaku terus merangkak dan aku tidak mau menjadi perawan tua. Aku harus segera mengambil keputusan, dengan ataupun tanpa Handoyo. Lelah hatiku tanpa cinta, bisiknya. Ia bergegas bangun. Tiba-tiba ia ingin belanja dan masak. Gampang nanti siang tidur lagi, katanya dalam hati.