Now Loading

Keluarga Ivony

Sore itu Tobi menjemput Yuni. Dengan berboncengan motor mereka meluncur ke pusat kota. Tobi membeli dua baju dan satu celana. “Kamu beli apa, Yun?”

“Dibeliin nih?”

“Iya dong. Untuk apa juga aku mengajak kamu kalau tidak mau beliin!” seru Tobi sambil tertawa. Ia sudah melupakan kejadian tadi siang dan sekarang merasa sangat senang karena akhirnya bisa mengajak Yuni jalan-jalan.

Yuni pun memilih baju warna hijau dari bahan linen.

“Kok baju formil?” tanya Tobi.

“Besok aku mau ke kantor, ke humas. Jadi harus pakai baju resmi. Kebetulan baju seperti ini aku sudah tidak punya.”

Tobi mengangguk. “Yuk sekalian cari bawahannya,” ajak Tobi.

Mereka pun kembali memutari mall itu. Namun Yuni tidak menemukan bawahan yang cocok dengan baju tadi.

“Ayo kita cari ke distro di luar,” saran Tobi.

Yuni mengangguk dan mengikuti langkah Tobi. Mereka turun ke lantai satu melalui eskalator. Tobi menenteng tas berbahan kertas yang berisi pakaiannya di kedua tangan. Sementara Yuni berdiri samping. Tangan kirinya menjinjing tas yang sama. Mungkin karena tanggal pertengahan bulan, mall itu cukup sepi. Mereka menikmati tangga berjalan itu dengan santai. Tidak ada yang tampak berburu-buru. Biasanya, meski sudah naik tangga berjalan seperti itu, ada saja orang-orang berjalan mendahuluinya dengan langkah tergesa-gesa.

“Aduh!” jerit Tobi tiba-tiba. Entah bagaimana mulanya, salah satu tas Tobi yang tadi dipegang tangan kiri, membelit pada karet berputar di salah satu sisi eskalator. Tobi sudah berusaha melepaskan tas itu, namun terlambat. Tobi terpelanting dan jatuh ke lantai bawah. Kejadian itu begitu cepat sehingga Yuni hanya terpaku tanpa melakukan tindakan apapun. Karena eskalator itu terus berjalan, Yuni pun terbawa ke bawah. Ketika hendak naik melawan putaran eskalator, ia sudah tidak melihat rekannya itu. Reflek Yuni melongok ke bawah eskalator. 

“Tobi..!” jerit Yuni ketika melihat tubuh rekannya melayang sebelum kemudian terjerembab di lantai dasar.

Yuni langsung berlari menuju lantai dasar sambil berteriak-teriak sehingga mall itu menjadi  mendadak gempar. Puluhan orang berlari ke tempat Tobi jatuh. Namun tidak ada yang berani menolong karena tubuh Tobi hanya berkelojot sebentar sebelum kemudian diam untuk selamanya. Kepalanya pecah. Darah berceceran dimana-mana. Rupanya kepala Tobi yang duluan menghantam lantai sehingga lehernya patah. Yuni tiba di tempat itu dengan perasaan campur-aduk. Jeritnya pecah begitu melihat kondisi Tobi. Beberapa orang dengan dibantu satpam menahannya ketika ia hendak memegang Tobi.

“Jangan diapa-apakan dulu. Kita tunggu polisi,” ujar satpam itu.

“Lepaskan! Kita harus membawanya ke rumah sakit,” jerit Yuni.

“Dia sudah meninggal,” kata satpam itu lagi.

Yuni menangis sejadinya. Tubuhnya sangat terguncang. Rangkaian kematian karyawan pabrik usai mendapat arisan kini kembali memenuhi pikirannya. Pasti ini ada hubungannya dengan arisan itu!

“Belum tentu, Yun. Peristiwa yang menimpa Tobi, bisa terjadi pada siapa saja,” ujar Lika ketika Yuni menceritakan dugaan adanya kaitan kematian Tobi dengan arisan di pabrik.

“Tapi ini sangat aneh. Kematiannya sangat tragis dan tidak masuk akal. Masa hanya gara-gara tali tasnya terjepit karet eskalator, tubuh Tobi bisa terpelanting seperti itu. Seperti memang ada yang mendorongnya,” beber Yuni.

“Siapa yang mendorongnya? Kata kamu, saat itu hanya kalian berdua yang naik eskalator?”

