Now Loading

Parjo Mati

Bulan pucat mengapung di angkasa yang dingin. Angin musim kemarau menyebarkan hawa dingin dari puncak-puncak pegunungan yang mengelilingi Ungaran. Andai boleh memilih, tentu Parjo akan memilih pulang. Tidur dalam kamar di bawah selimut bersama istri lebih menyenangkan dibanding begadang di dalam pos satpam. Namun terkadang hidup tidak memberi pilihan. Seperti saat ini. Ia terpaksa menahan kantuk bersama Bahrun, Rujito dan Paimun- rekannya sesama satpam di pabrik tekstil..

Beberapa karyawan shift malam tampak tengah larut dalam pekerjaan masing-masing. Parjo bisa melihat isi pabrik karena pintunya sengaja dibuka. Dulu pintu itu selalu tertutup untuk menghindari karyawan meninggalkan tempat kerja sambil membawa barang-barang milik pabrik. Pintu hanya dibuka saat jam istirahat dan jam pulang. Namun kini atas desakan seluruh karyawan, pintu-pintu pabrik kecuali gerbang utama yang menuju luar kompleks pabrik, dibuka selama 24 jam. Akibat kebijakan itu, Parjo dan teman-temannya punya tugas ekstra karena harus memastikan siapa-siapa yang keluar masuk tempat kerja, atau diam-diam keluar untuk tidur di bagian belakang pabrik- terutama karyawan shift malam.

“Saya sebenarnya tidak percaya ada orang yang sudah mati bisa bangkit lagi terus menakut-nakuti manusia,” ujar Parjo sambil menguap.

“Siapa juga yang percaya,” sahut Bahrun tanpa memindahkan pandangannya dari layar handphone.

“Bukan jasadnya yang pulang, tapi rohnya- arwahnya! Kalau jasadnya ya pasti sudah busuk dimakan cacing tanah,” timpal Rujito.

“Paling tinggal tengkoraknya,” sambung Paimun.

“Tapi kenapa banyak karyawan yang mengaku melihat Pinah, Saniyem dan beberapa karyawan yang sudah meninggal?” tanya Parjo.

“Itu bayangannya mereka saja,” jawab Rujito.

“Benar juga,” guman Parjo. “Saya malah kadang ingin bertemu mereka.”

“Ketemu siapa?” tanya Bahrun. Ia merasa nada bicara Parjo agak melantur.

“Bertemu arwah Pinah atau Saniyem atau siapa saja.”

“Benar, Jo? Kamu tidak takut?” goda Rujito.

“Saya tidak bisa bilang sekarang, takut atau tidak. Wong lihat hantu saja belum pernah,” jawab Parjo kalem.

“Mudah-mudahan nanti kamu ketemu dengan arwah mereka supaya tahu apakah kamu takut atau tidak jika melihat arwah gentayangan,” kata Bahrun.

Mendengar omongan Bahrun, Paijo dan kedua rekannya tertawa sambil menyemburkan asap rokoknya ke udara. Semakin malam, langit semakin cerah sehingga mereka bisa lihat melihat gumpalan asap rokok masing-masing sebelum hilang di kejauhan.

“Sudah jam 12. Giliran Bahrun dan Rujito yang keliling,” ujar Parjo setelah mereka lama terdiam. Meski belum ada penunjukkan resmi siapa yang menjadi kepala regu dalam grup mereka setelah Ilyas mati tertimpa balok kayu di rumahnya, beberapa bulan lalu, namun Parjo selalu menampilkan diri sebagai pemimpin. Ketiga temannya maklum saja karena Parjo memang karyawan yang paling senior.

 “Cepat benar waktu berlalu,” guman Rujito. “Perasaan aku tadi baru datang terus ngopi sambil merokok di sini, eh, tahu-tahu sudah malam.”

Setelah mengambil senter, Rujito dan Bahrun keluar dari pos jaga dan mulai keliling pabrik. Meski seluruh bagian atas tembok yang mengelilingi pabrik diberi kawat berduri, tetap saja para satpam bergiliran untuk mengontrol area pabrik. Bukan untuk mencari maling, tapi mengontrol karyawan yang diam-diam tidur di pojok-pojok pabrik.

