Tante Iaka

Scrabble/ist

"Mama, kenapa Tante Iaka menjadi aneh?"

"Aneh?" 

"Dia menutup seluruh jendela dan tirai tebal ruangan, dan hanya menyalakan televisi tanpa suara. Kami juga tidak pernah bermain." 

"Tapi kalian masih belajar Bahasa Inggris, kan?" 

Zaroon mengedikkan bahu, juga menggeleng pelan. Di hadapan mamanya ia memasang wajah lesu, berharap blouse putih berbalut blazer old-navy itu akan berganti kaus, dan mereka bermain seperti saat bangun tidur tadi. Tapi nihil. Mama justru meraih ponsel di meja, dan mulai memainkannya dengan kening berkerut. 

"Tidak tersambung," bisik mama. 

"Lebih baik kita bermain tembakan air lagi, Mama. Mungkin Tante Iaka batal datang." 

Mama tersenyum, dan lengkung di bibirnya kian lebar saat terdengar suara ketukan pintu. Pukul tujuh lebih sepuluh, Zaroon telah menghafalnya, waktu kedatangan Tante Iaka yang selalu sama. 

"Kau sakit?" ucap mama mendampingi Tante Iaka duduk di sofa. 

"Hanya sedikit pusing," jawab Tante Iaka, senyumnya aneh. 

"Maaf, tapi ... Bahasa Inggris Zaroon?" 

"Ya, aku mengerti. Jadwal pertandingannya semakin dekat." 

Mama tersenyum tulus, tampak berterima kasih. Sesaat kemudian mama meninggalkan mereka berdua, untuk sebuah pekerjaan dibalik kubikel kantor yang melelahkan. 

Zaroon dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya: Tirai jendela tertutup, televisi menyala tanpa suara, dan, Tante Iaka mengeluarkan buku hitam tebal itu dari dalam tasnya. Mungkin buku ajaib, begitu pikir Zaroon, karena Tante Iaka tetap dapat membacanya bahkan saat cahaya terasa begitu redup. 

Kemarin Zaroon hampir menangis karena bosan menonton televisi tanpa suara. Tapi hari ini ia mendapat papan scrable baru dari mama. Ia lalu menyingkir ke kamar, satu-satunya ruang yang Tante Iaka membiarkan tirainya tetap terbuka, meski jendela juga ditutup. Ia harus mencobanya, pasti sangat menyenangkan. 

Seharusnya semua lebih asyik jika saja Tante Iaka tak berubah aneh seperti ini. Ini adalah papan scrabble kelima mereka. Zaroon sudah menguasai semakin banyak vocabbularies -kosa kata bahasa Inggris yang diajarkan Tante Iaka sejak awal mula. Menjadi juara pertandingan scrabble di sekolahnya membuat Zaroon seketika didapuk untuk menjadi wakil dalam pertandingan scrabble tingkat nasional di Ibukota. 

Tapi, ya ... apa salahnya mencoba bertanya? Zaroon membuka pintu kamarnya, berharap kali ini Tante Iaka akan kembali main bersamanya, dan bukannya sekadar menyeringai seperti sebelumnya.


"Tante, bagaimana jika kita mencoba papan bar...." Kata-kata Zaroon terhenti begitu pintu terkuak dan melahirkan pemandangan mengejutkan. 

Dilhatnya tubuh Tante Iaka yang duduk di atas sofa bergetar hebat, mungkin lebih tepatnya terguncang. Kedua sikunya bertumpu pada lutut, telapak tangan saling tangkup bersandar pada kening. Zaroon nyaris memekik melihat sesuatu hitam dan kental luber dari mulut Tante Iaka. 

"Apa itu ...?" Zaroon berbisik, menutup pintu kamarnya rapat dan bersembunyi di balik selimut. Di tangannya papan scrabble tergenggam erat, turut bergetar bersama tubuh yang ketakutan.

Petang harinya, Tante Iaka tahu-tahu telah ada di dalam kamarnya saat Zaroon membuka mata, membuat tubuh belia itu terlonjak begitu kuat hingga membuat selimutnya tersingkap.

