Gangguan Gaib Pabrik Rokok

Foto : gehuegenvannederland.nl

Tiga bulan sejak di PHK dari pabrik kemasan, aku mulai berusaha mencari pekerjaan baru. Namun, hingga sampai saat ini, aku masih juga menjadi pengangguran. Uang pesangon yang hanya 15 juta rupiah, nyatanya sudah hampir habis. 

Kemarin, ada seorang teman yang menyarankan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan sertifikasi security. Biayanya lumayan mahal sih, sekitar tiga jutaan. Namun, katanya itu juga buat kebaikan ke depannya. Sebab menjadi satpam yang mempunyai sertifikat, akan lebih mudah mendapatkan tempat kerja yang bergengsi. 

Namaku Fendy, lelaki 30 tahun. Banyak sekali yang mendukung, karena kata mereka fisikku lumayan bagus. Wajahku good looking dengan badan yang atletis dan gagah. 

Setelah berembuk dengan istri, akhirnya aku bertekad juga. Sebulan menjalani training akhirnya kudapatkan juga sertifikat itu. Dengan bantuan dari beberapa kawan, aku pun diterima kerja di sebuah pabrik rokok daerah industri di kotaku. Jaraknya dengan rumah juga tak jauh, jika ditempuh dengan motor hanya sekitar lima belas menitan. 

****

Hari pertama bekerja, aku masuk shift pagi, dimulai dari jam 6 pagi sampai 2 siang. Di pabrik ini ada tiga shift, hampir sama seperti pabrik-pabrik yang lain juga. 

Awalnya semua terlihat normal dan lancar hingga seminggu ke depan. Minggu kedua aku mulai dialih tugaskan di shift siang, dimulai dari jam 2 siang sampai jam 10 malam. Dari sinilah kejanggalan-kejanggalan itu mulai bermunculan. 

Saat hari mulai malam, setelah aku melakukan tugas keliling gudang, tepatnya sekitar jam 8 malam. Entah, seperti ada angin yang melewati tengkukku. Padahal aku berada di dalam pos satpam, di ruangan yang berukuran 2x3 meter itu sangat mustahil jika tiba-tiba angin bisa masuk, karena pintu dan jendela kututup rapat. Dan kipas angin kecil berada pas di depan meja yang sedang kutatap. 

Bulu kuduk seketika meremang begitu saja, kuusap tengkuk dengan sedikit bergidik. Lalu perlahan mengedarkan pandang ke belakang dan sekitar depan ruangan. Tak kutemukan apa-apa. 

Kembali aku fokus ke depan, sembari memutar radio untuk mengusir sepi dengan sedikit memperbesar volume. Saat kualihkan frekuensi untuk mencari-cari lagu yang kusuka, tetiba radio hanya bergemeresak. Tak ada suara musik, kugoyang-goyangkan radio berharap bisa kembali berbunyi, tetapi hanya ada suara krasak dan dengingan yang kian melengking. 

Aku berdecak sendiri, sembari terus memukul dan menggoyang-goyang antena radio. 

Gedebuk! 
Suara sesuatu jatuh mengenai atap pos dan seperti terasa menggelinding ke bawah. Wah, ini pasti mangga yang jatuh. Pikirku, karena di atas pos memang ada pohon mangga yang sudah mulai berbuah. 

Kulangkahkan kaki keluar dari pos mencari-cari keberadaan mangga yang jatuh. Lama aku mengedarkan netra, namun tetap tak ketemu. Kuambil senter dari saku dan beralih ke samping pos. 

Mataku melotot tajam saat menemukan glundung pringis yang kusorot lampu senter. Kalian tahu glundung pringis? Dia adalah sebuah hantu kepala yang suka menggelinding. Aku mematung menatapnya, bibirnya meringis ( tersenyum ) menampakkan giginya yang kuning panjang berantakan, begitu pula dengan rambutnya. Acak-acakan dan sedikit botak. 

Kakiku mulai gemetar tak karuan, dengan sisa tenaga, secepatnya kuambil langkah seribu masuk kembali dalam pos. Meski detak jantung berdebar tak karuan aku meringkuk di bawah meja. Karena tak tahu lagi harus kemana. Aku berusaha melawan takut sendirian dalam pos, hingga jam sepuluh malam.