“Benar, saat itu cuma kami berdua yang ada di eskalator. Di sinilah letak keanehannya. Sepertinya ada seseorang atau makhluk gaib yang sudah mengikuti kamu dan menunggu momen yang sepi. Andai eskalator itu ramai, tentu kami tidak lengah…”

“Terus, menurutmu siapa dong yang mendorongnya?” sergah Lika. Bola matanya berputar sementara tawanya siapa meledak.

“Kenapa kamu tanya seperti itu?”

“Maaf ya Yun, aku menduga, kamu berpikir Tobi jatuh karena didorong oleh setan, oleh makhluk gaib dari pabrik,” jawab Lika sambil melepas tawanya yang tadi ditahan.

“Apanya yang lucu? Memang itu dugaanku!”

“Ho..ho..ho…” ejek Lika di sela tawanya. “Jangan terlalu percaya hal begituan. Lagipula sudah terbukti jika sejak kematian Saniyem dulu, tidak ada lagi karyawan yang meninggal dunia usai mendapat arisan. Apalagi yang membuat kamu tetap berpikiran arisan itu sebagai penyebabnya?”

“Entahlah! Tapi aku sangat yakin kematian Tobi ada kaitannya dengan arisan di pabrik.”

“Begini saja, Yun. Kita tunggu kocokan arisan berikutnya. Jika ternyata karyawan yang mendapat arisan meninggal lagi dengan cara tidak wajar, baru aku percaya dengan dugaanmu!”

“Tidak bisa, Ka. Jangan sampai jatuh korban berikutnya. Kita harus mencegahnya,” kata Yuni ngotot.

“Terus, bagaimana caranya? Menuduh bos-bos di pabrik sebagai biang keladinya? Menuduh jika karyawan pabrik mati untuk tumbal pabrik? Apa buktinya?” berondong Lika kesal.

Yuni terdiam.

 “Sudahlah, kita tunggu kocokan arisan depan saja!”

“Tidak,” potong Yuni. “Besok aku mau ke bagian humas. Aku mau tanya apa ada bos kita yang punya anak bernama Ivony.”

“Terserah kamu saja!” jawab Lika sambil beranjak.

***

Esoknya Yuni menghadap ke bagian humas dengan perasaan tidak karuan. Meski tekadnya sudah bulat, namun ketika kakinya menapak di ruangan berpendingin itu, hatinya berdebar-debar juga. Apa alasanku  jika ditanya untuk apa mencari Ivony? Jika aku bilang temannya, pasti mereka tidak percaya. Teman apa? Teman main? Pasti mereka akan mentertawakan karena tidak mungkin anak bos berteman dengan karyawan pabrik seperti aku.

“Cari siapa ya?”

“Eh…maaf, aku mau tanya sesuatu,” jawab Yuni gugup.

Pegawai bagian humas itu menatapnya penuh curiga.

“Bukankah kamu karyawan di sini? Kenapa tidak kerja? Ini kan jam kerja?” tanya laki-laki parobaya berkepala botak itu.

“Aku masuk malam.”

Laki-laki itu mengangguk tanpa senyum. “Apa yang mau kamu tanyakan?”

“Maaf, aku ingin tahu apa ada di antara pegawai pabrik, maksudku bos-bos di sini yang punya anak bernama Ivony.”

Meski sudah menghafal pertanyaan itu sejak semalam, tetap saja bibirnya bergetar karena gugup. Yuni tahu apa yang dilakukannya sangat beresiko. Namun keinginannya untuk menyelamatkan karyawan pabrik dari arisan maut lebih kuat dibanding kekhawatiran terhadap resikonya. Dan seperti yang sudah diduga, serentetan pertanyaan penuh curiga pun keluar dari mulut pegawai bagian humas itu. Susah payah Yuni menjelaskan alasannya meski tetap saja ia tidak yakin upayanya akan berhasil.

“Kemarin aku bertemu di kantin. Dia mengaku anak salah satu bos di sini. Aku takut dia hanya mengaku-aku saja,” kata Yuni.

“Memang dia sudah merugikan kamu? Atau dia bikin acara tertentu?”

“Bukan begitu. Penasaran saja,” ujar Yuni sambil tersenyum.

Laki-laki paruh baya itu menatap wajah Yuni penuh selidik. Sepertinya ia tengah mencari keseriusan atau mungkin dugaan maksud lain di wajah Yuni. Namun perlahan tatapan itu berubah menjadi ketakutan.

