Gerbang Dunia Lain

Curug Cilengkrang Sebuah Gerbang Menuju Dunia Lain

Susah payah mendaki motor matic ku berhasil juga tiba di.pelataran parkir Curug Cilengkrang. Sepi sekali karena status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih diberlakukan.Waktu menunjukan hampir jam 14.30 waktu setempat nyanyian angin dan binatang hutan sayup-sayup menyambut kedatanganku. Ketertarikan yang besar menuntunku tiba di gerbang curug ini. Masih kuingat perkataan seorang teman yang menceritakan keindahan curug ini dengan pesona air panasnya.

Mencoba nyali kuberanikan datang seorang diri, sepertinya bisikan dihatiku meyakinkan aku untuk segera berpetualang ke curug tersebut. Perlahan ku pandangi suasana sekeliling curug, sunyi tiada seorangpun manusia disana, hanya berjarak 1 km sebelum tiba digerbang kulihat beberapa pasang anak muda menikmati satu sudut view untuk berpoto-poto. Kulihat mereka memandang aneh dan mencoba mengingatkanku bahwa Curug dalam kondisi masih di tutup. Kubalas peringatan mereka dengan sebuah senyuman tanda terimakasih.

Perlahan namun penuh kewaspadaan kutepikan motor. Dengan kemantapan hati dan bibir yang terus berdzikir kakiku melangkah pasti mengelilingi sejenak pandangan mencoba menembus lebatnya pepohonan tua. Sesaat kurasakan angin sejuk menerpa tubuhku sepertinya sesuatu telah berdiri disampingku, tanpa memalingkan pandangan ku ucapkan salam layaknya aku bertemu dengan seorang teman.

“Assalamualaikum." 

"Maaf jika kehadiran nanda telah mengusik para sahabat, ijinkan nanda berkunjung untuk menikmati keindahan karya sang Maha Agung jika kurang berkenan nanda kembali pulang.”

Sosok yang tadinya samar mulai terlihat, lelaki sepuh dengan mata teduh baju putih simbol seorang yang arif kepalanya dililit kain sorban berwarna hijau tua itu dengan lembut menjawab salamku

“Waalaikum salam warahmatullahiwabarakatuh”

“Lama menunggu kedatanganmu cucuku, akhirnya kau membaca panggilanku.”

Meski ada rasa takut dihati namun dengan spontan aku berbalik kearah sosok sepuh itu, aku menyambut uluran tangannya kucium dengan santun layaknya seorang cucu pada kakeknya. Kurasakan tangan kirinya mengusap kepalaku dengan lembut. Tak berani kutatap matanya yang begitu teduh namun tajam serasa menembus hingga kehati.

“Lihatlah kesana cucuku,” perintah itu seolah menghipnotisku. Kupalingkan pandangan pada arah yang ditunjuk sosok sepuh itu. Tepat kegerbang curug yang barusan kulihat ditumbuhi lebat pepohonan begitu gelap penuh misteri. Kuusap mataku berkali-kali seraya mengucap kekaguman.

“Masya Allah.”

Gerbang tua Curug Cilengkrang yang semula terlihat menakutkan telah berubah. Sebuah gerbang raksasa megah terhampar jalanan bebatuan berubah menjadi sebuah jalan terbuat dari pualam yang indah.

Seekor harimau putih berdiri seolah sedang menunggu perintah, ekornya dikibas-kibaskan saat mataku beradu pandang harimau putih itu mengaum bergerak kepalanya seolah mengangguk kearahku. Akupun membalas anggukan itu dengan ucapan salam. Seperti mengerti keherananku sosok sepuh itu berkata :

“Cucuku kau sudah mengenalinya bukan ?"

"Dia yang selalu mendampingimu, akulah yang mengirimnya untuk memperingatkanmu jika kau mulai salah jalan, yang memperingatkanmu jika kau mulai putus asa. Pertemuan kita cukup sampai disini waktunya belum tepat cucuku, uyut sedang dalam perhelatan besar dengan beberapa orang sahabat . Mengingat banyaknya kekecewaan melihat kehidupan diduniamu begitu carut marut”.

Dengan penuh takjim dan keheranan aku mendengarkan setiap perkataan sosok sepuh bersorban hijau itu dengan seksama. Sambil mengingat-ingat dimana ku melihat harimau putih itu, sampailah ingatanku pada satu mimpi ketika seseorang dalam mimpi itu menitipkan harimau putih padaku. Sosok sepuh itu melambaikan tangan kearah harimau putih yang sedari tadi memandangi kami dengan sikap waspada.

“Kuraga, kemarilah !” panggilnya.

Dalam satu auman dan satu loncatan saja harimau putih itu telah bediri disamping sosok sepuh itu. Sambil mengelus kepala harimau putih sosok sepuh itu berkata seolah berbicara dengan sesamanya.

“Pergilah, tugasmu membawa cucuku telah kau selesaikan dengan baik, dan untuk tugas berikutnya kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan bukan, Kuraga.”

Harimau itu tiba-tiba menjawab layaknya manusia, suaranya yang berat penuh kekuatan namun terdengar berwibawa.

“Baik kyai, Kuraga tahu apa tugas Kuraga. Kuraga mohon diri. “

Kulihat harimau itu berjalan kearahku kemudian duduk melingkar disamping kaki kananku. Entah kekuatan apa yang mempengaruhi tak sedikitpun ketakutan itu kurasakan padahal aku tahu harimau putih itu binatang buas dan berbahaya.

“Nah cucuku pulanglah, pesanku jaga shalatmu, tetaplah hatimu dalam dzikir, berlakulah sebagai manusia yang berhati manusia. Kita akan bertemu lagi diwaktu yang telah digariskan,” ujar sosok sepuh itu seraya mengulurkan tangan dan mengucapkan salam.

“Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh”

Kusambut uluran tanganya dan kucium dengan menjawab salamnya

“Waalaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh, nanda pamit uyut."

Kurasakan angin lembut berhembus, saat kuangkat kepalaku sejenak sebelum gerbang raksasa dan sosok sepuh yang kupanggil uyut menghilang kulihat beberapa orang berpakaian putih-putih dengan sorban putih berdatatangan dari berbagai arah dan beberapa orang berpakaian hitam dengan celana pangsi hitam. Diantara orang-orang berpakaian hitam kulihat sosok menonjol dengan ikat kepala terbuat dari kulit harimau yang tiba-tiaba menoleh kearahku melempar sebuah senyum syarat makna.

Dalam sekejapan pintu gerbang curug Cilengkrang kembali kebentuk yang kulihat senyatanya. Tua dan gelap dinaungi pepohonan penuh misteri, sepertinya waktunya belum tepat untuk menikmati kehangatan Curug Cilengkrang dan sejuta pesona didalamnya. Akupun menyalakan motor dan menjalankannya ke arah pulang dengan sebuah cerita dan janji yang akan kutepati.

"Curug Cilengkrang aku pasti kembali!"

Kuningan,080121