Janinku Dimakan Hantu Hujan Panas

Media.pakuan.pikiran-rakyat.com

Menikahi Aslan adalah sebuah anugerah bagiku. Dia bukan hanya suami yang baik, tetapi sangat perhatian. Meski hanya bekerja sebagai seorang karyawan di perusahaan swasta, suamiku sangat memanjakanku. Namun, satu catatan kelam telah merenggut semua kebahagiaanku.

 

Mengarungi hidup pernikahan selama 4 tahun, akhirnya kami akan segera dikaruniai anak. Kabar bahagia itu datang, tatkala suatu pagi, aku mengalami mual-mual dan muntah. Aslan yang kala itu masih tiduran, segera menghampiri aku ke kamar mandi. 

 

"Sayang, kenapa? Wajahmu pucat sekali!" ucapnya khawatir.

 

"Entahlah, perasaan aku baik-baik saja semalam. Tiba-tiba bangun tidur, perutku seperti diaduk-aduk. Mual! Huuueeekkkh!"

 

Rasa ingin muntah terus saja menyerang. Karena cemas, Aslan memutuskan untuk minta izin tidak masuk kerja. Dia membawaku berobat demi memastikan tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Dan memang bukan! Aku hamil, itu kata dokter. Bisa dipastikan berapa bahagianya kami, terutama Aslan. 

 

"Mulai hari ini, kamu tidak boleh cape-cape! Aku akan mencari seseorang untuk menemanimu di rumah. Aku tidak ingin apa pun terjadi padamu di saat aku sedang bekerja!" 

 

Awalnya aku menolak, karena menganggap sikapnya terlalu berlebihan. Wanita hamil itu biasa dan merupakan karunia Ilahi, tidak boleh bermalas-malasan, agar kandungannya sehat. Itu yang selalu dikatakan ibuku. Tapi Aslan bersikeras. Ini wajar, karena dia sudah lama menunggu kehadiran seorang anak dalam rumah kami. Setelah memberi kabar kepada seluruh keluarga besar, aku pun mendapat banyak ucapan dan doa dari semuanya. Itu masa-masa terindah bagi kami berdua. 

 

Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Usia kandunganku sudah masuk trimester kedua. Janin dalam perut telah berusia 16 minggu, artinya tubuh sempurna jabang bayi sedang terbentuk. Ibu mertua dan ibu kandungku sering berpesan, jika hendak kemana-mana sebaiknya membawa pengeras, yaitu benda tajam seperti gunting kecil, peniti atau gunting kuku di saku pakaian. 

 

Aku tidak mengerti apa fungsinya. Menurut ibuku benda tersebut bisa menjaga janin dalam perut agar tidak diganggu oleh makhluk halus. Ahhh! Zaman sudah canggih, mengapa kepercayaan seperti itu masih dipertahankan? Ada lagi, ibu kandungku berpesan agar meletakkan satu buah kundur di salah satu sudut kamar tidurku. Alasannya juga tak masuk akal. Beliau bilang untuk mengalihkan kuntilanak, agar tidak bisa mencium bau wanita hamil. Duh, aneh-aneh saja!

 

Menganggap semua hanya mitos, tidak satu pun petuah ibu dan ibu mertua aku turuti. Sebab bagaimanapun juga hanya perlu yakin kepada Tuhan, bukan pada benda-benda seperti itu. Lagi pula, aku dan Aslan taat beribadah. Bukankah kami tinggal di kota besar, dengan segala modernisasi paling canggih. Mana ada hal-hal gaib?

 

Takabur! Itu awal dari kehancuran hidupku. Suatu sore, sebelum Aslan pulang kantor. Aku ingin sekali makan bakso di pengkolan dekat luar komplek. Karena tidak sabar menunggu suami pulang, aku berniat pergi sendiri dengan berjalan kaki. Mbak Isnah yang merupakan saudara jauh Aslan, ingin menemani. Tapi aku menolak, beranggapan jarak depot bakso Mang Juki tidak jauh. Jadi tidak perlu dikawal. 

 

Cuaca memang sedikit mendung, tapi di barat matahari masih terik. Gerimis bagai debu-debu halus turun, tapi tidak membuatku kuyup. Semakin lama titik air semakin besar, hingga bias pelangi hadir di sore itu. Hujan panas, begitu sebutannya. Ada yang aneh kurasa, sepanjang perjalanan ke depot bakso, jalanan komplek sepi. Biasanya anak-anak bermain, ditemani ibu masing-masing sambil ngerumpi. Tapi ini, sepi! Pintu semua rumah di komplek tertutup rapat. Aku tidak begitu menghiraukan semua, terus saja berjalan. Karena gerimis sedikit lebat, kupacu langkah lebih cepat. 