Suara tarikan gagang pintu mengagetkanku. Aku terperanjat, berdiri tapi terbentur meja. 

"Aduh!!" pekikku sendiri. 

"Lha kamu ini ngapain di bawah meja?" suara Pak Toni–satpam lainnya–yang menemukanku mengusap-usap kepala yang habis terjedot. 

"Hehe ... Anu, Pak. Aku takut! Tadi ketemu glundung pringis di depan," jelasku sembari menuding tempat tadi. 

"Wes biasa, Fen. Mau kenalan dia. Nggak usah takut cuman ngunu tok kog, gak bakal gigit kamu juga!" jelasnya enteng. Aku hanya bisa menyunggingkan senyum sambil terus mengusap kepala. 

"Itu belum seberapa!" tambahnya sembari menepuk bahuku, aku melotot menatapnya. Ia tertawa terbahak. 

"Wes, pulang sana. Simpan tenagamu buat besok!" Ia masih menertawakanku saat aku mulai melangkah pergi. Menyisakan beribu pertanyaan tentang apa maksud perkataannya tadi. 

****

Hari kedua di shift sore, aku sudah mulai memersiapkan mentalku lebih kuat. Karena aku merasa malam ini bakalan ada lebih banyak gangguan. 

Benar saja, saat senja mulai tampak. Di kaca depan pos seperti ada bolak-balik bayangan sosok yang mengintip. Aku tahu itu bukan manusia, karena semua karyawan berada di dalam pabrik. Tak mungkin mereka keluar begitu saja saat jam kerja seperti ini. 

Aku berusaha sok santai tak memerdulikan,  meski tak bisa dipungkiri keringat di dahi dan kedua telapak tangan bercucuran tanpa henti. 

Hingga saat malam hari kulihat ada sosok hitam yang bergelantungan di pohon nangka depan gudang barat. Entah, itu apa? Bentuknya sih mirip genderuwo dengan bulu hitam lebat menutupi tubuh, perawakannya juga tinggi besar. Akan tetapi tingkahnya seperti monyet mengayun-ayun dari satu ranting ke ranting lainnya. Pokoknya serem saat kami bertemu pandang, mata merah melotot dan wajah yang hitam legam itu sukses membuatku seperti mati rasa. 

Berkali-kali pula kulihat banyak anak berlarian di depan gudang tengah, mereka kejar-kejaran lalu menghilang begitu saja di balik tembok seperti menembus.

Semakin hari aku mulai membiasakan diri untuk lebih tatag ( kuat ) meski rasa takut tetap ada bahkan lebih terasa. 

****

Minggu selanjutnya aku ditempatkan di shift malam, yaitu dari jam 10 malam sampai 6 pagi. Aku mulai sedikit ragu karena bukan hanya soal menahan kantuk yang belum terbiasa, tetapi juga soal malam yang menjadi tantangan tersendiri buatku. 

Saat memasuki jam 01.00 malam, angin mulai terasa begitu dingin menusuk. Berkali-kali kututup mulut menahan dari menguap sebab kantuk yang mulai tak terbendung. 

Mata terasa lengket ingin menutup, kutopang wajah dengan kedua tangan di atas meja. Sesaat kantukku hilang seketika, saat kudengar suara tangisan wanita yang begitu menyayat hati. Suaranya membuat semua bulu-bulu di tubuh meremang. Mata seketika melotot menyusuri pandang. 

Kuteguk ludah sendiri, berharap segera berlalu. Akan tetapi semakin lama tangisan itu seperti makin mendekat, membuat air seni tiba-tiba terasa di pucuk ingin dimuntahkan. Kugenggamkan erat jari jemari sendiri menahan rasa ingin kencing. 

Kembali aku tersentak saat terdengar suara nyaring klakson truk yang sedang menanti di depan pabrik. Dengan tergesa aku berlari membuka pintu gerbang. Truk segera melaju masuk. 

"Bang, tolong saya sebentar ya. Pliss!" kataku seraya menghimpit celana sendiri menahan air tubuh yang sudah semakin mendesak. 

Supir itu turun dan beranjak mengikutiku. Ia menghentikan langkah saat kami sudah berada di depan toilet, 

"Apa maksudnya sampean ini?" tanyanya penuh selidik. 