"Apa yang kau lakukan?" Tante Iaka bertanya dengan intonasi yang terdengar misterius sambil tangannya menutup tirai tebal jendela.

"A-aku tertidur ... memainkan ini ...." Hati Zaroon berdesir, ia teringat kejadian siang tadi. Ditunjuknya papan scrabble dan dadu huruf yang bertebaran di kasur. 

Perlahan jemari Tante Iaka memungut dadu huruf, juga mengambil papan scrabble yang terhimpit paha Zaroon. "Ayo kita bermain," katanya sambil berlalu keluar kamar begitu saja. 

Zaroon ragu apakah ia tadi bermimpi atau bukan. Dalam cahaya remang ia teliti sofa dan seisi ruang keluarga mungil di muka kamarnya itu. Semua baik-baik saja. Tak ada noda sisa muntah atau kotoran lain setitik pun. Mungkin Tante Iaka sudah membersihkannya, pikir Zaroon. 

Papan scrabble tertata rapi di atas sofa, bahkan seluruh dadu huruf telah telungkup sempurna. Tante Iaka mengambil tujuh bagiannya lalu menatap Zaroon lekat-lekat, membuat Zaroon mau tak mau melakukan hal yang sama meski dengan perasaan tak nyaman yang sedikit ganjil. Mungkin efek tatap Tante Iaka barusan atau bisa pula karena dirinya tak terbiasa bermain mengandalkan satu-satunya sumber cahaya dari televisi di sisi dinding sana, sumber yang terlalu redup lagi bisu. 

"S"

Kata Tante Iaka, sembari mengangsurkan dadu pertama yang dibukanya. 

"G"

Zaroon menjawab, mengangsurkan dadu pertamanya pula. 

Kemudian bocah itu segera menata dadu secara mendatar di atas papan, mengerti bahwa urutan abjad memberinya kesempatan bermain pertama. 

"S-I-N-G"

Zaroon memandang Tante Iaka. Saat wanita itu tersenyum, Zaroon baru menyadari sesuatu. 

"G-H-O-S-T"

Tante Iaka menyusun kelanjutan kata, tegak lurus dengan huruf terakhir Zaroon.

Zaroon berkerut kening lantas membuka kamus kecil di meja.

Hantu, bisiknya saat menemukan makna dari vocab ‘ghost’.

"T-E-L-L"

Zaroon melanjutkan, setelah menambah dadunya dari gerombolan dadu yang telungkup.

"Y-O-U"

Tante Iaka bertolak mendatar pula dari huruf O, dadunya telah ditambah juga.

"L-O-S-T"

Zaroon menurun, dadu huruf terus mengambil tambahan menyerupai permainan kartu poker yang banyak orang dewasa mainkan.

"S-C-R-E-A-M"

Tante Iaka mendatar.

"M-A-G-I-C"

Menurun.

"K-I-L-L"

Mendatar.

Zaroon merasa aneh saat menemukan arti kata ‘kill’ di kamus. Terlalu jauh dari apa yang mereka pelajari selama ini. 

"Tante, banyak kata yang aku tidak mengerti. Terlalu lama jika harus selalu membuka kamus untuk memulai," protes Zaroon. 

Biasanya jika Zaroon menyerah Tante Iaka akan mengulang permainan dari awal. Tapi sekarang alih-alih mendengarkan Zaroon bicara, Tante Iaka justru sibuk memijat keningnya sendiri. 

"Tante, kau sakit?" 

Tante Iaka tak menjawab. Hanya bibirnya tertarik kesamping, menampakkan gigi-geligi yang... tampak lebih runcing dari biasanya?

"Tante, kau kelihatan aneh tanpa kawat gigimu. Sebaiknya kau pergi ke dokter gigi dan ...," kalimat Zaroon menggantung terpenggal rasa ngeri yang membekukan lidah beserta seluruh kata katanya.

Wajah itu seperti berubah-ubah. Kadang tampak kesakitan, kadang tersenyum lebar, kadang juga terlihat murung. 

"Tante, apa itu?" Zaroon berkata amat lirih, matanya berhenti pada liur yang menetes dari mulut Tante Iaka. 

