Sosok Mahapati, Penghasut Ulung Majapahit yang Sebenarnya

Ilustrasi/Ist

Siapakah sosok Mahapati yang disebut dalam Kitab Pararaton (Pustaka Raja)? Sosok ini menjadi penting karena digambarkan sebagai tokoh ambisius yang ingin menjadi petinggi kerajaan dengan cara menebar fitnah hingga menyebabkan terbunuhnya tokoh-tokoh pendiri Majapahit.

Para sejarawan sepertinya sepakat sosok Mahapti dalam Pararaton adalah Dyah Halayudha. Alasannya sederhana saja. Setelah Ranggalawe, Lembu Sora dan terakhir Patih Nambi dibunuh dengan tuduhan memberontak terhadap kerajaan, Halayudha diangkat oleh Prabu Jayanegara sebagai Patih Majapahit.

Namun sepertinya ada yang terlupa karena sama sekali tidak memperhitungkan sosok Gajah Mada. Padahal sosok Mahapati juga bisa saja Gajah Mada jika memperhatikan beberapa hal ini:

Pertama, penulisan Pararaton

Pararaton ditulis sekitar tahun 1481 masehi. Artinya, sesudah keruntuhan Majapahit tahun 1478. Satu-satunya mahapatih Majapahit yang namanya tidak lekang oleh waktu adalah Gajah Mada karena keberhasilannya menaklukan banyak kerajaan yang kemudian menjadi daerah bawahan  Majapahit.

Keberhasilan Gajah Mada menjadikan Majapahit kerajaan besar dan disegani. Wilayahnya membentang dari Jawa hingga Filipina dan Thailand sekarang. Ketenaran Gajah Mada bahkan mengalahkan raja-raja Majaphit.

Kedua, asal-usul Gajah Mada

Tidak ada kitab yang menulis asal usul Gajah Mada. Mungkin karena para pujangga saat itu memang hanya diwajibkan untuk menulis tentang raja. Tetapi jika mau teliti, sebenarnya jejak Gajah Mada dapat ditelusuri dari bangunan suci atau caitya yang didirikan.

Gajah Mada mendarmakan prasasti bertahun 1273 untuk Kertanegara, raja terakhir Singhasari yang terbunuh dalam pemberontakan Jayakatwang. 

Mengapa Gajah Mada mendarmakan caitya untuk Kertanegara? Menurut sejarawan Agus Aris Munandar, kemungkinan Gajah Mada mencari legitimasi untuk membuktikan Sumpah Palapa. Sebab Kertanagara memiliki wawasan Dwipantara Mandala, di mana dia memperhatikan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa. Sepertinya Gajah Mada ingin diakui tengah meneruskan politik pengembangan mandala hingga seluruh nusantara) yang awalnya telah dirintis oleh Kertanegara.

Namun ada juga kemungkinan lain sebab pada masa Jawa Kuno, pen-dharma-an caitya hanya dilakukan oleh kerabat atau keturunan langsungnya. Contoh Candi Sumberjati untuk Raden Wijaya yang dibangun oleh Jayanegara. Dari sini terbuka kemungkinan Gajah Mada masih keturunan, setidaknya memiliki hubungan darah, dengan Kertanegara.    

Ada kemungkinan ayah Gajah Mada adalah Gajah Pagon, putra Kertanegara dari selir. Gajah Pagon merupakan perwira tinggi yang ikut berjuang bersama Raden Wijaya berperang melawan Jayakatwang.

Namun ketika Raden Wijaya berdamai dengan Jayakatwang dan diberi hutan Tarik, yang kemudian dijadikan basecamp untuk menyerang balik Jayakatwang di tengah serbuan pasukan Mongol, nama Gajah Pagon hilang. Bahkan setelah Raden Wisaya mendirikan Majapahit di mana seluruh perwira yang telah berjasa mendapat jabatan di kerajaan, nama Gajah Pagon tetap tidak ditemukan.

Ada yang meyakini Gajah Pagon disingkirkan karena menolak ketika Raden Wijaya berdamai dengan Jayakatwang. Gajah Pagon kemudian tinggal di desa dan menikah dengan putri kepala desa hingga lahirlah Gajah Mada.          

Dari sisi ini, dapat dipahami jika Gajah Mada sejak awal sudah memiliki dendam sekaligus ambisi untuk menjadi pejabat tinggi di Kerajaan Majapahit yang dianggap sebagai penerus Kerajaan Singhasari.

Ketiga, kemunculan Gajah Mada

Nama Gajah Mada muncul untuk pertama kali saat terjadi pemberontakan Ra Kuti, anggota dharmaputra- semacam dewan penasehat raja.

Jabatan Gajah Mada saat itu adalah bekel (kepala) Bhayangkara, pasukan elit Majapahit. Di masa itu, tidak sembarang orang bisa menjadi perwira tinggi. Jabatan-jabatan strategis pasti dipegang sendiri oleh kerabat kerajaan. Dari fakta ini, dugaan Gajah Mada sebagai keturunan Kertanegara semakin kuat.

