Misteri dan Legenda Mistik Pulau Lancang

Ilustrasi: ist

Hari Sabtu tanggal 09 Januari 2021 pukul 14.40 WIB, pesawat penumpang jenis Boeing 737-534 milik Maskapai Sriwijaya Airlines jatuh ke tengah laut, setelah beberapa saat lepas landas dan mengalami hilang kontak. Pesawaat naas itu jatuh di tengah laut, antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, kawasan Kepulauan Seribu.

Selain 12 orang kru, di dalam pesawat tujuan Jakarta-Pontianak ini, tercatat ada 50 orang penumpang. Yang tujuh orang diantaranya anak-anak  dan tiga orang adalah bayi.

Dari informasi-informasi awal yang dikumpulkan, konon suara ledakan yang sangat keras, mengiringi jatuhnya pesawat ini sempat terdengar oleh nelayan dan penduduk yang berada di Pulau Lancang. Bahkan sampai dua kali, dan terjadinya pun saat keadaan tengah hujan yang cukup lebat. Sehingga sempat disangka sebagai suara petir.

Sementara Lurah Kepulauan Seribu, Djunaedi, mengatakan, bahwa lokasi  jatuhnya Pesawat Sriwijaya tujuan Jakarta-Pontianak itu, adalah di sekitaran Pulau Laki.

Dari dua informasi inilah, kemudian pihak-pihak terkait dengan secara yakin sempat memastikan, bahwa titik lokasi yang menjadi tempat jatuhnya Pesawat Sriwijaya SJ182 itu, adalah di antara dua pulau tersebut.

Itu karena, letak antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, adalah bersebelahan. Yaitu, hanya dipisahkan oleh lautan yang luasnya sekitar 1,5 atau 2 mil saja. Sedangkan kedalaman lautnya sendiri, diperkirakan sekitar 20 hingga 23 meteran.

Bisa terdengar atau bahkan dilihat adanya pesawat yang jatuh oleh penduduk dan nelayan yang ada di Pulau Lancang ini, karena memang Pulau Lancang merupakan pulau yang telah berpenghuni cukup padat. Yakni, ada lebih 1.500 orang penduduk yang tercatat sebagai penghuni tetapnya. Sementara luas pulaunya sendiri adalah sekitar 15 hektar. Di samping itu, ke pulau ini pun kerap banyak sekali wisatawan yang datang. Karena Pulau Lancang yang pada tahun 2001 sempat dijadikan sebagai pusat kelurahan wilayah Pulau Pari ini, juga sangat terkenal dengan wisata mancing, panorama laut dan kesibukan dermaganya.

Sementara di Pulau Laki sendiri, nyaris tidak ada orang ataupun nelayan yang beraktivitas. Karena di pulau yang luasnya hanya sekitar 1,5 hektar ini, memang tidak ada penduduk yang menetap. Padahal, keindahan-keindahan yang tersaji di kawasan pulau ini pun sangat menarik. Yaitu di sini adanya hutan mangrove yang indah, beragam satwa air, aneka jenis burung dan habitat kera ekor panjang.

Mungkin, karena letaknya yang cukup jauh, serta masih kurangnya promosi, maka cerita-cerita keindahan yang ada di Pulau Laki ini, masih belum banyak yang terungkap. Bahkan seperti yang terabaikan saja. Apalagi dengan cerita-cerita yang berbau mistiknya. Padahal, adanya berita atau cerita-cerita yang berbau horor dan mistik di kawasan pulau-pulau yang ada di wilayah Kepulauan Seribu ini, sejak dahulunya memang sudah sempat ada dan memiliki keragaman yang tersendiri.

Legenda Mistik

Syahdan, sebelum Pulau Lancang yang masuk pada wilayah Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, atau berjarak 11 Kilometer dari Pesisir Utara Pulau Jawa ini, dahulunya pun merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Atau seperti Pulau Laki sekarang itu.

Namun pada sekitaran tahun 1933, ke pulau yang sejak lama dikenal sangat memiliki potensi ikannya yang berlimpah itu, kerap mulai sering adanya nelayan yang datang. Utamanya yang berasal dari kaeasan Karang Hantu, Tangerang, Banten. Dimana mereka sering menangkap ikan dari sana, lantas dijual atau dibarternya dengan beras dan jenis makanan lainnya kepada penduduk yang berada di daratan asalnya itu. Kemudian, makanan tersebut diberikan kepada keluarganya, dan mereka pun kembali mencari ikannya ke kawasan laut sekitar pulau tersebut.

