Now Loading

Kemunculan Ivony

Kematian Parjo yang tidak wajar menimbulkan tanda tanya besar di kalangan karyawan pabrik. Terlebih Parjo tewas sebelum mendapat arisan. Sementara mereka yang mendapat arisan, justru tidak ada lagi yang meninggal dunia. Teori bahwa arisan yang diselenggarakan hanya untuk mencari tumbal pabrik, dengan sendirinya terbantahkan.

“Sepertinya ada yang tidak beres,” kata Yuni saat makan siang di kantin pabrik. Jika dapat giliran shift siang, Yuni lebih suka makan di kantin daripada membawa bekal dari rumah. Sebab bangunnya selalu kesiangan sehingga tidak sempat masak.  

“Tidak beres bagaimana?” tanya Tobi.

“Pabrik ini sudah jadi pabrik maut. Seperti ada kesengajaan untuk mengambil nyawa karyawan-karyawan pabrik,” jawab Yuni.

“Maksudmu untuk tumbal?”

“Entahlah, aku bingung. Dulu kita sempat berpikir kematian Pinah, Saniyem dan yang lainnya terkait dengan arisan itu. Namun nyatanya setelah kematian Saniyem, tidak ada lagi karyawan yang mati setelah mendapat arisan. Malah Pak Parjo yang mati!”

Tobi merasa kalimat Yuni sedikit aneh. “Kamu kok ngomong begitu? Bukankah Parjo mati karena serangan jantung sebagaimana kata dokter dan juga polisi yang memeriksanya?”

“Pertanyaanku, mengapa Pak Parjo terkena serangan jantung,” balas Yuni. “Pasti ada penyebabnya. Mungkin dia melihat hantu atau ada hal lain yang membuatnya terkejut sehingga memicu serangan jantung. Iya kan?”

“Kalau menurutmu bagaimana?” kata Tobi balik bertanya. Nadanya masih menyimpan keheranan.

“Malam itu Parjo melihat hantu,” jawab Yuni sambil menurunkan intonasi suaranya. Ia takut teman-temannya yang juga tengah makan, mendengar obrolan mereka.

“Ada-ada saja! Kamu terbawa cerita-cerita seperti itu yang memang berkembang selama ini. Saya kira kamu tidak percaya,” sesal Tobi.

“Iya, awalnya aku juga tidak percaya. Tetapi rangkaian kejadian belakangan ini memaksaku untuk mulai melihat dari sisi supranatural. Dari sisi mistis. Sebab tidak semua kejadian dapat dinalar dan dicerna dengan logika, termasuk sederet kematian karyawan pabrik tempat kita bekerja ini,” kata Yuni panjang lebar.

Tobi mengangkat bahu sambil bergeleng. Tobi lantas pamit dan meninggalkan Yuni.

Yuni buru-buru menyelesaikan makannya karena jam istirahat sudah hampir habis. Kantin itu sudah sepi. Teman-temannya kebanyakan langsung makan begitu jam istirahat tiba sehingga masih punya waktu untuk bersantai sebelum jam kerja dimulai lagi. Yuni sendiri memilih makan di akhir jam istirahat setelah kantin agak sepi sehingga tidak perlu berdesak-desakkan.

“Kematian Parjo memang tidak wajar,” ujar seseorang membuat Yuni spontan menoleh ke samping. Ia hampir terlonjak saking kagetnya begitu melihat ada perempuan cantik di sebelahnya. Kapan dia datang dan duduk di situ? pikir Yuni. Apalagi perempuan itu sama sekali tidak dikenalnya. Penampilannya sangat aneh, dengan rambut pirang dan baju ala perempuan Eropa jaman dulu. Dia pasti bukan karyawan pabrik karena Yuni merasa belum pernah melihat apalagi mengenal perempuan di sebelahnya.

“Maaf, Mbak siapa ya?” tanya Yuni.