"Tungguin saya bentar aja, Bang. Kebelet banget ini, saya takut!" Izinku sambil mengatupkan kedua tangan. 

"Yaudah cepet!" suruhnya galak. Tak kupedulikan, dengan sigap aku menuntaskan hajat tanpa berpaling kembali. 

Setelah selesai, kubuka pintu kasar memastikan abang supir masih berada di tempatnya. Tak ada! Sial! 

Aku terperanjat saat menemukan sesosok nenek dengan kebaya dan jarik batik sedang bersimpuh di sebelah toilet. Kakinya panjang dan mengecil di ujungnya, rambutnya putih berantakan memandangku lekat tanpa kedip. 

"Astaghfirullah!" ucapku kaget, dengan perasaan berkecamuk, aku memutar otak. Kubungkukkan badan dan merentangkan tangan kanan ke bawah. Lalu berjalan melewatinya. 

"Amet, Mbah. Ameett ... kulo bade lintang mawon," ( Permisi, Mbah. Permisi ... saya mau lewat saja, ) kataku penuh hormat dan ngeri, kulirik ia masih setia memandangku tajam, hingga aku benar-benar keluar dari toilet ini dengan langkah terbirit-birit. 

Kulihat abang supir tadi sudah berada di depan gudang bersama beberapa karyawan sedang mengangkut dus-dus rokok. 

"Bang, kog ditinggal sih! Ngeri tau nggak," ucapku padanya sedikit geram. 

"Haha ... lucu sampean ini, kayak anak kecil saja!" jawabnya mengejek membuat bibirku mengerucut ngambek. 

Aku mulai sedikit lega karena suasana menjadi ramai, kulewati malam ini dengan perasaan damai sampai pagi menjelang. 


****

Hari ini aku masuk shift siang, sejak subuh tadi, kata bapak manager, lampu depan kantor mendadak meledak dan mati, ia sudah menelpon teknisi listrik. Katanya mungkin nanti sore petugasnya baru bisa datang, ia memintaku untuk mengawasi, karena ia akan pergi ke luar kota. 

Sekitar jam 16.00 petugas listrik menepati janjinya datang. Kutuntun ia ke dalam, lalu membantunya juga memegangi tangga. Dengan sedikit gurauan, kami pun larut dalam suasana riang. 

Tit ... tit ... tit ....
Suara lampu sein truk yang akan memasuki wilayah pabrik. Bergegas aku pamit dari petugas listrik untuk membuka pintu gerbang. 

Aku sibuk dengan aktivitas angkutan barang, sampai lupa pada petugas listrik yang tadi kutinggal. Hingga senja mulai menampakkan wujudnya, kutemukan abang petugas listrik lari pontang-panting ke arahku. 

"Ngapain, Bang?" tanyaku padanya yang masih berusaha menstabilkan napas yang tersengal-sengal. 

"Duh, Bang. Besok aja aku terusin, kaget aku tiba-tiba dibentak sama genderuwo. Disuruh pulang kayaknya!" jelasnya dengan peluh bercucuran. 

"Ya udah, siapin aja mental buat besok." Kutepuk pundaknya seakan sok berani, padahal andai aku ada di posisinya, mungkin aku sudah jatuh pingsan dari atas tangga. 

Ia berpamit, sembari berkali-kali melirikkan mata ke ruang itu. Seperti antara penasaran dan takut. Entah, apa dia berani kembali lagi besok, aku pun tak tahu. 

****

Kian hari, gangguan-gangguan dari para penghuni pabrik semakin intens, tetapi aku sudah mulai membiasakan diri dengan semua yang ada. Bagiku, mereka hanya ingin menunjukkan eksistensinya, bahwa mereka benar ada dan nyata. Takkan mengganggu bila tak diusik, takkan membalas bila tak dendam. 

Kini aku mulai menikmati pekerjaan ini, dan akan terus bertahan entah sampai kapan. Meski tak bisa dipungkiri, kaget dan takut sering melanda saat tiba-tiba mereka menampakkan diri. Dan yang paling mengganggu hingga kini adalah suara tangisan dari mbak kunti yang begitu menyayat itu, ingin rasa kuhampiri dan menenangkannya tapi apa daya, andai sampean manusia mbak. Hehe ....

SEKIAN

Sidoarjo, 8 januari 2021