Lama kelamaan, karena jarak yang jauh dan mereka pun hanyalah menggunakan perahu kayu yang sederhana saja, maka dengan maksud agar tidak terlalu sering bulak-balik ke daratan tempat asalnya demi menjual dan menemui keluarganya itu, akhirnya mereka pun sempat sepakat untuk membawa pindah keluarganya itu ke kawasan pulau yang tidak jauh dari biasa mencari ikannya itu. Konon, ada tiga keluarga nelayan yang untuk pertama kalinya sempat pindah dan memutuskan untuk menetap di kawasan pulau yang tadinya kosong itu.

Awalnya mereka hanya membuat rumah atau gubuknya itu dengan bahan-bahan yang sederhana saja. Namun karena lama kelamaan mereka pun sempat beranak pinak, maka rumah dan sarana perkampungannya pun kemudian sempat pula mereka benahi. Bahkan sisa-sisa tanah yang masih kosong itu pun, kemudian sempat pula mereka manfaatkan dengan cara ditanami.

Namun, karena usia si para nelayan yang paling pertama menempati pulau itu yang semakin menua, sehingga sempat tidak sanggup lagi untuk melaut, maka selain sempat menjual dari hasil-hasil kebunnya itu, mereka pun kerap sering pula mencari kayu-kayu bakar untuk dijual, atau ditukar dengan bahan-bahan makanan yang lainnya itu. Yaitu, mereka sempat membawanya dengan cara diangkut melalui perahu, dan dijualnya ke perkampungan yang berada di seberang lautan itu.

Hingga suatu hari, karena sempat sudah tidak adanya lagi hasil kebun dan kayu-kayu bakar hasil pungutan yang bisa dijual, salah seorang di antara sosok nelayan tua penghuni pertama pulau tersebut, sempat ada yang mencoba mencari dan menjual kayu bakarnya itu dengan cara menebang sebuah pohon langka yang ada di sana. Yaitu, Pohon Kelancang.

Dan, sebuah kejadian mistik yang sungguh aneh pun akhirnya malah sempat terjadi. Yakni, ketika potongan-potongan kayu itu dimuat dan ditarik untuk dijual itu, saat tengah melaju di tengah-tengah lautan, sejumlah ikan yang ukurannya besar-besar pun tiba-tiba saja malah tampak saling berloncatan dan masuk ke dalam perahunya itu. Hingga, karena saking begitu banyaknya ikan-ikan yang terus meloncat dan memenuhi perahunya itu, si nelayan tua yang sempat berangkat dengan ditemani oleh istrinya itu pun, tentu saja sempat merasakan kaget dan panik. Karena, saking penuhnya ikan-ikan itu, maka keadaan perahunya pun semakin berat dan nyaris tenggelam.

Sehingga dengan segala upayanya, mereka itu sempat membuangi ikan-ikan tersebut. Namun upayanya itu pun ternyata sia-sia saja. Sebab, semakin banyak ikan yang dibuang, semakin banyak pula ikan-ikan yang kembali datang. Hingga akhirnya, mereka pun sempat memutuskan untuk membuang kayu-kayu bakar yang hendak dijualnya itu ke lautan.

Dan anehnya, bersamaan dengan dibuangnya kayu-kayu tersebut, ratusan ikan yang memenuhi perahunya itu pun, malah sempat pula kembali berloncatan ke lautan dengan secara sendirinya. Sehingga si nelayan tua itu pun bisa kembali pulang ke pulaunya.

Sejak itulah kawasan pulau yang ada di bagian Selatan Kepulauan Seribu itu pun sempat dikenal dengan sebutan Pulau Kelancang. Namun mungkin karena sempat adanya kesulitan dalam pelafalan, maka akhirnya pun lebih dikenali dengan Pulau Lancang itu. Sementara Pohon Kelancang itu sendiri, pada akhirnya pun sempat pada enyah dengan sendirinya, pasca adanya peristiwa sejarah atau legenda mistiknya yang unik itu.

Bandung, 10 Januari 2021