Bisikan Suara Iblis

suara kegelapan. pinterest.es

“wajahmu yang ceria itu tiba tiba muram, seperti tersaput mendung, lekam, pekat penuh ancaman.”

 

Ia selalu tersenyum dan selalu manis bila sedang senang, Dan akan tertawa terbahak dengan lepas. Perempuan ceria, senang bertualang. Namun ia punya tingkah yang sering membuat bergidig. Orang tidak akan percaya, apalagi melihat wajahnya yang tampak ramah dan selalu senang bergaul. Apa yang menjadi sebab musababnya aku tidak mengerti, aku sering mendapat perlakuan kasar ketika ia tengah dililit masalah. Tiba tiba ia bisa marah dan tanpa sebab membanting apapun yang ada di depannya.

Aku harus sabar,sambil terus berdoa agar ia kembali tenang, tidak marah - marah, tidak berusaha melukai diri sendiri dan melukai orang yang ada di sampingnya. Aku harus selalu siap sebagai teman dekatnya.

Aku yang menjadi sasaran kemarahan saat tiba tiba berubah kelakuannya. Ia pernah bercerita ia seperti dibisiki oleh suara - suara aneh, suara - suara dari alam kegelapan. Segera barang pecah belah kusingkirkan, apalagi benda tajam dan cairan beracun. Matanya akan segera memerah, nanar dan jalang. Tangan mengepal dan gigi gemeretuk.

Kuasa kegelapan begitulah orang pintar yang kutanyai tentang keanehan dia, ia akan terdorong untuk melakukan hal aneh ketika muncul suara bisikan - bisikan. Kata dia bisikan - bisikan itu membuatnya merasa pengin memukul, mencakar atau bahkan bisa saja ia terhasut untuk melakukan hal yang konyol tentang mengakhiri hidupnya sendiri.

“Aku, seperti diberi bisikan begini oleh orang yang tidak terlihat. Hajar, dan pukul saja.” Bisikan itu hadir ketika ia tengah lengah, bengong dan tiba - tiba ia mencengkeram, tangannya kaku dan senyumnya menyeringai.

“Aku tidak berdaya karena kata- katanya seperti sihir, tiba - tiba saja aku merasa ada yang membimbing untuk menghancurkan apa saja yang ada disekitarku.”

“Itu aku Jelly. Tenagamu sangat kuat sekali, hampir saja aku terlempar dan pingsan karena doronganmu.”

“Tapi aku merasa hanya ingin membelai, Dirgo, semacam elusan lembut”

“Bukan membelai Jelly tapi menampar dan menjambak. Aku langsung pusing. Kamu membuatku hampir pingsan. Kamu kasar sekali.”

“Maaf, aku tidak sadar.”

“Ya untungnya kamu sohibku, teman karibku. Kalau nggak aku pasti tega meninggalkanmu. Tapi aku kasihan dan mencoba sabar ketika tiba - tiba kau kesetanan menghajarku.”

Jelly merasa cemas, tidak tahu bagaimana caranya menghentikan kekonyolan - kekonyolan yang muncul tiba - tiba dalam dirinya. Ia memang suka bengong.

“ Saat bengong itu muncullah suara - suara bisikan aneh yang kemudian mendorong diriku untuk membelai rambut dan mengelus - elus pundak.”

“Bukan membelai, lebih tepatnya menjambak… kau tampak kasar ketika tengah halu seperti itu.”

“Sumpah itu bukan diriku, aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa mendorong dan menghajar teman dan saudara. Aku seperti tengah tidur dan bermimpi.”

“Maaf bila aku sering membuatmu lebam, Dirgo, aku benar - benar tidak sadar.”

‘Kamu sering halu dan bisa tiba – tiba berubah.”

“Aku jadi jahat ya?”

“Yang jelas saat kamu banyak masalah, tiba - tiba emosimu bergolak, dan kamu tampak amat kuat, tenaga berlipat dan tanganmu kaku mencengkeram.”

Apakah yang terjadi dengan Jelly, apakah ia mempunyai kelainan psikologis, apakah ia sering terjebak halusinasi, hingga akhirnya banyak bengong, sering marah dan melempar benda yang ada di depannya.

 

***

“Seperti ada wajah dengan muka gelap, datang menghampiriku, ia membisiku dengan halus, membuat diriku seperti melayang, lalu tiba - tiba aku bisa dengan mudah mematahkan benda keras, melompat dan melenting dengan amat mudah.”Demikian cerita Jelly suatu hari.

“Manusia yang ada didepanmu itu tidak patut dihormati dan dikasihani.Hajar saja, habisi!, Nuraniku tengah bergejolak, antara sadar dan tidak sadar aku telah membuatmu bonyok Dirga. “

“Si Muka gelap itu menghampiriku dan membisiku dengan lembut, tiba - tiba saja aku merasa tengah dihipnotis, lalu diceritakan tentang bagaimana membuat pernyataan bohong, menyembunyikan fakta sebenarnya dan membuat aku tersedot dan tanpa sadar melakukan apa yang ia perintahkan.”

“Yang jelas kamu pasti tengah mendengar bisikan itu, lalu apa yang dikatakan?”

“Aku tidak bisa cerita Dirga, ia mengancamku dengan halus.”

“Cerita saja, namun sebelum cerita kau berdoa dulu agar diberi perlindungan oleh Tuhan.”

“Ia terlalu kuat, percuma saja melawan dan menutup telinga, karena bisikannya menembus otak dan aku tidak kuasa menolak.”

“Sementara kamu masih bisa ditangani, tapi jika tiba - tiba bisikan itu datang saat ada di dekat jembatan tinggi bagaimana, siapa yang akan menolongmu.”

“Iya, aku tahu…tapi bingung bagaimana menyingkirkan dia dari kehidupanku.”

“Apakah kamu di masa lalu pernah bermain - main dengan dengan roh atau melakukan ritual apa sehingga mengundang roh masuk tubuhmu?”

Sejenak Jelly diam, mengingat sesuatu…

“Aku pernah melakukan permainan Jailangkung saat masih di asrama ketika masih sekolah SMA”

“Nah itu dia, kau telah mempermainkan makhluk kasad mata dan kau dibayangi suara - suara itu yang masih menempel di tubuhmu.”

“Sebaiknya kita mencari cara agar kamu bisa dibersihkan dari pengaruh bisikan iblis tersebut.”

“Kalau dalam Islam ada namanya Ruqyah, sebaiknya kamu coba itu.”

“Kamu bisa tersenyum sekarang”

Kalau diamati Jelly tampak seperti orang yang moody. Kadang tertawa riang dan tiba - tiba wajahnya begitu mendung dan tiba - tiba cengkeramanya yang kuat membuat aku sebagai temannya menjadi korban dari suara - suara bisikannya yang hampir saja mencelakai sohibnya. Tapi aku punya senjata untuk melenyapkan suara iblis itu. Yaitu keyakinan dan iman dan doa.