Perempuan muda itu tersenyum. Manis sekali. Umurnya mungkin masih dua puluhan tahun, duga Yuni. Kulitnya putih seperti susu.

“Mbak tadi menguping pembicaraanku dengan Tobi?” tanya Yuni lagi karena belum mendapat jawaban dari lawan bicaranya.

“Eh, maaf…apa tadi? Saya memang bukan karyawan di sini. Kebetulan saya sedang main. Iya, tadi saya sempat dengar pembicaraan tentang Parjo,” jawabnya beruntun. Logatnya terdengar aneh di telinga Yuni.

“Oh… Jadi Mbak sedang main ke mari,” guman Yuni sambil mengangguk-angguk.

“Eh, maksud saya, saya main ke kantor papa…”

Yuni kembali mengangguk. Pantes penampilannya sangat modis. Mungkin dia anak pemilik pabrik ini. Atau setidaknya, papanya pegawai tinggi di kantor ini.

“Tadi Mbak bilang….”

“Saya Ivony,” potong perempuan itu sambil mengulurkan tangan.

Yuni tersenyum. Ia buru-buru mengelap tangannya sebelum kemudian menerima uluran tangan Ivony. Kedua berjabatan tangan cukup erat. “Aku Yuni.”

“Iya, saya tahu.”

“Mbak Ivony tahu namaku?” sergah Yuni dengan intonasi tinggi karena terkejut. Masa ada anak bos mengenalku? pikirnya keheranan.

“Saya tadi sempat dengar beberapa karyawan memanggil namamu,” jawab Ivony sambil tersenyum. Giginya rapi dan putih sekali, laksana mutiara. “Iya, Parjo mati tidak wajar,” sambungnya.

Untuk kesekian kalinya Yuni terkejut. Tiba-tiba ia merasa ada yang tidak beres dengan Ivony. Kok dia tahu banyak soal Parjo? Yuni menatap wajah Ivony tanpa berkedip. Bukan saja dia baru melihatnya, namun rasanya seumur-umur tinggal dan bekerja di daerah ini, Yuni belum pernah bertemu perempuan bule. Apakah Ivony ini sebenarnya orang Indonesia tapi berdandan seperti itu biar tampil beda saja? Tapi bagaimana dengan kulitnya?

Kalau model dan rambutnya, bukan hal baru. Bahkan rambut Surti ketika pulang kerja dari Hongkong lebih pirang dibanding perempuan di depannya. Cuma kulit Surti tetap saja gosong karena dulu sebelum kerja di Hongkong, dia rajin mandi sinar matahari di sawah, dari pagi sampai sore. Daripada jauh-jauh berjemur ke pantai, mending di sawah, kata Surti kepada teman-temannya tanpa mau mengakui jika di sawah dia bukan cuma berjemur, namun juga matun.

Kulit Ivony terlalu putih untuk ukuran Indonesia, pikir Yuni. Putihnya juga aneh. Seperti bule. Yuni juga baru sadar jika bola mata Ivony kebiruan, bukan hitam seperti dirinya. Bukan softlens , tapi asli. Jangankan softlens, Ivony bahkan tidak memakai make up.

“Eh, maaf, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Yuni.

“Tanya apa?” sahutnya tanpa menoleh. Dia sibuk mengaduk-aduk soto pesanannya, memasukan sambal dan kecap. Sesaat kemudian dia menyendok soto itu dan langsung memasukannya ke dalam mulut. Mata Yuni terbelalak. Soto itu sangat panas karena baru dipesan, tapi Ivony menelannya tanpa ditiup terlebih dahulu. Apa mulutnya tidak terbakar? tanya Yuni dalam hati.

“Kok malah memperhatikan saya seperti itu?’

“Eh, maaf…maaf,” kata Yuni. “Aku mau tanya rumah Mbak Ivony dimana?”

“Dekat sini. Kenapa? Mau main? Ayo kalau mau main ke rumah saya.”

