Now Loading

Teka-teki Yuni

Sampai di rumah, pikiran Yuni masih diliputi tanda tanya besar seputar kejadian di kantin. Siapa Ivony? Mengapa aku bisa begitu lama di kantin dan tidak ada satupun yang menegurnya, pikir Yuni keheranan. Bahkan Tobi yang biasanya rajin menungguku sehingga bisa pulang bersama, kali ini pun entah di mana. Apakah tadi aku tertidur? Yuni bergidik membayangkan dirinya tertidur di kantin dan arwahnya dibawa makhluk gaib ke alam lain. Jika Ivony penghuni alam lain mengapa dia terlihat begitu nyata? Sampai tertidur, Yuni tidak juga bisa menemukan jawabannya.

Esoknya Yuni buru-buru mandi dan langsung pergi ke pabrik. Ia sengaja menunggu Tobi di pintu gerbang. Yuni yakin Tobi pasti tahu kejadian yang sebenarnya. Sebab Tobi yang terakhir bersamanya sebelum kemudian bertemu Ivony.

“Tobi, sini!” panggil Yuni ketika dilihatnya Tobi menyembul dari balik pintu gerbang.

“Ada apa? Sepertinya serius banget sampai mencegat aku di sini,” tanya Tobi keheranan karena Yuni mencegatnya di depan pos satpam. Keduanya lantas berjalan menuju tempat absensi. Setelah mengambil kartu absen, keduanya mengantri untuk mencolokkan kartu tersebut ke mesin absen.

“Kemarin kamu kemana? Kenapa tidak menunggu aku pulang?” tanya Yuni tanpa menghiraukan keheranan Tobi.

“Iya, kemarin sore aku sempat nyariin kamu. Tapi kata teman-teman, kamu sudah pulang duluan,” jawab Tobi senang. Setelah sekian lama mencoba mendekatinya, baru kali ini Yuni menunjukkan sedikit perhatian. Tapi itu sudah cukup, batin Tobi.

“Pulang duluan? Bohong saja kamu! Aku kerja sampai sore. Bahkan aku pulang paling akhir,” sahut Yuni tanpa menoleh. Ia mencolokkan kartu absen ke mesin. Setelah meletakkan kartu itu di rak yang menempel di tembok ruang satpam, ia berjalan lurus menuju tempat kerjanya. Namun belum sampai di ujung lajur antrian yang dipisahkan dengan besi, mendadak Yuni balik dan mengambil kartu absensinya.

“Woi… yang sudah absen minggir!” teriak sejumlah karyawan yang tengah mengantri untuk absen.

“Iya, jangan berdiri di situ!”

Namun Yuni tidak perduli. Ia memperhatikan jam pulang kemarin. Setiap karyawan diwajibkan absen ketika masuk dan pulang. Tapi kemarin saat pulang, aku tidak sempat absen. Mengapa di sini tertera jam 05.00 sore? Siapa yang telah berani mengabsenkan? Jika saja ketahuan, pasti dia akan dipecat. Peraturan di sini sangat ketat terkait absensi. Siapapun dilarang mencolokkan kartu absen karyawan lainnnya, dengan alasan apapun. Sanksinya sangat berat karena bisa langsung dipecat tanpa pesangon!

“Ada apa?” tanya Tobi dari balik pundaknya.

“Waktu pulang kemarin aku tidak absen. Tapi di sini ada bukti absennya. Siapa yang sudah mencolokkan kartu absenku?”

“Biar saja. Jika benar begitu, kamu malah untung, karena kalau tidak absen pulang kan dianggap bolos,” sahut Tobi. “Sudah, ayo jalan lagi. Kasihan teman-teman sudah antri mau absen!”

Yuni mengangguk. Keinginannya untuk menanyakan soal Ivony terpaksa dipendam karena Tobi terlihat seperti terburu-buru. Lagi pula saat ini sudah terlalu ramai. Nanti saja pas makan siang, pikir Yuni.

Setelah mengembalikan kartu absen ke tempat semula, Yuni melenggang ke tempat kerjanya di gedung belakang, sambil mengawasi situasi sekeliling. Apakah ini pabrik gaib? tanyanya dalam hati. Ah, pasti bukan sebab semuanya terlihat normal? Ataukah benar kata Pak Paimun, justru aku yang tidak normal? Pikiran itu terus dibawanya sepanjang kerja. Ketika jam istirahat, Yuni buru-buru ke kantin seperti yang lain. Ikut antri. Meski dibuat model pujasera, namun tetap saja semua tempat makan penuh dan harus antri. Sambil menunggu giliran, mata Yuni jelalatan ke segala arah untuk mencari Ivony. Siapa tahu gadis berambut pirang itu muncul lagi. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya.