 

Saat melewati pos satpam di depan komplek, aku berjalan sambil sedikit menunduk. Tepat di tikungan sebelah kiri, tubuhku bersinggungan dengan seseorang. Mungkin karena buru-buru, aku tidak melihat dia yang berjalan berlawanan arah. 

 

"Maaf!" kataku singkat.

 

Tapi orang itu tidak menyahut, ataupun melihat ke arahku. Dia tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Dia wanita, memakai atasan dan celana kulot serba merah dan menentang payung hitam. Aneh! Ak tak sempat melihat wajahnya, dari belakang tubuhnya terlihat langsing. Ada selendang hitam menjuntai di punggung belakang. Karena dia tidak menoleh, aku pun segera berlalu. 

 

Setiba di depot bakso Mang Juki, aku segera memesan satu porsi jumbo. Rasa lapar dan keinginan menikmati santapan hangat itu, membuatku bersemangat. Ketika baksonya tiba, tanpa menunggu lama, segera kuberi kecap dan saos sambel. Aroma baksonya begitu menggoda. Aku pun menyantap dengan lahap. Tiga menit, semangkok bakso dan segelas air putih hangat masuk ke dalam perut. Puas! Setelah mambayar, aku pun pulang dengan suka-cita.

 

*

 

Magrib baru saja selesai. Tadi sore Aslan minta ijin pulang terlambat karena ada lembur di kantor. Mbak Isnah juga minta ijin pulang menjenguk ibunya yang sakit. Aku sendirian. Tiba-tiba perutku mules. Semakin lama semakin kuat. Aku tak tahan! Keringat mulai mengucur, butiran air sebesar biji jagung membasah. Isi perut seperti diobrak-abrik bagai ditusuk-tusuk benda tajam, sakit luar biasa. Nafas mulai terengah-engah, aku meringkuk di lantai ruang tamu menahan sakit yang luar biasa. 

 

"Ma-a-as …!" lirihku tak berdaya, seolah terdengar oleh Aslan.

 

Di dalam kesakitan, aku pun ketakutan. Bagaimana dengan jamin dalam perut? Ya … Allah. Jangan ambil anakku! Aku memohon dalam hati. Seketika berpikir mencari bantuan, agar dapat segera ke rumah sakit. Aku coba merangkak keluar, siapa tahu ada orang yang bisa kumintai pertolongan.

 

"Akhhh …!" aku menjerit saat sakit perut menjadi-jadi.

 

Ada air dan darah keluar dari kedua paha, aku semakin takut kehilangan. Air mata menderas, sempat berpikir mencari Handphone. Tapi benda itu tidak terlihat. Aku lupa menaruhnya dimana. Akalku semakin buntu. Masih merangkak perlahan, akhirnya aku tiba juga di pintu depan. Dengan sisa-sisa tenaga, coba meraih ganggang pintu.

 

"Aaakkkhhhhh …!" Satu erangan panjang membuat tubuhku lemas.

 

Pandangan mata kian nanar. Pintu berhasil terbuka, tanganku mengapai-gapai ke udara. Tapi suara tak lagi sanggup keluar dari bibir. Sakit teramat hebat menyerang di bagian perut, aku tak sanggup lagi! Sebelum semua kesadaranku hilang, tampak sosok berpakaian serba merah yang sedang memegang payung hitam tersenyum ke arahku. Dia berdiri di teras. Selanjutnya, semua jadi gelap.

 

Ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit dan mendapati suamiku duduk di samping bangsal. Wajah kecewa Aslan tergurat jelas, karena calon anak kami telah tiada. Aku keguguran! Semua kerabat berkumpul, termasuk ayah, ibu, juga kedua orang tua Aslan. Hal yang tidak bisa dipahami adalah, janin dalam rahimku hancur seperti danging yang diblender. Itu menurut penjelasan dokter yang menanganiku. Pendarahan hebat, membuat rahimku harus diangkat. Dengan kata lain, aku tidak dapat dibuahi lagi. 

 

Saat belum aku siuman dari pingsan, rupanya ibuku berkonsultasi dengan seorang paranormal. Katanya, janinku diambil hantu hujan panas. Entahlah, benar atau salah aku tak tahu. Meski tidak mengalami kecelakaan, tapi jabang bayi kami mati tak berupa di dalam rahimku. menyesal pun tiada guna. Aku telah kehilangan, karena telah mengabaikan nasehat ibu. Dengan berlinang air mata, kulemparkan pandangan ke luar jendela rumah sakit. Sekilas, sosok berpakaian serba merah hadir. Dia berdiri di salah satu pohon. Sedetik kemudian, menghilang!

 

ZQS