Kini Parjo dan Paimun tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dulu ketika masih ada TV, ia bisa mengusir jenuh dengan menonton acara TV. Tapi gara-gara terjadi kebakaran tanpa diketahui oleh satpam karena asyik menonton sinetron, pihak manajemen langsung melarang ada TV di pos satpam.

“Lihat, Jo. Sepertinya ada karyawan yang keluar dari dalam pabrik,” ujar Paimun memecah kebisuan.

Parjo menoleh ke arah yang ditunjuk rekannya. Benar saja, ada karyawan perempuan yang tampak celingukkan sebelum kemudian menyelinap keluar dari tempat kerjanya.

“Kamu jaga di sini. Biar saya yang akan menangkap,” kata Parjo.

Paimun mengangguk. Ia sudah paham kelakuan Parjo. Sifat menjilatnya susah hilang. Jika berhasil menangkap basah karyawan yang tidur pada jam kerja, Parjo akan langsung membuat laporan ke bagian personalia. Dalam laporannya digambarkan kronologisnya secara rinci sehingga menimbulkan kesan penangkapan itu benar-benar hasil kerja kerasnya. Dia berharap prestasi tersebut bisa menjadi jalan untuk meraih jabatan komandan regu.

Pernah suatu ketika Parjo mendapati karyawan yang tengah makan roti pada saat jam kerja. Dengan kasar Parjo merebut roti tersebut untuk dijadikan sebagai barang bukti yang disertakan dalam laporannya. Sepanjang laporan itu objektif, barangkali tidak akan menimbulkan reaksi dari para karyawan. Persoalannya, karyawan tersebut kemudian dipecat karena dalam laporan Parjo disebutkan meninggalkan tempat kerja. Tindakannya bukan hanya mengganggu target produksi namun juga membahayakan karyawan lainnya, tulis Parjo dalam laporannya.

Padahal dia makan di depan mesin kerjanya yang mati karena kehabisan benang. Sementara untuk memasang benang pada mesin, bukan tugas karyawan tersebut. Sambil menunggu pemasangan benang itulah dia makan roti yang dibawanya dari rumah.

Paimun, juga Bahrun dan Rujito tidak pernah mau mempersoalkan laporan semacam itu. Namun mereka yakin suatu ketika Parjo akan terkena batunya. Terlebih, penanganan berbeda akan dilakukan Parjo manakala yang ketahuan makan, bahkan tidur sekalipun, karyawan perempuan yang masih muda dan lumayan cantik. Bahkan dengan rela Parjo akan menemaninya. Kasihan dia. Dari rumah belum sempat makan, kata Parjo ketika rekannya mempersoalkan. Lain waktu dia akan beralasan, dirinya merasa iba melihat karyawan perempuan kecapean sehingga membiarkannya tidur satu-dua jam.     

Sambil bersiul Parjo segera menuju tempat perempuan tadi menghilang, di balik salah satu bangunan yang ada di belakang gedung tempatnya bekerja. Parjo tahu, di sana ada ruangan kosong yang biasa dipakai karyawan untuk bersantai pada saat jam istirahat. Dulu sebelum ada beberapa karyawan yang meninggal dengan cara tragis, hampir setiap malam ada saja karyawan yang nekad curi-curi waktu untuk tidur di situ.

Begitu sampai di ruangan itu, Parjo kegirangan begitu melihat karyawan perempuan yang dibuntutinya menggelar kain di lantai dan langsung merebahkan diri. Perempuan itu sangat cantik. Parjo lupa namanya, namun ia merasa sudah sering melihatnya. Perlahan Parjo mendekat. Suasana dalam ruangan tersebut sangat sepi. Diam-diam Parjo duduk di sebelahnya, beradu punggung.

“Jam kerja kok tidur, Mbak?” tegur Parjo. Suaranya dibuat selembut mungkin karena tidak ingin membuat perempuan itu kaget.

“Maaf, saya lelah sekali,” jawab si perempuan tanpa merubah posisi tidurnya.

“Tapi kewajiban harus dilaksanakan. Mau kita capek atau tidak, tetap harus kerja karena sudah digaji. Kalau semua karyawan bisa beralasan seperti kamu, perusahaan bakal gulung tikar.”

Tidak ada jawaban.

“Nanti saya laporkan ke bagian personalia,” ancam Parjo mulai mengeluarkan jurus andalannya.

Perempuan itu tidak bergeming.