“Siapa namanya?” tanya seperti terkaget.

“Yuni, Pak.”

“Bukan,” potongnya. “Maksudku nama orang yang kamu cari?”

“Ivony.”

Meski berperawakan tegap dan kepala botak, namun laki-laki itu tetap saja tidak mampu menututupi kegugupannya. Bukan, bukan gugup tapi takut. Dia bahkan mundur dari dengan mulut menganga.

“Kenapa Pak? Apakah aku salah?”

“Tidak, bukan masalah salah atau benar,” jawabnya bertambah gugup. “Mungkin namanya bukan itu. Mungkin kamu salah dengar.”

“Tidak Pak. Kami sempat lama ngobrol dan dia berulang-ulang menyebutkan namanya, Ivony. Jadi betul dia anak salah seorang bos di sini? Kalau begitu ya sudah. Berarti dia manusia betulan, bukan….”

“Bukan apa?” sergah laki-laki botak itu.

“Bukan hantu!”

Gubrak….!

Laki-laki itu tanpa sadar meloncat dan menabrak kursi di belakangnya. Beberapa karyawan bagian humas melongok ke ruang depan. Mereka heran ketika melihat wajah Hanafi- laki-laki botak yang bertugas sebagai staf di sub bagian arsip dan dokumentasi perusahaan itu, begitu ketakutan. Namun karena Hanafi memberi isyarat tidak ada apa-apa, mereka kembali masuk ke tempat kerja masing-masing.

“Dengar,” kata Hanafi setelah berhasil menenangkan diri. “Saya belum yakin bahwa temanmu itu, siapa namanya? Inovy? Yya Ivony ada kaitannya dengan pemilik pabrik ini. Maksudku pendiri pabrik ini.”

Alis mata Yuni naik beberapa mili. Mulutnya ternganga. Ia sudah tahu dan bukan hanya karyawan yang bekerja di sini, tapi semua orang di Ungaran juga tahu jika pabrik ini didirikan oleh VOC Belanda tahun 1925 lalu. Jika Ivony anak pendiri pabrik, artinya…

“Tenang dulu. Jangan cerita apa-apa dulu, kepada siapapun. Saya akan cek lagi di buku arsip perusahaan,” kata Hanafi.

“Baik…baik. saya tunggu di sini.”

“Sttt….!” bisik Hanafi sambil menempelkan jari telunjuknya ke depan mulut. “Bukan sekarang, tapi nanti. Sekarang lebih baik kamu pulang. Nanti saya kabari jika sudah dapat arsipnya.”

“Tapi Pak…”

“Sudah…sudah, pulang dulu sana. Tapi ingat, jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Saya khawatir akan menimbulkan kehebohan sementara kita belum tahu persis persoalan sebenarnya, apakah Ivony itu ada kaitannya dengan pendiri pabrik yang kemarin ke sini.”

“Apa? Bapaknya Ivony datang ke sini?” jerit Yuni tertahan. Buru-buru ia menutup mulutnya.

“Bukan bapaknya, tapi cicitnya atau apalah, kurang paham saya. Dia mengaku keturunan van Janklestein, pendiri sekaligus pemilik awal pabrik ini.”

Yuni tersenyum lega. Namun hal itu justru membuat Hanafi keheranan.

“Ada apa? Mengapa kamu tersenyum begitu?”

“Ya, itu berarti Ivony bukan anaknya, tapi salah satu keturunan van Janklestein yang kemarin ikut bersama ke sini dan dia mungkin menyelinap diam-diam ke kantin.”

Gantian bola mata Hanafi yang membesar. “Tidak mungkin. Ivony itu anaknya van Janklestein. Saya pernah lihat arsip perusahaan dan tidak sengaja melihat foto keluarga van Janklestein. Lagi pula yang datang kemarin juga menanyakan hal yang sama seperti yang kamu tanyakan.”

“Menanyakan keberadaan Ivony?”

“Menanyakan kuburan Ivony!”

Yuni melongo. Senyumnya hilang lagi. “Berarti Ivony han..hantu!”  

Hanafi menggeleng. Sampai Yuni berlalu dari hadapannya, Hanafi masih terpaku. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Ia merasa kini keluarga van Janklestein tengah mengawasinya.