Lemari

L

Waktu bagaikan penentu perjalanan manusia yang terjadi pada masa lalu, sekarang, hingga masa depan. Berbagai waktu senang, waktu sedih, terselip di antara waktu yang menceritakan perjalanan seseorang.

Sekelibat ingatan mengenai judul artikel yang sedang dirancang melintas kembali di poros otakku. Usulan pertama dari keluarga Cerita Horor Terbaru lalu usulan dari teman Kisah Misteri saja. Sungguh, hanya karena judul, aku harus benar-benar memutar otak agar menarik pembaca.

Bagai kunai yang menikam, tepat pada lubuk hati yang terdalam. Saat seniorku terus bertanya tentang karyaku yang masih belum jadi. Catatan kelam yang diberikan, saat pemberian keputusan tentang pemilihan karya terbaik untuk penutupan tahun yang penuh kenangan memilukan. Dengan bingung aku terus mencoba agar artikelku menjadi sebuah karya yang tidak sia-sia.

Aku sampingkan rasa was-was yang terus menghampiri. Mencoba liarkan imajinasi, mencari inspirasi, aku pun pergi menyendiri. Sebuah gudang tua di belakang rumah menjadi pilihan. Gudang kecil yang sudah lama dibiarkan. Terlihat tembok luar dengan cat putih yang mulai memudar. Pintu kayu yang sudah lapuk dengan mudah dapat dibuka.

Aku memperhatikan sekitar, melirik satu lemari tua dari kayu jati. Tepat di samping lemari itu terdapat meja yang cukup besar, dilengkapi tiga kursi dengan sandaran. Sebuah jam besar yang tidak berfungsi, dan beberapa figura kosong berbeda mengisi dinding. Mainan lama mengisi lima kardus yang menumpuk rapih. Dua sepeda yang rusak sudah karatan menyandar di dinding dengan tertata, dan sebuah jendela yang tertutup rapat dengan tiang kusen keropos karena terus digerogoti rayap.

Hampir tidak ada angin yang berembus di sini, terlampau sunyi, tempat ini pun bisa dibilang terlalu sempit. Hampir sepuluh menit aku berdiri memandangi semuanya satu persatu. Namun, aku tidak menemukan tanda-tanda inspirasi untuk menulis cerita apa lagi.

Rasanya semakin pengap, perlahan aku melangkah dan memberanikan diri untuk mencoba duduk di salah satu kursi. Tubuhku berjalan begitu ringan seakan eksistensi gravitasi telah hilang dalam beberapa saat. Kursi dengan lapisan debu yang begitu tebal buatku merinding seperti membaca cerpen horor. Jantung yang kian berdegup kencang, gemetar, dan merinding juga menghiasi perasaan yang hinggap pada jiwa.

Baru ingin mencoba untuk menyentuh, aku mendengar sebuah suara ganjil dari dalam lemari, kontras sekali dari suasana sunyi sebelumnya. Suara derit nyaring dari engsel pintu lemari yang sudah berkarat buat nyaliku ciut. Hahhh ...! Aku coba tenangkan jiwa dengan tidak peduli pada keadaan sekitar. Kuberanikan diri mengalihkan pandangan menatap lemari yang mulai terbuka. Perlahan, bau busuk mulai menghujam penciuman.

Aritmia jantung kambuh. Tumpukan kardus berisi mainan bekas itu perlahan bergetar, buat kalbu semakin gusar.

Brakk!!!

Tubuhku tepat menjadi sasaran empuk dari kardus-kardus yang ambruk. Suara guntur di luar bersamaan menggelegar. Hujan deras tiba sepertinya akan segera membawa badai.

Aku bangun, coba mengalihkan barang-barang yang menimpa. Namun, suara garukan dari lemari itu kembali terdengar buatku terdiam, disusul suara cekikikan yang semakin keras, sukses membuat bulu kudukku berdiri. Sampai suara itu terasa merambat dan terdengar tepat di atas kepala, buat netraku nyalang mendongak ke langit-langit, dan semua jadi hitam legam, hilanglah kesadaran.