Zaroon mengusap matanya berkali-kali. Tapi alih-alih mendapat penglihatan lebih jelas, tubuhnya justru membeku saat wajah Tante Iaka kembali berubah-ubah. 

"R-U-N"

Zaroon melihat Tante Iaka membalik dadu huruf yang telungkup sembarangan dan tergesa menyusunnya di atas papan.

"Tante, kau curang! Bukan begitu cara bermainnya!" 

Zaroon terkesiap. Ia tak mendapat respon apapun selain Tante Iaka yang mulai menggeram. 

"Tante, gi-gigimu menjadi runcing dan panjang!" Zaroon tak dapat beralih dari wajah yang semakin lama semakin tak dapat dimengertinya. 

Brak! Papan scrabble jatuh dari sofa dan dadu huruf berhamburan. Jantung Zaroon nyaris meledak saat Tante Iaka mendadak mendaratkan cengkeraman di pahanya dengan kuat. Air liur menetes-netes, mata berlapis soft lense itu menatapnya dengan sepenuh nafsu. 

"Ru-nnn ....” Di tengah ketegangan itu Zaroon melihat wajah Tante Iaka berubah lagi, tampak kesakitan dan lemah setelah membisikkan satu kata itu dengan susah payah. Tak lama kedua cengkeramannya terlepas, tangannya beralih menghimpit kepala.

Kesempatan itulah yang digunakan Zaroon untuk lari -satu-satunya ide yang ada di dalam kepalanya setelah mendengar kata terakhir Tante Iaka. Dalam reaksi cepat, ia memilih meringkuk di balik pintu kamar. Entah mengapa tak terbesit di dalam kepalanya untuk menutup pintu atau bersembunyi di dalam lemari.

Di luar kamar terdengar suara erangan Tante Iaka berganti silih dengan geram. Beberapa benda jatuh berdebum ke lantai, dan perlahan langkah kaki berat diseret menuju arah Zaroon bersembunyi. 

Tubuh kecil itu sempurna gemetar, rapat menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Di antara embun kengerian yang memburamkan pandang, Zaroon dapat melihat Tante Iaka yang kini berjalan merangkak melewatinya dalam gelagat pemburu yang mengintai mangsa. Sesekali sosok yang ia yakini bukan lagi guru Bahasa Inggris-nya itu mencengkeram kepala, mengerang kesakitan, setelah sebelumnya berkali-kali memperdengarkan suara geraman. 

Terlintas sesuatu dalam kepala Zaroon, membuat dirinya spontan berlari cepat meninggalkan Tante Iaka yang masih merangkak membelakanginya. Ia dapat merasakan Tante Iaka membalik tubuh berusaha menyambarnya, tapi erang kesakitan itu membuat rangkaknya terhenti, erang yang sepertinya kemudian memberi Tante Iaka kesibukan utama: berduel dengan sakit kepala.

Secepat kilat Zaroon meraih buku hitam ajaib milik Tante Iaka yang telungkup di lantai dekat sofa, dan membawanya ke kamar mandi belakang, menutup pintunya rapat. 

Dalam genting itu ia mencoba membaca, namun nihil. Buku itu lembaran putih seluruhnya. 

"Argh! Kenapa rumah sewa ini kecil sekali? Kenapa mama bekerja hingga malam begini? Kenapa buku ini tak berguna?!" Zaroon membanting buku itu sambil menangis tertahan, isaknya amat putus asa. 

Lamat-lamat ia mendengar suara geram Tante Iaka di luar. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Benaknya memutar kembali kejadian awal hari ini, saat Tante Iaka berubah menjadi geraman lapar yang tampak memburunya. 

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, membuatnya secepat kilat mematikan lampu lalu membuka kembali buku hitam ajaib Tante Iaka dengan gerakan tersegera yang ia punya. Dan ... Zaroon terkesima! Buku itu menampilkan huruf-huruf yang jelas kali ini, mengkilat seperti hologram. Hanya saja, ia belum menguasai bahasa Inggris sepenuhnya. Nyaris tak ada informasi yang didapatnya dari buku tersebut. Sampai pada halaman menjelang akhir, Zaroon menemukan sesuatu.

