Melawan Alpa

Dok. Pinterest

Tujuh menit berlalu. 

 

Seluruh hadirin memandang di muka sasana. Pria gagah berhidung mancung mengenakan switter putih masih mementaskan bacaan puisinya. Dengan gerik mimik, tangan seolah sedang berangan-angan. Suaranya terdengar merdu di muka para juri. Ia begitu yakin bila penampilannya membuat para pengamat terpesona. 

 

Tahun 2018, awal bulan November bertempat di alun alun kota Pemalang sebelah timur Gedung Kridanggo. Diadakan sebuah bazar buku murah dengan berbagai acara lomba lomba. Tak disangka Pria yang berdiri di muka sasana itu kekasih Rania yang bernama Jo. 

 

Tiba-tiba saja Jo mengakhiri kalimat yang mengejutkan Rania diakhir bacaan puisinya. 

 

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada, buah karya Djoko Damono. Puisi ini kupersembahkan untuk perempuan yang duduk di sana," kata Jo. 

 

Kemudian jari telunjuk Jo menunjuk ke arah Rania. Sontak membuat wajah Rania tersipu malu pun hatinya berbunga bunga. Jo selalu saja memberikan kejutan yang berwarna untuk Rania, Jo begitu tulus mencintainya. 

 

Tapi, semuanya telah usai ketika rahasia besar Rania terbongkar. Selama ini wanita itu tidak pernah berani berkata jujur kepada Jo kekasihnya. Rania takut kalaupun berkata jujur, Jo pasti akan kecewa. 

 

Senja mengantarkan langkah Jo menuju ke arah kediaman Rania. Ada pria lain yang duduk di kursi teras rumahnya. Jo mengenal wajah pria tersebut. 

 

"Rania, aku akan menyerah jika kau bahagia bersama Jo. Minggu depan aku akan ikut ke rumah Pade di Lampung. Mungkin ini terakhir kali aku menemui mu, aku... " 

 

"Atan!" potong Jo. 

 

Mendengar suara Jo, Atan dengan Rania menoleh ke arahnya. Membuat Rania panik hingga ia susah untuk berkelit. Karena pada akhirnya rahasia terbesar yang selama ini tertutupi akan segera terbongkar. Ibarat bangkai tersimpan lamat lamat tercium juga baunya. 

 

"Sejak kapan kalian berhubungan? Heh?!!" tanya Jo. 

 

Atan membisu, Jo menonjok pipinya sampai lebam. Rania mencoba memisahkan kedua sahabat yang saling merebutkan dirinya. Semua kesalahan Rania. Jika dulu ia berani berkata jujur, mungkin peristiwa ini tidak pernah terjadi. 

 

Emosi Jo tak terkendalikan tidak ada yang bisa membantu Atan karena kediaman Rania sepi. Ibu dan ayahnya sedang pergi. Berulang kali Rania mencoba memisahkan, yang ada Rania terjunggal ke lantai. Jo tak peduli, amarahnya meledak-ledak. Ia Sangat kecewa karena Rania sudah selingkuh dengan sahabatnya sendiri. 

 

Jo memukuli Atan hingga pria itu pingsan. Jo pergi meninggalkan Rania beberapa saat. Ia pun kembali membawa jerigen bensin. Entah, kerasukan setan apa membuat Jo berpikir melampaui batas. Rania lari sekuat tenaga mencari bantuan ke tetangga. Atan yang masih tergeletak lemah di lantai, dikucuri bensin oleh Jo. Bahkan Jo sudah menyiapkan korek api di sakunya. 

 

Cinta Jo telah alpa mengenal Atan sebagai sahabatnya. Cinta telah membuatnya menjadi sosok pria yang begitu keji. Jo menginginkan Rania, baginya tak ada satu pun pria yang boleh mendapatkan Rania kecuali dia. 

 

Untung saja sebelum Jo membunuh Atan, Ayah dan Ibu Rania pulang. Ayah Rania menyeret Jo ke setapak jalan. Lalu, membuang korek api di sakunya sebelum dinyalakan. 

 

Andaikan Jo tahu dari awal. Sebenarnya bukan Atan selingkuhan Rania. Namun, dia sendiri. Karena Atan lebih dulu menjadi kekasih simpanan Rania sebelum menjadi kekasih Jo. Hanya saja hubungan Atan dengan dirinya disembunyikan. Karena Sebab orang tuanya, lebih memilih Jo yang lebih kaya dari pada Atan. Tapi, semua telah terjadi. 

 

Rania belajar untuk melepas keduanya, kedua pria yang telah mengisi hatinya secara bersamaan. Biarkan waktu yang membuat alpa. Rania akan berhenti membayangkan yang hilang. Lebih baik Rania membayangkan nikmat Tuhan yang akan datang. Karena dengan begitu hatinya akan lebih tenang dan mensyukuri nikmat Tuhan. 

 

***

 

Pemalang, 29 Desember 2020