“Oh tidak, tidak. Aku cuma heran kok selama ini tidak pernah berjumpa dengan Mbak Ivony ya? Pasti Mbak sekolah di luar negeri ya?”

“Untuk apa saya sekolah jauh-jauh? Di sini sama saja, tidak kalah dengan sekolah di Holland.”

“Holland? Maksud Mbak Ivony Belanda?”

“Itu kan menurut orang pribumi, Inlanders. Kami lebih suka menyebutnya sebagai Holland atau Netherland,” kata Ivony, enteng.

Yuni mengangguk. Dia baru menyadari jika kantin sudah sangat sepi. Ia mengedarkan tatapan ke sekeliling kantin. Tidak ada satu orang pun di situ. Yuni terlonjak ketika ia kembali melihat ke samping dimana tadi Ivony duduk. Gadis bule itu sudah tidak ada di tempatnya? Kemana dia? Sotonya masih penuh, bahkan terlihat belum dimakan sama sekali. Padahal tadi Yuni melihat sendiri bagaimana Ivony begitu lahap menyantap soto itu meski masih panas.

Yuni melongok ke dalam mangkok bakso dan “Huaah.. Tolong!” jeritnya sambil bergidik.

Mangkok itu bukan berisi bakso tapi ratusan cacing tanah! Buru-buru berdiri dan setengah berlari ke tempat kerjanya. Saking terburu-burunya, Yuni tidak melihat kiri-kanan lagi. Di depan pintu pabrik ia menabrak Paimun.

“Eh, maaf…” ujar Yuni dengan nafas ngos-ngosan. Tubuhnya sedikit limbung meski dalam sekejap ia sudah berhasil menguasai diri lagi. Tidak ada siapa-siapa lagi di depan pabrik. Mungkin mereka sudah kembali bekerja. Berarti aku terlambat, pikir Yuni

“Ada apa Mbak Yuni? Seperti dikejar hantu saja!” canda Paimun. Dalam hati ia merasa senang juga sudah ditabrak gadis cantik bertubuh langsing itu. Jika boleh meminta, dia pasti ingin adegan itu diulang. Dia akan langsung menangkapnya begitu tubuh Yuni terhuyung.

“Tidak…tidak apa-apa Mas, eh, Pak!” ujar Yuni gugup. Huh, bakal panjang urusannya karena ketahuan terlambat masuk kerja, sesal Yuni dalam hati.

“Panggil mas juga ngga apa-apa. Biar tidak terlalu formil,” kata Paimun masih dengan bercanda. “Memangnya Mbak Yuni dari mana?”

“Eh, anu, dari kantin. Maaf, agak terlambat masuk kerja soalnya tadi di kantin ramai banget,” kata Yuni berbohong.

“Kantinnya masih buka?”

“Masih,” jawab Yuni berbohong.

Dahi Paimun berkerut.

“Kenapa? Kok Pak Paimun tanya seperti itu? Sumpah, aku cuma terlambat beberapa menit saja!”

Tatapan Paimun semakin tajam. Namun perlahan ia mundur. “Bukankah Mbak Yuni masuk shift pagi? Kok jam segini baru dari kantin?”

“Kenapa? Sudahlah, Pak Paimun. Kalau Pak Paimun mau melaporkan keterlambatanku yang hanya beberapa menit ini ke bagian personalia, silahkan saja!” sungut Yuni dengan kesal.

Paimun melongo. Ia tidak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menempel di pintu gerbang. Melihat sikap Paimun, Yuni bertambah kesal. Ia merasa tengah diselidiki. Sambil bersungut-sungut, Yuni bermaksud masuk ke dalam pabrik. Namun langkahnya terhalang tubuh Paimun. 

“Pak Paimun kenapa sih? Masa aku tidak boleh masuk?” bentak Yuni.