“Tapi kalau mau aku temani, kamu boleh tidur di sini,” rayu Parjo.

Akhirnya perempuan itu menjawab, “Terserah Pak Parjo saja. Saya ngantuk sekali.”

Parjo tersenyum. Dengan hati-hati ia berbaring di sebalahnya. Kini ia bisa mencium tubuh perempuan di sebelahnya. Sangat wangi. Tapi bukan wangi parfum biasa. Parjo merasa mengenali bau harum itu.

“Kamu pakai parfum apa, Dik?” bisik Parjo sok mesra. Dari panggilan awal mbak, kini berubah menjadi dik. “baunya seperti minyak japaron…”

Parjo menghentikan ucapannya secara mendadak. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Ucapan itu seperti mengingatkan dirinya pada sosok mayat yang sudah dikafani. Perlahan Parjo bangun lalu secara menyorotkan lampu senter pada wajah perempuan yang membelakangi dirinya.

“Huaahh…!”

Spontan Parjo memekik histeris. Tangannya gemetar sehingga senternya terlepas. Wajah perempuan itu sangat rusak; mirip wajah Saniyem setelah ditabrak truk.     

Parjo berusaha lari, namun kakinya seperti digantungi beban yang sangat berat. Dia hanya bisa menghentak-hentakan sepatu satpamnya ke lantai. Mulutnya seperti tercekat. Ia merasa teriakkannya tertahan di tenggorokan. Tangannya bergerak kian kemari seperti orang yang hendak jatuh. Tapi tiang beton yang dijadikan pegangan terlalu jauh. Parjo akhirnya ambruk tak sadarkan.  

Ketika ditemukan oleh Bahrun dan Rujito, tubuh Parjo sudah kaku. Kondisinya sangat mengerikan. Darah mengalir dari mata, telinga dan mulutnya. Lidahnya terjulur. Bola matanya seperti hendak copot.; mendelik berwarna keputihan. Ketika tubuh Parjo di balik, kedua tangannya teracung ke udara dengan jari-jari seperti tengah mencengkram sesuatu.

Rujito dab Bahrun berlari histeri ke pos di bawah tatapan sejumlah karyawan yang sedang istirahat. “Ada apa, Pak?” tanya Tobi, salah satu karyawan di bagian produksi.

“Hantu! Parjo jadi hantu!” ujar Bahrun. Tangannya menunjuk ke lantai dimana tubuh Parjo terbaring kaku.

Tobi dan karyawan lainnya bergegas ke tempat ke tempat yang ditunjuk dan mendapati tubuh Parjo yang sudah kaku.

“Inalilahi wa inalillahi rojiun…” guman beberapa karyawan setelah memastikan Parjo sudah meninggal dunia. Seketika pabrik gempar. Paimun datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung menyalakan semua lampu di tempat itu. Kini ruangan itu menjadi terang benderang. Bahrun dan Rujito tidak mau melihat tubuh Parjo.

“Apa yang membuat Pak Bahrun dan Pak Rujito histeris? Orang meninggal kan wajar. Mungkin Pak Parjo terkena serangan jantung,” kata Tobi.

“Lihat wajahnya…wajah hantu,” kata Bahrun terbata.

“Wajah hantu?” Tobi mengernyitkan kening. “Wajahnya biasa saja. Coba dilihat lagi.”

Perlahan Bahrun dan Rujito menoleh ke arah tubuh Parjo. Kedua terkaget-kaget. Wajah Parjo biasa saja. Matanya terpejam dan lidahnya juga tidak terjulur seperti tadi.

“Kok bisa berubah seperti ini?” guman Rujito, lirih.

“Mungkin tadi kita salah lihat,” bisik Bahrun.

“Katanya satpam, lihat temannya mati ketakutan seperti itu. Bagaimana kalau lihat hantu!” celetuk salah seorang karyawan..

Bahrun dan Rujito merasa sangat malu karena kini dicap sebagai satpam penakut. Untuk menutupi hal itu, keduanya lantas berinisiatif untuk menggotong tubuh Parjo dengan dibantu oleh Paimun. Sebab atas kesepakatan bersama, tubuh Parjo akan dibawa pulang saja.

“Lapor polisinya nanti saja. Lagi pula tidak terlihat ada tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya,” ujar Paimun.