Sebuah gambar -juga serupa hologram- menuntun Zaroon untuk termenung lama, sementara geram Tante Iaka telah terdengar di ruang tengah. 

Zaroon memandang sekeliling kamar mandi yang gelap, mengingat-ingat sesuatu untuk dimanfaatkan. Tisu, sabun cair, shower, pengharum ruangan, dan kepalanya masih buntu. Namun, dalam ragu ia justru membuka celana jeans-nya, membiarkan tubuhnya setengah telanjang. 

Dengan sangat perlahan ia membuka pintu kamar mandi, tanpa suara dan berusaha setenang mungkin meski air mata kian deras meneror mental kanaknya. Dari pintu menuju ruang tengah yang setengah tertutup ia dapat melihat Tante Iaka merangkak, mengendus-endus sofa dan sekitarnya. 

Cetrek! 

Api kompor menyambar jeans Zaroon yang berlumur minyak sayur, berkobar seperti yang tampak dalam buku hitam ajaib milik Tante Iaka. Setelah menambatkannya pada gagang sapu, Zaroon memberanikan diri berjalan perlahan menuju ruang tengah. 

"Tante Iaka!!!" bentaknya, membuat sosok yang tengah sibuk merangkak itu sigap berbalik.

Kejadian selanjutnya membuat Zaroon takjub, karena tak menyangka bahwa Tante Iaka benar-benar bergerak mundur.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa Tante memburuku? Aku harus ikut turnamen, dan aku akan jadi juara. Itu katamu, kan?" 

Di seberang api sana Tante Iaka bergerak mundur meski dengan sangat perlahan, seiring dengan keberanian Zaroon yang tumbuh kembali. Sekilas Zaroon masih sempat melihat wajah itu berubah, menahan sakit yang teramat sangat. Meski kilas yang benar-benar singkat.

"Tante, jangan buat aku takut!" Zaroon menangis, api pada gagang sapu melorot ke bawah. 

Namun ia masih sempat mengacungkannya kembali saat Tante Iaka bergerak maju ke arahnya, membuat geram lapar itu berhenti. 

Degup dalam dada Zaroon semakin liar saat terdengar lubang kunci pintu utama rumah berputar. 

"Mama, jangan masuk!" 

Tak ayal teriakan Zaroon membuat Tante Iaka terpancing. Kini pandang penuh nafsunya beralih pada pintu masuk. 

"Mama, stop!" 

"Zaroon, apa yang kau lakukan? Tante Iaka belum pulang?" 

"Pergi kau! Jangan dekati mamaku!" 

Zaroon berusaha berjalan maju, meski tipis kemungkinan dirinya meraih pintu lebih dulu ketimbang Tante Iaka.

"Zaroon, apa-apaan ini?" 

Mama mematung di ambang pintu yang terbuka, sebagaimana Tante Iaka yang bisu, bersiap dengan penuh nafsu pada tubuh lelah mama. Sementara Zaroon, kerongkongannya kering meski matanya kian hebat menghujan.

Beberapa saat keadaan bertahan seperti itu, acuh pada api di sapu Zaroon yang kian padam. Zaroon memutar isi kepalanya, tapi segera putus asa karena tak didapatinya apapun lagi. Ingatan seperti berhenti dan untuknya Zaroon mengganti dengan doa-doa yang ia mampu lakukan. Zaroon bahkan bersedia tak mengikuti turnamen, asal Tante Iaka pergi dari rumah ini dan ia dapat memeluk mama dengan erat. 

Tapi sepertinya kesempatan adalah prinsip utama Tante Iaka. Dalam lelah batin yang teramat sangat, Zaroon melihat satu kali wajah bergigi runcing itu berubah, merupa wajah Tante Iaka tengah menangis pedih, sebelum wajah itu kembali berganti begitu lapar dan penuh nafsu.

Tante Iaka bergerak, membuat Zaroon kembali melakukan yang hanya ia mampu: berteriak. 

"MAMAAA...!!!"

[-]