Gajah Mada berhasil menyelamatkan Jayanegara dengan cara mengungsikan ke Desa Badander dan melakukan serang balik ke kutaraja setelah mendapat dukungan para perwira kerajaan yang menolak mengakui Ra Kuti sebagai raja.

Namun keberhasilan ini ternyata tidak mendapat balasan setimpal dari Jayanegara. Gajah Mada tetap menjadi kepala Bhayangkara. Dari sinilah dendam dan ambisinya terlecut. Dalam suatu kesempatan Gajah Mada melancarkan serangan kepada Mahapatih Halayudha yang disebutnya terlibat dalam pemberontakan Ra Kuti. Gajah Mada mencincang tubuh Halayudha seperti celeng atau babi hutan.

Jayanegara kemudian mengangkat Arya Tadah sebagai mahapatih. Gajah Mada justru “dibuang” dengan dijadikan patih kerajaan bawahan yakni Kahuripan yang dipimpin Dyah Gitarja alias Tribhuwana Wijayatunggadewi, adik tiri Jayanegara.

Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya Gajah Mada. Terlebih kemudian tersiar kabar Jayanegara ingin menikahi Dyah Gitarja dan adiknya Dyah Wiyat. Tujuannya agar keduanya tidak menikah dengan pemuda lain yang dapat mengancam kedudukan Jayanegara.

Dua tahun kemudian Gajah Mada dipindah ke Daha, menjadi patih Dyah Wiyat. Meski secara kepangkatan masih sama, namun kini Gajah Mada memiliki akses ke iistana kerajaan Majapahit hingga kemudian berkenalan dengan Ra Tanca, salah satu sekutu Ra Kuti yang mendapat pengampunan karena memiliki ketrampilan sebagai tabib yang dibutuhkan untuk mengobati Jayanegara yang sakit-sakitan.  

Keleluasaan Gajah Mada pergi ke istana kemungkinan juga karena mendapat restu dari Dyat Gitarja dan Dyah Wiyat yang tengah kesal karena larangan menikah. Ada juga spekulasi yang menyebut, Gajah Mada mondar-mandir ke istana atas jaminan Gayatri yang tidak rela kedua anak gadisnya dinikahi oleh Jayanegara yang tidak lain anak tirinya.

Keempat, pembunuhan Jayanegara 

Mari kita lihat skema terjadinya pembunuhan Jayanegara. Awalnya Ra Tanca mengeluh kepada Gajah Mada karena istrinya diganggu oleh Jayanegara. Namun Gajah Mada justru menghasut agar Ra Tanca melakukan balas dendam sendiri.

Melihat ada peluang, Ra Tanca pun mulai menyusun siasat. Selain dendam karena istrinya diganggu, Ra Tanca juga ingin membalas kematian Ra Kuti dan teman-temannya.

Gajah Mada kemudian memanfaatkan situasi ini. Kabar tabib Ra Tanca akan mengoperasi bisul Jayanegara disiarkan ke segala penjuru sehingga semua orang tahu. Pada hari yang telah ditentukan, Ra Tanca bukannya mengoperasi bisul namun justru menikamnya. Gajah Mada yang sudah menyelinap langsung mengeksekusi Ra Tanca agar “restu” yang diberikan tidak bocor.

Ketika kematian raja diumumkan rakyat langsung percaya karena memang sudah tahu ada rencana operasi bisul serta track record Ra Tanca sebagai mantan pemberontak. Gajah Mada pun dielu-elukan sebagai pahlawan.

Sejarawan Belanda Belanda, N.J. Krom dan Slamet Muljana termasuk yang meyakini adanya konspirasi Gajah Mada di balik kematian Jayanegara.

Pada tahun 1334 Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih ketika Tribhuwana Tunggadewi naik takhta menggantikan Jayanegara. Sebuah jabatan prestisius yang belum tentu didapat jika Jayanegara tidak mangkat.

Kelima, antitesis terhadap Kakawin Negarakertagama

Poin ini sangat penting untuk memahami karena terbitnya Pararton diyakini sesudah Kakawin Kertagama yang ditulis tahun 1365 oleh Mpu Prapanca. Jika Pararaton ditulis sesaat setelah Majapahit runtuh, maka Negarakertagama terbit ketika Majapahit masih berjaya.

Dari pemahaman ini, sangat mungkin Pararaton dimaksudkan sebagai antitesis atau koreksi terhadap Negarakertagama. Sebab di dalam kitab Negarakertagama hanya ada nama Gajah Mada, tepatnya tentang kematiannya, di pupuh 71 dan 71. Tidak ada patih lain yang mendapat tempat begitu mulia karena Negarakertagama merupakan  kitab tentang raja Majapahit terbesar yakni Prabu Hayam Wuruk. Wajar jika kemudian ada yang merasa ingin “meluruskan sejarah” melalui Pararaton karena tradisi penulisan di masa lalu memang saling bertolak-belakang, tergantung kepentingannya.

^Dinarasikan juga di sini