“Mbak, karyawan shift pagi sudah pulang sejak tadi. Sekarang sudah menjelang Magrib. Tapi karyawan shift malam memang belum ada yang datang…”

Yuni menatap Paimun dengan mulut menganga. “Sudah sore? Jangan bercanda, Pak! Ini masih jam istirahat. Aku saja baru selesai makan siang di kantin!”

“Mbak Yuni tidak lihat pintu pabrik baru saja saya gembok? Mesin-mesin juga sudah dimatikan semua,” tegas Paimun.

Yuni baru menyadari jika situasi di sekitarnya sangat sepi. Hanya ada dirinya dan Paimun. Tidak ada tanda-tanda karyawan yang sedang bekerja. “Jadi, apa artinya semua ini?”

“Justru saya mestinya yang tanya sama Mbak Yuni, kenapa belum pulang? Tadi saya kira Mbak Yuni masuk shift malam….” Paimun menutup kalimatnya dengan ragu-ragu. Apakah yang berdiri di depanku ini benar-benar Yuni atau hantu? tanya Paimun dalam hati. Ia menatap Yuni dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Kok aku jadi bingung,” keluh Yuni.

“Kamu benar Mba Yuni, kan? Bukan…bukan ha..hantu?!”

Yuni terlonjak sampai mundur beberapa langkah. Keningnya berkerut, sehingga alis matanya yang tebal nyaris bertemu. Ia benar-benar merasa seperti disambar geledek mendengar keraguan Paimun atas dirinya.

“Ada apa sebenarnya ini? Jangan-jangan aku sedang terbawa halusinasi. Pak Paimun dan Ivony hantu ya?” kata Yuni balik bertanya dengan penekanan khusus pada kata hantu.

Paimun mendelik. Ia mulai ragu-ragu dengan dugaannya. Kalau Yuni hantu, masa dibalik menuduh saya. Lagipula wajah dan dandanan Yuni tidak menakutkan. Hantu itu menakutkan karena dandanannya tidak pernah berubah, baunya juga busuk. Sementara pakaian Yuni rapi. Tubuhnya juga wangi. Kalau pun perempuan di depan ini benar-benar hantu, saya tidak takut. Bahkan andai hantu semodis dan secantik Yuni, rasanya akan banyak laki-laki yang suka keluyuran ke kuburan.

“Sekarang begini saja,” kata Paimun setelah lama keduanya hanya saling tatap. “Mbak Yuni pulang dulu ke kuburan, eh maaf, maksud saya ke rumah. Besok kita bahas lagi masalah ini.”

“Saya mau kerja,” kata Yuni.

“Kerja? Sekarang giliran shift malam!”

“Pak Paimun ini bercanda terus. Saya belum pikun. Ini masih jam istirahat. Tadi saya ke kantin sebentar untuk makan. Kalau pun saya terlambat, berarti sekarang baru selesai jam istirahat,” kata Yuni ngotot.

Paimun geleng-geleng kepala sambil pergi menuju pos jaga, meninggalkan Yuni yang masih penasaran. Saat itu beberapa karyawan shift malam sudah mulai berdatangan.

“Tin, kamu kerja malam ya?” tanya Yuni pada temannya yang baru datang.

“Iya Yun,” sahutnya dengan wajah terheran-heran. “Kok kamu belum pulang? Mau lembur ya?”

Yuni tidak menjawab. Sekarang ia percaya dengan kata-kata Paimun. Tidak ingin cerita dirinya tersebar dan jadi gunjingan, Yuni buru-buru menyelinap dan pergi dari pabrik secara diam-diam.

“Kok ada karyawan siang yang baru pulang?” tanya Rujito ketika melihat Yuni melintas di depan pintu gerbang.

“Iya, habis lembur,” jawab Paimun. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres, namun ia tidak mau terjadi kegaduhan di pabrik sehingga akan mengganggu kerja. Ujung-ujungnya pasti dirinya yang akan didamprat oleh para bos perusahaan karena dianggap sebagai penyebar hoaks.