Namun sampai selesai makan, Ivony tidak muncul juga. Hanya ocehan Tobi yang menemaninya sepanjang makan siang itu. Yuni benar-benar penasaran tapi tidak tahu harus bertanya pada siapa. Ia jadi ragu-ragu hendak bertanya kepada Tobi. Saat ini Yuni merasa Tobi bukan orang yang tepat untuk ditanya. Belum apa-apa pertanyaannya pasti akan dimentahkan. Bahkan dianggap dirinya tengah menggigau. Namun karena tidak tahan dan tidak ada orang yang bisa diajak bicara, Yuni pun akhirnya melontarkan pertanyaan juga kepada Tobi.

“Kamu kenal Ivony ngga? Atau setidaknya pernah berjumpa dengannya.”

“Siapa?”

“Ivony,” ulang Yuni. “Dia seperti gadis bule. Tinggi, cantik, kulitnya putih, hidungnya mancung.”

Tobi mengangkat bahu. “Namanya saja aku baru dengar.”

“Katanya dia anak salah satu bos di atas,” ujar Yuni. Ruang kerja direksi dan pegawai setingkat manajer memang di lantai 2 dan 3 gedung perkantoran yang ada di depan.

“Oh…” sahut Tobi sambil nyengir. “Namanya anak bos pasti bergaulnya pilih-pilih. Jadi mustahil aku kenal.”

Meski sudah 5 tahun lebih kerja di pabrik tekstil itu, namun jabatan Tobi masih sama seperti Yuni yang masuk kerja belakangan: staf quality control. Tugasnya memeriksa barang-barang produksi di pabrik sebelum di-packing dan disimpan dalam gudang. Kerja mereka jauh lebih enak karena bisa santai sambil keliling pabrik ketika stok barang sedikit. Beda dengan operator mesin yang sama sekali tidak bisa meninggalkan tempat kerjanya kecuali jam istirahat.

“Aku juga sempat heran ketika kemarin tiba-tiba dia menghampiri dan ngajak ngobrol. Tapi tidak tahu bagaimana ceritanya, aku bisa di kantin sampai sore. Padahal aku merasa cuma sebentar ngobrol dengan Ivony…”

“Ada-ada saja kamu,” potong Tobi. “Mana mungkin bisa sampai sore. Bukannya jam 2 saja kantin ini sudah tutup?”

Yuni terlonjak bak tersengat aliran listrik. Ia seperti baru menemukan kesadaran yang selama ini tidak terpikirkan. “Iya, betul! Kenapa dari kemarin aku tidak berpikir ke situ!” serunya.

What?” tanya Tobi kian heran dengan tingkah Yuni. Sejak tadi pagi bicaranya kacau melulu, katanya dalam hati.

Sekilas Yuni menceritakan kejadian kemarin saat bersama Ivony dan akhirnya berdebat dengan Paimun. “Jadi, Ivony itu bukan anak bos di atas, tapi makhluk gaib. Kemarin pasti aku dibawa ke alam gaib,” kata Yuni mengakhiri ceritanya.

Seperti yang sudah diduga, Tobi pun tidak percaya dengan cerita Yuni. Dia malah mencibir dengan bahasa yang menyakitkan karena dibakar rasa cemburu, “Mau-maunya berduaan sama Pak Paimun sampai sore! Pantesan kamu diabsen...”

“Siapa yang ngabsenin?!” potong Yuni setengah berteriak.

“Siapa lagi kalau bukan Pak Paimun. Yang membereskan dan menyiapkan kartu absen kita kan satpam-satpam itu, jadi mudah saja Pak Paimun mencyolokkan kartu absenmu!”

“Enak saja. Tidak mungkin,” sahut Yuni sambil membuang muka. Omongan Tobi membuat hatinya jengkel. Tapi memang susah meyakinkan peristiwa yang dialaminya pada orang lain. Semua serba misterius. Aku saja yang mengalami sendiri kejadian itu, masih belum bisa percaya sepenuhnya, pikir Yuni.

“Nanti aku mau ke atas. Saya mau tanya ke bagian humas.”

“Untuk apa? Soal absen itu?”

“Bukan, tapi soal Ivony,” tekad Yuni.

Tobi mengangkat bahu dengan wajah keruh. Begitu selesai makan, Tobi langsung bersiap pergi. Yuni buru-buru menyelesaikan makannya dan segera menyusul Tobi. Ia tidak berani duduk sendirian meski saat itu kantin masih ramai.

Hari itu arisan kembali dikocok. Kali ini Tobi yang beruntung. Dia berjingkrak senang dan langsung menghampiri Yuni. “Aku sudah janji sejak jauh-jauh hari, jika dapat arisan akan mengajak kamu jalan-jalan. Mau tidak nanti malam kita ke mall ya?” tanya Tobi.

“Mau…mau! Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya? Besok kan kerja,” kata Yuni.

“Siapa juga yang mau menginap.”

Yuni dan Tobi serentak tertawa.